Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -33



5 Menit sebelum Marmun dan Rivan menapakkan kaki di CTC, Mayri dan Erik bergerak pergi dari tempat itu tanpa meninggalkan jejak.


Rivan terlebih dahulu masuk dalam CTC dan menduduki kursi pada meja kosong yang cukup dekat ke pintu masuk. Lalu memesan dua cangkir minuman dan beberapa porsi cemilan untuk ia dan Marmun santap.


Sementara Marmun masih berdiri di samping mobil Rivan terparkir. Dia sedang menghubungi sang kekasih dengan kekuatan daya HP tinggal 5%, sekarat. Memanggil, artinya nomor yang ia tuju sedang tidak aktif atau tidak memiliki sinyal.


"Isss, memanggil! dia kemana coba, apa dia lagi bareng sama Mayri? Apa dia sengaja non-aktifkan ponsel nya atau gimana? kalau masalah sinyal, ya nggak mungkin!" gerutu Marmun. Ia terlihat kesal.


Sangking kesalnya, Marmun menendang ban mobil yang ada di samping kanannya. Hingga membuat mobil itu mengeluarkan bunyi/suara.


Marmun terkesiap dengan tubuh bergetar, dia menoleh ke segala arah seolah memantau lalu bergegas masuk terbirit birit dalam CTC, seraya berkata "Mampus!! gimana kalau ada orang yang ngelihat, bisa bisanya aku di tuduh ingin melakukan pembobolan pada mobil itu."


Sesampainya di pintu cafe, alarm mobil masih terdengar berbunyi. Marmun menyenyumi ulahnya sembari menghampiri Rivan.


"Sorry, lama." Marmun bergerak duduk,


"Santai aja," sahutnya.


Rivan menyodorkan secangkir minuman berwarna dan setapak cemilan ke depan Marmun.


"Thank you."


Mereka tampak asyik berbincang bincang berselipkan canda tawa.


Di pintu masuk CTC, dua pasang kekasih bergandengan masuk dengan langkah gemulai. Dengan tak sengaja mata Rivan terpelintir ke mereka dan salah satu dari dua wanita itu memandang ke arah Rivan. Wanita itu yang tak lain ialah Ranti.


Ranti melihat sinis sang mantan, sedangkan Rivan memberikan senyuman manis terbaiknya.


Ranti dan temannya duduk berdekatan dengan Marmun dan Rivan, hanya satu meja pembatas. Dengan sedikit rasa yang tersimpan, Ranti melirik teman tongkrongan sang mantan. Dia sungguh penasaran pada Marmun. Namun karena rambut Marmun yang terurai kedepan menutupi wajah membuat Ranti tidak bisa melihat wajah cantik itu.


"Cewek itu siapa yeah! apa pacar baru nya?" tanyanya dalam hati.


Rivan sesekali menoleh ke arah meja Ranti dan dengan rasa ingin tahu Marmun mengikuti arah mata Rivan. Terlihat dua pasang manusia, tidak ada yang ia kenali diantara empat orang itu. Marmun tidak mengenali Ranti yang terhalang dengan pengunjung lainnya.


"Van, aku ke belakang dulu ya!" ucap Marmun,


Dia bergerak pergi ke arah salah satu kamar yang di gemari oleh para wanita, baik untuk membuang sesuatu atau merias diri, kamar mandi.


Disaat Marmun melangkah beberapa langkah, Ranti bergerak mengikutinya. Dia terlihat penasaran. Akan tetapi Ranti tidak ketemu dengan sosok yang ia cari, meskipun ruangan itu hanya berukuran 6 x 8 meter.


"Kemana tu cewek! perasaan tadi masuk kesini, kok nggak ada?" gumam Ranti,


Ia melihat setiap lorong kamar mandi, namun kosong. Dengan sia sia, dia kembali gabung ke teman temannya.


Sedangkan Marmun baru saja masuk dalam kamar mandi, entah dari mana dia sebelumnya. Marmun menghubungi Erik, namun di saat panggilan di terima daya HP nya kosong alias 0%, mati.


"Ya ampun...! sial banget sih hari ini," ucapnya kecewa.


Disisi lain, Erik tampak berusaha menghubungi ulang.


Dia baru saja tiba di depan kampus sang kekasih. Lalu bergegas masuk dan menunggu di lobi,


Berselang beberapa menit ia menunggu, seorang dosen menghampiri nya.


"Siang Pak Erik," sapanya.


"Siang pak," sahut Erik sembari bergerak berdiri.


Mereka bersalaman layaknya bos dan karyawan.


Disela obrolan nya, Erik menanyakan apakah masih ada mata kuliah yang berlangsung di kampus itu. Namun sang dosen menjelaskan bahwa mata kuliah pagi tidak ada lagi, adanya mata kuliah sore.


