Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -57



"Sorry..sorry. Gak sengaja, maaf ya!" ucap laki laki mancung sembari mengulurkan sapu tangan, Devan.


"Huuuhhh! Mimpi apa aku semalam, kok bisa sial gini. Tadi kena lempar telur busuk, sekarang kena siram, ya sangat sempurna." celoteh Marmun mengabaikan Devan.


Menahan aroma tak cocok masuk dalam penciuman, Devan bergerak membersihkan sekaligus mengeringkan gaun cantik yang ternoda dengan tulus. Dia tak terpikir menoleh wajah wanita di hadapannya sebab rambut tergerai kedepan menutupi sebagain wajah cantik itu.


"Gue benar benar minta maaf."


"Ya sudah lah, gpp. Lain kali jangan sembarangan buang/nyiram gitu, gak bagus dan sangat merugikan orang lain." ucap Marmun iklas sembari menghempaskan rambut kebelakang.


Setelah seluruh bagian wajah terlihat telanjang oleh mata, Devan menatap mangap. Sedangkan Marmun memandang dengan datar.


"Marmun! Ya ampun Mar, maaf banget lho. Beneran gak bermaksud. Salah satu kebiasaan buruk gue dari dulu, buang minuman disembarang tempat. Maaf ya! Btw Loe kok bisa disini sih, trus pakaian loe kenapa butek dan bau busuk?" ucap Devan.


Bukannya menjawab, Marmun justru bergumam dalam hati " Ini siapa lagi, sok kenal banget. Mana sok ramah lagi, hadehhh! Ada ada aja."


"Loe beneran Marmun kan? Gue Devan, anak dari teman nyokap loe. Kita pernah jumpa di jalan apa, gitu." Devan berusaha mengorek ingatan yang sempat membeku.


"Devan? Pernah ketemu? Kok aku gak ingat ya! Tapi maaf, aku benar benar lupa." Marmun melangkah mundur sedikit agar bau amis dari bajunya tidak berendus ke penciuman laki laki di hadapannya. Devan melangkah mendekat. Marmun melangkah mundur, menjauh.


"Loe kenapa menjauh sih, gue gak ngapa-ngapain loh. Gue bukan orang jahat yang harus di jauhin kali!" celetuk Devan sembari memasukkan sapu tangan kedalam saku jas nya. Ekspresi wajahnya berubah datar.


" Bukan gitu. Aku hanya ingin kamu tidak kecipratan bau amis, busuk yang berasal dari bajuku, gitu loh. So jangan langsung sensi gitu." Marmun terkekeh. Sedangkan Devan tersenyum malu. Jantungnya berdegup kencang tak karuan saat memandang wajah yang mencoba mengodanya.


Meskipun mendengus bau tak sedap, Marmun dan Devan menghabiskan waktu hingga sore hari. Dan karena sinar mentari yang begitu menyengat menembus kulit, bau busuk amis itu kian menghilang bila di cium dari jarak 2 meter. Marmun terlihat nyaman bercuap-cuap dengan laki laki berprofesi dokter itu.


Sementara Ibu Marmun dan kedua orang tua Devan terlihat ngobrol panjang lebar. Sepintas mereka menyelipkan nama Marmun dan Devan dalam obrolan, seperti merencanakan sesuatu.


" Ya benar. Saya akan coba bicarakan baik baik, semoga si Kakak paham dan mau. Yahh, maklum lah pak, buk, anak anak kita susah di bilangin. Padahal kan semua untuk kebaikan mereka." ucap Ibu Marmun sembari meneguk minuman berwarna kuning. Lalu mencedok kecil kue yang tersaji di meja bundar hadapannya.


"Ya bener buk. Mereka suka ngeyel tak jelas, tidak seperti kita dulu, mau mendengar apa omongan orang tua. Intinya semoga anak anak kita berjodoh.." Ibu Devan tersenyum dengan mengerjap mata sembari mencolek tangan suaminya. Ayah Devan tersenyum seakan sepakat dengan perkataan kedua wanita disamping dan hadapannya itu.


Sementara Rivan tampak cemas setelah kecelakaan mantan kekasihnya terendus olehnya. Bergerak kelimpungan dengan mata menjeling.


"Setelah semua masalah ia lalui, kini harus mengalami musibah. Ya Tuhan, aku mohon jaga dan selamatkan dia." ucapnya dalam hati.


