
Kehadiran Mayri mengalihkan pandangan Marmun pada perselingkuhan yang berkecamuk dalam benaknya. Dia terduduk di area parkir dengan wajah murung dengan mata memandang kosong.
Keceriaan yang baru saja pulih kini kembali mengkisut.
Setelah lelah mencari menjajaki ke seluruh sudut mall, Chiko memutuskan kembali keparkiran. Namun sebelum melangkahkan kaki, untuk kesekian kali dia menghubungi Marmun. Masih dengan hasil yang sama, panggilan sedang sibuk.
"Loe kemana sih, jangan buat orang khawatir dong. Aduhh...! begini nih kalau wanita lagi marah, sedih, entah apalah itu!" ucap Chiko lirih yang terlihat gusar.
Lalu dia bergerak melangkah menuju parkiran.
Tak berselang lama, ia sampai di tempat ratusan mobil yang berbaris berderet rapi. Kemudian memandang dengan mata melebar menyisir lorong parkir. Bergerak celingak-celinguk mencari, tak kunjung ketemu.
"Mar.. dimana loe? Keluar dong! setiap masalah punya solusi masing-masing." panggil Chiko dengan harapan kemunculan temannya itu.
Marmun yang duduk persis di belakang salah satu mobil berwarna putih tak acuh, telinganya seakan terbuntet oleh kapas penutup. Dengan tatapan tajam, ia menggores gores tanah berlapiskan zat perekat bagunan itu (semen) hingga terkikis membentuk garis miring.
"Kenapa harus ketemu dia sih! Kenapa?" gumamnya.
Sedangkan Chiko tampak gusar dan bingung antara pergi tanpa Marmun atau stay menunggu kehadiran yang belum pasti itu.
"Apa gue tanya tante ya? barangkali dia sudah dirumah. Tapi semisal belum nyampe, gue harus ngomong apa?" ucap Chiko dalam hati. Ia tampak garut garut kepala sembari menoleh memutar. Lalu bergerak melangkah bersandar pada mobil dengan tangan mengotak atik isi HP.
Disisi lain, Mayri dengan kesedihannya terlihat mengacak-acak makanan yang ada di depannya menggunakan sendok makan dan garpu.
Zio dengan keisengan nya membantu menghancurkan bentuk dan rasa makanan itu. Dia tampak menaburkan bumbu cadangan yang disediakan oleh pihak restoran. Ia juga mencampurkan sisa makanannya pada piring makanan Mayri.
"Biar nurut loe samaku, makan tu sisa sisa!" ucap Zio dengan menggulum senyum.
Mayri terus saja ngotak atik isi piringnya dengan mata kosong, tak sadar bahwa makanannya sudah tak layak masuk dalam mulut terlebih dalam perut.
"Aku harus bagaimana biar semua kembali seperti dulu? Harus apa Mar?" Mayri sibuk dengan pikirannya yang kalut.
Zio menatap dengan senyum sarkas, mencari ide.
"Hehh! makan tu, gimana sih!" suruh Zio. Dia berharap sang kakak menyantap makanan yang tak berbentuk itu.
Mayri diam tak mendengar.
"Woii, itu nakan bukan zat yang harus diaduk aduk seperti itu!" ucap Zio sembari menepuk tangan sang kakak.
Mayri tersadar, badannya sedikit bergetar.
"Apa apaan sih! Ganggu aja!" Mayri menyantap sajian itu dengan benguk. Sedikit demi sedikit meski perlahan makanan itu masuk dalam mulut.
Melihatnya, isi perut Zio seakan mendesak keluar, mual.
"iuhh" ucap Zio mengangkat bibir.
Mayri tidak ngeh akan ekspresi yang Zio tunjukkan, tidak merasa aneh bahkan curiga. Dia terus saja menyantap makanan itu hingga tak tersisa sedikit pun.
"Lapar banget ya? sampe kinclong tu piring," Zio berdecak ngejek. Dia tersenyum smirk.
"Dimakan salah, gak di makan juga salah, mau loe apa! Mending loe gak usah urus, rempong!" ucap Mayri jengkel.
Zio terkekeh,
"Tahu gak sih, kalau makanan loe itu udah kecampur sama sisa makananku. Bekas emutan yang bercampur ludah. Iuhhh!" Zio mengerutkan hidung.
Zio terkekeh puas, tak perduli akan pandangan orang.
"Uweeekkk, uwekk!" Mayri memuntahkan makanan yang baru masuk dalam perutnya itu.
