
Mayri tampak mengendalikan hati, ia berusaha menghapus rasa pada Erik, cuek.
"Kita langsung masuk aja soalnya yang lain sudah pada nungguin dari tadi, orang orang juga sudah berdatangan," ujar Mayri sembari bangkit dari duduknya lalu melangkah pergi.
Tanpa berucap satu kata, Marmun dan Erik mengikuti langkah Mayri dari belakang. Mayri berjalan lebih dulu satu langkah di banding sepasang kekasih itu.
"By the way acaranya jam berapa mulai?" tanya Erik dengan lembut sembari melanjutkan langkahnya,
"Sesuai pengumuman acara mulai jam 10.00 WIB. Kita lihat aja nanti beneran di jam segitu atau berubah karena keseringan jam indo itu jam karet." ucap Marmun sembari mengikuti langkah Mayri.
Mayri berjalan menconcong diam tak ingin ikut nimbrung dalam obrolan sepasang kekasih itu.
Hingga mereka menghentikan langkah di depan pintu Aula.
"Aku dan Mayri siap siap dulu, nanti kamu duduk di kursi barisan ke tiga bagian kiri depan yeah bee, jangan di belakang!" ucap Marmun
"Ok siap loppit," ucap Erik sembari menyerahkan tas ransel Marmun.
"Thanks y bee," ucap Marmun dengan senyum sembari mengedip edipkan kedua matanya.
Mayri menatap keduanya dengan setengah senyum.
"Apaan sih kamu, jelek tahu mata dikedip kedip gitu," ucap Erik dengan senyum dan kedua tangannya mendekap wajah Marmun sembari mengeleng gelengkan kepala, gemes.
"Ekhmmm, ayok! pacarannya nanti aja," ucap Mayri dengan wajah datar sembari menarik tangan Marmun,
Marmun dan Erik tertawa simpul,
Mayri dan Marmun bergerak cepat ke ruang ganti sedangkan Erik bergerak masuk ke ruangan yang telah di hias sedemikian rupa itu, lalu duduk di barisan seperti yang Marmun ucapkan.
Sesampai di ruang ganti,
"Dari tadi aku perhatiin kamu sedikit cuek pada Erik, kenapa? " ucap Marmun sembari mengeluarkan baju gaun berwarna biru dari dalam ranselnya,
"Masa? perasaan aku biasa biasa saja!'' sahut Mayri sembari mengenakan baju gaun yang senada dengan warna gaun Marmun.
"Mar, May buruan! kita akan briefing sebelum acar di mulai," tukas salah satu teman Marmun dan Mayri.
"Iya, sabar." ucap Marmun sembari mengenakan gaunnya.
Mayri tampak membantu memasangkan gaun panjang pada tubuh mungil sang sahabat.
"May, udah cantik apa blom?" tanya Marmun sembari berkaca,
"Udah. Tumben loe merhatiin penampilan! biasanya juga cuek," ucap Mayri sembari merapikan rambut dan makeup nya.
Dari ujung pintu ruang ganti seorang laki laki dewasa masuk seraya berkata "Waktu menunjuk pukul 09.40 WIB silahkan kumpul di depan aula. Kita akan briefing sebentar, cepat guys!"
Marmun bergegas buru buru seraya berkata "Ngapain heboh sih, kita kan perfom pertengahan acara,"
"Gini nih kalau pacaran mulu, nggak konsen konsen mulai dari kemarin sampe sekarang tetap aja lupa, hadekhh!" ucap Mayri sembari menarik sedikit gaunnya agar leluasa melangkah lalu bergerak ke depan aula. Marmun mengikutinya.
Beberapa kepala dengan ragam style mengikuti briefing itu, termasuk Marmun dan Mayri.
Mereka tampak serius mendengar arahan lelaki dewasa yang ada di depan mata.
"Berikan yang terbaik dalam setiap penampilan kalian, jangan pernah mencoreng nama kita, baik itu nama diri sendiri maupun tim. OK!" ucap lelaki dewasa itu dengan mata menatap satu persatu tim nya.
"Siap kak!' seru mereka serentak sembari bertepuk tangan, semangat.
