Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -22



Hari berganti malam, malam berganti pagi, serta pagi berganti siang. Mayri tetap saja menjauh dan menghindarkan diri dari Marmun.


Disuatu tempat, di atas hamparan rumput hijau, dibawah hamparan langit nan biru dengan terik mentari menusuk kulit, Mayri terduduk. Kedua matanya tampak menoleh ke arah anak kecil yang sedang bermain bersama dengan anak lainnya. Kedua gadis kecil itu tampak bahagia, berlari kesana kemari, jungkir balik sana sini tanpa memperdulikan orang orang di sekitarnya.


Sepintas Mayri menutup mata, senyum tipis tampak jelas di wajahnya. Dia kembali menoleh ke arah anak kecil itu, lalu tertawa.


"Nanti kalau kita udah gede, kita nggak boleh berantem berantem yeah!" ucap salah satu anak kecil berambut ikal pirang sembari mengotak atik mainannya.


"Iya, nggak boleh belantem. Kita harus bersama telus, jangan pernah ninggalin aku ya!" ucap anak kecil berambut hitam pendek.


"Tapi aku nggak mau deng jadi orang gede!" lanjut anak berambut pendek sembari melipatkan kedua tangannya,


"Kenapa..?" tanya polos anak berambut pirang,


"Iya, kata ibu aku orang gede itu ribet, kejam, suka belantem belantem." jawab anak berambut pendek sembari mengangkat turun kedua bahunya.


Mendengar dari kejauhan, Mayri terasa tersindir, kata kata itu menusuk hati dan mengalihkan dunianya pada masa lalu, masa dimana dia dan Marmun menghabiskan waktu bersama.


Sejenak ia bergeming lalu sibuk dengan pikirannya,


Berselang beberapa menit, ia bergerak pergi dengan kulit sedikit pekat akibat terpapar sinar mentari yang cukup lama.


Setibanya di kampus, dia bergerak melangkah dengan cepat, hingga tiba di salah satu ruangan yang biasa ia dan Marmun masuki. Tampak bola matanya memutar,


"Ada yang ngeli'at Marmun nggak?" tanya Mayri ke sekelompok mahasiswi yang ada di ruangan itu.


"Marmun udah balik dari tadi," ucap salah satu mahasiswi,


"Owhh, thanks ya!" ucap Mayri sembari menelepon nomor Marmun, lalu bergerak pergi.


"Nomor yang anda tuju sedang sibuk, silahkan tinggalkan pesan," bunyi penyedia jaringan telepon.


Kemudian ia lanjutkan langkahnya dan berhenti di parkiran kampus. Seketika pikiran nya terlintas pada Erik, dengan menghela nafas berat, ia menghubungi nya.


Tak berselang lama, panggilan di terima,


"Hallo Rik, Marmun lagi bareng kamu nggak?" tanya Mayri sembari mengeluarkan kunci motor dari dalam tasnya.


"Sudah beberapa hari ini kita nggak ketemu," sahut Erik,


"Kenapa..?" tanya Mayri,


"Beberapa hari lalu dia bilang mau sendiri dulu, saya juga bingung kenapa Marmun bilang kayak gitu." sahut Erik sembari memasukkan tangan kirinya ke dalam saku depan.


Mayri terdiam dengan wajah merasa bersalah.


"Owh gitu. Nanti kalau kamu dapat info kabari aku ya!" pinta Mayri,


"ok," sahut Erik sembari mengakhiri telponannya.


Erik tampak mencemaskan sang kekasih, wajahnya menunjukkan ke khawatiran.


Mayri segera menunggangi motor Scoopy nya lalu bergegas melaju.


Dalam perjalanannya, ia kerap kali melewati beberapa kelompok insan berjalan berbarengan serta duduk bersama dengan tawa.


1 Jam kemudian Mayri tiba di depan rumah Marmun. Rumah itu tampak sepi, pintu dan jendela tertutup rapat.


"Kalapa..! Kalapa..! Tante...!Tante..!" seru Mayri sembari mengetok pintu,


Hening, sunyi, tak ada sahutan.


Mayri memanggil dan mengetok pintu berkali kali, tetapi hasilnya tetap saja, tak bergeming.


"Mereka pada kemana yeah! biasanya rumah ini nggak pernah kosong!" ucap Mayri lirih dengan dahi berkerut sembari mendekatkan wajahnya ke jendela pita dekat pintu, menilik.


Berjam jam lamanya Mayri menunggu, namun penghuni rumah itu tak kunjung datang.


Dengan menghela nafas berat dan tangan kosong, Mayri kembali menunggangi motornya lalu bergerak pergi.


Disisi lain Marmun dan ibu nya tampak menghadiri pesta, tempatnya tidak jauh dari kampus Guna Darma Bakti.


Siang itu Marmun terlihat cantik, imut dengan off shoulder dress-nya dan terlihat seksi dengan high heels pich yang ia gunakan.


