Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -52



Terik mentari seketika tertutup oleh awan gelap hingga hari menjadi kelam. Begitulah perasaan Zio.


Dia bergegas pergi dengan menunggangi motornya dengan laju kecepatan tinggi tanpa pelapis kepala (helm). Sangking memburu waktu, di perempatan jalan, hampir saja ia menyenggol pejalan kaki yang hendak menyebrang.


"Ngeeiiiikkkkk!" suara rem paksa.


"Hati hati, dong! Bisa pake motor gak? Pake otak! bawa motor kok ugal-ugalan!" omel pejalan kaki serta pengendara motor lainnya.


Sontak Zio meminta maaf, lalu kembali melanjutkan perjalanan nya.


Berselang beberapa jam, Zio tiba di Rumah Sakit Care Husada. Setelah memarkirkan motor, dia bergerak masuk dalam rumah sakit membawa kepanikan dan rasa khawatir.


"Mbak, pasien atas nama Mayri ada dimana ya?" tanya nya dengan wajah merah, nafas ngos-ngosan.


"Mohon maaf, anda siapanya pasien?"


"Adeknya mbak." Zio tampak berkeringat meski telah berada di ruang ber AC itu.


"Di ruang rawat no. 27mel." Ucap petugas administrasi ramah


Setelah berucap terima kasih, Zio berlari menemui sang kakak tanpa peduli nafas yang tak beraturan.


Sesekali dia bertanya pada perawat yang ia lalui untuk memudahkan pencarian ruang itu.


Beberapa menit kemudian, dia tiba di depan pintu no 27mel. Jantungnya berdetak kencang saat hendak melewati batas pintu masuk ruang yang didominasi warna putih itu. Zio mendengus bau obat.


"Bangun kak! bangun! Loe kenapa bisa begini?" Zio tak mampu berkata banyak, dia tertunduk stress merembah air mata seakan kehilangan separuh jiwa.


"Jangan tinggalin aku, loe harus semangat. Loe pasti sembuh!" ucap Zio sembari memegang erat dan mencium tangan wanita yang terbaring lemah tak berdaya, kaku itu.


Dirumah sakit yang berbeda.


Erik juga tak kunjung siuman. Arwahnya masih betah meninggalkan raganya itu. Perlahan kondisi nya semakin menurun, sehingga dokter dipaksa untuk bekerja keras, mengeluarkan segala isi otak (ilmu) untuk penyembuhannya. Termasuk perawat yang menangani Erik. Bolak balik masuk keluar melakukan pengontrolan. Dimana hasilnya akan ia serahkan pada Dokter jaga yang menangani Erik.


"Sus, gimana keadaan pak Erik? Dia baik baik saja kan!" tanya Mbok Ria dengan sedih. Dia merasa ada yang tidak beres dengan kondisi sang tuan.


"Ibu yang sabar ya, pasien baik baik aja. Doakan saja semoga pasien bisa melewati masa kritis nya." ucap perawat tak berterus-terang.


"Syukurlah sus. Amin. Semoga tuan segera sadar ya Allah." Mbok Ria kembali duduk pada kursi dekat pintu ICU. Sedangkan perawat melanjutkan kesibukannya.


Sore itu, Marmun tak menampakkan wajahnya di Rumah Sakit. Dia berada dirumahnya. Sang ibu mengajak pulang sejenak istrahat sebab beberapa terakhir kesehatannya menurun.


Meski hati dan pikirannya melintas pada Erik, dia memaksa menutup mata, mengistirahatkan badan dan otak yang cukup bekerja keras. Sang ibu membantu nya dengan memainkan alunan musik pembawa tidur.


Disisi lain,


Rivan tampak masih mencari info kenapa Marmun dan sang mantan tidak masuk kuliah secara bersamaan.


Saat hendak meninggalkan kampus bak rumah kedua baginya, seseorang berbisik satu sama lain " Ekhhh, tahu gak sih kalau direksi kampus kita kecelakaan? Katanya sih koma, kasihan ya! Beliau masih muda banget lho, paling 4 tahun diatas umur kita."


"Ha! Masa? Kalau gak salah dia pacar Marmun kan! pantesan dia gak masuk hari ini." jelas yang lain saling sahut menyahut.


Mendengarnya, Rivan bergerak mendekat pada gerombolan mahasiswi itu.


"Kalian tahu dari mana kalau pak Erik kecelakaan?" tanya Rivan memastikan.


"Tadi Gue dengar Dekan ngobrol dengan seseorang via telepon. Sepertinya pak Erik akan di bawa keluar negeri. Dalam percakapan nya, Dekan membahas tentang keberangkatan." terang mahasiswi berjilbab.


