Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -7



Sang ibu yang baru saja balik dari kantin rumah rumah sakit begitu dilema mendengar ucapan putrinya, begitu pun Mayri.


"Itu karena saraf di otak kamu belum seutuhnya merespon, artinya otak kamu belum berfungsi 100%."


" Nggak usah khawatir, pemulihan kesadaran pada pasien seperti kamu terjadi secara bertahap. Sejauh ini vital sign kamu mengalami kemajuan," lanjut dokter sembari melihat ke arah bedside monitor.


Mendengar ucapan dokter, Marmun dan yang lainnya merasa lega.


''Thanks y dok,"


"Sama-sama Bu," sahut dokter lalu pergi.


Mayri dan Ibu Marmun duduk terpisah dalam beberapa menit keheningan.


Tak ingin mengganggu Marmun yang sedang tidur pules, Mayri berbisik pelan " Tan aku keluar dulu ya, mau cari udara segar berhubung si kalapa masih tidur."


Ibu Marmun menjawab dengan menekukkan kepala.


Mayri bergerak keluar hendak menghempaskan kepenatan hatinya, namun di taman rumah sakit dekat pintu ruang darurat ia bertemu dengan Rivan.


Mayri berusaha menghindar namun Rivan terus menghalangi langkahnya.


"May dengarkan dulu penjelasanku,"


"Aku nggak butuh perjelasan loe! semua sudah jelas, nggak ada lagi yang perlu dibicarakan." Mayri tidak ingin mendengar pembelaan dari Rivan.


"Kamu harus tahu kalau aku nggak ada perasaan apapun sama Ranti, aku nggak cinta sama dia, aku hanya cinta sama kamu doang May,"


Akan tetapi, Ranti yang sudah cukup lama berdiri di belakang Rivan dengan jarak 7 meter tak mampu menahan amarah dan sakit hatinya mendengar ucapan Rivan.


Ranti berjalan dengan pelan, 2 langkah lagi semakin dekat ke Rivan.


"Van," panggil Ranti sembari mengepal tangannya.


Sontak Rivan terkejut dan membalikkan badannya ke arah suara yang memanggil namanya.


"Plak.." suara tamparan Ranti,


"Awww sakit," rintih Rivan sembari memegang wajahnya.


"Brengsek kamu Van!"


"Tadi apa kamu bilang, nggak suka? nggak cinta? kalau kamu nggak cinta sama aku ngapain kamu mau tunangan sama aku!" lanjut Ranti dengan marah,


Rivan terdiam,


"Kenapa..?? owhh berarti selama ini kamu hanya ingin manfaatin aku aja kan!" lanjut Ranti


"Nggak gitu Ran. Aku mau tunangan sama kamu ya karena Om, ayah kamu!" jawab Rivan,


Mayri yang menjadi salah satu pemeran dari drama itu diam berdiri, menonton drama yang sedang berlangsung.


"Sebelum Om masuk rumah sakit dan meninggal, dia datang kerumah meminta aku untuk ngejagain kamu." lanjut Rivan


Tak terima dengan alasan Rivan, Mayri yang berdiri di belakang Rivan kecipratan akan amarah Ranti.


"Semua ini gara-gara loe!" tuduh Ranti dengan tatapan tajam.


Menyadari amarah merasuk jiwa Ranti, Mayri tak menggubris, ia membuang wajah.


Ranti meluapkan amarahnya. Dia bergerak melangkah dengan cepat dan langsung menarik rambut panjang Mayri, menjambak.


"Dasar pelakor!'' teriak Ranti sekuat-kuatnya,


"Loe yang pelakor, dasar cewek murahan!" Mayri kepancing.


Sepertinya Rivan menikmati sirkus Jambak menjambak itu, dia sama sekali tidak berusaha melerai keduanya.


"Loe yang pelakor!" ucap Ranti,


"Loe yang pelakor!" sahut Mayri.


"Cewek ganjen, cewek murahan, pelakor!" darah Ranti semakin mendidih.


Beberapa orang di sekitar rumah sakit mulai berdatangan dan menikmati tontonan gratis itu.


Security yang melihat adanya sirkus jambak menjambak dari ujung rumah sakit sebelah Utara, dengan cepat berlari dan memisahkan keduanya.


"Stop! stop! stop mbba!" bentak Security. Dia memisahkan keduanya, Rivan ikut membantu.


