
Erik mendekat hingga jarak diantara keduanya hanya 20 Cm. Kedua tangan Erik menyentuh pundak Ranti lalu membantunya berdiri, berjalan dengan memapah.
"Pelan - pelan saja," Erik kasihan.
"Aduhhh sakit!" rintih Ranti sembari memegang pinggang nya.
Mayri yang masih stay berdiri di tempat itu sedikit terkejut melihat kehadiran Erik, ia merasa khawatir akan di pandang buruk oleh Erik.
"Kamu sekejam ini May? saya nggak nyangka loh, kalau kamu bisa ngelakuin hal seperti ini!" Erik terlihat menyayangkan kejadian itu.
"Nggak seperti yang kamu lihat Rik, aku hanya melakukan apa yang dia lakukan terhadapku, nggak lebih dari itu." Mayri berusaha menjelaskan apa yang terjadi.
"Saya tidak tahu apa masalah kalian berdua, tapi seharusnya di selesaikan dengan baik, bukan dengan cara kasar."
"Aku tidak ada masalah dengan dia, tapi mungkin dia ada masalah terhadapku," jelas Mayri dengan wajah mengerut.
"Nggak ada hujan nggak ada angin, tiba-tiba Ranti ngedorong aku hingga tersungkur." lanjut Mayri sembari menunjukkan telapak tangannya yang terluka.
"Nggak, loe yang duluan!"
Ranti tampak menggaruk hidungnya yang artinya berbohong.
Melihat Mayri dan Ranti masih saja bertekak, Erik bergerak melangkah lalu pergi meninggalkan kedua'nya.
Namun, saat Erik berjalan beberapa langkah, langkahnya terhenti. Lalu berbalik badan kemudian bergerak melangkah mendekat ke Ranti, seraya berkata "Owh iya, kamu bisa pulang sendiri atau nggak?"
"Bisa kok," Ranti menganggukkan kepalanya.
Mendengar ucapan Ranti, Erik kembali melangkah menuju mobil putih yang di kemudikan oleh sang supir, lalu melanjutkan perjalanannya tanpa permisi.
"Loe tunggu pembalasan dari Gue!" ancam Ranti dengan tatapan tajam melotot, lalu ia pergi dengan langkah tertatih-tatih menuju mobilnya.
Sedangkan Mayri bergerak mendekat ke motor nya lalu duduk di atas motor dengan kaki menginjak ke tanah.
Dia cukup lama terduduk, matanya melihat kesana kemari mencari sang wanita tua yang hendak ia temui sebelum Ranti menbuat keributan.
Namun wanita tua pergi tanpa meninggalkan jejak.
Mayri bangkit dari duduknya hendak melanjutkan perjalanan ke kampus, namun dia tampak kebingungan sebab tangannya tak cukup kuat untuk mengendarai motornya.
Mayri berusaha mengendarai motornya namun telapak tangannya tak mampu menggenggam erat stang motor.
Dia sejenak berpikir, kemudian mengeluarkan HP dari dalam tas kecil. Lalu menghubungi salah satu nomor yang ada dalam kontak HP nya, bertuliskan Sijugul.
Sijugul adalah nama kontak telepon Sang adek yang Mayri cantumkan pada Handphone nya.
Di saat durasi telepon muncul, tanpa basa basi Mayri menyuruh sang adek datang menghampiri nya di JL. Cinta KM 2 , lokasinya tidak begitu jauh dari rumahnya, hanya sekitar 3 KM.
"Cepat yah Zio! aku tunggu, bye."
Mayri mengakhiri teleponnya, bibirnya tampak kering.
Hari menjelang siang, sengat matahari perlahan membakar kulit putih Mayri. Ia terlihat lemas kurang cairan.
Tak berselang waktu lama sang adek tiba, Zio.
"Lah tangan Loe kenapa..?" tanya Zio sembari turun dari motor merek Honda CRF150 L (AHM) miliknya.
"Nggak apa-apa," jawab Mayri tak ingin membahas.
"Luka gini Loe bilang gak apa-apa!"
Zio menarik tangan Mayri dengan hati cemas.
Zio mencheck motor Mayri dengan seksama. Dia bergerak memutar memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aduhhh banyak nanya! sekarang antar aku ke kampus, waktu sudah mepet nih!" Mayri tampak mengerutkan wajah, tak ingin membahas apapun yang membuatnya lepas kendali.
Mendengar ucapan sang kakak, Zio bergerak melangkah mendekat ke motor Mayri.
