
Dalam hati khusyuk, dia pergi membawa membelenggu rasa dengan mendesir air mata.
Dalam perjalan menuju rumah sakit, dengan gemulai ia membuka amplop yang berisi curahan hati yang terlisan dalam orek orek pena.
To My beloved ❤️
Sebenarnya saya bingung memulai dari mana, akan tetapi saya putuskan untuk menjelaskan rencana surprise ulang tahunmu saja. Karena saya pikir semua kesalah pahaman ini bermula dari titik itu.
Jauh sebelum kamu pergi berlibur, saya terpikir memberi sesuatu yang selama ini kamu harap dan inginkan. Untuk membantu mewujudkan nya saya mengajak Mayri. Kita berencana mempertemukan mu pada Idola yang selalu kamu puji yaitu Lyly. Penyanyi muda berbakat.
Kamu tahu, gak! Saat saya memberitahukan padanya hal niat baik itu, dia terlihat bahagia dan antusias. Bahkan dia berkata : Marmun adalah kakak sekaligus ibu bagiku. Dia adalah penjagaku. Semua akan ku lakukan demi dia.
Owh ia, memang benar saya dan Mayri sering bertemu tanpa sepengetahuanmu, itu tidak kita pungkiri. Tapi, namanya juga surprise mesti di rahasiakan, bukan! Hingga waktu itu, kamu melihat saya dan Mayri berduaan. Kamu marah lalu pergi membawa luka kesalah pahaman.
Saya mau tekankan sekali lagi bahwa tidak ada kata "selingkuh".
Yang harus kamu tahu bahwa, aku sangat mencintaimu melebihi cintamu padaku.
Owh iya, saya cantumkan nomor manager lyly dan nomor pihak cafe.
(Manager lyly :0811812xxxx, Manager cafe (0811562xxxx).
Silahkan hubungi bila kamu masih tidak percaya.
Saya juga mau bilang, ada beberapa bukti di dalam amplop yang saya berikan padamu saat itu. Saya yakin kamu telah membuangnya dalam tong bersama benda yang kamu anggap sampah, sama seperti kamu menganggap ku sampah.
"Saya mencintai mu, itu sebabnya saya takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu sampai akhir hayatku. Semoga kebahagiaan selalu menghampirimu."
Love you. Dari Erik, yang kamu benci.❤️❤️❤️
Kata perkata ia linsankan dengan Isak tangis hingga membasahi sebagian badan surat.
Mendengar pekikan tangis, sang supir hanya bisa memandang kasihan sembari memacu kecepatan tinggi.
Berselang beberapa jam, Marmun tiba di depan rumah sakit. Dia melangkah cepat menconcong masuk pada bangunan besar, luas, bernuansa putih dengan ratusan kepala yang memadati.
"Sus, pasien atas nama Erik di rawat di mana ya?" tanyanya terbata bata.
"Bentar ya mbak," perawat mencari dalam data komputer.
"Sekarang ada di ruang ICU nomor 5 mbak." lanjut perawat.
Tanpa berucap terima kasih, Marmun berlari ke ruang ICU dengan mata sembab, tatapan kosong. Perasaannya campur aduk tak menentu.
Didalam ICU, Erik terhubung dengan berbagai alat medis melalui kabel dan selang. Dia bernafas dibantu oleh ventilator. Erik terbaring koma dengan kepala berlapiskan perban. Terlihat denyut jantungnya sangat lemah pada monitor.
Sesampai di depan ICU, beberapa orang menyambut nya dengan air mata, termasuk asisten rumah tangga Erik. Tak ada sosok keluarga inti sebab orang tuanya tinggal di luar negeri.
Tiba tiba seorang wanita tua bergerak memdekap Marmun. Dia adalah sang asisten rumah tangga yang merawat dan menjaganya dari usia balita. Erik sudah menganggap nya keluarga sendiri bahkan Ibu kedua baginya. Segala sesuatu pasti ia ceritakan pada wanita tua itu (Mbok Ria), termasuk masalah percintaan. Itu sebabnya Mbok Ria mengenal dan tahu siapa Marmun.
"Non, Si mbok gak mau kehilangan tuan. Gak mau non. Tuan orang baik, dia gak boleh kenapa napa, gak boleh non.'' ucapnya dengan merembah air mata.
