Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -34



Hari yang begitu cerah, terik mentari menghiasi hamparan langit biru serta burung burung yang bersiul riang mengajak Marmun untuk berdamai dengan diri sendiri, menuntaskan kesalah pahaman diantara dua hati.


Usai mata kuliah, Marmun menghampiri Erik tanpa memberitahu dulu. Marmun mengajak Rivan yang menjadi salah satu tokoh dalam masalah hati itu.


Tak ingin di sebut penyebab renggang hubungan antara sepasang kekasih, Rivan membantu Marmun dengan senang hati.


Mereka pergi menaiki mobil Rivan.


Melihat Marmun dan Rivan pergi terburu buru tanpa mengucap satu katapun pada dirinya, Mayri terlihat kesal. Dan dengan rasa ingin tahu, dia mengikuti kemana perginya Marmun dan Rivan.


Seperti biasa Mayri menaiki motornya.


Rivan memacu mobilnya sebelum semuanya terlambat. Sedangkan Mayri kehilangan jejak, sebab kecepatan motornya tidak cukup tinggi mengimbangi kecepatan mobil Rivan.


Mayri menghentikan motornya di keramaian kota dan ia tampak mendengus kesal.


"Mana mobil Rivan? cepat banget perginya seperti pesawat terbang!"


Mayri menatap kepenjuru tempat itu sebelum memutuskan menghentikan pengejaran dan pulang kerumahnya.


Marmun dan Rivan tiba di depan kantor Erik. Rivan melajukan mobilnya dengan pelan masuk dalam pekarangan kantor melalui pintu masuk perusahaan itu. Namun secara bersamaan Erik melajukan mobilnya keluar melalui pintu keluar meninggalkan tempat itu.


Marmun bergerak masuk kedalam kantor sang kekasih. Lalu langkahnya terhenti di front office, administrasi. Rivan nyusul.


"Permisi mbba, Erik ada di ruangannya kan?"


"Maaf mbba, Pak Erik baru saja keluar. Ada yang bisa kita bantu?" jawab salah satu admin dengan ramah.


"Kalau boleh tahu, pergi kemana?"


"Kita kurang tahu mbbak. Sebelum masuk apa mbba nggak ketemu di parkiran? karena beliau barusan keluar. Sekitar 5 menit yang lalu." ucap admin cowok yang kebetulan baru saja gabung dengan mereka.


"Ya elahh mas, kalau ketemu nggak mungkin nanya ke mas dan mbba nya kali."


Dengan tangan kosong, Marmun dan Rivan meninggalkan tempat itu.


Namun sebelum pergi, dia nitip pesan pada Security untuk ngabarin siapa siapa saja wanita yang keluar masuk kantor terkecuali karyawan dan keluarga Erik. Marmun memberikan secarik kertas yang berisikan nomor ponselnya.


Sedangkan Mayri terlihat memutar haluan, pergi mengarah ke CTC.


Erik juga tampak pergi ke CTC. Sepertinya dalam perjalanan pulang Mayri dan Erik callingan dan memutuskan untuk bertemu tanpa merasa bersalah.


Mereka bertemu di depan CTC dan melangkah masuk dengan bahagia. Seperti biasa mereka memesan minuman dan cemilan sebagai pelengkap jalannya obrolan.


Kali ini Mayri sungguh keterlaluan, dia memutuskan mengutarakan perasaan yang telah lama ia pendam.


Dengan jantung berdegup kencang, Mayri menyentuh tangan Erik.


"Rik, sebenarnya aku sudah lama menyimpan rasa pada..."


Mayri tidak meneruskan ucapannya, namun matanya menyisir wajah Erik yang menatapnya dengan datar.


Bahkan mulutnya seakan terkunci, sebab dia menyadari bahwa tidak ada tempat sedikitpun di hati Erik untuk dirinya.


"Pada siapa May? pada Rivan? Kalau kamu masih cinta dan sayang, ya ungkapin. Jangan sampai kamu nyesal nantinya. Cinta itu perlu di perjuangkan."


"Aku suka sama kamu Rik. Benar cinta harus di perjuangkan tapi kalau tidak ada lagi tempat untuk si pejuang cinta, ya untuk apa? semua bakal sia sia kan!" ucap Mayri dalam hati.


"Kok diam? Kamu harus percaya cinta tulus akan mendapatkan cinta yang tulus."


"Nggak siapa siapa, lupain aja. Hehehh" Mayri senyum setengah.


Dalam sepanjang perjalanan Marmun terlihat menekuk murung wajahnya. Rivan mencoba menghibur dengan lawakan basi, namun tak berhasil.


