Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -45



Meski hari telah malam, Erik tak kunjung meninggalkan kantor itu. Dia tampak mendekap rasa kalut dalam kantor yang telah sepi dan sunyi itu. Hanya ada dia dan dua orang satuan pengamanan (Security).


Masih seperti sore hari, bersandar pada kursi goyang putar dengan mata tertutup serta telinga terbuntet handset. Ditemani lagu "Di banding dia oleh lyly" yang menjadi bukti kegalauan hati.


Dari balik pintu terdengar suara ketukan yang mampu membuyarkan lamunan setiap insan. Namun tidak dengan Erik, dia bergeming menghayati dan masuk dalam cerita lagu.


Dari ujung pintu tiba-tiba seorang laki-laki berseragam melangkah masuk tanpa permisi.


Laki laki itu sangat gagah dan tampan (Security).


"Pak, pak!" panggil security dengan suara bass.


Dia melangkah mendekat pada sang bos dengan bantuan cahaya pentungan.


Pak ini sudah malam, apakah bapak tidak ingin pulang?" tanya security sembari menyentuh tangan Erik.


Erik menekan saklar lampu yang berada di dinding sebelah kirinya. Dia menoleh dengan mata sembab lalu bergerak memperbaiki duduk agar terlihat berwibawa.


"Kamu bisa nyetir kan? tolong temani saya malam ini." pinta Erik dengan lembut. Dia bergerak berdiri lalu meraib kunci mobil serta beberapa surat/nota yang terbungkus rapih dalam laci.


"Bisa pak. Dengan senang hati, saya siap membantu!" Security menatap dengan wajah datar.


Erik bergerak meninggalkan kantor, Security mengikutinya dari belakang.


Tujuan yang tak pasti membuat Security bingung untuk melajukan kendaraannya. Dia enggan bertanya hingga dalam pertengahan perjalan ia memberanikan diri untuk bertanya,


"Mohon maaf pak, ini kita mau kemana ya?"


Security melirik sang boss dari kaca depan, terlihat sang boss sedang mengamati sepucuk surat yang di genggamnya.


"Kerumah Marmun, kamu tahu kan alamat dimana?" ucap Erik.


"Tau pak." jawabnya sembari memacu kecepatan.


"Pak Erik mau ketemu pacarnya, tapi kok wajahnya kusut gitu ya! apa mungkin mereka lagi berantem? Kasihan pak Erik," ucapnya dalam hati.


Berselang beberapa menit, Erik tiba di depan rumah sang kekasih. Dia bergegas keluar dari dalam mobil.


"Tok..tok..tok!" suara ketukan.


Tak berselang lama pintu terbuka,


"Nak Erik? silahkan masuk!" sambut hangat Ibu Marmun.


Disaat ia melangkah masuk, terdengar suara Clakson mobil yang melaju dan terparkir dalam teras rumah.


Erik berbalik badan, dia menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Ibu Marmun, ia bergerak melangkah dan berdiri di tengah pintu.


"Itu mereka baru pulang nak." ucap Ibu Marmun .


Erik melangkah keluar dengan senyum tipis seraya berkata " Ya Tan."


Dari dalam mobil, Marmun yang masih bad mood tampak menatap tajam dan menyumbingkan bibir. Dia bergerak keluar bersamaan dengan Chiko.


Erik menyambut setengah senyum, ia terlihat fine fine saja meski rasa cemburu bergejolak dalam hati.


"Kalian kemana aja, kok sampe selarut ini? tuh nak Erik sudah nunggu dari tadi." ucap Ibu Marmun.


"Dia ngajak ntah kemana mana tan, hampir semua lokasi favorit kita kunjungi. Iya kan Mar?" ucap Chiko berbohong sembari mencubit pelan tangan Marmun. Mereka berdiri berdekatan persis di depan sang Ibu.


Marmun melirik tajam Chiko dengan wajah judes.


"Ya mom, maaf ya." Marmun menginjak kaki Chiko dengan kuat.


"Apa apaan sih Loe, sakit tahu! ikhh!" spontan Chiko mencubit wajah tirus Marmun,


Melihat tingkah keduanya, sang ibu hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia melangkah masuk dalam rumah dan melanjutkan kesibukannya.


"Saya mau bicara sama kamu, semua kesalah pahaman ini harus kita selesaikan hari ini juga dengan empat mata." ucap Erik.


Mendengar ucapan Erik, Chiko bergerak melangkah, namun tiba tiba Marmun menarik tangannya, menghentikan langkah.


