Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -14



Berceloteh sepanjang perjalanan membuat Mayri dahaga, sesekali dia menjilat bibir keringnya.


Begitu pun Marmun, ia terlihat ingin menikmati sajian makanan dan minuman kantin yang sudah lama tak ia cicipin satu bulan terakhir.


"Ekhh, kamu mau minum apa May?" tanya Marmun. Dia membaca menu dengan tangan menyisir satu persatu.


"Kamu tahu aja kalau bibir ini sudah kering, aku mau sop durian, trus cemilannya kentang goreng."


Mayri mengotak ngatik isi HPnya dengan mata melebar.


"Tumben kamu pesan French fries, biasanya juga fried banana cheese!"


Tampak bola mata Marmun bergerak ke sudut dan melihat ke atas.


"Pengen nyobain aja, enak atau kagak! siapa tahu bisa masuk list makanan favoritku." ucap Mayri dengan setengah senyum.


"Owhhh seperti itu!"


Marmun mengajungkan tangan, memberi kode ke waitress kantin.


Melihat costumer mengajungkan tangan, waitress bergerak melangkah ke arah Marmun dan Mayri dengan 1 buku kecil (note) dan pulpen di tangan kanannya.


"Pesan apa mbbak?" tanya waitress dengan ramah,


"Kita pesan; Sop durian satu, french fries satu, fried banana cheese satu dan cappucino cincau satu" jawab Marmun.


"Baik mbbak, tunggu sebentar ya!" Waitress berbalik badan dan bergerak melangkah dengan cepat.


Mayri melanjutkan obrolannya, bercerita panjang tentang kesehariannya selama tak bersama Marmun.


Terkecuali tentang isi hatinya saat ini, ia enggan membahas nya.


Tak berselang lama, waitress datang dan menyuguhkan pesanan kedua nya.


"Selamat menikmati mbbak," Waitress meletakkan setapak pisang goreng.


''Thank you," ucap Mayri dengan senyum. Dia menggeser sop durian ke depannya yang tertukar posisi dengan minuman Marmun.


"Sama sama mbbak." sahut Waitress lalu bergerak melangkah balik badan melanjutkan tugasnya.


Aroma cappucino cincau yang menggoda, membuat Mayri dengan cepat menyeruputnya begitu juga dengan Mayri.


Menghilangkan dahaga mampu melancarkan obrolan di antar keduanya.


Hingga sosok laki laki muda, tinggi datang dari pintu kantin. Dia melangkah percaya diri, dengan detak jantung yang selalu berdebar-debar yang terkadang membuatnya ingin mengurungkan niat.


"Hi!" sapa Erik.


Ia menarik kursi lalu duduk di samping Marmun.


Marmun dan Mayri sontak kaget dengan wajah dan bibir kelu, serta jantung berdetak kencang.


Berselang beberapa detik, Mayri membalas sapa Erik dengan senyum bahagia.


"Hei, kamu kok ada disini!" Marmun menoleh dalam Erik,


"Sengaja mau ketemu kamu! Tidak masalahkan!" ucap Erik terus terang.


"Ha! emang ada apa?" Wajah Marmun tampak merah merona.


"Kemarin saya ke rumah sakit and ternyata kamu sudah pulang ke rumah. Saya sempat bingung dan khawatir, takut kamu kenapa kenapa."


"Maaf ya, nggak ngabarin kamu! sebenarnya, semalam aku mau ngasih tahu kalau aku sudah dirumah." jelas Marmun,


"Trus?"


Erik menatap dengan kedua alis sedikit naik.


"Tapi nggak jadi, karena aku nggak punya nomor HPmu.'' Jawab Marmun dengan menjilat bibirnya.


Mayri tampak jealous melihat keduanya, dia merasa di hiraukan Erik.


"Haa..itu dia, saya juga nggak punya nomor kamu, saya coba hubungi Mayri dan Rivan ekhh Hp'nya pada nggak aktif." Erik mengerutkan ujung bibir kanannya.


"Makanya saya datang ke sini biar kita saling tukar kontak," lanjut Erik.


Merasa dirinya tak di anggap, Mayri merasa kesal dan dia terlihat mengernyitkan wajah.


Tanpa basa basi Mayri begerak berdiri,


"Kamu mau kemana kalapa!"


"Toilet! Mau ikut?" sahut Mayri ketus, lalu melangkah pergi tanpa menoleh ke Erik.


Sepeninggal Mayri, keduanya terlihat kagok.


Erik menarik nafas dalam dalam lalu mengumpulkan keberanian mengutarakan perasaannya. Berselang beberapa detik, ia kembali mengurungkan niatnya menunggu waktu yang tepat.