"Kalian jangan membuat keributan di rumah sakit ini! silahkan selesaikan masalah kalian diluar sana! Kayak anak kecil aja, tuh lihat kalian sudah jadi tontonan banyak orang," lanjut Security


Rivan mematung tak ingin membela dirinya,


Sedangkan Mayri dan Ranti terdiam sembari merapikan rambutnya masing-masing yang telah acak-acakan.


"Mulai sekarang kita tidak ada hubungan apapun lagi, tidak akan ada pernikahan!" Ucap Ranti sembari melepaskan cincin tunangan dari jari manisnya,


"Gue nggak butuh ini!"


Ranti mengembalikan cincin tunangan nya ke tangan Rivan.


"Tapi Ran!"


''Dan loe, jangan berharap hidup loe akan bahagia. Kita belum selesai sampai disni, Loe lihat aja nanti!" ancam Ranti menunjuk Mayri,


"Loe ngancam aku, aku nggak takut sama loe!" tantang Mayri.


"Sudah, sudah silahkan bubar." perintah Security.


Ranti bergerak pergi, begitu juga dengan Security.


"Loe sudah puas kan!" ucap Mayri sembari menenteng tas kecilnya lalu pergi.


"Aku cinta sama kamu May, please maafin aku!"


Mayri tidak menghiraukan nya,


Dengan pelan Rivan melangkah lalu menampakkan bokongnya di kursi taman rumah sakit. Ia terlihat begitu sedih penuh penyesalan, kedua tangannya seakan menjambak rambut tipisnya dengan raut wajah tak menentu.


"Aaaaaaa kenapa jadi seperti ini!" ucap Rivan sesal,


sesekali dia berdiri lalu berjalan 2 atau 3 langkah bolak balik kemudian duduk, berdiri lagi hingga menendang rumput yang menyaksikan kegalauan nya.


*****


Putusnya hubungan Mayri dan Rivan sudah terendus ke anak - anak kampus lainnya hingga ke telinga Marmun dan menjadi pembahasan yang heboh.


Para insan jomblo pengagum sepasang kekasih itu bersorak sorai bahagia dan ada juga yang menyayangkan kandasnya hubungan keduanya.


Ketika Mayri tiba di kampus tepatnya di parkiran, tiga sosok perempuan sedang memandanginya seraya berbisik satu ke yang lainnya.


"Ekhhh lihat Mayri datang, sayang banget ya udah lama pacaran ujung-ujungnya putus gitu," bisik salah satu perempuan ke yang lainnya.


"Menurut Gue mereka pasangan komplit di kampus kita ini, cantik dan ganteng." sambung salah satu perempuan lainnya sembari melirik Mayri,


"Bener. By the way katanya Si Mayri di selingkuhin gitu sama si Rivan," ucap pelan perempuan yang kedua.


"Iya, dengar - dengar si Rivan juga udah tunangan sama cewek selingkuhannya.'' sambung yang lainnya saling sahut menyahut.


Meskipun Mayri menyadari bahwa dirinya sedang di perbincangkan oleh ke tiga perempuan itu, she just showed that she was fine.


Dengan slow Mayri berjalan dengan tegak, dagu sedikit terangkat dan pandangannya ke depan.


Berbeda dengan Rivan, dia justru di sambut meriah oleh para mahluk Tuhan paling seksi.


"Hai Van, gimana kabar loe," sapa salah satu perempuan, penggemar nya.


Rivan membalasnya dengan senyum tipis,


"Loe makin ganteng aja Van," goda yang lainnya.


"Thank you,"


Rivan berjalan dengan langkah terburu-buru, menghindar.


"Buru-buru amat sih Van," ucap perempuan lainnya sembari mengikuti Rivan dari samping.


"Gue ada urusan, loe pada ngapain sih ngikutin gue," Rivan mulai kesal.


Dengan tidak sengaja datang dari arah yang berbeda, Mayri dan Rivan bertemu persis di depan gedung Fakultas Ekonomi.


Beberapa menit dua pasang mata itu saling tatap tatapan tanpa berkedip hingga anak - anak lain menggoda keduanya.


"Cieeee akur lagi ni, suit..suit," goda laki laki berambut gondrong.


"Youuu huiii," sambung pria lainnya.


Sontak kedua mata Mayri dan Rivan berkedip lalu pergi tanpa sepatah kata apapun.