
Erik seakan merasakan sentuhan Marmun, ia terbangun setengah sadar.
Pandangannya masih samar-samar,
"Kamu sudah bangun toh Mar," ucap Erik sembari menguap lalu mengusap mata dan meregang kan otot-otot leher dan tangannya.
"Sudah Rik, kamu tidur pules banget pasti karena kecapean," Marmun sedikit terkejut.
"Capek sih nggak, mungkin karena saya hanyut dalam dunia mimpi aja." Erik tersenyum tipis.
"Emang kamu mimpi apa?" tanya Marmun.
"Mimpiin seorang wanita cantik, berambut pendek yang memiliki suara merdu,"
Erik menggambarkan sosok Marmun.
"Ya ampun sudah jam segini!" lanjut Erik sembari melihat jam tangannya, lalu bergerak ke kamar mandi membasahi wajahnya yang terbalut bulu bulu halus.
Ditempat ranjang (bed pasien) Marmun terlihat sedang memikirkan sesuatu, namun buyar ketika seorang wanita berpakaian serba putih, dengan sebuah papan ukuran kecil tipis di tangan kiri dan tensimeter di tangan kanannya masuk tanpa permisi, perawat.
"Pagi bu, gimana tidurnya lelap kah?" sapa dan tanya perawat sembari meletakkan tensimeter di atas meja dekat Marmun.
"Pagi, Puji Tuhan lelap Sus,"
"Syukurlah, Nggak ada keluhan kan,"
Perawat bergerak mendekat, lalu mengukur tekanan darah Marmun dengan tensimeter nya.
"Aman sus, nafas juga lebih stabil sekarang," ucap Marmun dengan pelan.
Erik yang berada dalam kamar mandi bergerak keluar dengan wajah segar, kaki dan rambutnya sedikit basah.
"Sus gimana keadaan Marmun?" tukas Erik, dia melangkah mendekat ke Marmun.
"Alhamdulillah, dia semakin membaik. Tekanan darah dan nafasnya sudah mulai normal.'' jawab sang perawat.
"Kemungkinan ventilator pada pasien akan dilepas nanti sore atau besok hari, tergantung hasil pemeriksaan dokter," lanjut perawat memberi tahu.
"Syukurlah, semoga secepatnya, amin"
Erik tampak senang mendengar ucapan perawat.
"Bapak pasti pacar Bu Marmun," ucap Perawat menebak.
Mendengar ucapan sang Perawat, Wajah Erik memerah dan ia senyum tersipu.
"Bukan sus dia teman saya," sahut Erik.
"Jangan bilang gitu sus, kalau pacarnya dengar bisa marah loh," sambung Marmun.
"Nggak akan ada yang marah, saya itu masih single," celetuk Erik.
Dia menatap Marmun dengan dalam.
" Jadi kalau ada yang bilang saya pacar kamu, ya nggak masalah! saya justru senang." lanjut Erik dengan senyum lebar, jantung berdebar-debar, tersipu malu.
"hahahah..idikh ngarep!" ucap Marmun dengan mimik wajah nyebelin.
Erik tertawa bahagia melihat ekspresi Marmun.
Perawat yang berdiri di samping kiri Marmun, tersenyum mendengar ucapan keduanya.
Dia menggulung tensimeter lalu membereskan alat medisnya kemudian pergi meninggalkan Marmun dan Erik.
"Terima kasih sus," Ucap Marmun dan Erik serentak.
Setelah sang perawat pergi, Marmun dan Erik terdiam beberapa menit, baper.
" Saya pamit pulang dulu ya Mar soalnya ada kerjaan di kantor."
Erik pamit, dia tampak menurunkan tangan bajunya, salting.
"Maaf ya sudah ngerepotin and thanks untuk semuanya."
"Ya sama-sama. Nanti sore saya balik lagi ke sini," Erik menatap dengan penuh rasa. Dia bergerak pergi dengan hati yang bersorak sorai bahagia.
Marmun menjawab dengan menganggukkan kepalanya satu kali, pertanda "Ok."
*****
Disisi lain di rumahnya, Mayri yang sedang duduk di kursi dekat kaca cermin kamarnya terlihat sedih setelah ia mengakhiri pembicaraannya dengan seorang lelaki tua via telepon, Ayahnya.
Lalu dia bergerak keluar dari kamar dengan bibir mengerucut.
Di ruang tamu Mayri bertemu dengan adiknya, Zio.
