
Pagi tampak kelabu, uap air dari suhu dingin malam membuat udara dan langit pagi itu berkabut, udara juga begitu dingin menembus kulit. Marmun dan beberapa penghuni komplek lainnya tampak berlari kecil dengan sport towel di lehernya. Ia begitu bersemangat hingga tak sadar waktu telah menunjukkan pukul 08.15 WIB.
Dering telepon berbunyi, Marmun menghentikan langkahnya sejenak.
"Hallo," sapa Marmun dengan wajah berkeringat sembari mengelap.
"Kamu udah gerak belum? 5 menit lagi aku nyampe di lokasi soalnya."ucap Mayri yang sedang berhenti di bahu jalan,
"Gerak kemana! ini kan weekend," sahut Marmun kebingungan.
"Heeeiii, siapa bilang hari ini hari senin. Akhhh pasti kamu lupa kan kalau hari ini kita ada GR (Gladi resik)!" ucap Mayri kesal.
"Astagaaaa aku lupa, serius!" ucap Marmun sembari menepuk zidatnya.
"Iya sudah sampai ketemu nanti," lanjut Marmun sembari berbalik haluan,
"Eee tunggu dulu! aku tunggu kamu di lapangan merdeka, biar kita bareng ke lokasi. Ok!" tukas Mayri sembari menghidupkan motornya,
"Owhh, oke oke!" ucap Marmun sembari bergerak berlari.
Berselang 5 menit, Mayri tiba di lapangan merdeka, dia memarkirkan motornya di pinggir jalan dekat bundaran taman lalu duduk di atas motornya. Sembari menunggu sang sahabat menjeru, ia mengotak atik isi HP dan sesekali memandang sekitar taman yang sepi pengungjung itu.
Dari kejauhan tampak beberapa wanita cantik memerhatikan Mayri dengan tatapan tajam penuh kebencian, ia dan segerombolan temannya bergerak memarani Mayri.
"Akhirnya gue ketemu loe di sini," ucap Ranti dengan mata sinis,
Mayri sedikit terkejut seraya berkata ''ekhh loe!
"Iya, gue! loe ingat kan kita masih ada urusan," ucap Ranti sembari mengedipkan mata ke teman temannya, memberi kode.
Tanpa basa basi Ranti dan temannya menarik dan memegang kedua tangan Mayri hingga tak mampu berkutik, lalu menyiramkan secup minuman ringan ke wajah Mayri.
"Apa apaan sih Loe! lepasin nggak! lepasin!" ucap Mayri sembari berontak. Wajah dan beberapa helai rambut serta separuh bajunya tampak ranai.
"Owhh tidak akan!" ucap Ranti,
Teman teman Ranti tertawa puas melihat adegan itu.
"By the way, kita apain lagi yeah ini anak?" ucap Ranti sembari berjalan kecil bolak balik, berpikir.
"Loe udah Gilak ya! udah lah, ngapain kita berantem gara gara cowok bajingan itu! Lagian yang seharusnya marah itu aku, bukan loe! loe yang rebut dia dari aku." ucap Mayri sembari meronta-ronta,
Mendengar ucapan Mayri, Ranti merasa jengkel. Dia bergerak mendekat ke Mayri seraya berkata "Apa Loe bilang? gue? loe yang hancurin hubungan gue dengan Rivan, loe!"
Dengan mengela nafas berat dia kembali kelangkah semula seraya berkata "Mmmm, ada bawa gunting nggak sih guys?
"Loe ngapain? jangan aneh-aneh deh loe!" ucap Mayri gelebah sembari meronta-ronta,
"Aku nggak punya,"ucap salah satu teman Ranti, Laura,
"Aku juga nggak ada," ucap yang lain, Lydia.
"Sama, aku juga nggak punya," ucap yang lainnya,
"Kalian pegang dia erat erat jangan sampe lepas. Gue beli gunting dulu," Ucap Ranti, lalu bergerak pergi dengan langkah cepat.
Tak berselang lama dia kembali dengan sebuah gunting kecil di tangan kanannya, lalu mendekat ke Mayri.
"Loe mau ngapain? please lepasin aku!" ucap Mayri sembari melangkah mundur,
"Ok fine aku salah, maafin aku! ini semua salah aku," ucap Mayri berharap di lepasin.
"Hahahah, sudah terlambat!" ucap Ranti sembari melangkah maju mengikuti langkah Mayri, lalu ia mengarahkan gunting ke rambut depan Mayri seraya berkata "Loe lebih cocok botak deh!"
"Ran, please Ran, jangan potong rambut aku! please Ran!" pinta Mayri sembari meronta-ronta, namun dia tak cukup kuat melepaskan diri dari pegangan erat teman teman Ranti.