Marmun diam membisu, memandang pada Erik yang terhalang pintu dengan tatapan kosong sebab Erik belum bisa di kunjungi. Tanpa terdengar suara tangis, dari balik kelopak mata, air bening terus saja mendesak keluar.
"Sabar ya Mar, bawa pak Erik dalam doa. Insyaallah beliau akan sembuh dan baik baik saja." ucap Sisca (Sekretaris Erik) sembari memeluk dan mengusap punggung Marmun.
Marmun bergeming , dia masih saja mematung dengan limbung, pandangan gelap berkunang-kunang serta mendengar samar samar, pusing seperti melayang.
Secepat kilat, Marmun tergeletak jatuh tak sadarkan diri.
"Tolong bantu..ayok!" ucap yang lain. Mereka bergerak mengangkat tubuh lemas tak berdaya itu masuk dalam ruang pasien.
"Dokter..dokter! tolong dok!" ucap Mbok Ria berlari memanggil. Sedangkan Sisca stay di depan ruang ICU, menunggu dan menjaga Erik.
"Pasien akan segera kita tangani, mohon silahkan keluar!" ucap dokter tegas.
Tanpa membantah Si Mbok dan yang lainnya bergerak keluar.
Di ICU, kondisi Erik semakin memburuk. Terlihat dokter dan perawat bolak balik keluar masuk melakukan pengecekan terhadap perkembangan kesehatan laki laki brewok itu.
Melihatnya, Sisca terbawa dalam rasa cemas, wajah terlihat khusyuk. Dia bergerak berdiri, lalu duduk kemudian berjalan kecil, duduk lagi. Terulang berkali kali.
"Ya Allah, selamatkan pak Erik. Sembuhkan kah beliau sebab Engkaulah maha penyembuh.Tidak ada kesembuhan melainkan dari kesembuhanmu, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit. Amin ya rabb." doa Sisca dalam hati. Dia mengusap wajahnya dengan lembut, mengaminkan doa.
Tiba tiba, dari dalam ICU keluar dua orang berbaju putih mendominasi tubuh dengan stetoskop menggantung pada lehernya.
"Bagai mana keadaan pak Erik, dok? Dia baik baik saja kan?" tanya Sisca dengan wajah serius.
"Saat ini, kondisi pasien semakin menurun. Kita sudah melakukan yang terbaik. Kita berdoa aja semoga pasien bisa melewati masa kritis nya dan segera sadar dari koma." ucap dokter.
"Amin. Semoga ya Allah. Sudah bisa dijenguk dok?"
"Untuk saat ini pasien tidak boleh dikunjungi oleh siapa pun demi kelancaran proses penyembuhan nya. Kalau begitu, kita pergi dulu." pamit dokter. Lalu bergerak melangkah.
Sisca menjawab dengan setengah senyum.
Sementara dalam kamarnya, Mayri terlihat sedang mempacking beberapa barang, termasuk pakaian. Satu persatu ia masukkan dalam tas ransel berwarna biru tua lengkap dengan sepatu ganti dan alat makeup.
Dalam kesibukan nya ia sempat memasukkan selembar Poto dirinya yang sedang berdiri di tepi hamparan pantai bersama seorang wanita berkulit putih, berambut pendek yang tak lain ialah Marmun, sahabatnya. Pemandangan yang begitu indah dan menarik. Setiap insan yang melihatnya pasti mengundang rasa ingin berdayuh kesana.
Setelah selesai mempacking, dia bergegas naik ranjang. Sebagian tubuhnya di lapisi kain penghangat. Lalu tak berselang lama ia mengistirahatkan otak dan raganya dari rumit dan kejamnya dunia. Begitu juga dengan Zio.
Sedangkan Chiko, baru saja tiba di rumahnya. Hanya berucap sapa pada penghuni rumahnya, dia bergegas masuk dalam kamar, lalu merebah badan di atas kasur empuknya. Lelahnya dalam perjalan membuat nya larut dalam dunia mimpi.
Berbeda dengan Ibu Marmun, dia tampak sibuk menunggu sang putri pulang sebab hari sudah larut malam.
"Mereka kok gak pulang pulang, kemana ya?" ucapnya dengan mengerling.
Terima kasih sudah membaca 🙏🙏 Mohon tinggalkan saran/masukan supaya karya menjadi lebih baik.
Jangan lupa:
Vote
Like
Koment
Beri hadiah
Jangan lupa follow IG ku : munte.maria