Di saat Marmun dan sang ibu sedang menyantap makanan, sepasang suami istri separuh baya datang menghampiri mereka.


"Sikahkan menikmati!" ucap salah satu pasangan itu dengan ramah,


"Terima kasih pak, ibu," sahut Ibu Marmun dengan senyum sembari meletakkan sendok dan garpunya.


"Mau nggak sama anak om, anak om ganteng lho!" ucap salah satu pasangan itu (laki laki) berseloroh,


Mendengar ucapan pasangan suami istri itu, Marmun dan sang ibu tertawa,


"Biarkan mereka menemukan tambatan hatinya Bu, Pak," ucap Ibu Marmun.


"kwkeke iya bener, tapi nggak salah dong Bu kita mempertemukan mereka," ucap salah satu pasangan itu (Perempuan) dengan senyum lebar,


"Kalau gitu kita ke sana dulu ya bu! silahkan menikmati!" ucap pasangan suami istri itu, lalu bergerak pergi.


Marmun dan sang ibu kembali menyudu nasi dan lauk yang ada di atas piringnya lalu memasukkan ke dalam mulut, kemudian mengunyah dan menelannya.


Berselang beberapa menit,


"Sepertinya kita kedatangan tamu spesial, jadi alangkah lebih baik kita memberikan waktu dan tempat menyanyikan satu atau dua lagu untuk menghibur kita semua. Bagaimana bapak, ibu, setuju kan!" ucap MC sembari memandang ke arah Marmun.


"Setuju!' seru para tamu undangan terkecuali Marmun dan Ibunya.


"Kok pada noleh ke aku mom! Gimana ni mom, aku nggak pengen nyanyi," ucap Marmun dengan menundukkan kepalanya dengan setengah senyum.


"Kita sambut penyanyi cantik kita, Marmun!" seru MC,


"Ikhh nggak boleh gitu, sana gih, maju kedepan kak!" suruh Sang ibu sembari mencolek putrinya.


"Ikkhh mommy," gerutu Marmun sembari bangkit dari duduknya lalu bergerak melangkah.


Marmun tampak menggaruk alisnya seraya bergumam " Mau nyanyi apa coba,"


"Silahkan!" sambut MC sembari meyodorkan microphone pada Marmun.


Dengan wajah terpaksa, Marmun bergerak mendekat ke samping pianis, menyamakan nada.


Musik di mainkan, perlahan Marmun mengeluarkan suara indahnya. Semua mata tertuju padanya.


"Ku mencintaaa...." senandung Marmun mengakhiri nyanyian nya.


"Terima kasih!" ucap Marmun sembari menundukkan kepalanya, menghormat.


"Lagi..! lagi..!" seru beberapa tamu undangan,


Marmun tampak tak ingin menyanyi terlalu lama, ia menyudahi dan memberikan microphone ke MC seraya berkata "Mbba ini microphonenya,"


"Ok, thank you Mar." ucap MC,


Marmun membalasnya dengan senyuman, lalu bergerak mendekat ke Sang Ibu.


Jam menunjuk pada pukul 19.30 WIB, Marmun dan Sang ibu baru saja tiba di rumahnya. Dengan langkah gemulai ia bergerak masuk kedalam kamarnya, kemudian meletakkan dan mengeluarkan HP dari dalam tas.


Sedangkan Mayri tampak merenung, dia menatap langit langit kamarnya dengan tatapan kosong.


Sekejap Marmun terkesiap melihat 6 panggilan tak terjawab dari sang sahabat pada layar HP nya.


Dia sejenak bergeming, lalu menelepon balik nomor HP itu.


Mendengar dering telepon, Mayri meraba, mencari HP yang terletak di samping kanan kepalanya.


Ketika melihat panggilan masuk dari Marmun, sontak Mayri terbangun dan segera menerima panggilan itu.


"Hallo Kalapa," ucap Mayri,


"Hai Kalapa, maaf yeah tadi aku nggak tahu kalau kamu nelpon," sapa Marmun sembari berkaca di meja cerminnya.


"Iya nggak apa-apa." ucap Mayri,


Sejenak Mayri menarik nafasnya dalam dalam, seraya berkata "Maafin aku ya Kalapa, aku salah dan aku terlalu egois, aku nggak mau kita diam diam'an lagi." tukas Mayri,


"Iya sudah kita lupakan saja, yang berlalu biar lah berlalu. bukan kah begitu!" sahut Marmun dengan senyum lebar,


"Betul..betul..betul..!" ucap Mayri dengan sumringah,


Serentak keduanya tertawa.


"Kalau gitu sampai ketemu besok kalapaku, bye." ucap Marmun mengakhiri telponannya dengan wajah berseri.


Cicak cicak di dinding bergemerincing seakan ikut merasakan kebahagiaan kedua sahabat itu.