
Esok hari,
Ketika beberapa insan masih terlelap tidur dan burung burung berkicau mulai beterbangan hendak mengais nakan, terdengar pekikan tangis dari dalam kamar Marmun.
Sang ibu yang melintas hendak ke dapur, terkejut mendengar. Dia mencari arah pekikan itu dengan menajamkan pendengaran, telinga menempel pada pintu kamar Marmun.
Semakin jelas terdengar,
Sang Ibu bergegas masuk dalam kamar yang tidak terkunci itu tanpa permisi. Lalu melangkah mendekat pada Marmun dengan mata melebar.
"Kakak, bangun! Hei, bangun kak!" Sang ibu menepuk nepuk wajah dan tangan sang putri dengan mengernyitkan dahi.
Marmun terus saja menangis dalam tidurnya. Dan Sang ibu membangunkan anak semata wayangnya itu dari mimpi buruk.
Dalam mimpi,
Marmun bertemu Erik dan juga Mayri. Terlihat keduanya berlari kecil dengan tawa hingga siapapun yang melihat pasti merasa iri dan cemburu. Terlebih ketika orang yang kita sayang lebih memilih bersama yang lain dibanding diri sendiri. Begitulah perasaan Marmun dalam mimpi itu.
"Kalian? Ini yang ku dapat setelah aku mulai percaya pada kalian! Siapa yang paling egois, aku atau kalian, hah! Bisa jawab? gak kan! Arghhh! Aku benci kalian!" bentak Marmun menatap kasar sembari merembah air mata.
"Hei loppit, jaga dirimu baik baik ya. Mulai sekarang saya tidak bisa bersamamu lagi, saya sudah bahagia disini, ditempat indah ini." Ucapnya dengan wajah berbinar.
"Ya. Kami sudah bahagia, bersama dengan penghuni alam ini. Titip Zio yah, dan salam juga sama Tante." sambung Mayri dengan lembut. Dia memberikan senyum terbaiknya pada sahabat nya itu.
Dengan darah mendidih, Marmun menampar kasar wajah mulus putih berseri itu. Mayri membalasnya dengan senyuman simpul.
"Jangan marah, tidak semua yang kamu lihat benar adanya. Kami harus pergi, Jaga dirimu baik baik." ucap Erik.
Saat Mayri dan Erik berbalik pergi, Marmun bergerak mendorong keduanya hingga sang sahabat tersungkur. Tapi tidak dengan Erik. Dorongan Marmun tidak menumbangkan tubuh kekar itu.
Didunia nyata, dunia alam sadar manusia, Marmun terhentak bangun dengan mata terbuka.
"Mommy.." tangisnya sembari memegang erat tangan sang ibu.
"Kakak mimpi buruk lagi?'' Sang Ibu mengelus elus kepala putri nya.
"Ya, mom. Semua serasa nyata, mereka pergi meninggalkan aku." ucapnya. Tangis Marmun semakin menjadi-jadi saat sang ibu mendekapnya.
"It's Ok, Itu hanya mimpi. Mereka pasti baik baik saja. Makanya sebelum tidur jangan lupa berdoa, biar tidurnya nyenyak." ucap Sang ibu.
Sampai detik itu Marmun belum tahu bahwa Mayri sahabatnya mengalami kecelakaan dan belum sadarkan diri.
Akan tetapi, saat Mayri tersungkur dalam dunia mimpi, arwahnya seakan kembali pada raga yang terbaring kaku tak berdaya itu.
Tampak air bening keluar dari sudut matanya. Dia menunjukkan gerakan kecil pada jari telunjuk nya. Spontan monitor pengontrol detak jantung berbunyi kencang, membangun kan Zio dari tidur.
Mendengarnya, wajah setengah sadar itu berubah menjadi tegang, memucat. Zio terlihat panik dan langsung bergegas keluar memanggil Dokter.
"Dokter! Dokter!" teriak nya.
Tanpa bertanya, dokter dan perawat berjalan cepat menuju kamar pasien. Lalu melakukan beberapa tindakan pengecekan.
Sedangkan Zio menunggu di luar ruangan. Dia bergerak melangkah bolak balik sembari menggigit jarinya. Bukti bahwa dia sangat khawatir dan takut.
Berselang beberapa menit, dokter keluar membawa kabar baik.
"Alhamdulillah kondisi pasien sudah membaik. Sebentar lagi pasti siuman."ujar Dokter.
"Puji Tuhan. Terima kasih ya dok!" ucapnya girang.
