Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -27



Marmun menatap curiga,


"Pada ngomongin apa sih, seru banget kayaknya," ucap Marmun sembari bergerak mendekat ke arah keduanya.


Mayri dan Erik sontak menoleh ke arah Marmun.


"Ekhhh kalapa, mana bajunya!" ucap Mayri dengan menadahkan tangan,


Marmun menyerahkan tas ransel seraya berkata "Nih tuan putri!'


"Thank you kalapaku," ucap Mayri dengan senyum sembari bergerak turun dari ranjang (bed pasien) lalu bergerak masuk dalam kamar mandi.


"Tadi pada ngobrolin apa bee? asyikk banget kayaknya, nggak seperti biasanya," ucap Marmun jealous.


"Nggak ada, hanya ngobrol biasa doang. Kamu kenapa tiba tiba nanya gitu, cemburu yeah? hayoo!" ucap Erik sembari menggulum senyum dan mencolek dagu wanita yang di depannya itu.


"Idikhhh, Nggak! ngapain aku cemburu, biasa aja!" ucap Marmun dengan wajah datar.


"Masa?? hayoo jujur!" goda Erik dengan mengedip edipkan mata.


Marmun menatap Erik dengan penuh kelembutan dan tanpa ia sadari badannya sedikit mencondong mendekat ke sang kekasih seraya berkata "Dapurrr!"


"Kwkekkeke" kekeh Erik geli,


"Nggak nyambung dong cantik!" lanjut Erik dengan menyipit kan mata dan menggulum senyum sembari menyentil pelan zidat Marmun.


"uhhh," Marmun mayun.


Dalam kamar mandi, Mayri tampak sedikit kepanasan mendengar buah mulut yang Marmun dan Erik lontarkan.


Dia mendesis kesal,


"Apaan sih, lebay banget." guman Mayri dengan wajah menyeringai. Lalu ia membasahi wajahnya dengan kasar kemudian bergerak keluar dengan tas ransel.


"Kita pulang aja!" tukas Mayri,


"Ok," ucap Erik singkat lalu mereka bergegas pergi.


"Sebelum balik kita ke apotik dulu!" seru Marmun,


Tak berselang lama, mereka bergerak pergi.


*****


Hari menjelang sore, ketika hendak mengantar pulang sang pacar, Erik tak sengaja menyerempet seorang wanita separuh baya yang sedang berjalan di bahu jalan tanpa menoleh kiri dan kanan.


"Seeeettttttt" bunyi mobil di rem paksa.


Wanita itu terjungkal, pipi dan telapak tangannya sedikit tergores, bercak darah.


Beberapa orang dari kejauhan hanya menatap diam tanpa bergerak membantu,


Sedangkan Marmun dan Erik panik dan bergegas turun dari dalam mobil. Mereka khawatir akan amukan orang banyak.


"Astagaaa!!! maaf ya Bu," ucap Erik sembari mengangkat berdiri wanita itu.


Wanita itu tampak kesakitan, dia berdesis perih.


"Iya nggak apa apa nak, ibu yang salah nggak hati hati." ucap Wanita itu sembari mengelap luka dengan sehelai tissue.


"Kita juga salah Bu, maaf! Kita periksa ibu ke klinik yeah, aku takut ada luka serius," ucap Marmun sembari mengibaskan debu yang nempel pada baju wanita separuh baya itu (Bu. Dinda)


Tiba tiba Bu Dinda menatap Marmun dengan dalam, ia tampak mengerutkan kening.


"Kamu Marmun kan nak! masih ingat nggak sama tante? kita pernah ketemu di suatu acara, kamu bareng sama ibumu waktu itu." jelas Bu Dinda,


Marmun sejenak mengingat, ia tampak memandang keatas.


"Iya bener, waktu itu Tante hampirin kita bareng suami (Om). Sekali lagi maafin kita ya Tan," ucap Marmun sembari menyentuh lengan Bu Dinda.


"Ibu mau kemana? biar kita antar pulang," tukas Erik,


Di sela ajakan Erik, seorang laki laki tampan, tinggi, mancung datang kearah mereka seraya berkata "Loe apain nyokap gue!"


