
Hari yang begitu cerah, terik mentari di tengah hamparan langit biru menusuk menembus kulit.
Marmun dan Chiko baru saja tiba di salah satu pusat perbelanjaan yang beraksitektur bagunan tertutup dan ber AC (Mall). Sebelum melangkah masuk ke dalam bagunan besar itu, Chiko terlebih dahulu memarkirkan kendaraan roda empat itu ke area yang telah ditentukan oleh pihak bangunan.
"Chik, parkir di ujung itu aja! biar gak ribet mau pulang/keluar." ucap Marmun sembari menunjuk pada area kosong.
Tanpa membantah Chiko bergerak melajukan mobil pada area yang di tunjuk, lalu bergegas keluar.
"Silahkan Nona cantik! Jangan sungkan sungkan bila membutuhkan bantuan, saya siap membantu." goda Chiko sembari membuka pintu mobil.
"Idikhhh, apaan sih! Maaf, gak butuh. Aku bisa sendiri! Atau jangan-jangan Anda yang butuh bantuan? " ucap Marmun dengan wajah judes. Dia bergerak turun dengan hand bag nya.
Chiko terkekeh melihat kejudesan wanita yang dihadapannya itu.
"Yups bener. Kok tahu ya? Apa jangan jangan situ dukun!" Chiko mencolek dagu Marmun.
Dengan kekuatan super, Marmun bergerak menginjak kaki laki laki yang menggodanya,
"Awwuu" ringis Chiko dengan senyum.
"Bilang apa tadi? dukun? kamu tuh yang dukun! Dasar orang deso! Dikit dikit, dukun! Pantesan jomblo, otakmu miring sih!" Dengan wajah mayun Marmun bergerak melangkah menuju mall. Chiko mengikutinya.
Dengan berbagai kata kata planet, Chiko terus saja menggoda Marmun tanpa peduli akan respon dan rasa. Itu di lakukan nya semata mata untuk membuat Marmun sibuk sehingga lupa akan kesedihannya.
"Pergi sana, gak usah dekat dekat! Ntar orang ngira kamu pacarku. Aku gak suka." ucap Marmun dengan menjulur lidahnya keluar, lalu mendorong Chiko.
Berselang beberapa menit, ditempat yang sama Zio tampak sedang memarkir motor di areal khusus roda dua. Dia bersama dengan sang kakak, Mayri.
Dengan dress pendek seksi yang melekat membentuk lekukan tubuh putihnya, Mayri bergerak menuju mol itu dengan gemulai. Rambutnya berlenggak lenggok mengikuti langkahnya. Dan Seperti biasa wajah mulusnya terbalut make up yang menjadikan kecantikannya bertambah dua kali lipat. Zio mengikuti dari samping kanan.
Sedangkan Marmun dan Chiko melangkah masuk dalam toko toko kecil yang teratur dan saling berhadapan itu. Keduanya memandang sepintas seakan tak berniat menggilir barang bermerek yang mencoba menggodanya.
Tampak barang barang mewah tersusun, terpajang dalam toko dengan harga tinggi yang mampu merogoh kantong para kalangan atas, tidak dengan kalangan bawah. Dari semua yang sudah dimasuki, belum terlihat barang berbandrol murah.
"Chik, cari makan yok!" Marmun mengusap perut, meraung kelaparan.
"Gak mau, cari aja sendiri! Tadi kan loe bilang gak butuh bantuan dari gue, so..you know lah." ucap songong Chiko dengan wajah datar. Dia tak kunjung bosan usil sebelum sasaranya naik pitam.
"Beda dong ceritanya Chiko. Serius aku udah lapar, ayok la cari makan. Masa kamu tega biarin aku sendirian? Kamu kan temanku yang paling baik, ganteng dan suka membantu. Ya kan!" rayu Marmun dengan mengedip edipkan mata.
"Gak mau! Sekali gak mau, ya tetap gak mau. Loe paham kan maksud gue neng? Gak usah maksa!" ucap Chiko dengan mendekatkan wajahnya ke Marmun. Dia tampak menahan tawa. Lalu dengan sombong ia memalingkan wajahnya ke kiri.
Marmun menatap tajam dengan tangan mengepal, lalu dengan cepat ia menjambak rambut pendek model under cut itu.
"Ya udah gak usah, aku bisa sendiri. Bye!" Ucap Marmun keras dengan mata melotot sembari menepuk pelan wajah tampan itu. Lalu dengan angkuh dia bergerak meninggalkan Chiko.
Chiko mematung memerhatikan Marmun yang pergi melangkah jauh.
"Waduh! dia serius pergi lagi. Bahaya kalau dia sampai ngambek, bisa brabe." Ucap Chiko dalam hati.
Dengan santai Marmun terus melangkah menoleh kiri dan kanan, berbelok menyusuri setiap lorong tempat itu. Mencari tempat penyedia makanan. Chiko berlari mengejar.