"Jangan pergi, kamu disini aja." pinta Marmun.


"Sudah ku bilang jangan pergi. Kalau kamu pergi, aku juga pergi. Jadi tolong tetap disini." ucap Marmun kekeh.


Erik menelan kasar ludahnya,


"Tapi Mar!"


"Ini masalah antara kita, tidak ada hubungan nya dengan dia. Jadi jangan paksa dia untuk tetap disini. Dan kamu, tolong tinggalin kita berdua, Bisa?" ketus Erik.


Sebagai sesama pria, Chiko memahami perasaan Erik. Dia manggut pelan sembari menepuk pundak laki laki di hadapannya itu. Kemudian bergerak melangkah.


"Chiko, berhenti! aku bilang berhenti!" teriak keras Marmun dengan rahang mengeras.


Chiko menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke Erik dan ke Marmun. Dengan menghela nafas berat ia melanjutkan langkah meninggalkan sepasang kekasih yang sedang berperang itu.


Ketidak acuhan Chiko membangkitkan emosi yang telah menumpuk dalam dada. Dengan darah mendidih, mata melotot Marmun bergerak mendekat ke Erik.


''Gue gak butuh penjelasan dari loe. Sudah gue bilang, jika dia pergi maka gue juga pergi! Semua sudah selesai. Gue dan Loe selesai sampai disini!"


Marmun bergerak melangkah.


"Tunggu! Kamu tidak bisa pergi begitu saja sebelum mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu kamu bisa pergi." ucap tegas Erik. Dia menahan, memegang tangan Marmun.


Dengan sekuat tenaga Marmun berusaha melepaskan tangan dari genggaman Erik, namun tak bisa karena Erik memegangnya dengan erat.


"Lepasin tangan gue! Loe dengar gak sih! atau pura pura budek? percuma loe jelasin semuanya, kita sudah selesai! So lepasin tangan gue!" berontak Marmun.


"Gak segampang itu. Gak bisa seenaknya mutusin secara sepihak, kamu paham?" bentak Erik. Dia sudah tak mampu menahan emosi akan keras kepala wanita yang ia cintai.


Seketika Marmun diam terpaku lemas, wajah merahnya berubah kuning (pucat). Dia tergeletak duduk dengan detak jantung tak karuan.


Erik berdiri mematung tak perduli. Dia melihat dengan tatapan kosong. Hening diam membisu.


"Kamu jahat Rik, jahat! Dimana janji yang kamu ucapkan dulu, dimana rik? dimana?" ucap Marmun dalam hati. Tak sadar air mata mengalir dari sudut matanya.


Erik yang mematung melangkah kecil menghadap ke taman memunggungi Marmun. Perlahan ia menjelaskan apa yang terjadi secara detail, berurut.


Marmun memalingkan pandangannya ke sebelah kanan. Saat Erik berucap dia sibuk dengan pikiran dan hati yang berperang.


"Dengan susah payah saya dan Mayri menyiapkan itu semua, kado terindah yang kamu inginkan selama ini. Kalau kamu tidak percaya juga, silahkan tanya owner bakery atau manager lyly." ucap Erik mengakhiri ucapannya.


Marmun bangkit mendongakkan wajah. Dia bergerak mendekat ke Erik.


"Loe gak perlu berkoar koar, gue gak peduli. Kita selesai, Camkan itu!" Marmun terlihat egois.


Mendengar ucapan Marmun, Erik berbalik badan, menatap Marmun dengan dalam. Kemudian memberikan sepucuk surat yang ia siapkan beberapa hari terakhir. Marmun memalingkan pandangannya.


"Baiklah, kalau itu mau kamu. Satu hal yang harus kamu tahu, saya sayang dan mencintai mu dengan tulus sampai kapanpun. Jaga dirimu baik baik." ucap Erik dengan menggulum senyum sembari mengusap kepala Marmun. Lalu bergerak meninggalkan tempat itu, pergi membawa luka dan kecewa.


Sedangkan Marmun masih bersekukuh dalam keegoisan hati. Hati yang tak tersentuh walau sedikit.


"Gue gak butuh ini!" Dengan kasar Marmun membuang surat yang Erik berikan padanya tanpa melihat dan membaca isi amplop itu. Bukti kebenaran ucapan Erik.


Terima kasih sudah membaca🙏🙏 Mohon tinggalkan saran/masukan supaya karya menjadi lebih baik.


JANGAN LUPA



Vote


Like


Koment


Beri hadiah


Share


Beri rating