''Motor Loe parkir dulu dengan bener," suruh Mayri sembari memakai Helm nya.
"Ya, bawel amat sih! tadi bilangnya cepat sekarang nyuruh itu!"
Zio menggerutu turun dari motor Mayri, lalu memarkirkan motor merek CRF150 L (AHM) itu di tepi jalan dekat rumah kosong.
Setelah itu Zio kembali melangkah mendekat ke Mayri lalu menunggangi motor Scoopy itu. Mayri bergerak naik dengan wajah memerah kepanasan.
Mayri dan Zio bergegas pergi dengan kecepatan bermotor 65Km/jam.
Menyadari bahwa Mayri telah turun dari boncengannya, Zio bergegas pergi memarkirkan motor sang kakak.
Namun setelah tiba di parkiran dia melihat Rivan sedang di kerumuni para wanita cantik.
Dengan emosi, Zio melangkah ke arah Rivan.
''Bang Van!" panggil Zio sembari mengepal tanggannya.
Mendengar namanya di panggil, sontak Rivan bergerak berdiri.
"Hai Zio,"
Rivan melambaikan tangan lalu menghampiri Zio dengan polos.
Zio dan Rivan bertemu di pertengahan antara jarak keduanya.
"Pakkkk!" bunyi tonjokan Zio,
"Brengsek! seenaknya Loe nyakitin hati kakak aku," ucap Zio dengan rahang menegang.
"Aww," rintih Rivan kesakitan. Dia memegang wajahnya yang membiru.
Orang orang tampak memerhatikan mereka bagai tontonan pentas yang sedang berlangsung.
"Zio, aku sama sekali nggak bermaksud menyakiti Mayri, aku sayang sama dia sampai kapan pun!" Ucap Rivan dengan serius.
Tanpa mendengar penjelasan Rivan, Zio membalikkan badannya lalu bergegas pergi.
Telapak tangan Mayri masih berdarah.
Sehingga sebelum masuk ke area kampus, Mayri menyempatkan diri singgah ke salah satu ruko yang di dalamnya tepajang dan tersusun rapi sejumlah obat, Apotik.
"Mbba ada Betadine?" tanya Mayri sembari mengeluarkan uang dua puluh ribu dari sakunya,
"Ada mbba," ucap Penjaga apotik, lalu memberikan nya ke Mayri.
Setelah menerima Betadine, Mayri bergerak melangkah ke kampus.
*****
Disisi lain, di rumah sakit tampak terlihat seorang dokter dan perawat sedang melepaskan ventilator dari hidung Marmun.
"Karena keadaan kamu sudah membaik, jadi hari ini kamu sudah bisa pulang," ucap sang dokter sembari menchek tensi Marmun,
"Syukurlah dok, akhirnya aku pulang kerumah juga."
Marmun begitu bersemangat.
"Alhamdulillah. Tapi ingat, kamu harus tetap jaga kesehatan, makan teratur, tidur dengan waktu cukup.'' Dokter mengingatkan,
"Marmun juga harus datang ke rumah sakit 2 kali dalam satu bulan untuk check up." lanjut dokter.
"Siap dok, laksanakan!"
Dokter tersenyum melihat semangat sang pasien, Marmun.
Setelah selesai men'check kesehatan Marmun, dokter dan perawat bergerak keluar.
*****
Lalu dari pintu tampak seorang wanita berpakaian rapi berdiri di luar dekat pintu kamar rawat Marmun. Ia terlihat sedang berbincang bincang dengan seorang laki-laki berkemeja putih, tinggi.
Setelah berbincang bincang, Wanita itu melangkah masuk ke dalam ruang rawat Marmun, Ibu Marmun.
"Haii sayang, gimana kak sudah sehat kan?'' sapa dan tanya sang Ibu.
"Hai mom. Puji Tuhan aku sudah sembuh dan sehat mom," jawab Marmun dengan wajar berbinar.
''Mommy senang melihat kakak sudah sembuh, owh iya kakak pasti sudah nggak sabar ketemu teman-teman kakak yang lain, iya kan!" ucap sang ibu sembari memasukkan barang barang Marmun ke dalam tas.
"Aaaa benar mom,'' sahut Marmun sembari mengotak ngatik HP nya.
"Kak ayok!" ajak ibunya. Dia memegang erat tangan Marmun lalu keduanya melangkah keluar meninggalkan ruangan itu.
Setelah Marmun dan ibunya keluar, Erik datang.