
Masih di hari yang sama,
Marmun bergerak masuk dengan wajah mencongak. Bersikap kasar adalah hal terbaik menurutnya pada saat itu.
"Nak Erik gak ikut masuk?" tanya Sang Ibu.
Marmun menjawab dengan mengedipkan bahu. Tak ingin dicerca akan pertanyaan bersangkut paut pada Erik, Marmun melangkah menghindar, menghampiri Chiko yang sedang sibuk berperang dalam dunia game di kamar sementara nya.
Namun sebelum menghampiri Chiko, ia terlebih dahulu singgah ke kamarnya yang tertata rapi.
"Dia kira segampang itu? aku bukan orang bodoh yang bisa di permainkan sesuka hati. Ngakunya cinta dan sayang, tapi kelakuannya tidak seperti ucapannya." ucap lirih Marmun sembari melempar hand bag ke atas kasurnya lalu bergerak berbalik menghampiri Chiko. Sepanjang langkah dia terus saja menggerutu, bicara sendiri seperti orang stress atau kehilangan akal.
Sesampainya di depan kamar Chiko, Marmun melangkah masuk tanpa permisi. Dia bergerak mendekat dengan harapan mendapat respon akan keluh kesah yang ingin ia sampaikan.
"Dia layak mendapatkan apa yang di perbuat kan Chik?" ucapnya manja. Dia merebah badan di atas kasur Chiko dengan mata memandang langit langit kamar.
Chiko yang terduduk bersandar pada ranjang tak menggubris, dia terlihat fokus pada game yang sedang berlangsung itu. Kelincahan tangan sangat berpengaruh dalam sebuah kemenangan.
"Jujur, aku gak mau ketemu mereka. Eeee, apa pindah kampus aja ya! Ke kampus dekat rumahmu itu loh Chik!" Ucap Marmun dengan wajah serius.
Chiko tak berucap satu kata, dia fokus pada game yang sedang ia mainkan.
Meskipun tak mendapat balasan kata, Marmun terus saja berucap.
"Sial! Kok bisa kalah sih! gak jelas ini game, akhhh!" amuk Chiko membanting HP hingga terpental. Dengan spontan ia juga memukul Marmun menggunakan bantal.
"Chikkooo!!" ucap Marmun lantang.
"Sorry..sorry, serius gak sengaja." Chiko menggaruk kepalanya.
Tak perduli, dengan kesal Marmun bangun dari rebahannya lalu memukul balik laki laki di sampingnya itu dengan bantal yang sama.
"Viss.. Vis, betulan gue kagak sengaja. Serius!" ucapnya menahan tawa.
"Banyak kali cengkonekmu, gak ada..gak ada!" Marmun terus saja memukul hingga akhirnya Chiko melarikan diri. Marmun berlari mengejar dengan bantal di tangan kanannya.
"Tan, gue mau dipukul Marmun." Chiko berlari meminta pertolongan,
"Kak, gak boleh gitu! Jangan kayak anak kecil, kasihan tuh nak Chiko." Sang ibu berusaha menyudahi pukul memukul itu.
"Ngapain mommy belain dia? Dia duluan loh mom. Lagian mommy gak usah ikut campur, ini urusan aku dan Chiko." ucap Marmun bete, ia menatap tajam Chiko.
Mendapat pembelaan dari siempunya rumah, diam diam Chiko menjulur lidah keluar serta mata melotot memutar hingga membuat Marmun merasa jengkel.
"Kamu gak usah ngeledek gitu, kamu kira aku takut? ha!" ucap Marmun sembari melempar bantal yang ia genggam sebelumnya.
Chiko bergerak menghindar, bergeser tepat di belakang punggung Ibu Marmun.
"Wekkk, gak kena! gak kena! wekk! kasian," ledek Chiko menjadi jadi.
"Lihat mom, dia ngeledek. Gimana gak di tampol coba, akhh!" tukas Marmun dengan mengernyitkan wajah.
Dengan menghela nafas berat, sang ibu bergegas menuju kamarnya, meninggalkan Marmun dan Chiko yang sedang bertingkuh.
"Tuh, semua gara gara loe! Jadi masuk kamar kan, padahal tante masih pengen nonton tau! Chiko menggulum senyum.
"Apa? aku? gak getar itu mulut! Lagian mommy udah mau tidur kali, ini kan sudah pukul 21.30 WIB. Ya, wajar masuk kamar!'' balas Marmun tak mau di salahkan.
