Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -39



Malam semakin pekat, langit bergemuruh dan awan meneteskan air mata seakan ikut merasakan kesedihan Marmun.


Jam menunjuk pada pukul 01.05 WIB, Marmun terduduk meratapi nasib percintaannya dengan merembah air mata.


Sang ibu yang hampir terlelap tidur, terbangun mendengar pekikan tangis. Mata menoleh ke jam dinding yang tergantung di sebelah kirinya. Ibu Marmun tampak menajamkan pendengaran memastikan ada tidaknya pekik yang membangunkannya.


"Kok gak ada lagi? Emm, saya salah dengar kali ya!" ucapnya dalam hati lalu kembali melanjutkan mimpi yang terjeda.


Jam menunjuk pada 02.35 WIB, Marmun belum juga menutup mata seakan enggan hanyut dalam dunia mimpi. Air bening masih mengalir dari ujung mata hingga membasahi bantal tidurnya.


Disisi lain,


Mayri terlihat tidur kelesah bergerak ke sana, sini berputar 360 dari posisi semula.


Sesekali terbangun dengan wajah berkerut "Akhhh! ayok dong tidur," bujuk mata dan pikirannya berdamai, tidur. Dia tampak menekan kecil kepalanya yang terasa mau pecah itu. Lalu kembali merebah berharap matanya bisa diajak kompromi. Tertidur.


*****


Hari telah pagi, ayam berkokok lantang membangunkan beberapa insan yang menjadikannya sebagai alarm, burung burung terdengar riang bernyanyi, beterbangan meninggalkan sarang hendak melacak makannya.


Mayri terbangun saat sinar mentari mencoba menerobos masuk dan menggoda nya dari sela sela pintu jendela yang tak tertutup rapat gorden.


"Hoammm, aduh! kepalaku sakit banget," Mayri menekan kecil kepalanya lalu meregangkan otot-otot tubuh sebelum beranjak dari ranjang sedang itu.


Setelah beberapa jam beristirahat, rasa bersalah kembali merasuki pikirannya. Wajah cantik itu terlihat kusut tak bersemangat.


"Hah!" raungnya menghela nafas berat. Lalu mengusap wajah dengan kasar.


Mayri tampak stres memikirkan masalah ditengah persahabatan nya. Ia turun lemas dari ranjang lalu bergerak masuk dalam kamar mandi. Kemudian membasahi seluruh tubuhnya (mandi).


Namun tiba tiba shower berhenti menyiram tubuh yang masih bersabun itu. Mayri berdecak kesal, menghela nafas dalam dalam berusaha menetralkan emosi. Sebab dirinya tahu bahwa itu semua ulah adeknya, Zio.


"Tenang...tenang..dan tenang!" Mayri berusaha mengendalikan amarahnya. Dia meraib handuk menutup sebagian tubuhnya. Lalu bergerak keluar dengan mata pedih berbusa.


Zio terkekeh, mengabadikan dengan memotret dari ujung pintu ruang tamu. Tampak seekor ular mainan di tangan kirinya, serangan kedua.


Mayri meletekkan saklar air lalu kembali dengan mata menyipit, melihat dengan samar samar.


"Ular! awas ular!" teriak Zio menakut nakuti.


Sontak Mayri lompat lompat menghindar dengan wajah ketakutan. Handuk yang melapisi tubuh mungil itu hampir lepas, untung saja Mayri sigap mendekap.


Zio terkekeh puas.


Emosi yang tertimbun kini pecah,


"Ziooo kurang ajar! brengsek, bajingan! gak punya otak loe, paok!" semua kata kata buruk terucap dari mulut Mayri, dia tak mampu menahan emosi yang mendesak keluar.


Zio menganga mendengar mutiara kasar yang tak pernah sebelumnya terlontar pada nya, syok hilang akal.


Belum merasa puas, Mayri bergerak masuk dalam kamar meraib botol berisi cairan beraroma yang tersisa beberapa milli liter. Lalu bergerak keluar melempar ke sang adik.


"Pakkk!" pecah.


Zio berlari menghindar, namun serpihan botol yang terpental mengenai, merobek daging kaki kekar itu.


"Udah gila kali ya! orang cuma bercanda, loe nya malah menggila! Jahat loe!" Zio mengepal otot lukanya, menahan sakit.


Tak perduli, Mayri menatap tajam dengan rahang mengeras. Tak cukup sampai di situ, dia bergerak mencari benda untuk meluapkan emosi yang membara.


Melihat darah yang masih mendidih, Zio bergerak berlari menghindar dari amukan sang kakak. Mayri mengejar dengan buku tebal di tangannya, lalu melempar buku itu sekuat tenaga.


