Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -42



Berdamai dengan diri sendiri.


Kehadiran chiko yang di undang oleh sang ibu berbuah baik. Entah kata ajaib apa yang ia semburkan sebagai obat pereda rasa sakit akan hancurnya hati.


Marmun yang sebelumnya lebih memilih menyendiri, memenjara raga dan rasa kini telah mencoba berdamai dengan hati dan pikirannya.


Hari itu kamar gelap telah menjadi terang, sinar mentari telah menembus masuk dari jendela yang terbuka.


Marmun tampak membersihkan kamarnya yang berantakan. Dia menata ruangan itu dengan menempel beberapa photo di dinding kamar hingga menjadi lebih kekinian. Untuk memperindah kamar itu, dia juga meletakkan barang barang unik di bagian sudut kamarnya.


Sang ibu yang menatap dari jauh terlihat bahagia.


"Mommy percaya Kakak bisa melewati hal yang menjadikan mu lebih dewasa. Dalam hidup, adakalanya sesuatu tak berjalan seperti yang diharapkan, hal yang menjadikan kita lebih kuat dan mampu menghadapi masalah." ucap Ibu Marmun lirih.


Dari taman, chiko juga ikut senang akan kembalinya semangat yang sempat hilang itu.


Dengan secangkir kopi di tangan kanannya, dia bergerak masuk dalam rumah, menghampiri Marmun yang sedang menyibukkan diri untuk berhenti memikirkan hal yang menghancurkannya.


Chiko berdehem, menetralisir keadaan. Marmun menyambut dengan senyum.


"Nahhh gitu dong! Nikmati aja hidup ini. Kita terlalu bodoh dan rugi bila tidak mensyukuri apa yang ada dan apa yang terjadi."


"Hemmm, baik penatua." ucap Marmun sembari mengeluarkan beberapa photo dari dalam laci nakes, lalu memisahkan Photo Mayri dan Erik.


Chiko terkekeh sembari melangkah masuk dan duduk diatas ranjang yang baru saja bed covernya diganti.


"Setelah beres beres, kita keluar ya! Cari udara segar biar otak lebih tenang, tidak stress." Chiko meneguk minuman berwarna hitam itu,


"Gak mau! pergi aja sendiri, aku sibuk!" jawab Marmun sembari memasukkan photo Mayri, Erik kedalam kardus yang berisi sampah.


Chiko tertawa, tanpa sengaja dia menyemburkan teh kopi yang masih tertahan dalam mulutnya itu, memberi noda pada bed cover serta punggung baju yang melekat di tubuh Marmun.


Granit kamar itu juga tampak bercak hitam.


Melihat ulah temannya, Marmun berdecak kesal. Dia berbalik badan dengan menggulum senyum.


"Sorry, sorry gk sengaja. Serius! Vis," ucap chiko dengan senyum Pepsodent, dia mengacungkan tangan dengan jari membentuk huruf V (perdamaian).


"Ikhhh! Gak sengaja, gak sengaja! kamu mau mancing emosiku kan? jujur aja!" Marmun menoleh ke lantai yang terlah bernoda itu, lalu bergerak berdiri memerhatikan bed cover yang baru saja ia ganti.


Chiko tertunduk diam dengan menyipitkan mata, dia bergeser dikit dikit hendak menghindar dari celoteh panjang pemilik kamar itu.


"Chiko...! argh, Joroknya, ini baru aku ganti lho! gak mau tahu bagaimana caranya, kamu harus bersihin ini." Marmun mencolek serbuk kopi yang menempel di kain tebal lembut itu.


Chiko tak menjawab, dia bergerak keluar dengan langkah ngindit gindit.


"Ha! Kamu mau kemana? kabur! tanggung jawab, gak?" Marmun melangkah menghampiri.


"Hehehe, gue gak kemana mana kok," Chiko cengengesan.


Marmun mendekat, Chiko menghela nafas dengan mata melirik ke samping kanan dan kiri, memastikan jalur yang pas untuk melepaskan diri.


Berselang beberapa detik, dia bergerak kabur. Berlari dengan gelas teh kopi yang tersisa sedikit itu.


"Chiko..! jangan kabur kamu, berhenti!" Marmun berlari mengejar.


Keduanya berlari kejar kejaran memutari isi rumah itu bagai tikus dan kucing.


Ibu Marmun tersenyum geleng geleng kepala menyaksikan dua insan lawan jenis itu. Dia menatap wajah putrinya yang mulai berseri.


Chiko terus berlari, begitu juga dengan Marmun. Saat berlari ke taman rumah, Chiko terpleset di depan pintu. Gelas di tangannya terlempar keatas, lalu terjatuh tepat di ujung kaki kanannya, pecah berkeping-keping.


