Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -21



5 panggilan tak terjawab, Erik.


Marmun mengambil HP lalu Jemari mungilnya merangkai kata sedemikian rupa pada layar text, "Aku sudah dirumah bee. Untuk beberapa hari kedepan, kita nggak usah ketemuan dulu ya bee! Mungkin kamu bingung tapi ini lah yang aku mau saat ini. Nanti akan ku jelas kan semuanya."


Lalu menekan tanpa panah dalam keyboard text, terkirim.


"Mom aku mau check up," ucap Marmun sembari bangun dari duduknya.


"Sekarang?'' tanya sang ibu,


"Tadi pagi kakak bilang besok!" lanjut sang ibu.


"Sekarang aja mom!" ucap Marmun sembari memasukkan HP ke dalam tas mininya.


"Ok, bentar mommy siap siap dulu," ucap sang ibu, lalu bergerak pergi ke kamarnya.


Berselang 5 menit, sang ibu keluar dari kamar dengan pakaian rapi, tubuhnya tampak di dominasi baju berwarna putih biru, bibirnya tampak seksi dengan balutan lipstik merah cetar membahana.


"Ayok!" ajak sang ibu sembari menenteng tas berukuran sedang,


Marmun dan Ibunya bergerak pergi.


Sedangkan Mayri, masih saja mengurung diri dalam kamar, dia tampak terbaring telungkup dengan mata tertutup, sibuk dengan pikirannya yang kalut.


Melihat sang kakak tak kunjung keluar, Zio sedikit khawatir.


"Tok .tok..tokk!" bunyi ketukan pintu,


"Loe ngapain ngurung diri! buka pintu nya!" ucap Zio sembari mengetok etok pintu.


Mayri tak menyahut,


"Loe nggak apa apa kan kak?" tanya Zio khawatir,


Mayri tetap membisu, bergeming.


"Buka pintunya Kak, kalau Loe nggak mau jawab, akan aku dobrak ini pintu!" ancam Zion sembari menggerakkan knob pintu.


Mayri tak menggubris, ia tetap telungkup bergeming.


Zio semakin khawatir, beberapa kata terlintas di benak serta menghantui pikirannya, bunuh diri.


"Astaga!" ucap lirih dalam hati sembari bergerak mencari kunci cadangan, kepanikan tampak jelas di wajahnya.


Tangan Zio cukup lincah ngobrak ngabrik beberapa laci lemari hias, kosong.


Kemudian tangannya kembali mengayun ayunkan knob pintu dengan keras seraya berkata "Buka pintunya Kak! loe jangan aneh aneh deh, aku nggak punya siapa-siapa lagi selain loe! loe tahu kan kalau bokap jarang pulang!


Tak ada sahutan, seakan tak ada tanda-tanda kehidupan dan pintu yang tertutup rapat itu tak bisa terbuka.


Zio kembali bergerak melangkah ke kamarnya, sangking panik ia terlihat linglung sembari berjalan bolak balik maju mundur.


Berselang beberapa menit, Zio membuka lazi dekat pintu kamarnya yang bersebelahan dengan kamar sang kakak.


"Ini dia!" ucap Zio lirih sembari mengambil kunci berwarna silver, lalu bergerak mendekat ke pintu kamar Mayri. Kemudian ia membuka engsel pintu. Pintu terbuka, dengan cepat Zio bergerak masuk.


"Kak, bangun kak! Loe kenapa kak!" ucap Zio sembari membalikkan tubuh sang kakak,


"Apa apaan sih Loe Zio," guman Mayri dengan mata tertutup, setengah sadar.


Zio mendengus kesal lalu memukul Mayri beberapa kali dengan bantal guling seraya berkata, "Mampus Loe! jantungku hampir mau copot gara gara mikirin loe! Loe'nya malah enak enak'an tidur!"


"Issss Zio! emang aku salah apa? ngapain loe mikirin aku, aneh deh! sakit lho Zio!" bentak Mayri dengan merasa tak bersalah sembari menghempaskan bantal guling.


"Ngapain loe ngurung diri! aku kan jadi mikirin aneh aneh! aku kira loe bunuh diri di dalam, soalnya pas loe pulang aku lihat muka loe kusut gitu!" ucap Zio dengan tatapan tajam sembari menarik kaki sang kakak hingga terjatuh ke lantai, lalu ia tertawa puas.


"Aaaaahhhh! jahat banget sih Loe Zio! nggak mungkin lah aku bunuh diri, emang aku seprustasi itu!" ucap Mayri dengan mata setengah Watt sembari bergerak berdiri lalu kembali duduk dengan wajah lesu.


Melihat Mayri tampak murung, Zio bergerak mendekat lalu duduk di samping Mayri.


