Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -55



Saat beberapa insan mendapat kabar bahwa orang terdekat mengalami kecelakaan dan sedang dirawat di rumah sakit, maka biasanya insan itu akan bergegas membesuk. Tapi tidak dengan Marmun.


Walau terlihat syok saat suara (informasi) tertampung oleh telinga luarnya, dia justru bergerak duduk di atas kerak bumi yang tersusun mineral dan bahan organik yang ditumbuhi rumput halus itu, menghadap danau indah.


"Kecelakaan? Erik kecelakaan, Mayri Juga. Kenapa bisa samaan dan kebetulan? Apa maksud dari semua ini, atau mungkin saat itu mereka ada di mobil yang sama, artinya mereka berduaan." ucapnya lirih dengan bola mata bergerak ke kanan dan kiri. Cukup lama ia memikirkan nya.


Berselang beberapa menit, dia memutuskan menyudahi kekusyutan hati, bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


Sebelum memutuskan balik kerumah, Marmun terlebih dahulu mampir kerumah megah sang kekasih.


"Pak, ijin masuk ya. Mau ke dalam bentar." ucapnya.


"Maaf Non, Tuan tidak ada dirumah. Beliau lagi sakit akibat kecelakaan." Tegas Security seakan menolak secara halus.


"Ya. Tahu kok pak. Boleh kan aku masuk ke kamar Erik? Sebentar kok, gak pake lama." Marmun melangkah masuk tanpa mendengar jawaban boleh atau tidaknya dari sipenjaga rumah itu.


"Hadekkhhh! Begini nih anak jaman sekarang, attitude nya kurang. Belum juga dijawab sudah nyosor masuk." ucapnya dalam hati sembari menepuk zidat dan mengusap dada.


Security bergerak mengikuti Marmun.


Selama Erik sakit dan dibawa ke luar negeri, rumah besar, megah bak istana itu tampak sunyi dan sepi. Hanya ada beberapa orang di dalamnya, termasuk 3 Security.


"Laahh, ngapain ngikutin. Bapak disitu aja! Marmun menatap tak suka pada lelaki separuh baya berseragam itu.


"Maaf Non, ini sudah bagian dari tugas saya untuk menjaga keamanan rumah ini. Saya dan yang lainnya tahu benar bahwa non adalah pacar tuan. Akan tetapi selama tuan tidak ada dirumah (sakit), siapapun tidak boleh masuk kedalam, termasuk non sendiri.


"Atas dasar apa bapak melarang aku masuk. Toh bapak sendiri tahu kalau selama ini aku keluar masuk sesuka hati. Tolong lah..!"


"Tapi non.."


Marmun tak mengindahkan ucapan Security, dia bergerak melanjutkan langkah menaiki tangga rumah. Security mengikutinya dari belakang.


Saat hendak memegang handle pintu kamar, dengan cepat lelaki berseragam putih biru itu bergerak berdiri di depan pintu dengan tangan terlentang menghadap ke Marmun.


"Maaf Non, siapapun tidak boleh masuk kedalam. Jangan paksa saya mengusir non secara kasar dari sini." tegasnya.


"Bapak tahu gak perasaanku gimana saat ini, tahu gak bapak! Gak tahu kan! Jadi tolong jangan halangi aku, bisa!" bentak Marmun dengan keras. Beberapa asisten rumah dan petugas keamanan lainnya terkejut mendengar keriuhan itu sembari berbisik satu ke yang lain " Si non marah kenapa? apa karena dilarang masuk kedalam kamar tuan? Suaranya kerasa amat dah!"


Hingga pada akhirnya, Security bergerak bergeser menjauh dari pintu. Sedangkan Marmun bergerak masuk dalam kamar bernuansa gelap itu.


"Rik, cepatlah pulang. Aku menunggu dan merindukan mu disini." Marmun memandang memutar menyisir ruangan itu. Lalu dengan gemulai tangannya menyentuh beberapa barang yang terpajang rapi di atas nakes. Kemudian membidik kesamping, kearah meja kerja seakan ada yang menarik perhatiannya. Dia bergerak melangkah mendekat, meraib secarik kertas kecil berlogo bank yang didalamnya tercantum angka rupiah.


"Astagaa! Selama ini aku salah nuduh mereka selingkuh. Bodohnya aku! Maafin aku ya Rik, May!" gumamnya dalam hati. Dia tampak menganga usai melihat bukti pembayaran.


"Non, baik baik saja kan?" tanya Security.


Marmun diam membisu, dia melangkah duduk bersandar pada ranjang dengan mata memandang kosong.


Melihatnya, Security bergerak meraib kertas yang membuat wanita dihadapannya berubah tingkah, termenung seketika.


"Ini kan bukti pembayaran artis yang tuan undang." Security memandang keatas, berpikir. Lalu menjelaskan apa yang ia tahu tentang bukti transfer itu pada Marmun.


"Kebetulan saya ikut menemani tuan saat itu." ucap Security.


Marmun semakin merasa bersalah. Terlihat dari ekspresi wajah dan helaan nafas.


