
Seketika keriuhan diruangan itu berubah hening, bibir seakan terkunci rapat rapat. Tembakan mengenai, menembus otot tangan salah satu mahasiswa.
"Semua diam!!!" bentak preman sembari bergerak menuju pintu keluar. Serene polisi masih berbunyi.
Disaat kedua preman lengah, petugas keamanan dan Devan bergerak bertindak, memulai aksi sesuai rencana. Membekuk, memukul tangan dan leher belakang menggunakan pentungan serta balok kayu berukuran sedang. Preman berhasil dilumpuhkan dan segera di bawa kepihak yang berwajib. Sedangkan mahasiswa yang tertembak di larikan ke rumah sakit terdekat.
"Syukurlah, baiknya kita ikut ke kantor polisi. Gue pikir ini suruhan Ranti, tadi gue lihat dia datang dan berbisik pada kedua preman itu." ucap Devan. Dia tampak menenangkan hati dan perasaan Marmun yang hampir menjadi korban ke bencian seseorang.
"Ha?? Ranti! Kalau bentul, dia benar benar kejam, berhati iblis. Gak habis pikir." Marmun menatap serius.
Meskipun peristiwa itu memakan korban, kegiatan acara tetap berlangsung. Tidak dengan Marmun, trauma yang melekat pada ingatan membuat nya menyudahi tugasnya.
"Mohon maaf, aku harus pergi ke kantor polisi. Karena ini semua ada hubungan nya denganku." ujar Marmun.
"Baiklah. Kita juga tidak bisa memaksa. Semoga pelaku mendapat hukuman yang setimpal." ucap ketua penyelenggara acara.
Setelah berucap terima kasih, Marmun bergerak pergi meninggalkan tempat itu bersama dengan Deven.
Setelah beberapa menit, Marmun dan Devan tiba di tempat pengaduan masyarakat, Polsek.
Disisi lain, Erik sudah sadar. Dia terlihat berucap lantang pada mbok Ria dan Felicia. Bahkan sudah bergerak bersandar di atas bed pasien. Secepat itu kesehatan nya pulih.
"Marmun gimana kabarnya mbok? Saya benar benar merindukan nya. Sepulang dari berobat, semoga ia sudah memaafkan kesalah pahaman ini." ucap Erik dengan setengah senyum.
"Non Marmun begitu sayang dan peduli pada tuan. Saat non tahu tuan kecelakaan dan masuk rumah sakit, dia sangat terpuruk. Tak henti henti berdoa serta mengeluarkan air mata. Si mbok percaya, non Marmun pasti memaafkan semuanya." Mbok Ria menyakinkan sang tuan.
"Ya udah sih, ngapain di ambil pusing. Orang seperti itu tidak perlu di ingat. Itu hanya alasan untuk meninggalkan mu. Kalau dia benar benar cinta dan sayang, gak mungkin se ego itu. Percaya sama gue." ucap Felicia sembari menyumbingkan bibir. Dia tampak tak suka bila Erik memperbaiki hubungan dengan Marmun.
"Apaan sih kamu. Gak usah ikut campur, ini urusan pribadi. Ingat, kita tidak ada hubungan apapun lagi, semenjak kamu menyudahi semua dan pergi meninggalkan aku disaat terpuruk." ucap Erik dengan tegas.
Mendengar nya, Felicia tampak marah. Dia bergegas pergi tanpa berucap apa apa dengan mata tajam.
Mbok Ria, tersenyum tipis atas kepergian Felicia. Begitu juga dengan Erik.
Di Rumah Sakit Husada Care, Mayri tampak menunjukkan kondisi yang lebih baik, detak jantung/denyut nadi telah normal, dia sadar dari koma.
"Maafin aku ya kak, aku janji tidak akan usil." ucapnya serius.
"Jangan asal janji, ntar usil lagi!" celetuk Chiko sembari menyentil telinga Zio.
*****
Setelah beberapa jam di kantor polisi, Marmun dan Devan bergegas kerumah sakit. Zio memberi kabar baik itu pada Marmun.
Berselang beberapa jam, Marmun dan Devan tiba di logo palang merah itu.
"Syukurlah kamu sudah sadar." Marmun memeluk erat sang sahabat.
Mayri membalas dengan senyum tulus. Masalah diantara keduanya telah selesai.
Di negara tetangga, Erik mendapat info bahwa dirinya sudah bisa pulang, sebab kondisinya sudah membaik dan normal.
"Thank you." ucap Erik mengakhir obrolan dengan dokter. Lalu dengan cepat ia merangkai kata, mengirim pesan pada sang kekasih bahwa dirinya telah sehat dan akan pulang ke negara asal.
"Semoga Siloppit tidak marah lagi ya mbok," Erik menghela nafas panjang.
"Jangan khawatir tuan, yakin aja. Non Marmun orang baik, dia pasti sudah melupakan semua nya." Mbok Ria terlihat semangat.
Disaat Marmun asyik cuap cuap, nada pesan masuk berdering.
"Erik!"
Tampa berlama-lama ia membuka pesan itu lalu berteriak "Yess, Puji Tuhan!"
Tak ingin berlama-lama, dia membalas pesan itu. Entah apa yang ia rangkai. Marmun tampak bahagia, begitu juga dengan Erik serta Chiko dan Mayri. Terkecuali dengan Devan. Dia tampak menghela nafas berat, setengah senyum.
Esok hari, Entah angin apa yang merasuki nya, Ranti datang meminta maaf. Tampak mata memandang tulus.
Mayri, Marmun dan Ranti berpelukan. Artinya permasalahan selesai. Tidak ada dendam dan benci. Kini ketiganya menjadi sahabat.
Wanita yang bersama kedua preman bukanlah Ranti, melainkan orang asing yang menaruh iri akan ketenaran Mayri, terlebih pada Marmun. Wajah mirip Ranti.
Tamat.
Terima kasih sudah membaca sejauh iniπππ