Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -30



Hatinya semakin kalut, ia memandangi isi WA itu berkali kali, dia juga berusaha menyakinkan diri bahwa semua itu tidaklah benar, tapi disisi lain ia juga tidak bisa memungkiri bahwa dirinya kepikiran akan hal itu.


Marmun mencoba mengotak atik isi HP nya, mencari bukti melalui sosmed Erik dan Mayri, Instagram.


Wajahnya terlihat kusut,


"Ya Tuhan berkati hatiku, tunjukkan kebenaran akan semua ini dan kuatkan aku." ucap Marmun dalam hati sembari melihat isi sosmed Mayri dan Erik.


Kosong,


Tak ada stories atau postingan terbaru.


Marmun tampak lega namun masih di hantui rasa curiga.


Dari ujung dekat pintu masuk hotel seorang laki-laki datang menghampiri lalu bergerak duduk di samping nya.


"Loe kenapa? pasti ada sesuatu, iya kan?" tanya Chiko dengan kedua alis terangkat.


Marmun terdiam,


"Siang bolong gini wajah loe tampak kusut, pasti mikirin sesuatu, betul kan!" ucap Chiko.


Marmun menghela nafas panjang, lalu ia meletakkan HP di samping kanannya seraya berkata "Nomor yang kemarin mengirim bukti lagi tentang hubungan Erik dan Mayri, hatiku begitu hancur. Aku tidak tahu harus percaya atau tidak,"


"Iya kah? sini HP loe, gue pengen lihat," pinta Chiko sembari menadahkan tangan.


Marmun memberikan HP nya,


Chiko mengamati bukti itu (foto) lalu dia sejenak bergeming.


"Menurut kamu, aku harus bagaimana?" tanya Marmun dengan sedih.


"Sebaiknya loe cari sendiri kebenarannya, jangan langsung percaya karena foto ini tidak cukup membuktikan kalau mereka selingkuh." ujar Chiko sembari meletakkan HP di sebelah kanannya atau di sebalah kiri Marmun.


"Contohnya kita, saat duduk berdua begini beberapa orang pasti mengira kita ada hubungan, pacaran. Padahal kenyataannya tidak kan? kemungkinan begitulah pandangan orang pada mereka." jelas Chiko,


Marmun diam sembari menelaah kata kata Chiko.


"Mereka sudah dua kali jalan di belakangku Chik dan kita tidak tahu seberapa sering mereka jalan berdua begitu. Kalau sekali bisa saja omongan kamu bener, tapi ini?" ucap Marmun dengan wajah meregang menahan tangis yang hendak meluduk.


"Kalau begitu kita cari sama sama, gue akan bantu loe. Nanti malam kita pulang, loe jangan kasih tahu Mayri dan Erik kalau nanti malam kita balik," ujar Chiko sembari bergerak berdiri.


Marmun mengangguk anggukkan kepala sembari mengambil HPnya lalu bangkit dari duduknya.


"Yok kita packing barang barang, biar tinggal cap cus. Soalnya sekarang sudah jam 14.45 WIB." ucap Chiko sembari menoleh jam tangannya,


"Teman yang lain gimana?" tanya Marmun sembari bergerak melangkah,


"Terserah mereka, mau ikut kita balik atau stay disini. Loe nggak usah pikirin mereka," ucap Chiko sembari bergerak mengikuti langkah Marmun dari samping,


*****


Disisi lain,


Mayri dan Erik menghabiskan waktu bersama hingga malam hari seperti sepasang kekasih. Mereka baru saja tiba di rumah Mayri,


Sedangkan Marmun pulang lebih cepat dari rencana semula, dia tiba di lokasi rumah Mayri 10 menit lebih cepat dari sang sahabat dan sang pacar.


Marmun dan Chiko ngintilin keduanya dari ujung rumah tetangga Mayri.


Dan amarah yang mencekam mendesak nya untuk melabrak, namun langkahnya terhenti.


"Loe mau kemana? jangan gegabah deh, kita disini saja." ucap Chiko sembari menarik tangan Marmun,


"Aku mau melabrak mereka, semua sudah terbukti kan, apalagi yang harus aku tunggu. Kamu nggak tahu gimana sakitnya dihianati begini.'' ucap Marmun lirih sembari meneteskan air mata.


"Jangan Mar, kita kumpulkan bukti yang lebih kuat dulu, setelah itu terserah loe mau apain mereka. Percaya dan ikutin saran gue," Ujar Chiko.


