
Erik masuk dengan langkah pelan, mata memandang ke depan tanpa memperdulikan mahluk yang ada di sebelah kiri dan kanan nya.
Setelah berjalan melewati beberapa kamar pasien lainnya, langkahnya terhenti di depan pintu salah satu kamar pasien yang selalu ia kunjungi selama satu bulan terakhir.
Nada pesan masuk menghentikan langkahnya melangkah ke dalam kamar pasien itu, kamar rawat Marmun di rawat.
Ia berdiri sembari mengeluarkan HP dari saku kanan celananya.
Lalu membuka pesan masuk dari salah satu nomor yang tak dikenal.
Setelah Erik membaca pesan masuk itu, ia terlihat beberapa kali menutup matanya.
Lalu dengan cepat jemarinya merangkai beberapa kata, kemudian menekan tanda panah di sebelah kanan bawah pada keyboard text HP'nya, artinya pesan terkirim.
Setelah itu Erik kembali memasukkan HP'nya kedalam saku kanan celananya dan mulai bergerak melangkah dan membuka pintu kamar pasien itu.
"kreekk," bunyi pintu di buka,
Kosong, sunyi, hening tak ada penghuni, serta tak ada barang barang yang tersisa yang sebelumnya meramaikan kamar itu, hanya tersisa bed pasien tanpa pemilik.
Erik melangkah sembari melihat ke depan, ke kiri dan ke kanan dengan ekspresi tumpul.
"Marmun kemana yah! barang - barangnya juga nggak ada," ucap Erik lirih.
Mendapati Marmun sudah tidak ada lagi di kamarnya (kamar pasien), Erik bergegas pergi ke bagian administrasi rumah sakit.
"Sus, pasien kamar 07 kok tidak ada di ruangannya, kemana yah?" tanya Erik dengan wajah datar.
"Pasien 07 atas nama bu Marmun sudah keluar pak, pasien sudah di izinkan pulang." jawab perawat,
"Baru sekitar 15 menit yang lalu pak,'' lanjut perawat memberi tahu.
"Owh gitu, makasih sus."
Erik mengeluarkan HP dari dalam saku celana.
Lalu berbalik badan serta melangkah beberapa langkah ke sebelah kiri agar tidak menghalangi yang lain.
Erik menghubungi Mayri berulang kali.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi, silahkan coba beberapa saat lagi!" bunyi panggilan telepon.
Mengetahui bahwa nomor HP Mayri sedang tidak aktif, Erik memutuskan menemui Marmun di rumahnya. Dia bergerak berjalan keluar dari dalam rumah sakit.
Setiba di parkiran tepat di samping mobil putih, langkah Erik terhenti. Dan dia di sapa, di sambut dengan ramah oleh seorang laki-laki berumur 35 tahun, berkulit gelap.
"Silahkan pak!" sambut sang supir dengan senyum lebar membukakan pintu mobil.
Erik tampak memasukkan kaki kanannya ke dalam mobil kemudian di ikuti kaki kiri dengan badan sedikit bungkuk, lalu menapakkan bokong nya di atas sofa mobil. Sang supir mendorong pintu mobil, menutup. Kemudian bergerak masuk kedalam mobil.
"Kita pulang atau gimana pak?" tanya supir. Dia melirik sang tuan dari kaca depan.
Mendengar ucapan sang supir, Erik baru menyadari bahwa dirinya tidak tahu alamat rumah Marmun. Dia membisu berapa detik dan tampak sedang mengerut kan kening.
"Gimana jadinya pak?" tanya sang supir kembali, sembari menoleh ke arah sang tuan.
"Sebentar! saya telepon Rivan dulu,"
Erik menghubungi nomor HP Rivan, namun hasilnya sama seperti saat menghubungi nomor HP Mayri, tidak aktif.
"Kita balik ke rumah saja!"
"Siap pak." ucap sang supir sembari menghidupkan mobil, lalu membawa siuh.
Erik terlihat begitu kecewa, dia kecewa pada diri nya sendiri. Ia juga tampak menyesal akan kelupaan nya menunang nomor HP Marmun.
*****
Hari semakin sore, langit yang indah karena perpaduan warna yang apik membuat beberapa insan merasakan ketenangan, sama seperti Marmun yang merasakan ketenangan ketika di rumahnya.