"Varel!" seru Bu Dinda,


"Maaf mas, tadi saya tidak sengaja nyerempet Bu Dinda," tukas Erik dengan nada lembut,


''Mereka nggak salah Ibu yang salah, tadi jalannya kurang hati hati. Ibu nggak apa apa kok," beritahu sang Ibu,


"Nggak apa apa gimana! wajah dan tangan Ibu sampe luka gini, kita ke klinik yok!" ucap Varel cemas sembari meniup luka sang ibu,


"Kita juga sudah ngajak Bu Dinda ke klinik tapi beliau tidak mau," ucap Erik.


Marmun sejenak bergeming lalu ia berguman "Wow! pria penyayang, pria sejati."


"Sudah berapa kali Varel bilang ke ibu, kalau mau kemana mana suruh Varel yang nganter." ujar Varel dengan cemas,


"Iya, iya bawel.." ucap Bu Dinda dengan senyum,


Bu Dinda menatap Marmun dan anaknya bergantian, seraya berkata "Rel ini Marmun anak teman Ibu,"


"Mar, ini Varel anak ibu yang pernah ibu ceritain waktu itu," lanjut Bu Dinda sembari menyenggol halus lengan Varel, memberi kode.


Marmun dan Varel menyatukan tangan dengan senyum tipis, bersalaman, seraya berkata "Hai, salam kenal,"


Marmun membalas dengan senyuman tipis,


Bu Dinda begitu bahagia bisa memperkenalkan sang putra begitu pun sebaliknya.


Sedangkan Erik sedikit gelisah dan was was, takut Sang kekasih berpaling hati. Sebab dia berfirasat bahwa Bu Dinda memiliki niat menjodohkan anaknya dengan Marmun. Erik menahan kegundahan hati.


"Kalau begitu kita balik dulu ya Bu, mas, sekali lagi kita minta maaf," celetuk Erik sembari menggandeng tangan Marmun, menunjukkan bahwa Marmun adalah miliknya.


"silahkan nak! hati hati," sahut Bu Dinda dengan ramah.


Varel membalas dengan senyum tipis,


Marmun dan Erik bergerak masuk dalam mobil, lalu memacu mobil.


Di sisi lain di depan rumah, Mayri terlihat melamun sibuk dengan pikirannya, menghayal kelak akan bersanding dengan Erik.


Dunia hayal,


Di Gereja di depan orang banyak, Mayri melangkah dengan Gaun putih dan high heels melapisi tubuhnya, begitu juga dengan Erik. Ia melangkah dengan stelan jas hitam. Bergandengan, keduanya bergerak mendekat ke depan altar Tuhan. Mereka terlihat seperti putri dan pangeran, semua orang berdecak kagum dengan senyuman.


"Di depan Allah saya....."


"Ngapain loe senyam senyum sendiri kayak orang gila!" ucap Zio sembari mendorong pelan kepala Mayri.


Sontak Mayri terbangun dari dunia hayalnya.


"Ikhhhh Zio! akhhh loe ganggu mood aku deh!" ucap Mayri kesal sembari bangkit dari duduknya lalu menjambak pelan rambut sang adek.


"kwkekeke, sakit nenek lampir! lepasin!" ucap Zio sembari berusaha melepas diri dari jambakan sang kakak.


"Makanya lain kali jangan rese!" ucap Mayri dengan tatapan tajam sembari melepaskan Zio, lalu bergerak masuk dalam rumah.


"Lagian loe ngapain senyum senyum sendiri, atau jangan jangan loe udah gila beneran lagi! Astaga kasihan kakak Gue ini, cantik cantik kok gila!" ucap Zio dengan wajah tak berdosa sembari mengikuti langkah Mayri.


"Apa Loe bilang, loe doain aku gila! eeee dasar adek durhaka!" ucap Mayri geram sembari mengambil sapu,


Zio bergerak menghindar dari amukan sang kakak. Mayri mengejar, Zio berlari. Mereka kejar kejaran bagai kucing dan tikus.


"Ahhhkkk terserah loe deh Zio, capek! nggak ada gunanya juga aku ngeladenin manusia kayak loe," ucap Mayri sembari menyandarkan sapu pada dinding rumah.


"wkekwkwk," Zio tertawa geli melihat mimik Mayri.


"Orang gila, orang gila, cantik cantik kok gila!" seru Zio ngisengin.


Mayri berjalan menconcong hingga mencengklek pintu kamar, lalu bergerak merebah telungkap di atas ranjang.


"Si Zio kampret, akhhhh kesal!" ucap Mayri lirih, lalu ia kembali melanjutkan angan.