Dengan cepat, dia bangkit dari duduknya lalu pergi setelah berucap "terima kasih" menuju rumah sakit dimana Mayri di rawat. Dia membatalkan niat pulang kerumahnya.


Dirumah sakit, Chiko tampak berjalan tanpa mengenakan jas penanda profesi dokter menuju kamar rawat Mayri.


"Hallo..." sapanya melangkah masuk.


Sontak Zio terkejut akan kehadiran sosok yang tak ia duga sebelumnya, lalu terkekeh malu sebab dirinya ketangkap basah melakukan aksi jail.


"Lohh..lohhh, lohh! Mukanya kok gitu...." Chiko ikut terkekeh melihat wajah berdandan badut itu.


Zio tertawa terpingkal pingkal sampai perutnya terasa sakit. Begitu juga dengan Chiko, dia tak mampu menahan tawa hingga membuat Mayri terbangun dari tidur.


"Berisik!! Kalian ngetawain apa?" ucapnya dengan suara parau.


Spontan Zio dan Chiko terdiam dengan mulut mengembang, tangan menutup mulut, menahan tawa. Mereka saling tatap tatapan.


"Kenapa sih!" Mayri tampak kelimpungan. Dia belum sadar akan tulisan yang menempel di bagian perut yang berisi " Jangan dekat dekat, kentutku sangat bau!!! Aku sering ileran dan ngences. Trus dalamanku bolong bolong!!!"


"Gak, tadi ada yang lucu. Iya kan, dok!" Zio menjeling memberi kode.


"Iya, ada yang lucu. Lihat, apa di atas perutmu." Chiko ngakak hingga air bening keluar dari sudut matanya.


"Pasti ini ulah loe kan, Zio! Gak kapok kapok ni anak. Keterlaluan..!" ucap Mayri memandang tajam sembari meremuk tulisan itu. Lalu melemparkannya ke sang adek.


Zio terus saja ngakak. Sedangkan Chiko bergerak menuju kamar mandi sebab kandung kemihnya sudah tak mampu menahan air seni imbas guncangan tawa.


Tak berselang lama, Marmun tiba di Rumah Sakit Care Husada. Dia bergegas masuk melangkah menuju bagian administrasi.


"Permisi mbak, pasien atas nama Mayri di rawat di mana ya?"


"Bentar ya mbbak." ucap ramah administrator sembari mengotak atik data pasien yang tersimpan dalam komputer nya. Marmun membalas dengan setengah senyum.


"Pasien atas nama Mayri ada di ruang 27 Mel mbak."


Setelah berucap terima kasih, Marmun bergegas pergi.


Setelah melewati beberapa ruang/kamar pasien lainnya, dia tiba di depan pintu kamar Mayri. Dan sebelum melangkah masuk, dia tampak menghela nafas dalam dalam.


"Krekkk!!" pintu di buka.


Serentak Zio dan Mayri menoleh kearah pintu. Marmun melangkah masuk dengan wajah datar.


"Kak Mar, silahkan masuk!" pinta Zio. Dia bergerak menarik tangan Marmun sembari membisikkan sesuatu.


Marmun bergerak mengikuti langkah Zio.


"Kamu kok bisa disini Mar?" tanya Mayri.


Bukannya menjawab, Marmun justru ngakak melihat wajah Mayri hingga terduduk diatas lantai sembari mendekap perutnya.


Mayri mengerling kelimpungan. Lalu matanya terhenti pada snak kecil yang berserakan di sebelah kepala nya.


"Zioooo!!!" teriaknya kuat sesuai nada orang sakit sembari melempar semua jajanan itu ke arah Zio.


Zio dan Marmun terkekeh. Sedangkan Chiko bergerak keluar setelah mendengar pekikan tawa yang tak asing di telinganya dengan wajah serta rambut sedikit basah.


"Lohhh, kamu ada disini. Kangen kamu tauu! Situkang mewek." Chiko tampak bahagia, dia mengelus kepala teman baiknya itu. Lalu kembali melanjutkan tawanya yang sempat terjeda.


Sejenak Chiko melupakan profesi nya sebagai dokter. Dia mengabaikan kesehatan mental pasien dengan ikut menciptakan keributan di kamar pasien, tertawa kuat.


"Tega banget sih kalian!!" Mayri memalingkan dan menekuk wajahnya.


Merasa kasihan, Chiko bergerak memotret.


"Nihh, coba lihat." Chiko menunjukkan hasil potret'annya itu.


Melihatnya, Mayri terdiam dengan wajah dan bibir kelu. Lalu dengan cepat ia membersihkan wajahnya dengan tissue. Tampak air bening mendesak keluar dari balik kelopak matanya.


Merasa bersalah, Marmun dan Chiko langsung mengunci bibir. Sedangkan Zio masih menunjukkan duchenne smile nya.


Terimakasih sudah membaca🙏🙏 Mohon beri saran/masukan supaya karya semakin lebih baik.


Jangan lupa:



Vote


Like


Koment


Beri hadiah


Follow IG ku : munthe.maria