
Dari kejauhan depan pintu masuk hotel, Rivan melihat Mayri tergeletak di bahu jalan dan telah dikerumuni beberapa orang,
Rivan sontak berlari menghampiri.
"May...may..!''
Rivan menepuk-nepuk pipi Mayri dengan khawatir.
"Tolong ambilkan air mineral!" pinta Rivan sembari mengangkat Mayri dari bahu jalan.
Rivan memangku Mayri ke salah satu warung persis di sebelah Mayri jatuh pingsan.
Melihat Mayri tak kunjung sadar, Rivan membawanya ke salah satu Clinik terdekat dari lokasi dan Ranti ikut menemani.
"Dok..! Dok, tolong dok!" seru Rivan khawatir.
"Baringkan disini pak,"
Dokter menunjuk ke salah satu ruangan khusus pasien.
Dokter memeriksa Mayri.
"Pasien gak apa-apa kok, hanya sedikit stress.'' ucap Dokter sembari ngecek denyut nadi pergelangan tangan kiri Mayri.
"Syukurlah. tapi kenapa dia belum sadar juga dok?" tanya Rivan serius.
"Itu karena tekanan darahnya belum stabil. Nggak usah khawatir sebentar lagi pasti siuman."
Hampir 4 Jam Mayri belum juga sadarkan diri.
Ternyata saat jatuh pingsan, arwah Mayri keluar dari raganya dan melanglang buana ke antah berantah.
Di alam lain, Marmun terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang ia kenakan.
Mereka berlari, lompat-lompat, tertawa bahagia bersama dengan beberapa arwah anak-anak.
Tiba-tiba Marmun melihat Mayri sedang berjalan kearahnya di atas padang rumput, tempat baru, dunia baru Marmun dan arwah yang lain.
"Kalapa..!" panggil Mayri bahagia,
"Kamu ngapain disini kalapa?" tanya Marmun dengan nada lembut.
"Aku nggak tahu, tiba-tiba saja sudah disini. Mmm begitu indah..! aku mau tinggal disini saja!"
Mayri berputar dengan kedua tangannya terbuka horizontal,
"May kami harus pergi, kamu jaga mommy ya!" seru Marmun menghilang.
"Jangan pergi! aku ikut, kalapaaa!!!" Mayri berteriak.
Di waktu yang sama, di dunia nyata dunia manusia, Mayri memanggil-manggil "kalapa" dengan mata masih tertutup,
sepertinya arwah Mayri telah kembali ke raganya.
''Kalapa jangan pergi! kalapa," Mayri ngigo.
"May..! bangun may!" ucap Rivan.
Mayri terbangun dari mimpinya, siuman.
"Aku dimana?'' tanya Mayri heran,
" Loe lagi di Clinik," jawab Ranti sinis.
Mayri melihat sana - sini dengan mata memutar, memastikan.
"Dia sudah bangun kan van! jadi ayok kita pergi!" Ranti menoleh Rivan.
"Kamu aja duluan, nanti aku nyusul!"
Disaat Rivan hendak mengelus rambut Mayri, Mayri menghempaskan tangan Rivan dari kepalanya.
"Loe ngapain? pergi sana! Gue nggak butuh Loe disini!" Mayri memalingkan pandangannya dari Rivan.
"Apa kamu bilang, Loe??" Rivan bertanya-tanya.
"Iya, Loe pergi dari sini! Aku dan Loe tidak ada hubungan apapun, anggap kita nggak pernah kenal," Jawab Mayri.
"Kamu dengar kan apa kata dia! ayo pergi!" tukas Ranti, ia menarik tangan Rivan lalu mereka pergi.
*****
Disisi lain, Diruang kamar Marmun di rawat, terlihat sosok wanita duduk disamping kanan Marmun sedang menangis dan meratapi nasib putrinya, yang tak lain ialah ibu Marmun.
"Bangun dong kak! sampai kapan kakak akan tidur terus? apa kakak nggak lelah, apa Kakak nggak pengen nyanyi bareng Mayri?"
"Bangun Kak! Bangun!" pinta Ibu Marmun keras.
"Kalau memang Kakak tidak sayang lagi sama mommy, kakak nggak usah bangun lagi selamanya!" lanjut Ibu Marmun. Ia menangis tersedu-sedu,
Dari pintu masuk ruang rawat Marmun, Erik melihat jari telunjuk Marmun bergerak.
"Tan lihat! Jarinya bergerak,"
Erik bergerak masuk dan menunjuk ke jari Marmun.
"Kakak dengar mommy?'' tanya ibunya.
Air mata Marmun keluar dari ujung sudut mata kanannya.
"Kalau memang Kakak betul-betul mendengar mommy, tolong gerakkan lagi jarimu ya kak!" ucap sang ibu penuh harap.
Marmun menggerakkan jemarinya,
Dan alangkah bahagianya Sang Ibu dan Erik melihat respon dari Marmun.
