Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -60



Dengan semangat membara, Marmun bergegas pergi ke kampus tetangga setelah menyelesaikan urusan nya di kampus tercinta. Tampak sosok laki laki duduk bersampingan dengannya (semobil), Devan. Mika dan Devan terlihat mengenakan baju yang senada bak dua sejoli, coral.


"Acaranya pasti seru. Sejauh ini gue belum pernah mengikuti kegiatan yang di kelola oleh campus. Makasih udah mau gue temanin and semoga loe enjoy." Devan menatap dalam wanita bergaun coral itu.


Marmun manggut kecil dengan senyum terpaksa. Pada dasarnya, dia tidak suka Devan masuk dalam hidup, kesibukannya. Ia enggan menolak, sebab terlalu sering tak acuh, mengabaikan laki laki yang kesehariannya sibuk menangani orang sakit.


Tak berselang lama, mereka tiba di bagunan besar, megah bertulis Universitas NGS. Wajah wajah muda, fresh tampak memadati tempat itu, tak banyak wajah berkerut (orang dewasa).


"Silahkan tuan putri." Devan membuka pintu mobil yang di kemudi oleh sang supir dengan senyum simpul.


"Makasih. Tapi gak gitu juga kali Dev, gak usah berlebihan. Malu, tahu!" Marmun bergerak keluar elegan dengan tangan menjinjing tas kecil bermerek.


Berberapa orang yang lewat lalu lalang (mahasiswa/i) menaruh pandangan pada ke duanya hingga membuat Marmun sedikit menunduk malu.


"Nggak ada nyuri, jadi ngapain malu? Loe santai aja, ini kebiasaan yang gue lakukan saat jalan, semobil dengan lawan jenis. Tidak memandang umur, so jangan baper!" ucap bohong Devan. Dia tak ingin Marmun merasa tidak nyaman atau berpikir lebih (negatif) akan perhatian kecil yang ia berikan.


Devan memiliki kepribadian unik. Saat menapakkan kaki, berada di ruang lingkup bangunan berlogo palang merah, dia menunjukkan keramah-tamahan nya pada semua kalangan. Akan tetapi saat berada di luar bagunan berlogo palang merah (Rumah Sakit) dia sangat cuek, pendiam tak acuh pada siapapun, baik terhadap orang lain maupun keluarga sendiri.


Terdengar isu mengatakan bahwa sifat cuek, pendiam, dan ketidak acuhnya muncul setelah Ia patah hati, ditinggal pergi calon istrinya.


Namun semenjak bertemu Marmun, perlahan sifat buruk itu menghilang. Terbukti saat dia membukakan pintu dengan senyum simpul.


"Baguslah. By the way, Ikut masuk atau nunggu di mobil?" tanya Marmun.


"Ya kali gue nunggu di mobil, pasti ikut masuk lah. Lama kelamaan loe nyebelin juga!" Devan tampak mengernyitkan wajah.


Marmun terkekeh, lalu berkata " Gk usah ngegas, biasa aja coy!" Dia menyentuh bahu cowok di hadapannya itu, lalu bergerak masuk mengikuti langkah mahasiswi/i lain dengan menconcong.


Devan teransang seperdetik, terlihat nyaman dengan sentuhan itu.


"Bapak baik baik aja!" ucap Sang supir dari dalam mobil.


Tanpa menjawab, Devan bergegas mengejar langkah Marmun sebelum kehilangan jejak. Sang supir menghela nafas panjang sembari geleng geleng.


Setelah melangkah jauh dan mendekat pada ruang perkumpulan kepala itu, Marmun menitip ponsel dan tas mediumnya pada Devan seraya berkata " Jangan otak atik ponsel ku. Kalau ada panggilan masuk, angkat aja. Ok!"


"Siap tuan putri, laksanakan." jawab Devan membungkuk.


"Hummmn, berulah lagi. Bisa gak sih biasa aja? Lebay, tahu!" Marmun menghela nafas berat, lalu melangkah masuk menuju tempat yang disediakan oleh penyelenggara acara. Sementara Devan bergerak masuk dan duduk pada kursi tamu undangan sembari menjinjing tas hingga beberapa orang menaruh senyum padanya. Dia duduk sedikit jauh dari panggung.


Saat Marmun menapakkan bokong diatas kursi khusus, ia menoleh dengan mata mengerling, mencari.


"Lohhhh, itu anak kemana lagi, kok gak ada? Buang air kali ya!" Marmun memandang memutar menyisir ruangan besar itu.


Dia tampak kesusahan mencari, menandai wajah laki laki yang bersamanya semenit yang lalu. Sebab beribu wajah menghalangi, menutup wajah laki laki itu.