"Mampus! Rasain! Gimana rasanya, enak bukan?" ejek Marmun. Ia tertawa sampe perut terasa sakit.


Chiko meringis menahan sakit, ibu jari kakinya tampak membiru.


"Bantuin napa? teman lagi kesakitan malah ditertawain, gimana sih! Gak jelas," Chiko mengulur tangan meminta bantuan, dia berharap akan di bantu berdiri oleh Marmun.


"Sabar..sabar. Tunggu sebentar!''


"Kamu tenang aja, pasti aku bantuin kok." Marmun bergerak berlari ke kamarnya.


"Anak itu memang kurang asam, hadekhh!" ucap Chiko lirih.


Tak berselang lama Marmun kembali dengan bedak tabur putih di tangan kiri dan setengah gelas air putih ditangan kanannya.


Chiko menatap heran,


"Untuk apa tuh?"


Marmun menjawab dengan senyum, mengedip edip mata. Sudah dipastikan dia merencanakan sesuatu.


Chiko menaruh curiga pada Marmun, dia bergeser (ngesot) menjauh. Marmun melangkah mendekat lalu mengguyur kepala Chiko dengan air yang ia bawa. Lalu menabur bedak putih pada kepala dan wajah ganteng itu bak adonan.


Chiko tertunduk pasrah, dia bahagia bisa melihat bibir yang terpaku berhari hari kembali tersenyum bahkan tertawa atas luka dan sakit yang merenggut tawa dari bibir itu.


''Kwkekekekkw" tawa Marmun.


"Tawa terusss, tertawa aja sepuas loe!" ucap Chiko jengkel.


Marmun berbalik hendak meninggalkan Chiko, karena bedak tabur telah bersebaran di atas lantai, dia terpleset. Terjungkal menimpa tubuh kekar Chiko.


"Awuuu!" rintih Chiko.


Marmun diam sejenak, menatap wajah tampan dihadapannya dengan dalam tak berkedip.


"Jangan anggap badan loe itu ringan ya, ini badan bukan kasur neng. Minggir loe, berat tau! Ucap Chiko dengan mengernyitkan wajah sembari mengapit hidung mancung Marmun dengan jarinya.


"Ikhhh, sakit!" Marmun mencubit perut Chiko dengan keras, lalu bergerak pergi meninggalkan Chiko.


Meski menahan sakit di bagian kaki dan perut, Chiko bergerak bangun dan melangkah menghampiri Marmun. Dalam langkah pincang, sesekali dia mengusap perut memar bekas cubitan itu.


Marmun tampak membereskan isi kamar yang terjeda itu. Chiko ikut membantu.


"Akhirnya, clear." Marmun merebahkan badan diatas benda empuk itu, dia menghela nafas dalam-dalam dengan mata tertutup.


"Ya, bener. Btw mandi gih, kita kan mau keluar cuci mata.'' ucap Chiko. Dia menatap dalam wajah cantik yang terkadang membuat jantung nya berdetak kencang kala dekat.


Marmun mangut lalu beranjak menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri dan memakai handuk biru menutupi tubuh mungilnya.


Sedangkan Chiko bergerak pergi ke kamar sementara nya, ia juga bergegas membersihkan tubuh kekarnya.


Berselang beberapa menit, Marmun keluar dengan hand bag biru berukuran medium. Tubuhnya di lapisi dengan celana jeans biru yang dipadukan dengan t-shirt putih dan sweater kotak kotak berwarna biru putih. Dia tampak mengenakan sepatu kets putih.


Bagaimana pun style perpakaian Marmun, Chiko selalu suka. Tak pernah sekalipun dia mengoreksinya. Chiko adalah sosok laki-laki yang lebih menyukai wanita polos apa adanya.


Seperti biasa Chiko mengenakan sepatu kets berwarna hitam, kaos oblong putih yang dipadukan dengan celana pendek pleated hitam.


Sebelum bergerak pergi Marmun dan Chiko pamit dan meminta ijin untuk keluar.


"Hati hati, jangan pulang terlalu malam ya!" ucap Ibu Marmun.


"Siap mom, Tan!" ucap keduanya serentak. Karena menjawab serentak, Marmun dan Chiko tertawa, lalu bergerak pergi. Sang ibu yang memerhatikan keduanya tersenyum tipis.


10 Menit setelah Marmun dan Chiko pergi, Erik tiba di rumah kekasih nya itu.


Seperti biasa di masuk dengan salam.


"Tan, Marmun ada kan?" tanyanya.


"Nak Erik telat, sikakak baru aja keluar." jawab Ibu Marmun.


"Kalau boleh tahu, pergi kemana ya Tan?"


"Tante kurang tahu nak."


Mengetahui bahwa Marmun tidak ada dirumah, Erik pulang dengan kecewa.