"Ngapain loe ngadu ke ayah kalau aku selalu pulang malam!" bentak Mayri sembari mencubit tangan Zio dengan wajah di kernyit.
"Suka - suka aku lah, lagian siapa suruh loe selalu pulang malam. Anak gadis kok gitu!"
Zio mengelus tangannya yang memerah akibat cubitan Mayri dengan wajah menahan sakit.
"Aku pulang malam karena nemanin Marmun di rumah sakit, bukan aneh - aneh!'' ucap Mayri dengan nada naik 3/2 oktaf dari nada biasanya.
''Lah waktu itu loe diantar bang Rivan jam berapa? malam kan! nggak usah ngeles!"
"Itu sudah lama Zio, loe jangan kayak anak kecil deh dikit dikit ngadu ke ayah, aku sudah gede sudah dewasa, aku sudah bisa jaga diri sendiri."
"Lagian aku juga sudah putus dengan Rivan, jadi loe nggak usah khawatir. Loe sudah puas kan?" lanjut Mayri dengan lantam.
Melihat sang kakak sedih, Zio bergerak melangkah mendekat ke Mayri yang berdiri tidak jauh darinya. Lalu memeluknya seraya berkata ''Sorry, aku janji tidak akan ngadu-ngadu lagi ke ayah. Tapi loe harus janji bisa jaga diri dan yang pasti jangan pulang terlalu malam."
"Iya, aku janji."
Mayri melepaskan badannya dari pelukan Zio.
"Ya sudah aku berangkat dulu." lanjut Mayri. Dia melangkah keluar dengan helm di tangan kanannya.
Disaat Mayri pergi, Zio membalikkan badannya lalu bergegas masuk ke kamar.
Hari semakin cerah, Mayri pergi ke kampus dengan mengendarai motornya.
Setiap pergi ke kampus, di perjalanan Mayri kerap kali melihat seorang wanita tua berjalan tersuruk suruk dengan kaki telanjang, tumitnya tampak kering dan pecah.
Wanita tua itu adalah wanita yang sama, yang selalu Mayri lewati setiap kali ke kampus.
Entah kenapa pagi itu Mayri terdorong untuk menemui sang wanita tua (Nenek) yang berada di seberang jalan.
Mayri berhenti dan mematikan motornya serta memarkirkannya di bahu jalan.
Dan di saat Mayri hendak menyeberang, seseorang mendorongnya dari belakang hingga ia tersungkur, Ranti.
Sepertinya Ranti sudah mengikuti Mayri sejak keluar dari rumahnya, sehingga ia muncul dengan tiba-tiba .
Dengan cepat Mayri bergerak berdiri,
"Awww sakit," rintih Mayri kesakitan pada telapak tangannya.
"Rasain loe! Gimana, sakit kah?"
Dengan dendam yang membara Ranti menarapnya dengan tajam,
"Biar loe tahu, sakit loe itu belum seberapa di banding sakit hati Gue," lanjut Ranti sembari menunjuk Mayri dan dirinya.
"Loe sudah gila kali! disini yang seharusnya marah itu aku, bukan loe!
Mayri melangkah keluar dari bahu jalan.
"Apa? Loe? justru karena loe hubungan gue dengan Rivan kandas, semua gara gara loe!" Wajah Ranti tampak memerah dengan mata melotot seakan ingin menerkam.
"Terserah deh, capek ngomong sama orang gila kayak loe!" jawab Mayri.
Dia meniup luka telapak tanganya yang digigit oleh aspal jalan raya itu.
Disaat Mayri sibuk meniup tangannya yang terluka, Ranti bergerak mendekat lalu mendorong nya kembali hingga terjatuh.
"Awww'' rintih Mayri kesakitan sembari mengibas-ibaskan tangannya, lalu berdiri dengan darah mendidih.
Mayri menatap Ranti dengan emosi, lalu bergerak melangkah kemudian mendorong balik Ranti hingga terbalik.
Ranti terdiam sejenak seakan nafasnya berhenti.
"Awww" rintih Ranti.
Dia memegang pinggang sebelah kanannya, lalu berusaha berdiri namun ia tak cukup kuat.
"Dari tadi aku sudah berusaha sabar, tapi loe membuat darahku kembali mendidih. Gimana sakit kan!"
Mayri tidak peduli melihat Ranti merintih kesakitan, dia justru memandanginya dengan rasa puas.
Namun tiba tiba terlihat seorang laki-laki tinggi, berkacamata, brewokan datang ke arah Ranti. Laki laki itu ialah Erik.