'Gimana boleh nggak?" lanjut Erik sembari menggit bibirnya.


Marmun tampak berusaha menahan grogi, dengan menghela nafas berat ia bergerak mengubah posisi duduknya hingga menghadap ke Erik.


Wajah keduanya nampak berdekatan dengan jarak sekitar 20 Cm. Seketika mata Erik terpelintir mengarah ke bibir merah Marmun,


Ia sedikit naik hasrat.


"Emang mau bicara apa? ngomong aja langsung!" Marmun sedikit grogi tak karuan.


"Tempatnya nggak pas untuk bicarain itu, jadi gimana boleh nggak?" tanya Erik untuk kedua kalinya.


"Boleh," Marmun menjilat bibir merahnya.


Dari ujung pintu tampak Mayri memerhatikan keduanya, ia bergerak masuk dengan muka kusut dan berusaha mengendalikan perasaannya.


"Heii serius amat, pada ngobrolin apa sih!" ucap Mayri basa basi. Dia menarik kursi yang ada di depan Marmun dan Erik, lalu menduduki nya.


"Kita nggak ngobrolin apa apa, kita hanya membahas kesehatan Marmun saja, iya kan Mar!" ucap Erik berbohong,


Marmun hanya mengangguk anggukan kepalanya, "Iya".


Marmun dan Mayri menghabiskan waktu hingga siang hari di kantin. Keduanya tidak mengikuti mata kuliah yang sedang berlangsung.


"Btw, saya pamit pulang duluan yeahhh!" Erik melihat jam pada HP nya.


"Ok, silahkan!" sahut Mayri dengan setengah senyum,


"Sampai ketemu nanti Mar!" Erik bergerak berdiri lalu melangkah pergi.


Mayri nampak bertanya tanya akan ucapan terakhir Erik ke Marmun. Ia memandang Marmun dengan serius, ia sedikit terganggu dengan suasana saat itu.


"Kalapa aku juga pamit duluan yeah," ucap Marmun sembari memasukkan HP'nya ke dalam tas kecil berwarna hitam.


"Kok cepat amat, barusan Erik! sekarang kamu!" ucap Mayri dengan wajah kusut.


"Ini udah siang May, sudah waktunya aku minum obat. Tadi kelupaan bawa obat jadi..." Marmun tidak melanjutkan ucapannya lalu bergerak berdiri.


"Owh gitu!" ucap Mayri singkat dengan wajah datar.


"Sampai ketemu besok, bye!" Marmun bergerak pergi.


Sikap Mayri terhadap sang sahabat sedikit berubah.


*****


Hari semakin sore, Langit dengan paduan warna yang epik membuat beberapa orang merasakan ketenangan ketika memandang nya.


Langit senja seakan menunjukkan suasana hati insan yang sedang berbunga.


Adzan Maghrib berkumandang, Erik tiba di depan rumah Marmun.


Erik tampak grogi, jantung nya berdegup kencang. Dengan menghela nafas panjang ia bergerak melangkah.


"tok..tok..tok!" bunyi ketukan pintu,


Tak berselang lama ibu Marmun membukakan pintu.


"Hallo Tante!" ucap Erik dengan ramah dengan detak jantung tak menentu.


"Hai nak Erik, silahkan masuk!" Ibu Marmun menyambut dengan ramah.


" Ada keperluan apa nak Erik datang kerumah Tante!" Ibu Marmun bergerak melangkah ke ruang tamu, Erik mengikutinya dari belakang.


"Saya mau ketemu Marmun Tan, ada yang mau di bicarain." Erik menapakkan bokong nya di atas sofa lalu bersandar.


"Owhh gitu," ucap singkat ibu Marmun.


Seakan menyadari kehadiran Erik, Marmun keluar dari kamarnya. Lalu bergerak melangkah ke ruang tamu.


"Hei, sudah lama datang?" tanya Marmun lalu bergerak duduk berhadapan dengan Erik.


"Baru aja!" ucap Erik dengan pelan.


Seakan mengerti maksud dan tujuan Erik, Ibu Marmun bergerak pergi meninggalkan dua insan yang lagi kasmaran itu.


"Kesini sendiri atau bareng supir?" ucap Marmun basa basi.


"Saya sendiri. Terasa juga jauhnya," Erik tersenyum tipis.


"Benerkah! tapi nggak ke sasar kan!" goda Marmun dengan senyum lebar.


Marmun bergerak melangkah ke dapur membuatkan dua gelas sirup orange dengan penuh cinta.❤️