Erik sejenak berpikir,


"Si loppit kemana? di chat nggak di balas, di telpon nggak aktif," ucapnya dalam hati.


Erik pamit kemudian pergi mencari ke beberapa tempat tongkrongan yang biasa mereka kunjungi.


Ketika Marmun kembali, Ranti terpelongo melihat nya.


"Ha! Marmun! Kok bisa? Kemarin Mayri sama Erik, sekarang Marmun sama Rivan, gimana cerita sih!" ucapnya lirih,


"Loe ngomong apa?" tanya Lala,


"Loe lihat meja urutan kedua dari kita, ada Rivan dan Marmun disana." jelas Ranti dengan pelan,


Tiga pasang mata itu langsung menoleh ke arah meja yang Ranti katakan. Cukup lama Lala menatapnya terlebih menatap ke arah Marmun, sebab orang yang lalu lalang masuk keluar menghalangi pemandangannya.


"Itu bukannya mantan loe? cewek itu pacar barunya?'' tanya Lala. Dia meneguk tehnya.


"Ngapain loe pada ngomongin mantan, nggak usah ingat masa lalu." celetuk salah satu laki laki di samping kanan Ranti, sepertinya dia pacar barunya.


Lala dan pacarnya senyam senyum mendengar celetuk temannya. Ranti tertunduk diam menahan tawa, dia tidak ingin membuat sang pacar cemburu.


Hari menjelang malam, Marmun dan Rivan pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Erik duduk terdiam menunggu dengan secangkir teh di teras rumah Marmun.


Marmun dan Rivan baru tiba pada pukul 19.05 WIB,


Erik bangkit dari duduknya dan memandang ke arah mobil itu.


"Kamu nggak singgah dulu, Van?"


"Lain kali aja Mar, salam sama Tante." jawab Rivan,


Marmun manggut-manggut, lalu berbalik badan. Rivan bergegas pergi. Erik menghampiri nya.


"Dari mana saja? di hubungi nggak bisa!"


Erik sedikit naik gula, nada bicaranya tidak seperti biasanya.


"Maaf bee, HP ku lowbet." jawab Marmun.


Marmun syok pada sikap Erik, sebab baru kali itu ia melihat Sang kekasih marah selama mereka pacaran.


"Saya tanya, kamu dari mana aja?"


Marmun tertunduk diam,


"Nggak bisa jawab! Ok, lanjutkan!"


Erik bergerak mengambil cangkir tehnya, lalu masuk dalam rumah kemudian pamit pulang ke calon mertua.


Marmun masih mematung di teras rumahnya, dia seakan terbatin. Sebab itu kali pertama ia merasakan amarah dari orang terdekat sepanjang hidupnya.


Erik pergi tanpa mengucap satu kata apapun. Marmun menoleh dengan wajah sedih dan meregang menahan tangis yang ingin meledak.


Lalu bergerak berlari kedalam kamarnya tanpa mengucap salam ke sang ibu. Tangisnya pecah, hingga sang ibu mendengar pekikan tangis.


"Kakak nangis? buka pintunya Kak!" Sang ibu menggedor gedor pintu.


Pekikan tangis malah menjadi jadi, sang ibu semakin panik. Wajahnya menunjukkan ke khawatiran.


Sedangkan Mayri terlihat bahagia bisa bersama dengan orang yang dicintainya. Meskipun itu milik sahabat nya sendiri.


Sepulang dari CTC Mayri bersenandung riang sampe malam hari hingga membuat sang adek merasa jengkel.


"Loe bisa diam nggak! berisik tahu! pecah nih gendang telingaku mendengar suara loe yang hancur itu!" celetuk Zio sembari memainkan gamenya.


"Ikhhh loe kenapa? mulut, mulut aku! suara, juga suara aku! kalau nggak suka, loe pigi aja sana!" ucap Mayri,


Zio semakin jengkel, dia bergerak mendekat ke Mayri lalu mengangkat, menggendong keluar dan menjatuhkan sang kakak di taman rumahnya.


"Aauww, sakit!"


"Rasain!" ucap Zio, Dia tertawa puas melihat ekspresi sang kakak lalu bergerak masuk dalam rumah dan mengunci dari dalam.


"Zioooooooo!"teriaknya dengan emosi,


Mayri bergegas berlari mengejar sang adek, namun langkahnya terhenti di depan pintu rumah yang telah terkunci itu.


"Buka pintunya zioo! jangan kurang ajar! ini udah malam Zio!"panggilnya dengan marah.


Zio membukakan pintu, sebab ia tidak tega bila sang kakak harus tidur di luar rumah. Kemudian dia berlari sekencang kencangnya masuk dalam kamar.


Mayri mengejar namun ia tak cukup cepat berlari.