Disaat teman temannya sibuk mempersiapkan diri, Mayri tampak menekuk perutnya seraya berkata "Adukhh perutku kenapa ya, tumben sakit begini,"
"Please jangan sakit dong perut," ucapnya lirih,
"Wajahmu pucat lho May, kamu nggak apa apa kan?'' tanya salah satu temannya,
"Aku nggak apa apa, perutku hanya sedikit mules aja," ucap Mayri,
"Kamu kenapa kalapa, kok keringatan gitu?'' tanya Marmun dengan wajah serius sembari mengambil tissue kemudian mengelap keringat Mayri.
"Nggak tahu tiba tiba aja perutku sakit, sakit banget." ucap Mayri dengan wajah menahan sakit.
"Loppit ngapain kesini, ada apa?" tanya Erik sembari bergerak berdiri.
"Tolong belikan obat sakit perut," bisik Marmun dengan sedikit mendekat telinga Erik.
"Kamu sakit perut?" tanya Erik pelan sembari melangkah keluar bersama sang kekasih.
"Bukan aku tapi Mayri. kamu lari aja bee biar lebih cepat," pinta Marmun,
Beberapa pasang mata tertuju pada sepasang ke kasih itu hingga sampai ujung pintu.
"Iya sudah aku pergi," ucap Erik lalu bergerak berlari.
Acara di mulai, tim mulai melakukan perannya masing masing.
Mayri sedikit cemas sekaligus panik melihat keadaan sang sahabat.
"Siap siap Mar, May, 10 menit lagi giliran kalian" ucap salah satu pemandu timnya,
"Mayri lagi......" ucap Marmun, (terhenti sejenak)
"Siap kak," tukas Mayri menyela ucapan Marmun dengan wajah pucat,
Berselang beberapa menit Erik datang dengan setablet obat di tangan kirinya dan sebotol air mineral di tangan kanannya. Lalu ia memberikannya ke pada sang kekasih.
"Thanks bee," ucap Marmun, lalu melepaskan pil itu dari dalam tablet nya lalu memberikan kepada Mayri.
Bersamaan dengan air mineral, Mayri meneguk nya.
"Maksih y kalapa, Rik" ucap Mayri lemas.
"Kalau masih sakit tidak usah di paksa May," ucap Erik prihatin.
"Bener May, kesehatan kamu lebih penting. Aku menyanyi sendiri juga nggak apa apa." sambung Marmun peduli,
"Jangan dong Mar perutku sudah enak'an kok, bentar lagi pasti sembuh," ucap Mayri berbohong sembari menatap Marmun dan Erik.
"Yakin?" tanya Marmun memastikan,
Mayri menjawab dengan mengangguk kecil kepalanya sembari menutup air mineral lalu meletakkan di sebelah kirinya.
Berselang 2 menit dari dalam aula terdengar suara memanggil nama Marmun, Mayri.
"Kami masuk dulu ya bee," ucap Marmun,
"Iya loppit, jalannya pelan saja," ucap Erik,
Dengan rasa sakit Mayri bergerak masuk dengan senyum, Marmun mengikutinya dari belakang. Erik bergerak duduk di samping panggung.
Mayri naik ke panggung selangkah lebih dulu dari Marmun. Ia masih terlihat pucat, sesekali dia menghela nafas berat sembari mengepal gaunnya, menahan rasa sakit.
"Pelan pelan aja May," bisik Marmun dari belakang,
"Iya," ucap Mayri bergerak ke arah sang MC, mengambil microphone lalu melangkah ke pertengahan panggung, begitu juga dengan Marmun.
"Salam hormat kepada bapak, ibu, adek dan kakak, Abang semua. Ijinkan kami menyanyikan satu lagu bertajuk Mimpi." ucap Marmun sembari menundukkan kepala, menghormat. Mayri mengikutinya,
Musik di mainkan, perlahan Mayri dan Marmun mengeluarkan suara merdu dan indah hingga beberapa pasang mata tak berkedip tertuju pada mereka termasuk Erik.
Di pertengahan lagu Mayri tampak mendekap kuat perutnya dengan tangan kiri, wajahnya pucat seakan tak berdarah, dia berdiri sedikit goyah tak stabil hingga jatuh tak sadarkan diri.
Marmun bergerak cepat mendekat ke Mayri seraya berkata "astaga May!"
"Astaghfirullah!" ucap pemain musik (gitaris) sembari menghentikan petikannya.
"Tolong, tolong!" pinta Marmun panik,
Melihat Mayri terjatuh Erik bergerak berlari menghampiri.