"Nak, tolong panggil kan dokter!" pinta Sang Ibu sembari mengusap air mata bahaginya.
Dengan cepat Erik menekan tombol panggilan darurat yang ada di ruangan itu.
Dokter dan perawat masuk dan langsung memeriksa Marmun.
"Silahkan mundur dulu! biar bisa kita periksa," Dokter mencheck tubuh Marmun dengan stetoskopnya.
Pada bedsite monitor detak jantung, nadi dan tekanan darah Marmun menunjukkan kemajuan.
"Alhamdulillah, ini mukjizat yang Allah berikan untuknya, pasien sudah melewati masa kritisnya."
"85% saraf-saraf di otaknya sudah merespon, itu berarti otaknya sudah berfungsi" terang dokter.
"Tapi dok, kenapa dia belum juga sadar?" tanya Erik penasaran.
"Itu karena masih ada beberapa saraf yang belum merespon, secepatnya pasien pasti sadar. Kita berdoa saja," jawab Dokter.
"Kalau begitu kami keluar dulu,"
"Terima kasih banyak dok," Ucap Ibu Marmun sedikit senyum.
"Sama-sama ibu," Dokter bergerak pergi.
"Nak, tolong kasih tahu kabar baik ini ke Mayri," suruh Ibu Marmun.
''Baik Tan,"
Dengan cepat Erik mengeluarkan HP dari tas kecilnya.
"Tan, saya tidak punya nomor Mayri,''
"Bentar, Tante cari dulu nomornya yeah,''
Ibu Marmun mengotak atik HPnya.
"Ini nak, 08126537xxxx." lanjut Ibu Marmun,
Memanggil, panggilan diterima.
"Hallo May, ini saya Erik."
"Ada apa Rik? Marmun baik-baik aja kan?" tanya Mayri sedikit panik.
"Dia gak apa-apa kok, saya telpon kamu juga karna ingin memberi tahu kalau Marmun sudah melewati masa kritis nya." Ucapnya dengan semangat,
''Iya kah! Puji Tuhan. Aku senang mendengarnya," Mayri kegirangan.
"Makanya kamu cepat balik kemari," ujar Erik.
"Iya, besok aku balik." Mayri sedikit pusing,
"Ya sudah sampai ketemu besok, bye." Erik mengakhiri telponannya.
Karena hari semakin malam Erik pamit pulang.
"Tan saya pulang dulu, soalnya besok pagi ada rapat di kantor,"
"Terima kasih ya nak sudah nemanin Tante jagain Marmun. Kamu hati-hati di jalan ya!"
"Tidak usah berterima kasih Tan, ini sudah menjadi tanggung jawab saya untuk menjaganya sampai sembuh. Saya yang membuat Marmun jadi seperti ini," Erik merasa bersalah.
"Semua sudah jalannya Tuhan nak," ucap Ibu Marmun iklas.
Erik melangkahkan kaki keluar dari ruang rawat Marmun dengan wajah ceria.
*****
Hari begitu cerah, burung-burung berkicau riang serta rumput-rumput bergoyang mengajak setiap insan bersuka riang.
Dirumah sakit Bina Kasih, seorang wanita muda berambut panjang terlihat sedang berjalan kearah ruangan nomor 07, ruangan Marmun di rawat. Wanita itu adalah Mayri.
"Krek," suara pintu dibuka, Mayri masuk.
Mayri syok kegirangan melihat Marmun telah sadar.
"Kalapa....Puji Tuhan! akhirnya kamu sadar juga,"
Mayri mencubit pelan pipi kanan Marmun, girang.
"Aissss sakit tau,"
"Hahaha maaf..maaf," Mayri tertawa puas.
Disela canda tawa mereka, Marmun merintih kesakitan di bagian kakinya.
"Awww sakit," ucap Marmun dengan lirih.
"Kenapa Mar?" tanya Mayri khawatir,
"Kaki kiriku sakit seperti di tusuk-tusuk jarum." jawab Marmun dengan wajah menahan sakit.
"Sabar ya Mar, aku panggil dokter dulu!"
Dengan cepat Mayri bergerak keluar memanggil-manggil dokter.
Tanpa menunggu terlalu lama, dokter tiba.
"Pagi cantik," goda sang Dokter.
Marmun membalas dengan senyum.
"Dimana yang sakit Mar?" tanya Dokter sembari men'check tubuh Marmun dengan alat andalannya, stetoskop.
"Kaki kiri saya dok sakit seperti ditusuk-tusuk jarum," jawab Marmun tak berdaya.
Ketika kaki kirinya di periksa, Marmun merasa aneh dengan kaki kanannya, tidak bisa di gerakkan.
"Itu karena luka kamu belum sembuh total, nanti saya akan berikan obat penahan rasa sakit."
"Dok, kaki kanan aku kok nggak bisa di gerakin?" tanya Marmun. Dia berusaha menggerakkan kaki kanannya.