
Meskipun Marmun merasa bosan, ia menunggu dengan sabar menanti jemputan Erik hingga sore hari.
Kampus itu semakin sepi, mahasiswa/i dan juga dosen mulai bepergian hanya tersisa beberapa orang yakni: Staf kampus dan beberapa mahasiswa/i, termasuk Marmun dan Rivan.
Pantat Rivan mulai memanas, dia berdiri lalu duduk, melangkah dan kembali duduk, kembali berdiri, pasai.
"Kita sudah menunggu terlalu lama. Mungkin Erik lagi sibuk, jadi kelupaan! Lagian sudah sore, kita balik aja!" ajak Rivan dengan melotokkan jari jarinya.
"Dia pasti datang. Kalau kamu mau pulang, silahkan! Aku gpp."
Marmun menatap dengan lembut. Lalu menghubungi Erik untuk kesekian kalinya. Panggilan tidak masuk, Marmun membuka aplikasi WA kemudian mengirimkan pesan yang berisi "Bee kamu sudah dimana? jadi jemput, gak?"
Berselang beberapa menit, nada pesan berbunyi, WA masuk dari Erik.
"Maaf loppit, saya lupa ngabarin kalau hari ini nggak bisa jemput karena ada kerjaan yang mendesak. Maaf yah!''
Marmun tertunduk kecewa dengan bibir kelu.
Lagi dan lagi Erik berbohong.
Entah sampai kapan dan apa maksud dari semua itu.
Rivan bergerak mendekat pada Marmun dengan rasa ingin tahu yang cukup tinggi,
"Pesan dari siapa? Erik kah!"
Tanpa menjawab Marmun bergerak melangkah, Rivan mengikutinya dengan hati bertanya tanya "Ada apa".
Di ujung pintu keluar kampus, Marmun menghentikan langkahnya. Dia tampak menghela nafas berat,
"Apa sih maunya!!"
Berteriak cukup keras hingga orang yang mendengar menatap aneh dan tajam padanya.
Marmun kembali melupkan emosi dengan menendang kaleng minuman bersoda yang terletak di dekatnya.
"Pakkk"
Terbang dan terjatuh mengenai kepala seorang lelaki berumur yang kebetulan berdiri di pinggir jalan.
"Awuuu! Woiiii! siapa itu!"
Laki laki itu tampak mengusap kepala yang enggan di tumbuhi rambut itu, plontos mengilap.
Dia menoleh ke kiri, kanan dan depan, mencari cari. Tak ada sosok yang layak ia gertak.
Mendengar jeritan sakit, Marmun menganga dengan mata terbelalak. Telinganya mengarah ke suara itu.
"Mampus! Kena orang lagi!" Marmun menepuk zidatnya bentuk ketakutan dan kepanikannya.
"Hadekhh, bisa berabe ni!"
Disaat Rivan mendengar derap langkah laki laki botak, dia menarik tangan Marmun dan berlari bersembunyi di samping bunga yang sedang tumbuh bermekaran dengan tinggi kurang lebih 100 cm.
"Ssssttt, diam!" Rivan menyekap mulut Marmun dengan tangannya.
Laki laki botak itu bergerak mencari dengan wajah kasar dan tangan mengepal, emosi.
"Woii! keluar, gak? kalau Loe nggak keluar, gue acak acakin ni kampus!" ancamnya.
Mendengar ancaman laki laki botak, Marmun keluar dengan wajah ketakutan. Rivan berusaha menahan/mencegat namun ia tak cukup berhasil akan keras kepala Marmun. Rivan mendengus kesal.
"Maaf pak, aku nggak sengaja!" Marmun tertunduk diam.
"Nggak sengaja?" Laki laki botak mengangkat tangannya hendak menampar.
Rivan berlari menangkis,
"Maafin kita, pak!"
Seketika Laki laki botak bertubuh kekar itu kisut, kejantanan nya berubah menjadi gemulai setelah melihat Rivan.
"Hi, gue nggak marah kok. Lain kali hati hati," ucapnya manja.
Dia meraba, mengelus wajah tampan Rivan dengan gemulai.
Rivan melongo dengan mata melebar dan menelan ludahnya kasar, risih.
Sedangkan Marmun tersenyum tipis menahan tawa.
"Ganteng amat sih!" ucap lelaki botak gemayu. Tubuhnya yang kekar tidak menutupi ke guy'annya, sepertinya dia menyukai Rivan.
Rivan selangkah mundur menghindar lalu melirik Marmun, Ia menggerakkan kecil kepalanya kearah kanan memberi kode, berlari.
Laki laki botak maju mengikuti langkah Rivan, Marmun bergeser, melangkah diam diam, menjauh.
"Loe mau kemana, jalan yok! Gue bayarin deh!" ucapnya dengan pelan. Suaranya yang kasar berubah lembut.
Setelah Marmun melangkah jauh, Rivan berteriak "Mar, lari!"
Rivan berlari bersamaan dengan kata kata yang ia lontarkan. Berlari sekencang kencangnya hingga terpleset, "Aisss!"
"Van, cepat!"
Marmun berlari secepat kilat ke arah parkiran, sedangkan Rivan terbangun dan kembali berlari mengelilingi beberapa lorong kampus menghindar dari kejaran lelaki botak.