Wajah merah keringat dengan tangan merengkuh perut, terlihat lemas sebab tenaganya telah terkuras. Mayri menelan ludahnya dengan kasar lalu bergerak ke depan cermin ber westafel. Dia membasuh kasar wajah yang berbalut makeup itu. Makeup nya luntur dan tidak maksimal, warnanya tidak merata seperti pertama kali ia aplikasikan.
Mayri berdecak kesal, darahnya mendidih ingin menjambak jambak Zio.
"Ikhhh!" ucapnya dengan rahang mengeras dan tangan mengepal. Dia bergegas melangkah dan menghampiri Zio tanpa peduli bagaimana bentuk makeup nya.
Beberapa orang menatap aneh dengan senyum tipis, tak sedikit yang mencibir. Dia menjadi pusat perhatian saat itu. Mayri terus saja melangkah menconcong.
"Ziooo! Keterlaluan banget sih Loe! Bisa bisanya loe ngerjain aku, uukhhh!" Mayri menjambak mengacak-acak rambut belah samping itu.
Zio berusaha berontak, namun karena perut masih terkocok geli akan ekspresi Mayri, dia tak cukup kuat menghempas tangan si pengacak rambut itu.
Beberapa mata tertuju pada mereka dan berbisik satu sama lain "Lucu ya mereka, pacarannya gak sih? Adeknya jail amat! Untung dia bukan adek gue, kalau gak habis gue jewer. Kasihan cewek itu."
Tak cukup puas, Mayri meraib gelas berisi buah kemerahan yang telah telah di haluskan bercampur air (jus terong belanda) lalu menumpahkan ke kepala Zio. Jus itu bercucuran dari rambut hitam Zio hingga ke wajah dan menetes ke bajunya. Dia terlihat melongo dan pasrah akan keadaan yang ia buat sendiri.
Pengunjung tempat itu tampak geleng geleng kepala.
"Makan tuh! makanya jadi orang jangan usil, kena kan loe! Gimana rasanya? mantap, bukan?" ucap Mayri dengan mengedip edipkan mata. Dia tersenyum sarkas, lalu bergerak pergi meninggalkan Zio.
Dengan menghela nafas berat, Zio bangkit dari duduknya lalu bergerak melangkah. Tiba tiba seseorang menghentikan langkahnya.
"Mas, mas! sebelum pergi silahkan bayar dulu pesanannya." ucap ramah waitress.
Zio menepuk zidat menahan malu. Dia menerima bill itu dengan setengah senyum lalu merogoh kocek.
"Semoga cukup, kalau gak aku bisa malu." ucapnya dalam hati sembari menghitung kepeng. Dia melototi bill itu dengan seksama lalu memberikan sejumlah uang pada waitress.
"Terima kasih mas." ucap Waitress dengan senyum.
Zio membalas dengan setengah senyum, lalu bergegas pergi mengejar Mayri.
Setelah beberapa menit, Marmun menyudahi kesendirian nya. Dia muncul kepermukaan, ia menghela nafas dalam dalam lalu menatap memutar hamparan parkiran itu. Kemudian menghampiri Chiko yang telah menunggu terlalu lama.
Tampak Chiko menghidupkan mobil hendak meninggalkan Marmun. Melihat dari jarak sekitar 20 meter, Marmun bergerak berlari mengejar sebelum ditinggal pergi.
"Chik, tunggu!" panggilnya.
Chiko tak mendengar, perlahan ia mulai melaju keluar dari parkiran. Marmun berlari sekencang-kencangnya sembari berteriak "Chiko!!!! Tunggu Chik! Chiko!!!"
Seakan mendengar, Chiko menoleh dari kaca spion mencari arah suara itu.
"Ha! Marmun?" mata nya melotot lalu menghentikan laju mobil. Kemudian bergerak keluar.
Marmun terus berlari, semakin dekat tinggal 3 langkah lagi. Wajahnya memerah dengan nafas ngap ngapan.
"Loe dari mana aja sih? gue capek nyari dan nungguin loe dari tadi, tahu gak?" ucap Chiko kesal.
Marmun menghela nafas menetralkan nafas. Dia bergerak masuk dalam mobil tanpa menjawab. Chiko menelan ludahnya dengan kasar, lalu bergerak masuk dalam mobil. Tak ingin mengulangi pertanyaannya, dia melajukan mobil meninggalkan tempat itu.
Di kantornya, Erik duduk bersandar pada kursi goyang putar empuk dengan mata tertutup. Dia sibuk memikirkan Marmun yang tak berkesudahan menjauh dan menganggapnya selingkuh. Dia terlihat murung tak bersemangat. Dari balik kelopak matanya tampak air bening keluar. Ketulusan.