"Masa!" ketus Chiko dengan mata melebar. Lalu bergerak melangkah menuju kamarnya.
"Apaan sih, gak jelas." Marmun berdecak kesal sembari meraib bantal. Dengan pelan dia bergerak mengikuti langkah Chiko, lalu menampol kepala nya pake bantal.
Sedangkan Chiko terkekeh meskipun ia sempat terkesiap.
"Mau loe nampol gue 100 kali, itu gak jadi masalah buat gue, yang penting loe senang." ucap Chiko dalam hati. Dia melanjutkan langkah masuk dalam kamar.
Disisi lain, dirumahnya, Erik terduduk menghadap jendela yang terbuka. Tampak beribu ribu bintang bersinar yang menghiasi hamparan langit gelap serta cahaya rembulan yang menjadi pusat keindahan menemani kegundahan hati.
Termenung dalam kesepian, meratapi nasib percintaannya bertemankan secangkir kopi.
Sedangkan Mayri tertidur, istrahat dari lelahnya rasa.
*****
Pagi cerah nan sejuk, mentari dan burung burung menyapa dengan romantis. Marmun baru saja terbangun dari lelapnya tidur.
Lalu bergegas menuju kamar mandi. Dia membersihkan tubuh mungilnya kemudian melapisi nya dengan kain peresap.
Hari pertama masuk kampus setelah mengurung diri dalam kesedihan.
Berbeda dengan Chiko, ia terbangun sebelum mentari menerobos masuk dari sela sela jendela.
Saat empunya istana masih tertidur, Chiko telah mengotak atik segala isi rumah itu. Menyapu, nyuci piring bahkan menyajikan sarapan pagi hingga membuat ibu Marmun menganga.
"Rapi begini, siapa yang beresin ya? Si kakak gak mungkin karena dia jarang megang sapu. Siapa ya?" tanya ibu Marmun dengan mata menyisir kesegala sudut ruangan itu. Lalu bergerak melangkah menuju kamar sang putri.
"Pagi kak!" Sang ibu menerobos masuk.
"Ekh mommy." ucap Marmun sembari melapisi wajahnya dengan bedak tabur warna putih.
"Baguslah kakak sudah bangun, kalau gitu mommy buat sarapan dulu." Sang ibu bergerak melangkah ke dapur. Sesampainya di dapur, ia melongok menatap Chiko yang sedang makan dengan lahap.
"Nak Chiko toh yang rapikan rumah. Tante sempat bingung, bangun bangun rumah udah bersih. Sarapan pagi juga udah beres, ya ampun nak! lain kali jangan gitu ya! Maaf jadi nyusahin nak Chiko."
"Hehehehe, sekali kali gak apa apa lah Tan." ucap Chiko sembari ngunyah.
Disaat Ibu Marmun dan Chiko menyantap sarapan, Marmun muncul dengan baju bernuansa putih, kaki berlapiskan sepatu kets hitam. Dia bergerak duduk disamping Chiko.
"Sarapan gak ngajak ngajak. Btw temanin aku ke kampus ya," Marmun mencedok nasi berlumur kecap dan meletakkannya di atas piring kecoklatan. Tak lupa dengan lauknya, telur dadar.
"Gak akh, males." jawab Chiko memalingkan muka.
"Mulai deh ngajak ribut. Temanin ya, please! Kamu kan temanku yang paling baik dan ganteng, masa tega biarin aku sendiri." bujuk manja Marmun sembari menyantap nakannya.
"Lahhh, biasanya juga loe sendiri. Intinya gue kagak mau!" Chiko menyudahi makannya.
Begitu juga dengan Ibu Marmun. Dia tersenyum menyaksikan tingkah anak muda di hadapannya itu. Lalu bergerak menuju kamarnya hendak bersiap pergi kekantor.
"Gue gak mau!" tegas Chiko sembari menyentil telinga Marmun. Lalu bergerak meninggalkannya.
"Aissss, Chik!" Marmun menyudahi sarapannya. Lalu bergerak mengikuti Chiko.
"Chik..please!!'' bujuk Marmun dengan mayun.
Tak tega, Chiko meng"iya"kan permintaan temannya itu. Tanpa lama lama, mereka bergegas pergi.
Berselang beberapa menit, mereka tiba di depan kampus. Di waktu yang sama, Mayri juga tiba di depan kampus.
Terima kasih sudah membaca🙏 🙏 Jangan lupa VOTE, LIKE, KOMENT, BERI HADIAH.