Masih di atap yang sama, Mayri dan Zio tampak berada di keramaian pusat Mall itu. Duduk bersampingan dengan para pemain musik. Apabila dilihat dari segi dandanan serta pakaiannya, bisa di pastikan Mayri salah satu bintang tamu pada acara event yang akan berlangsung itu di tempat itu. Zio duduk di belakang sang kakak.
"Masih lama gak sih acaranya? Kalau iya, aku keliling cari makan atau apalah.. dari pada cuma duduk disini lihat punggung loe yang dekil! Kan gak banget." ucap Zio dengan pelan.
"Sabar, sebentar lagi. Loe disini aja, jangan kemana mana." Mayri menoleh serta menepuk pelan kaki Zio.
Mayri diam tak menjawab, dia tampak sibuk dengan ponselnya. Air bening terlihat keluar dari balik kelopak matanya. Entah apa yang ia lihat dan pikirkan.
Zio terlihat gelisah, matanya memandang memutar dengan wajah kusut.
"Hadekhhh sungguh membosankan. Aku harus apa ya? Ucap Zio dalam hati. Dia memandang keatas dengan alis sedikit naik, berpikir. Lalu menatap Mayri yang menungganginya dengan senyum, penuh misteri.
"Aku kebelakang dulu ya, bentar!" bisik Zio. Dia bangkit dari duduknya.
Mayri manggut manggut dengan wajah meregang menahan tangis. Dia mengusap kasar air bening yang sempat keluar itu. Zio melangkah pergi.
Tak berselang lama dia kembali dengan secup minuman berwarna dan seutas karet.
Sebelum menapakkan bokongnya diatas kursi, Zio tampak memandang sekitarnya dengan mata memutar entah apa yang ada di benaknya. Setelah merasa terkendali, dia bergerak duduk. Lalu perlahan dia menjalankan aksinya.
Zio memasukkan ujung rambut yang tergerai itu kedalam cup minuman. Tak cukup sampai disitu, dengan menahan tawa dia mengikat rambut panjang basah itu dengan karet pengikat, membentuk huruf W.
Beberapa orang yang menyaksikannya tersenyum tipis serta geleng geleng akan ulah Zio. Tak ada yang mencoba memberi tahu Mayri.
Sedangkan Marmun dan Chiko masih saja perang mulut, tidak sungguhan. Hingga langka keduanya terhenti di salah satu penyedia makanan, restoran. Dalam restoran terlihat berbagai ragam macam makanan mewah dengan harga terbilang mahal, salah satunya skirt steak dan lobster.
"Akhirnya.." Marmun bergegas masuk dalam restoran itu, lalu duduk pada kursi kosong.
Chiko mengikutinya. Keduanya duduk berhadapan.
Tempat itu tampak ramai pengunjung. Marmun mengacungkan tangan, memanggil waitress. Lalu memesan makanan yang cocok untuk lidahnya. Begitu juga dengan Chiko.
Marmun dan Chiko menyantap dengan lahap hingga tak tersisa sebutir nasi. Hanya ada tulang belulang lobster di atas piring tanpa secuil daging.
Masih di acara event, Mayri tampak berkidung dengan rasa, mata berkaca-kaca. Hingga merasuk dalam hati penonton.
"Sahabat sejatiku...." senandung Mayri mengakhiri nyanyiannya. Dia bergerak turun dengan setengah senyum dari panggung meskipun penonton bersorak "Lanjut..lanjut.."
Karena cacing cacing diperut Zio telah berdemo, mereka pergi mencari nutrisi untuk mendiamkan cacing cacing itu.
Hingga langkah mereka terhenti pada penyedia makanan yang sama dengan Marmun dan Chiko.
Zio dan Mayri melangkah masuk dan mencari kursi kosong.
Tanpa sengaja mata Marmun terpelintir pada sosok sahabat yang hendak menapakkan bokong pada kursi kosong. Dia menatap tajam dengan rahang mengeras. Sedangkan Mayri terdiam dengan sedih. Kedua sahabat itu saling tatap tatapan, lalu dengan cepat Marmun memalingkan pandangannya.
"Bakal perang nih!" ucap Chiko dalam hati. Zio duduk termangu.
Hati berteriak rindu, Mayri bergerak menghampiri meski dia tahu kehadirannya akan ditolak.
Melihat Mayri menghampiri nya, dengan wajah sinis Marmun bangkit dari tempat duduknya lalu bergerak pergi tanpa mengacuhkan Mayri.
"Kalapa, tunggu! Sampai kapan kamu menjauh dari aku, semua gak seperti yang kamu lihat. Dengarkan penjelasan ku dulu!" ucap Mayri dengan wajah meregang menahan tangis.
Namun Marmun tak menoleh sedikitpun, dia terus melanjutkan langkahnya.
Mayri melangkah mengejar, dengan hati yang masih sakit Marmun melangkah tak perduli tanpa meninggalkan jejak.
Usai membayar tagihan makannya, Chiko berlari mengejar Marmun.Sedangakan Zio tampak asyik menyantap makanan yang ia pesan dengan lahap tanpa peduli dengan sang kakak.