Sejenak Mayri bergeming dengan mata berkaca-kaca, lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang adik seraya berkata, " Kenapa yeah aku selalu di sakitin orang orang yang aku sayang! Rivan nyelingkuhin aku, Marmun nikung aku dan loe selalu jailin aku. Apa ada yang salah dengan diri aku?


Dada Zio terasa sesak mendengar ucapan Mayri, dia tak menyangka bahwa keisengan nya selama ini melukai perasaan sang kakak.


"Maafin aku yeah, aku nggak ada maksud menyakiti kakak. Aku sayang sama kakak," ucap Zio sedih sembari merangkul dan mengelus elus lengan Mayri.


Mayri bergeming, air mata mengalir dari sudut ujung kanan matanya.


"Meskipun aku nggak tahu apa permasalahan kalian, aku yakin kalau kak Marmun juga nggak ada maksud untuk nyakitin/ nikung kakak, dia pasti punya alasan." ucap Zio.


Sontak Mayri bergerak dan menatap Zio dengan emosi, seraya berkata "Loe bilang nggak bermaksud! akhh ya sudah lah, kalian sama aja!


"Aku mau sendiri, please get out," lanjut Mayri dengan wajah datar.


"Ok, aku akan keluar, tapi satu hal yang harus kakak ingat 'aku peduli dan sayang sama kakak." ucap Zio sembari bergerak berdiri, lalu pergi.


Setelah sang adik keluar, Mayri bergegas melangkah menutup pintu kamarnya rapat rapat. Lalu kembali larut dalam kesedihan dan kekecewaanya.


*****


Dirumah sakit, di ruang dokter, Marmun tampak sedang berbaring di bed pasien. Dan terlihat seorang dokter sedang membalut tensimeter pada lengan kiri Marmun, kemudian mengarahkan stetoskop ke dada sebelah kiri dan kanan serta ke arah perut Marmun, men'check.


"Alhamdulillah tensi kamu normal, detak jantung juga normal, semua normal." ucap Dokter dengan ramah.


"Puji Tuhan, terima kasih dok." ucap Marmun dengan senyum, lalu bergerak bangun dan turun dari bed pasien.


"Berarti putri saya nggak perlu check'up lagi kan dok!" ucap Ibu Marmun dengan alis kiri sedikit terangkat,


"Karena dia sudah sembuh dan nggak ada masalah atau keluhan, jadi nggak perlu check'up lagi. Tapi kalau ada keluhan segera periksa kan ke dokter." Jelas dokter sembari memberikan secarik kertas yang di dalamnya tercantum beberapa daftar obat.


"Silahkan di tebus obatnya di apotik rumah sakit, dan jangan lupa obatnya di minum teratur." lanjut Dokter mengingatkan,


"Baik dok." ucap Marmun sembari menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih dok, kalau begitu kita pamit dulu," ucap Ibu Marmun dengan ramah, lalu bergerak pergi menebus obat yang dokter resep kan. Marmun mengikuti nya dari samping kiri sang ibu.


"Ini obatnya Bu, Jangan lupa di minum teratur, semoga lekas pulih." ucap apoteker dengan ramah sembari menyodorkan obat ke depan Ibu Marmun,


"Terima kasih, amin." ucap Ibu Marmun sembari menyerahkan 9 lembar uang berwarna biru dan 2 lembar berwana hijau, obat di ambil lalu bergegas pergi.


Sesampai di depan rumah sakit,


"Mom aku mau ke tempat Sikalapa, mommy pulang duluan nggak apa apa kan!" ucap Marmun,


"Owh iya sudah, kakak hati hati! pulangnya jangan malem malem," ingatkan sang ibu, lalu bergerak ke parkiran.


Begitupun Marmun, ia langsung bergegas pergi .


Berselang beberapa jam, Marmun tiba di depan pintu Mayri,


"Syalom.." seru Marmun sembari melangkah masuk.


"Hai kak Mar, udah lama yeah kakak main ke sini!" sapa Zio dengan ramah,


"Hei Zio, Btw Mayri dimana yeah?" tanya Marmun dengan senyum tipis,


"Ada kak, dikamarnya. Sepulang dari kampus, dia ngurung diri di kamar," ucap Zio memberitahu,


Sejenak Marmun bergeming, lalu bergerak melangkah ke kamar Mayri.


"Kalapa ini aku Marmun, please buka pintunya!" ucap Marmun sembari mengetok pintu kamar,


Mayri diam seribu bahasa, lalu bergegas duduk dan ia mengarahkan telinganya ke arah suara, pintu.


"May, please buka pintunya! aku mau jelasin semuanya, aku nggak mau kita berantem gara gara hal sepele!" lanjut Marmun berkali-kali,


Mayri tetap saja berdiam diri dan menghiraukan ucapan sahabatnya.