Darah Mayri semakin mendidih. Namun dia sadar bahwa sampai kapanpun tak akan menang melawan kejahilan sang adek. Dengan menghela nafas berat Mayri kembali masuk dalam kamar mandi, membersihkan tubuh yang sempat terjeda.


Berbeda dengan Mayri, Marmun masih tertidur telungkup bagai tak bernyawa di atas kasur tanpa kain pelapis selain pakaian yang melekat pada tubuhnya.


Kakinya masih terbungkus sepatu, serta pakaian masih sama seperti kemarin. Kamar itu tampak berantakan, barang barang hancur berserakan termasuk bingkai photo Marmun dan Mayri.


"Kak! ini udah pagi, bangun!" panggil sang ibu.


Tak ada sahutan,


Ibu Marmun terlihat cemas, dia memanggil keluar sang putri namun hasilnya tetap sama. Dengan tingkat kecemasan tinggi, sang ibu bergegas mencari kunci cadangan yang ia letakkan entah dimana. Merogoh segala tempat dengan pikiran yang tak menentu, kosong.


"Kunci cadangan letak dimana, lagi!" Sang ibu kembali ke kamar Marmun dengan secercah harapan.


"Tok .Tok..Tok..!"


"Kak! Kakak masih tidur? Bangun kak! kakak nggak apa apa kan? buka pintunya Kak!" Gedor gedor pintu kamar.


Mendengar kebisingan, Marmun terbangun. Dia bergerak membuka pintu dengan setengah sadar, mata tampak bengkak.


"Krek!" pintu terbuka.


Marmun kembali merebah telungkap dengan pandangan samar samar,


"Kak kak! tidur kok segitunya. Hampir aja jantung mommy copot karena kebudeg'kan kakak." Ucap Ibunya sembari mengelus kepala Marmun.


Marmun terdiam, sibuk dengan hatinya yang kalut. Dia kembali melanjutkan kesedihannya, wajahnya meregang menahan tangis yang hendak meledak.


Sebagai ibu, tentunya ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Marmun. Namun sebagai ibu yang baik, ia memberi waktu pada putrinya untuk sendiri sampai merasa siap untuk bercerita.


"Jangan lupa makan ya kak, jangan sampai kakak jatuh sakit, mommy gak mau itu. Ok!" ingatkan ibunya dengan lembut,


Marmun menjawab dengan mangut mangut. Sang ibu bergerak pergi meninggalkan Mayri dengan menghela nafas lega.


Sepeninggal ibunya Marmun bergerak menutup pintu kamar rapat rapat, lalu duduk termenung dengan tatapan kosong, tangis yang tertahan kini pecah.


"Kenapa harus kamu! kenapa kalapa, kenapa? Kamu jahat!" ucapnya. Marmun menatap tajam sebuah foto yang terletak di lantai. Photo itu tampak tertimpa serpihan kaca. Marmun merampas kemudian merobek robek hingga tak berbentuk. Kembali menangis..


Berselang beberapa menit, seseorang laki laki menggedor dan meminta Marmun keluar kamar, Erik. Marmun tak menggubris, dia diam seribu bahasa.


"Loppit tolong buka pintunya, kamu harus percaya kalau saya tidak ada hubungan apapun dengan Mayri, hanya sekedar teman! Semua tidak seperti yang kamu lihat. Please buka pintunya!" Pinta Erik.


Erik berusaha menjelaskan namun Marmun tak percaya dan tak perduli.


"Pergi loe dari situ! gue gak butuh penjelasan loe, pergi!"


Erik kembali menjelaskan apa yang sebenarnya tapi semua itu percuma sebab ada rasa kecewa dan sakit yang mencekik dada.


"Rasa sayang ini tak mampu kamu ukur Mar," Erik bergerak pergi.


Tak berselang lama, Mayri muncul. Sama seperti Erik, dia datang memberi penjelasan yang sesungguhnya.


"Kalapa please buka pintunya, semua hanya salah paham mar!" ucap Mayri.


Marmun keluar kamar dengan amarah membludak, menarik tangan Mayri tanpa berucap. Setibanya di ujung pintu masuk rumah, Marmun mendorongnya kasar hingga terjatuh. Tak cukup sampai disitu, Marmun bergerak masuk mengambil gelang simbol persahabatan mereka lalu membakar gelang itu di depan mata Mayri, hancur.


"Pergi! gue gak butuh sahabat penghianat seperti loe, pergi!" ucap kasar Marmun. Lalu bergerak masuk dan menutup pintu dengan rapat.


"Mar, aku harus apa biar kamu percaya!" ucapnya merembah air mata.