Sesampainya di rumah, Marmun terlihat bahagia, wajahnya berseri.
"Mom aku langsung ke kamar yah," ucap Marmun dengan wajah bersinar dengan hati yang bergembira.
Sang ibu meletakkan tas ransel dan membereskan barang bawaannya.
"Siap mom, nggak usah khawatir."
Marmun bergerak cepat membuka pintu kamar.
"krekkk," bunyi pintu kamar.
Marmun bergerak mendekat ke tempat tidur, lalu duduk di atas ranjang dengan corak bed cover kehijauan, kemudian dia merebahkan badannya dengan tangan terlentang dan mata tertutup.
Dia tersenyum seakan membayangkan sesuatu.
"Owh iya, aku belum ngasih tahu Mayri kalau aku sudah pulang ke rumah." ucap Marmun dengan nada pelan. Dia bangkit dari rebahannya lalu duduk.
Dengan cepat tangan Marmun mengambil HP lalu calling Mayri, panggilan tersambung.
"Hallo kalapa," ucap Marmun dengan lembut,
"Iya kalapa, ada apa..? kamu baik baik saja kan?" tanya Mayri
"Aku baik baik saja. Aku mau ngasih tahu kalau aku sudah di rumah, sudah pulang dari rumah sakit."
Marmun tampak bersemangat.
"Benarkah? kamu serius kan?" tanya Mayri dengan kedua alis sedikit naik.
"Iya serius, ngapain juga aku bohong," jawab Marmun sembari mengangguk anggukkan kepala.
Di kamarnya tampak Mayri begitu senang mendengar kabar baik dari sang sahabat. Dia lonjat lonjat mengekspresikan kesenangan hati, hingga sang adek yang kebetulan lewat dari kamar Mayri, mengejeknya.
''Idikhh! Apaan sih Loe jingkrak jingkrak di situ, sudah kayak anak bocil aja!" ucap Zio dari pintu kamar,
"Suka suka aku dong, ngapain loe yang repot!"
"Sana loe! nggak usah heboh! Kenapa loe selalu ngerusak mood aku!" Mayri mengambil dan melempar pulpen ke Zio.
"Weeekkk nggak kena! aku nggak mau, kenapa? masalah buat loe?" lantam Zio dengan raut wajah mengejek.
Marmun tertawa puas mendengar dan menyaksikan pertengkaran kedua saudara kandung itu, meskipun Via telepon.
"Loe pigi sana! aku lagi telponan sama sikalapa soalnya," lanjut Mayri dengan emosi.
"Alaaah bilang aja lagi telponan sama cowok, makanya sampe jingkrak jingkrak gitu!"
Zio mengambil pulpen yang ada di lantai dan melempar kembali tepat mengenai pelipis kanan Mayri lalu bergerak meninggalkan nya.
"Issss Zio kampret! dikira nggak sakit, apa!" Wajah Mayri memerah dan pelipisnya sedikit membiru.
"Mar maaf ya! biasalah ada anak bocah jailnya kambuh kerasukan setan," Mayri menggaruk kepala.
"No problem kalapa, aku justru senang mendengar kalian berantem gitu," sahut Mayri tertawa.
Mayri tertawa pekikan.
"Btw, kamu sudah ngasih tahu Erik atau blom?" tanya Mayri dengan alis sedikit naik.
"Belum dong Kalapa, nomor nya kan nggak ada sama aku!" sahut Marmun. Dia membaringkan tubuhnya.
"Iya kah? kok bisa? sebegitu seringnya kalian ketemu tapi nggak ada tukar kontak?" tanya Mayri sembari menepuk zidatnya.
"Hahah iya, aku nggak kepikiran."
"Ikhh kebiasaan!, jadi orang nggak usah terlalu cuek! ntar susah dapat jodoh loh,"
Marmun menjawab dengan tertawa.
"Btw udah dulu ya kalapa, sampai ketemu besok, bye!" Marmun menghampiri telponan nya.
Setelah telponan, di tempat yang berbeda Marmun dan Mayri menyibukkan pikiran pada sosok yang membuat hatinya berbunga-bunga.