Mendengarnya, Rivan bergerak berlari menemui Sang Dekan. Tanpa takut, Rivan mengetok pintu ruang Dekan.


"Silahkan masuk!" ucap Dekan yang sedang sibuk membereskan beberapa berkas.


Dengan nyali kuat, dia bergerak mendekat.


Dekan menatap serius padanya, sebab tidak semua mahasiswa/i berani menghadap padanya. Terlihat kesangaran pada wajahnya, terlebih Zidat plotos menjulang kedepan.


"Apa bener pak Erik kecelakaan dan sekarang koma di Rumah Sakit? Kalau boleh tahu, di Rumah Sakit mana ya pak?" Rivan menatap serius.


Dengan menghela nafas panjang, sang Dekan bergerak berdiri seraya berkata " Benar. Beliau lagi terbaring koma di Rumah Sakit Marta Pura. Tolong doakan supaya beliau cepat siuman." ucap Dekan.


Untuk pertama kalinya sang Dekan berucap dengan nada rendah dan lembut. Tidak seperti biasanya dengan perkataan tegas menjebak.


Tanpa berlama lama, setelah berucap pamit, Rivan bergegas menuju Rumah Sakit Marta Pura, tempat Erik di rawat.


Berselang beberapa jam Rivan sampai di rumah sakit, dengan cepat dia bergerak keluar dari dalam mobilnya lalu bergerak melangkah terburu-buru sampai ia lupa mengunci mobil. Dalam langkahnya dia sibuk memikirkan Marmun dan juga mantan kekasihnya itu.


"Sus, pasien atas nama Erik di ruang mana ya?" tanyanya dengan wajah serius.


"Pasien atas nama Erik berada di ruang ICU nomor 5 pak." jawab ramah petugas rumah sakit.


Setelah berucap terima kasih, Rivan melangkah menuju ruang ICU. Sesampainya disana dia di sambut oleh Mbok Ria dan Sisca sang sekretaris yang kebetulan baru tiba 10 menit sebelum Rivan.


" Boleh saya masuk?" tanyanya pada dokter jaga sembari mengerjapkan mata, mencari Marmun dan Mayri.


"Silahkan!" Dokter mengarahkan Rivan untuk mematuhi peraturan saat menjenguk pasien yang berada di ruang ICU. Termasuk mencuci tangan dan tidak membawa ponsel.


Wajah dan bibir Rivan seketika kelu, memandang kasihan pada pria brewok yang terbaring koma, mayat hidup.


"Bangun dong Rik, ada sosok wanita menunggumu. Apa kamu tega biarin orang yang kamu sayang terus terusan bersedih dan berlinang air mata? Marmun begitu mencintai mu, aku tahu itu. Terlepas dari masalah kalian." bisik pelan Rivan ke telinga Erik.


Dia tahu bahwa mengajak bicara bahkan melakukan touch pada pasien merupakan hal baik untuk menunjang kesadaran pasien.


Seakan mendengar ucapan Erik, tekanan jantung Erik meningkat dari yang sebelumnya. Rivan terus saja berucap tanpa sadar akan respon yang Erik tunjukkan.


"Cepatlah sadar. Kalau gak, aku akan merebut Marmun dari mu. Perlahan akan kubuat dia melupakanmu!" ucap Rivan mengakhiri ucapannya. Lalu bergerak pergi meninggalkan rumah sakit


Bersamaan dengan pergi nya Rivan, Dokter jaga bergerak masuk melakukan pengecekan (kontrol). Betapa ia senang melihat perubahan detak jantung Erik yang muncul pada monitor.


"Alhamdulillah, saya percaya kamu pasti bertahan dan bisa melewati semuanya. Tetaplah bertahan." ucap Dokter lirih dengan senyum.


Lalu sejenak pikirannya terlintas pada sosok Rivan. Dimana kehadiran nya cukup berpengaruh pada kesembuhan Erik.


Dokter bergegas keluar seraya bertanya"Kalau boleh tahu, laki laki itu siapa?"


Mbok Ria dan Sisca serempak menjawab "Gak tahu, dok!"


"Begitu. Baiklah saya pamit dulu." Dokter bergerak melangkah untuk melanjutkan tugasnya.


Terima kasih sudah membaca🙏🙏 Jangan lupa tinggalkan saran/masukan supaya karya lebih baik.


Jangan lupa:



Vote


Like


Koment


Beri hadiah


Rating


Follow IG ku: munte.maria