"Ganteng mau kemana? ikut! tunggu!" Laki laki botak itu berlari mengejar dengan pinggul dan tangan lentik layaknya wanita.
Beberapa menit kemudian, Marmun tiba di samping mobil Rivan.
Rivan berlari mendekat ke mobilnya.
"Kunci mobil, Van!" teriak Marmun tertawa geli dengan keringat bercucuran membasahi baju dalamnya.
Dengan cepat, Rivan merogoh saku mengambil kunci dan melemparkan ke Marmun.
Marmun menangkap dengan tepat, lalu segera melajukan mobil mendekat ke Rivan.
Laki laki botak tertinggal beberapa langkah dari Rivan.
"Masuk Van!"
Rivan mengeluarkan tenaga dalam berlari sekencang mungkin, lalu masuk dalam mobil.
"Woyyy tunggu, kemana kalian!" panggil laki laki botak dengan keras. Suaranya kembali kekodrat sebagai laki laki seutuhnya.
Marmun memacu kecepatan meninggalkan tempat itu. Rivan tampak menghela nafas lega.
"Yuhuiii, lumayan loh penggemarmu." goda Marmun menjengkelkan.
"Gila! Badan kekar dan seram, ekhh ternyata.." Rivan geleng geleng kepala.
Mereka tertawa geli, sebab kali pertama mereka menghadapi dan menemui laki laki dengan tampang sangar tetapi lembut bila bertemu dengan sesamanya.
Disisi lain Mayri dan Erik baru saja keluar dari dalam Cafe. Mereka tampak berpapasan dengan Ranti and the geng.
Mayri berjalan terus tanpa menyadari adanya Ranti, sedangkan Ranti menghentikan langkah dan berbalik badan.
"Bentar!" Ranti menatap tajam dan sinis pada Mayri.
"Ada apa?" tanya salah satu temannya,
"Pinjam bentar!" Ranti merampas HP milik temannya yang kebetulan sedang telponan.
"Apa apaan sih Loe! sini HP gue!"
Ranti menghempaskan tangan temannya lalu mematikan telponan yang sedang berlangsung itu, kemudian memotret Mayri dan Erik.
Teman-temannya bertanya ke satu dan lainnya dengan dagu bergerak kecil ke atas.
Dan beberapa menjawab dengan telapak tangan terbuka beserta bahu naik turun.
"Emang dia siapa?" tanya temannya,
"Mana HP gue!" pinta yang lain.
"Nih! Rempong banget sih Loe, Gue cuma minjam bentar doang hebohnya minta ampun!" Ranti tampak kesal,
"Gue lagi telponan, ngapain loe rampas! Lagian HP loe kan ada!"
"Takut keburu pergi tu orang!" celetuknya dengan nada tinggi.
Mayri dan Erik berpisah diparkiran dengan berucap ''bye! sampai jumpa besok."
Mayri pergi berbalik arah dari yang seharusnya.
Dia memacu motornya ke arah rumah Marmun.
Setengah jam kemudian, Ia tiba di depan rumah Marmun dan tanpa permisi nyosor masuk dalam rumah sahabat nya itu bagai rumah sendiri.
"Tante..!"
Ibu Marmun terkesiap hingga menjatuhkan sendok makan dari genggamannya tanpa sengaja.
"Astaga May! Tante kaget loh!" Ibu Marmun menyentuh dadanya dengan menghela nafas dalam-dalam.
"Maaf Tan, gak sengaja." Mayri cengengesan manja.
"Ya, gpp. Lain kali salam dulu, gitu!"
"Siap, nyonya besar!" Mayri berdiri tegak dengan telapak tangan terbuka, ujung jari mengenai alisnya membentuk sudut siku atau lancip. Menunjukkan sikap hormat bagai angkatan (Polisi dan TNI).
Ibu Marmun hanya bisa tersenyum melihat tingkah Mayri. Dia melanjutkan pekerjaan nya, menghidangkan makan malam. Mayri tampak membantu.
"Tan, Sikalapa belum pulang ya?"
"Iya, Dia bilang telat pulang." jawab ibu Marmun sembari menata meja makan dengan beberapa makanan yang telah siap tersaji.
Mayri cukup lama menunggu, dan karena hari mulai malam serta jarak tempuh kerumahnya cukup panjang maka ia memutuskan pulang.
Tak berselang lama setelah Mayri pulang, Marmun tiba bersama dengan Rivan.
"Kak, ajak nak Rivan makan!'' suruh ibunya.
Karena cacing cacing perut juga sudah berdemo, Marmun bergerak masuk dalam ruang makan. Rivan mengikutinya. Lalu Mereka menyantap makanan itu dengan lahap, hanya tersisa sedikit sambal dan kuah sayur.
Berselang 5 menit Rivan bergerak pergi dengan perut gembul dan menaruh rasa.
"Mayri tadi kesini, nyariin kakak!" ucap ibunya,
"Ha! Trus dianya mana mom?"
"Sudah pulang, 10 menit yang lalu!"
"Owhh." jawabnya singkat tanpa melanjutkan percakapan.
Dia bergerak masuk dalam kamar dengan cekikikan, sebab hal yang mengocok perut nya terlintas di benaknya.