Tiba di rumahnya, Marmun dan Rivan bergerak masuk. Sebelum menginjakkan kaki melewati pintu masuk, terdengar suara mobil berhenti persis di samping mobil Rivan.


"Wadokhhh! Erik. Pecah la ini, pasti salah paham lagi," gumam Rivan.


Marmun sedikit panik, dia takut Erik semakin marah akan kehadiran Rivan di rumah.


Dengan menghela nafas berat, Marmun menghampiri Erik.


"Kamu pergi kemana bee? tadi kami ke kantormu trus katanya kamu keluar,"


Erik bungkam, dia melihat ke arah Rivan dengan wajah datar dan sinis.


"Hei Rik! Kamu tenang aja, aku kesini nggak ada maksud apapun hanya sekedar ngantar pulang Marmun kok." Rivan berusaha tidak mengkeruh suasana lalu bergerak masuk duluan kedalam rumah Marmun.


Ibu Marmun menyambut nya dengan hangat dan secangkir teh.


"Tante perhatikan akhir akhir ini Marmun terlihat murung, apa ada masalah? Kalian kalau ada masalah di selesaikan baik baik. Itulah tandanya anak berpendidikan," ujarnya.


Di teras rumah Marmun dan Erik masih perang dingin, entah sebab apa Erik tidak sedewasa biasanya.


Marmun menatap Erik dari dekat dengan tangan memegang wajah tampan itu, seraya berkata "Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benakku untuk menduakanmu. I'm Yours. Kamu adalah laki laki yang aku cintai sepanjang hidupku selain papahku. Kamu adalah abang adek sekaligus papah bagiku."


Erik membalas tatapan itu dengan mata berkaca-kaca, dia begitu terharu akan sepelintir ucapan Marmun. Sebab baru kali pertama ia merasakan dicintai dengan tulus oleh seorang wanita yang dekat dengan dirinya.


Lalu memeluk Marmun dengan erat, kemudian menempelkan bibirnya pada bibir merah itu, kecup. Marmun terlihat pasrah dan menikmati nya. Rivan muncul tiba tiba kemudian berdehem menyaksikan momen langka itu.


"Woiiii pada ngapain? ikut dong!"


Marmun dan Erik seketika menyudahi tempel menempel itu.


"Ikhhhh, Rivan!" Marmun tersenyum malu.


"Jomblo nggak usah ganggu. Lagi enak enaknya malah di ganggu bagai nyamuk. Minggir sana!'' ketus Erik dengan senyum menyeringai.


Rivan sediki tersinggung namun dia menetralkan hatinya dengan pura pura tertawa. Marmun tertawa geli,


Dirumahnya Mayri terlihat akur dengan sang adek, Zio. Zio terduduk di atas sofa dengan remote TV di tangan sedangkan Mayri tergeletak di pangkuan Zio.


Mayri curhat pada sang adek,


"Mengapa hati ini tumbuh pada orang yang tidak memberikan tempat untuk ia singgahin?


"Itulah hebatnya Tuhan, Dia merakit sedemikian rupa untuk membentuk ciptaanya. Namun pada akhirnya hati akan menemukan tambatan nya." Meskipun umurnya jauh lebih muda dibanding Mayri, Zio terlihat dewasa dari segi pola pikir. Walaupun masih sering jaim dan jail.


Mayri berpikir dan merenungi ucapan sang adek. Kemudian ngeledek Zio dengan mencubit dagunya.


"Cieeeee.."


Zio tersenyum, artinya perang dunia ketiga akan di mulai, jail.


Zio menepuk wajah Mayri lalu bergerak berdiri hingga Mayri jatuh dari pangkuannya, tergeletak ke lantai.


"Dubrak!"


"Ziooo!" Mayri berusaha berdiri, Zio mengambil segelas air putih dan sesendok kopi hitam lalu dicampur bagai teh kopi kemudian dia tumpahkan ke wajah Mayri. Sungguh miris..


Mayri terduduk dan diam tak mampu berkata kata, sedangkan Zio tertawa puas sampai air mata keluar dari matanya.


Darah Mayri semakin mendidih sebab kejahilan sang adek telah melewati batas. Dia bergerak berdiri lalu mengambil gelas yang ada di dekatnya lalu melempar kan kearah Zio.


Zio menghindar dan bergerak keluar menunggangi motornya. Lalu pergi dengan tancap gas sebab kemarahan Mayri telah melewati batas kemarahan manusia pada umumnya.


Namun Zio tak kunjung kapok, dia justru merasa puas bila melihat sang kakak naik darah.