"Sudah larut malam, saya langsung balik aja ya May.Thank you for to day and see you next tomorrow," ucap Erik.


"Sama sama, kamu hati-hati yeah jangan ngebut ngebut." ucap Mayri dengan senyum, lalu bergerak keluar dari mobil,


Erik segera melajukan mobilnya dan Mayri bergegas masuk dalam rumah dengan riang.


Sedangkan Marmun menangis dan meratapi nasibnya. Hatinya dihancurkan oleh pacar dan sahabat nya sendiri,


"Kita balik aja yok, besok kita ikuti mereka. Lagian loe pasti lelah kan, perjalanan kita cukup jauh hari ini. Dan jujur aku capek banget" bujuk Chiko sembari mengelus elus punggung Marmun,


Sembari mengisak tangis, ia bergerak masuk dalam mobil. Chiko mengikuti nya, lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu.


Dalam perjalanan hingga tiba di depan rumah nya, Marmun masih saja meneteskan air mata.


"Sudahlah Mar, loe nggak usah menangisi mereka, jangan biarkan air mata loe terbuang sia sia." ucap Chiko sembari bergerak mengikuti langkah Marmun.


"Gimana..aku juga tak ingin menangis," ucap Marmun sedih sembari mengusap air mata.


"Owh iya, kamu nginap disini aja. Nggak usah tidur di hotel masih ada kamar kosong kok, nanti aku bilang sama mommy." ucap Marmun senggugukan sembari melangkah kan kaki masuk dalam rumah.


"Siap nona cantik, baik hati dan suka menabung. senyum dong!" goda Chiko sembari mencolek hidung Marmun,


"Ikhhh! apaan sih Chik, kebiasaan deh.'' ucap Marmun tersenyum,


"But thanks ya sudah nemanin aku." lanjut Marmun,


"Kapan datang kak? kok nggak bilang bilang sih," tukas Ibu Marmun,


Marmun dan Chiko kaget,


"Hai Tan, saya Chiko teman Marmun." sapa Chiko sembari bergerak menghampiri, lalu menyalim tangan yang mulai berkerut itu.


"Hai nak," sahut Ibu Marmun dengan ramah,


"Surprise mom, aku nggak bisa lama lama jauh dari mommy," ucap Marmun manja,


"Mata kakak kok sembab? kakak habis menangis ya?" tanya Sang ibu prihatin,


"Siapa yang buat kakak menangis, cerita sama mommy," lanjut sang ibu sembari bergerak duduk di atas sofa.


"Siapa yang nangis mom, aku cuma kelilipan aja kok. iya kan, Chik!" ucap Marmun berbohong sembari mengedipkan salah satu matanya, memberi kode, lalu duduk di samping sang mommy.


"eeeee, iya bener tan. Tadi mata Marmun kemasukan agas, sampe sampe matanya berair sepanjang jalan." ucap Chiko sembari bergerak duduk lalu menyandarkan tubuhnya pada sofa.


"Kakak nggak usah berbohong, kakak itu lahir dari rahim mommy dan di besarkan mommy dari cabang bayi hingga Segede sekarang. Jadi mommy tahu betul kakak berbohong atau tidak," ucap sang ibu serius sembari menoleh putrinya.


"eee, sebenarnya tadi ada sedikit masalah mom," ucap Marmun pelan,


''Tapi mommy nggak usah khawatir, ini hanya masalah anak muda. Dan aku nggak apa apa, hanya sedikit kecewa aja," lanjut Marmun sembari memegang erat tangan sang ibu.


Chiko tertunduk diam,


"Owhh gitu. Ya sudah, lain kali jangan berbohong ya kak," ucap sang ibu dengan lembut.


"Siap nyonya besar! Owh iya mom, Chiko nginap disini yeah, sayang uangnya kalau nginap di hotel." ucap Marmun,


"Iya. kalau gitu mommy siapkan kamar nak Chiko dulu ya," ucap sang ibu sembari bangkit dari duduknya lalu bergerak pergi ke salah satu kamar kosong dekat ruang nonton.


"Kalau gitu aku duluan tidur ya, Chik!" ucap Marmun sembari bangkit dari duduknya,


"Silahkan Mar," ucap Chiko dengan senyum tipis,


Marmun bergerak masuk dalam kamar dan ia menghabiskan malam itu dengan nestapa.