Rasa cemas yang mendekap, mendorong dirinya untuk melangkah pergi memastikan keadaan wanita yang sempat singgah di hatinya.


Dia tak sendiri, ada sosok wanita berambut ikal, manis dan imut duduk disampingnya menemani perjalanan nya. Wanita itu tak asing lagi bagi Marmun, Mayri, dan Ranti. Dia adalah Lala, sahabat Ranti.


"Jangan berlebihan juga kali, Van. Aku tahu kok, gak mudah melupakan orang yang kita sayang. Tapi kamu juga harus mengendalikan perasaan itu. Kamu juga harus bisa menjaga perasanku yang sudah berusaha paham dan mengerti." Lala bergerak bersandar pada bahu si pengemudi mobil itu. Tampak Lala begitu menyayangi Rivan.


Rivan membalas dengan senyum sembari mengusap kepala Lala.


Sementara Ranti tampak sedang berucap pada seorang laki laki berbaju putih. Entah dari jam berapa dia berada di bangunan besar bercat putih serta berlambang palang merah itu.


"Ok, terima kasih." ucap Ranti berbalik meninggalkan perawat, lalu bergerak melangkah melewati beberapa ruang yang biasa Zio, Chiko dan Marmun lewati saat menuju ke kamar rawat Mayri.


Tak berselang lama, langkah Ranti terhenti tepat di depan kamar nomor 25 Mel, kamar Mayri di rawat.


Sebelum melangkah masuk, dia tampak mengerling lalu mengintip dari pintu yang terbuka sedikit.


"Aman. Wanita jahanam itu sedang tidur, dan gak ada siapa siapa.'' Ucap Ranti dalam hati sembari tersenyum sarkas. Dia bergerak masuk membawa niat buruk dengan langkah ngindit gindit. Sepertinya dia langsung bergegas dari rumah Dava menuju Rumah Sakit seteakh mendengus berita tentang wanita yang ia anggap musuh bebuyutan.


Mayri yang tertidur pulas tak berfirasat apa apa, sedangkan Zio pergi entah kemana.


"Mampus! Semoga dewa maut menjemput loe sekarang juga!!'' Ucap Ranti puas. Lalu bergerak melangkah mendekat ke pintu.


Saat hendak melangkah keluar, tiba tiba terdengar derap langkah kaki dari balik pintu kamar.


"Waduhhh, gimana nih! ada orang mau masuk lagi! Mampus!" Ranti tampak panik, dia bergerak mencari ide keluar dari ruangan itu tanpa kepergok.


"Krekkk!!'' Pintu dibuka. Ranti menganga dengan bola mata membesar.


Saat sipemilik derap kaki melangkah hendak melewati batas pintu, dering telpon masuk berbunyi, membuatnya menjeda langkah, Chiko.


"Ya hallo pak, ada yang bisa dibantu?" tanya Chiko.


Ranti memanfaatkan kesempatan itu bersembunyi di balik pintu.


"Nanti, saya koordinasikan ke dokter Ridwan ya, pak! Terima kasih." ucap Chiko mengakhiri teleponannya. Lalu bergerak masuk dengan membuka lebar pintu, hingga menutup tubuh Ranti.


Chiko melakukan tindakan cepat setelah mendapati Mayri kejang kejang dengan mencheck segala sesuatu termasuk mengganti tabung infus. Bersamaan dengan itu, Ranti menyelinap keluar lalu maherat.


Suster berlari masuk, saat Zio datang dari tempat persembunyian sementaranya. Dia tampak celingak-celinguk kebingungan.


"Ada apa ya?" Zio melangkah cepat, masuk dalam ruangan Mayri. Wajahnya berubah mimik setelah melihat Chiko dan sang asisten sibuk menangani sang kakak.


"Kakak saya kenapa? Ada apa sebenarnya!" Zio tampak syok.


"Mohon maaf, anda silahkan keluar dulu." perintah perawat.


Tanpa membantah, Zio melangkah keluar.


Sementara Rivan dan Lala baru saja tiba di Rumah Sakit Husada Care. Mereka bertatap muka dengan Ranti tanpa sengaja.


"Loe...?" Ranti menunjuk dengan hati bertanya tanya.


Terima kasih sudah membaca🙏🙏 Mohon beri saran/masukan supaya karya semakin lebih baik.


Jangan lupa:



Vote


Like


Koment


Beri hadiah


Share


Follow IG ku : munthe.maria