
Lala tersenyum mencongak.
" Penghianat!! Kemarin aja dukung gue ngasih pelajaran sama si cewek ganjen, sekarang loe jalan sama dia! Gak jelas loe! Dasar simuka tembok!" ucap Ranti kasar dengan mata tajam.
Seperti biasa, bukannya membela sosok yang lagi dekat dengan dirinya, Rivan justru bergerak melangkah meninggalkan Ranti dan Lala. Tak terbesit rasa ingin tahu urusan apa mantan tunangannya berada di rumah sakit.
"Setidaknya gue gak ngerebut dia dari siapa siapa. Kita sama sama single, so apa salahnya gue deket bahkan menjalin ikatan spesial dengan orang yang membuka pintu hatinya. Rivan juga sudah ngejelasin semuanya. Loe aja yang berlebihan and gak sadar diri. Move on..!" seru Lala dengan santai. Dia tampak melipat tangan didepan dada dengan telapak tangan di atas.
Ranti terlihat emosi, darah mendidih membuatnya melayangkan tangan pada wanita di hadapannya itu.
"Loe tahu gue siapa, kan! jadi jaga mulut busuk loe itu. Ini baru permulaan, lihat aja nanti!" bringas Ranti.
Lala menjawab dengan senyum sarkas sembari manggut manggut. Lalu bergerak pergi mengejar Rivan yang telah melangkah masuk terlebih dahulu.
"Arggg! nyebelin banget sih! Lihat aja, gue akan beri loe perhitungan."Ucap Ranti dalam hati sembari menoleh dengan pupil melebar/membesar. Dia bergegas pergi meninggalkan tempat itu sebelum orang orang curiga padanya.
Sementara Marmun tampak melepas gaun amisnya di kamar mandi ibunda Devan. Lalu mengganti nya dengan gau pemilik kamar itu.
Dia melangkah keluar dengan malu malu, sebab kain yang telah berbentuk itu tidak cukup menutup paha, seksi.
Melihatnya, Devan berdecak kagum. Ia menatap menganga tak berkedip.
"Woww... sempurna! Dia bagai bidadari yang turun dari kayangan, sangat beda dari sebelumnya." ucapnya dalam hati. Devan tak ingin memalingkan wajah dari sipemikat hati.
"Dev, ada yang salah ya? Gaunnya terlalu seksi, serius! ganti ya!" Marmun memerhatikan tubuh yang dibalut kain itu, lalu melangkah bungkuk sembari menarik baju kebawah agar pahanya tidak terlihat seksi.
Devan masih saja bengong, mata mengikuti langkah Marmun.
"Isss tahe! Ada baju/gaun lain gak sih! Ini gak bener banget, serius!" Ucap Marmun sembari melilit melingkar handuk menutup tubuh yang ia anggap terlalu seksi. Lalu melangkah mendekat, kemudian menyentuh lengan kanan laki laki di sampingnya itu.
Sontak bulu kuduk Rivan berdiri, dia terlihat nyaman seakan punya kesan mendalam.
"Cantik, seksi. Bagus, gue suka." bunyi Devan spontan.
"Ha! Apa?" Marmun meminta Devan mengulangi ucapan yang terlontar keluar.
"Ya, Cantik.Tapi kalau gak nyaman, semua balik ke loe sendiri. Senyaman loe aja lah pokoknya." Devan bergerak mencari gaun milik sang ibu yang cocok dan pas melekat membentuk lekukan tubuh Marmun.
Marmun duduk membisu, dia tampak menunggu baju pengganti dari Devan.
"Kalau di lihat lihat, Devan ganteng juga ya! Apalagi kalau senyum, akhhh manis kayak madu." gemes Marmun tersenyum.
Berselang beberapa menit, Devan mengeluarkan lalu memberikan gaun berwarna putih pada Marmun. Baju tunangan sang ibu saat ia belum lahir kedunia🤣🤣🤣.
Tanpa berucap satu kata, Marmun bergegas menuju kamar mandi. Lalu melepas dan menutupi badannya dengan gaun putih pendek. Marmun berdecak takjub, dia bergerak berputar bahagia.
"Keren banget, aku suka. Seperti tunangan gak sih!" Marmun melangkah cepat, begitu excited ingin menunjukkan penampilannya pada Devan.
Devan yang terduduk di atas sofa kamar, terlihat sibuk mengotak atik ponsel.
Memandang senyum beberapa foto dan video yang telah diabadikan di sosmed oleh siempunya, Marmun. Dia juga mencuri (save) foto tanpa permisi.
"Dev, lihat! Bagaimana menurut mu, cocok kah?" Marmun bergerak berputar.