Disisi lain, Dokter beserta asistennya tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatan pengobatan Erik ke negara tetangga. Tak lupa dengan Mbok Ria. Dia ikut pergi menemani sang tuan selama pengobatan.
"Ok. Kita bawa sekarang, pastikan semua aman." ucap Dokter.
Seketika ruangan itu ramai, bolak balik keluar masuk dokter dan perawat.
"Tolong bawa keluar pasien, hati hati!" perintah Dokter yang menangani Erik. Perawat dan Dokter bergerak membawa Erik menuju mobil ambulance. Mereka mendorong pelan bed pasien dimana Erik tergeletak kaku masuk dalam mobil putih berserene itu. Lalu mereka bergegas melaju menuju bandara.
Berselang beberapa menit, Marmun tiba di depan pintu ruang ICU.
"Tumben sepi, Mbok Ria dan Sisca kemana?Apa keluar cari sarapan? Tapi gak mungkin deh, selapar apapun Mbok Ria, dia tak akan pergi." ucap Marmun dalam hati. Dia memandang memutar lorong itu. Lalu bergerak masuk ke dalam ICU. Sesampainya, Marmun menganga saat ia melihat ruangan itu telah tak berpenghuni, hanya ada beberapa alat medis.
Dengan cepat, Marmun bergerak keluar dan berlari mencari serta bertanya pada petugas rumah sakit hingga tanpa sengaja ia menabrak keluarga pasien lain yang sedang berjalan menuju apotek rumah sakit.
"Mbak, hati hati dong kalau jalan! Punya mata kan?" ucap kasar wanita berbehel.
Tanpa mengucap maaf, Marmun terus saja berlari.
"Mbak Pasien ICU atas nama Erik kemana? Dia baik baik saja kan? Di ruangannya kok gak ada ya?" tanya Marmun serius.
"Pasien atas nama Erik sudah dibawa pergi. Baru aja mbak." tukas perawat yang kebetulan ikut membantu persiapan keberangkatan Erik.
Sontak, Marmun menoleh ke arah perawat itu.
"Di bawa kemana sus?" tanyanya.
"Berobat keluar negeri sesuai permintaan keluarganya. Kedua wanita itu sepertinya juga ikut." ucap perawat.
Setelah berucap terima kasih, Marmun bergerak berlari keluar dari rumah sakit dan pergi ke bandara dengan menumpangi taksi. Semua mata tertuju padanya.
"Tolong, cepat pak!" pinta Marmun sembari mengotak atik HPnya.
Dengan setengah hati, supir taksi memacu kecepatan roda empat itu sembari melirik wajah Marmun yang tampak risau melalui kaca depan.
1 jam kemudian, mereka tiba di bandara.
Marmun bergerak keluar dari dalam mobil setelah melakukan pembayaran. Lalu bergerak berlari masuk dalam bangunan yang di padati oleh beragam manusia itu.
Saat dia berlari terdengar suara pesan masuk dari ponselnya. Namun karena terburu buru dan riuhnya tempat itu, Marmun tak mendengar. Pesan masuk dari Sisca yang berisi " Kami sudah masuk pesawat mbak. Doakan saja semuanya lancar."
Marmun menghentikan langkahnya saat berada di depan area check-in. Dengan cepat ia mengeluarkan ponsel dari tas santai nya. Lalu membuka pesan masuk dari Sisca.
Setelah menatap isi pesan itu, Marmun terjatuh lemas, duduk pada lantai. Beberapa mata tertuju padanya dan memandang aneh.
"Kenapa loe tinggalin aku, Rik? Kenapa? Aaaaaa" teriaknya histeris.
Seketika orang orang menjeda langkah dan tugasnya seraya berbisik "Kenapa tu cewek! Ditinggalin kali ya atau di selingkuhin? Kasihan, pasti ada masalah. Astaghfirullah gadis kok, gitu! Malu akh! Mungkin dia punya masalah. Dia siapa?"
Dia menjadi pusat perhatian saat itu.
Tak acuh, Marmun tertunduk sembari mendesir air mata. Dia tak perduli menjadi tontonan publik. Tak banyak yang menvideokannya.
Tak berselang lama, Marmun bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah tak seimbang, terhuyung huyung bak orang mabuk.
Terima kasih sudah membaca 🙏🙏 Jangan lupa berikan saran/masukan supaya karya semakin lebih baik.
Jangan lupa:
Vote
Like
Koment
Beri hadiah
Rating
Follow IG ku : munthe.maria