"Kalapa tolong aku, cepat datang..." pinta Mayri dalam hati,
"Wahhh wahh, jangan bilang Loe mau botakin dia," ucap Lydia,
"Keren juga yah kalau dia botak, kwkekkeke" ucap yang lainnya,
"Jangan botak juga kali Ran, kasihan dia," ucap Laura.
Mendengar ucapan sang teman, darah Ranti sontak mendidih.
"Kalau Loe sekejam itu, gue nggak ikut ikutan," ucap Laura sembari melepaskan Mayri dari pegangannya,
"Iya sudah loe pergi aja sana! dasar pecundang!" seru Ranti wajah memerah, rahangnya tampak menegang.
"Ok, Gue juga mau pergi kok!" ucap Laura, lalu bergerak pergi.
"Iya sudah sih, sikat aja!" ucap temannya yang lain,
"Lepasin aku please, jangan loe apa apain rambutku, please Ran!" mohon Mayri dengan lemas,
Tak berpikir panjang Ranti memotong rambut panjang yang terurai itu hingga membuat si pemilik meronta-ronta histeris, air mata keluar dari ujung sudut matanya.
Berselang beberapa menit Marmun tiba di lapangan merdeka dan dia bergerak berlari mendekat ketika melihat sang sahabat dikeroyok.
"Woiiii, lepasin dia!" teriak Marmun sembari mengambil sebatang kayu berukuran sedang yang kebetulan ada di dekatnya,
Sontak Ranti dan temannya terkesiap, lalu melepaskan Mayri, kemudian Mayri bergerak cepat ke samping Marmun.
"Dia teman loe Mar?" tanya Lydia yang kebetulan teman Marmun juga.
"Loe kenal dia?" tanya Ranti ke Lydia,
Lydia membalas dengan menganggukan kepala,
"Mayri sahabat sekaligus saudaraku, loe apain dia!" tukas Marmun dengan wajah sangar,
"Ini semua ulah Ranti, dia motong rambut sahabat loe, kita hanya megangin dia doang! Maaf ya," ucap Lydia merasa bersalah,
Mendengus kesal, Mayri tampak memandangi rambutnya yang telah tak beraturan, jomplang.
"Iya, gue! Emang kenapa! masalah buat loe!" tantang Ranti dengan sombong,
"Loe semua pada dukung siapa? aku atau dia?" ujar Marmun santai,
"Iya loe lah, kita kenal loe itu sudah lama so kita milih loe, iya kan guys!" ucap Lydia sembari menoleh ke teman temannya yang lain.
"Nggak usah urusin mereka, sekarang kita pergi aja, sudah telat nih!'' tukas Mayri dengan wajah datar,
"Iya bener, kita lebih memelih loe dari pada Ranti," ucap yang lainnya.
"Penghianat loe semua!" ucap Ranti sedikit takut,
"Kalau gitu lakukan sama persis apa yang dia lakukan pada Mayri," seru Marmun sembari menjatuhkan kayu yang ada di tangannya.
Tanpa berpikir panjang Lydia dan temannya yang lain kembali melakukan perannya, memegang tangan Ranti.
"Lepasin gue! Loe lihat nanti, akan gue balas penghianatan loe semua!" ucap Ranti memberontak.
Lydia dan teman temannya tidak peduli akan ancaman yang Ranti lontarkan.
"Sudah lah Kalapa, kita pergi aja. Kalau kita ngebalas apa yang dia perbuat, sama aja kita sejahat dia!" ucap Mayri tak ingin memperpanjang masalah.
"Kamu tenang aja." ucap Marmun singkat sembari mendekat, lalu mengambil gunting dari genggaman Ranti.
"Ngapain loe! lepasin gue brengsek! seru Ranti sembari meronta-ronta,
Marmun menyentuh rambut Pirang Ranti lalu mengguntingnya sama persis seperti yang dia lakukan pada Mayri.
Ranti tampak bergeming tak mampu berkata kata. Lydia dan yang lainnya melepaskan Ranti, lalu bergerak pergi.
"Jangan coba coba loe ngeganggu dia lagi, ingat itu!" ingatkan Marmun dengan jemari menunjuk ke wajah Ranti, lalu bergerak pergi. Mayri mengikutinya dari samping.
Seperempat jam kemudian, Marmun dan Mayri tiba di lokasi GR.
"Thanks ya kalapa, tadi kamu belain aku," ucap Mayri dengan senyum,
Marmun menjawab dengan membelalakkan matanya hingga keduanya tertawa puas. Kemudian mereka bergegas GR dengan timnya.
Hari menjelang sore,
Marmun, Mayri dan yang lainnya telah usai GR hingga mereka kembali kerumah masing masing dengan lejar.