Untuk kedua kalinya Devan menganga, memandang dengan mata tak mengerlip.
"Dev!!! Gimana?" ucap Marmun dengan nada tinggi, mengagetkan Devan.
"Cantik, cantik banget. Loe mirip nyokap gue, gelis pisan." puji Devan.
Marmun tersipu, sebab sudah lama ia tak mendapat sanjungan.
Tak ingin berlama-lama berada dalam kamar yang bercorak modern itu, Marmun melangkah keluar melewati tangga menuju ruang tengah dimana puluhan kepala memadati tempat itu. Di ikuti oleh Devan.
Mereka turun dengan gemulai, tersipu malu bak pengantin. Sontak semua mata tertuju pada keduanya, termasuk ibu Marmun dan kedua orang tua Devan.
"Iya, ya mi. Jadi ingat masa kita tunangan dulu. Persis seperti mereka, turun malu malu." Ayah Devan memegang tangan istrinya dengan ingatan nya melayang pada masa lalu.
Begitu juga dengan Ibu Marmun. Dia terlihat bahagia dengan mata berkaca-kaca seraya berkata "Gak terasa ya, kakak sudah gede dan dewasa. Sebentar lagi akan ninggalin aku"
Dia menghapus air mata agar tak terlihat siapapun.
Beberapa tamu yang ikut hadir dalam silaturahmi itu berdecak kagum seraya berucap "Gelis pisan euhh ceweknya. Nak Devan kasep pisan atuh, mau gak ya dia sama anak gadisku! Sepertinya mereka mau tunangan."
Marmun tampak grogi, wajahnya memerah. Saat melangkah turun di tangga terakhir, ia terpleset hingga hampir kejengkang, untung saja Devan cepat menangkap tubuh mungil Marmun.
"Hati hati sayang, jalannya pelan pelan aja!"ucap Ibu Devan.
"Kakak, gak apa apa kan?" Ibunya tampak khawatir.
"Tante dan ibu tenang aja, Devan akan periksa dan obati kakinya. Devan bawa dia kesana dulu," ucap Devan sembari memapah.
Marmun tertunduk malu dengan senyum terpaksa. Dia bergerak dengan langkah tertatih tatih, dibantu oleh Devan.
Disisi lain (di antah berantah), didetik yang sama dengan Marmun terpleset, Erik berteriak "Loppit, awasss jatuh!!!"
Bersamaan itu juga (di alam semestinya, dunia) air mata keluar dari sudut matanya. Denyut nadi meningkat dari sebelumnya. Sepertinya arwahnya telah kembali ke raga.
"Tuan, sudah bangun? Semua baik baik saja, tuan gak usah menangis." Mbok Ria berlari memanggil dokter. Dia lupa ada tombol nurse call di ruangan itu.
Sisca yang duduk di ruang tunggu, bangkit dari duduknya seraya berkata " Ada apa mbok? tarik nafas dulu."
"Tuan neng, air matanya keluar." ucap Mbok Ria terbata bata.
Dengan cepat Sisca melangkah masuk dan menekan tombol nurse call itu. Sebenarnya pasien yang berada di ICU selalu di kontrol/jaga ketat oleh dokter, jarang ditinggal pergi.
Namun tidak dengan saat dimana Erik memberikan tanda bahwa dirinya telah melewati masa kritis.
Tak berselang lama, Dokter datang. Lalu melakukan pengecekan pada Erik. Mereka terlihat senyum dan bernafas lega serta berucap "Thanks God. You really blessed him."
Dokter bergerak keluar memberi kabar baik itu. Mbok Ria dan Sisca begitu bahagia, meskipun sang tuan belum sadar hingga beberapa hari kedepan.
Berbeda dengan Erik, Mayri justru ngedrop, denyut nadi dan jantungnya melemah.
Dengan menghela nafas panjang, Chiko menyampaikan kabar buruk itu pada Zio.
"Maaf, Mayri kritis. Kita berdoa saja, semoga dia bisa melewatinya. Yang sabar ya!"
"Apa? Kritis? Kenapa bisa gitu dok, tadi dia baik baik saja!'' Zio syok mendengar pernyataan pahit itu. Dia menyalahkan dirinya yang tidak becus menjaga sang kakak.
Chiko menepuk punggung Zio, lalu bergerak pergi dengan botol infus yang berisi cairan di tangan kiri.
Terima kasih sudah membaca 🙏🙏 Mohon beri saran/masukan supaya karya semakin lebih baik.
Jangan lupa:
Vote
Like
Koment
Beri hadiah
Follow IG ku : munthe.maria