"Bang, tadi lihat laki laki di belakang ku, gak?" tanyanya ke salah satu panitia acara yang berdiri di dekatnya.


"Laki laki yang mana? Saya gak lihat ada cowok ngikutin kamu. Ngehalu ya!" ucapnya.


"Gak halu, ada kok. Malahan tas dan ponselku dipegang dia. Kita bareng kesini, serius!" Marmun tampak kebingungan sembari menggaruk garuk kepala. Lalu memandang menyisir ulang ruangan itu.


Saat Marmun hendak mencari, tiba tiba terdengar suara keras yang dibantu oleh microphone menghentikan langkahnya serta mengurung niat mencari.


Acara di mulai.


"Ya udahlah. Devan juga udah gede, bisa nyari tempat duduk sendiri. Ngapain ambil pusing!"ucapnya dalam hati sembari memandang pada text acara.


Setelah acara berlangsung beberapa menit, nama Marmun dikumandangkan oleh MC dengan bunyi " Mari kita sambut dan dengarkan lagu bertajuk : Bangkitlah wahai pemuda oleh Marmun."


Marmun bergerak maju, serta naik ke pentas dengan microphone hitam yang telah disediakan panitia acara, tidak seperti sebelum sebelumnya. Membawa, menggunakan microphone sendiri.


Semua orang berdiri, menyambut dengan bertepuk tangan. Lalu kembali duduk setelah Marmun menunduk, berterima kasih.


Dia menatap tak mengerlip, tampak fokus pada gerak gerik bibir yang sedang bersenandung, meski menatap nanar dari jauh.


Di ujung pintu masuk ruang besar (aula), terlihat sosok yang tak asing bagi Marmun, yaitu: Ranti. Tampak dua orang laki laki berwajah sangar bersamanya (preman).


Ranti selalu muncul tiba tiba, tidak mengenal tempat bagai tamu yang tak di undang.


Ranti menjeling, kepala serta mata bergerak ke samping kanan, memberi kode. Entah apa yang ia rencanakan.


Tanpa berucap, dua preman itu bergerak pergi, entah kemana dan mau apa.


Dalam keseriusan memandang wanita yang membuatnya merubah sifat, matanya terpelintir pada sosok yang berdiri di pintu itu.


"Ranti, ngapain dia kesini?" gumam Devan menatap curiga.


Tiba tiba kedua preman yang sempat pergi itu kembali lagi dengan gerak gerik mencurigakan. Salah satu tampak berbisik pada Ranti.


Seperdetik kemudian, dua laki laki sangar bergerak mendekat kepanggung. Sementara Ranti bergerak pergi meninggalkan tempat itu.


Memandang curiga dan berfirasat buruk, Devan bangkit dan meninggalkan tempat duduknya dengan langkah cepat menuju panggung dari sisi yang berbeda, dari sela jejeran kursi sebelah kanan panggung.


Sebelumnya, Devan telah menyuruh salah satu mahasiswa untuk memanggil beberapa petugas keamanan setempat (satpam).


"Semua jangan ada yang bergerak, diam di tempat!" perintah keras preman sembari menadah pistol memutar kearah orang banyak itu. Keduanya melangkah mendekat pada Marmun.


Sontak ruangan itu riuh hiruk pikuk, termasuk Marmun. Dia menghentikan nyanyiannya dengan wajah pucat dan tegang.


"Diamm!!! Kalau gak, gadis ini atau kalian semua kami tembak! Semua diam!!" bentak laki laki berpistol dengan langkah semakin dekat pada Marmun.


Devan yang sebelumnya telah bersembunyi di balik podium memberi kode kepada salah satu satpam (Dodi). Lalu Dodi membagi kode itu pada teman seprofesi nya yang telah tersebar di beberapa titik aula.


Suasana diruangan itu sangat menegangkan, detak jantung seketika terjeda beberapa saat. Terkecuali Devan dengan kesigapan, kecerdikan serta keberanian nya.


"Dalam hitungan ketiga, satu, dua tiga, nyalakan!" perintah Devan via telepon. Serene polisi berbunyi, kedua preman berbadan sangar terkejut, wajah sangarnya berubah gemayu, ketakutan.


Keduanya bergerak cepat memutar haluan hendak melarikan diri.


Disaat yang bersamaan, orang orang berteriak tolong. Padahal Devan telah memberi kode untuk diam (menempel jari telunjuk pada bibir).


Mendengar serta melihat kehisterisan para mahasiswa/i, preman melayangkan tembakan.


Terima kasih sudah membaca 🙏🙏 Mohon berikan saran/masukan supaya karya semakin lebih baik.


Jangan lupa:



Vote


Like


Koment


Beri hadiah


Rating dan share


Follow IG ku : munthe.maria