Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -59



Hari yang begitu sejuk, udara dingin menyentuh kulit, dimana tubuh menuntut otot otot kerja keras memproduksi panas. Mentari pagi yang enggan menyongsong menyorot bibir bibir, menyapa insan yang mengharapkan semburan ultraviolet nya. Salah satunya Marmun.


Meskipun hamparan lagi berselimut kabut, Marmun tampak tak mengurung niat untuk bangun lebih cepat kala beberapa insan masih tertidur lelap, sebab Ia harus bertanggung jawab atas apa yang sudah di sepakati pada hari sebelum nya, yakni menjadi bintang tamu (menyanyi) di acara kampus tetangga.


" Pakai gaun atau flare top + Celana kulot?" Marmun tampak bingung menentukan outfit yang cocok ia kenakan saat menghibur para undangan baik mahasiswa/i dan dosen kampus itu.


Dia mengotak atik isi lemarinya sesuka hati, membuat kamar itu bak kapal pecah.


"Kok gak ada yang pas sih! mana gaun tinggal ini lagi, hadekhhhh pusing!'' ucap Marmun sembari bongkar pasang gaun itu dari tubuhnya. Tampak baju baju berserakan di atas ranjang bahkan di lantai.


Lalu sejenak, Marmun menjeda pilih melilih itu, dia duduk diatas ranjang dengan mata memandang ke langit langit kamar. Lalu menoleh ke arah lemari cermin tepat pada sebingkai poto. Kemudian bergerak meraib.


"Andai saja kamu disini, semua tidak akan ribet. Biasanya kamu berperan menentukan gaun mana yang cocok untuk ku.'' ucap Marmun lirih sembari memandang, meraba sosok Erik yang tertuang dalam kertas glossy itu. Lalu mendekap erat melepas kerinduan.


Dari ujung pintu, sosok wanita separuh baya melangkah masuk tanpa permisi.


"Astaga!! apa apaan ni kak, kok berantakan!'' Sang ibu melangkah menyisir ruangan persegi panjang itu dengan mata melebar memutar. Lalu meraib kain yang terletak di lantai.


"Hehehe....Maaf mom. Lagi nyari baju untuk dipakai nanti. Semua sudah dicoba tapi gak ada yang cocok dan pas." Marmun menekuk wajah dengan mata menyisir baju baju yang berserak di atas ranjang.


"Masa, sih! Segitu banyaknya gak ada satu pun?" Sang ibu menggeleng gelengkan kepala, lalu bergerak memilih gaun/baju. Sembari melihat satu persatu, sang ibu juga melipat dan merapikan pakaian itu.


Tiba tiba mata sang ibu teralih/mengerling pada gaun berwarna coral tepat dibawah bokong Marmun.


"Pakai itu aja, pasti bagus dan cocok." ucap Sang ibu sembari menunjuk.


Marmun menoleh mengikuti arah telunjuk sang Ibu, lalu bergegas bangkit dari duduknya seraya berkata "Mommy yakin?? warnanya cerah lho mom."


Sang ibu mengangguk anggukkan kepala pertanda "yakin".


Walau merasa ragu, Marmun bergerak menuju kamar mandi, lalu mengganti pakaiannya dengan gaun coral. Kemudian melangkah keluar dengan wajah tak pede.


"Bagus, cocok banget. Pakai itu aja Kak," puji sang ibu sembari melipat serta menggantung pakaian hingga kamar itu terlihat rapi seperti sebelumnya.


Marmun bergerak mendekat ke cermin, dia menyisir tubuhnya dari cermin.


"Iya yah, bagus. Aku suka meskipun warna....." ucap Marmun dalam hati.


Saat kabut maherat, Marmun pergi menampakkan wajah ke kampus dimana ia menimba ilmu sebelum pergi kekampus tetangga. Meminta ijin tidak mengikuti perkuliahan di hari yang sama dimana dirinya ditunggu oleh Kampus tetangga beserta seluruh penghuninya.


Disisi lain,


Erik yang sebelumnya berada di ICU kini telah di pindahkan ke ruang rawat biasa, sebab kondisinya sudah membaik. Detak Jantung dan denyut nadi menunjukkan peningkatan, normal. Meskipun sampai detik itu belum membuka mata, sadar.


Disampingnya, tampak Felicia memandang serta meraba wajah berbulu itu seraya berkata "Gue tahu kamu pasti bisa melewati semuanya. Loe orang kuat dan baik, semua orang pasti mengirim doa untuk kesembuhan loe. Termasuk gue."


"Gue akan selalu ada disamping loe, sama seperti dulu saat kita bersama. Gue janji, saat loe bangun semua akan menjadi seperti dulu. Gue dan Loe akan menjadi Aku dan Kamu. So sudahilah tidurmu." pinta Felicia. Tampak air bening keluar dari ujung matanya.


Mbok Ria dan Sisca tampak memandang sinis serta mencibir.


"Dari dulu dia kemana? Sekarang sok sok'an menunjukkan batang hidung setelah tahu Tuan sukses dalam karir dan sukses melupakan dia." gerutu Mbok Ria.


"Ya bener mbok. Tuan pernah cerita, walaupun tak banyak. Tapi kalau saya perhatiin, Pak Erik sepertinya belum move on deh mbok. Buktinya semenjak Felicia ada disini, keadaan pak Erik membaik per harinya." Sisca menatap serius pada Sisca dari ujung pintu.


"Nauzubillah, jangan sampe neng. Kasian non Marmun yang begitu tulus sayang sama Tuan." ucap Mbok Ria.


"Paling patah hati Mbok!" kelakar Sisca. Spontan mbok Ria menampar tangan wanita di di dekatnya itu.


Di Rumah Sakit Husada Care, Mayri telah di pindahkan ke ICU. Sama seperti saat Erik berada di ICU, terhubung dengan berbagai alat medis melalui kabel dan selang. Dia bernafas dibantu oleh ventilator. Terlihat denyut jantung melemah pada monitor.


Zio tak kuasa menahan air mata, dia menumpahkan kesedihannya dengan berteriak sekuat kuatnya "Loe jahat! Jahat!!!!"


Mendengar ada keributan, Security menghampiri.


"Maaf pak, mohon jangan berisik dan membuat keributan karena bisa mengganggu kenyamanan pasien lainnya. Kalau gak, silahkan keluar!" tegas Security.


"Apa bapak bilang, keributan? Keributan yang mana, hah! Keributan yang mana?" bentak Zio sembari mendorong tubuh kekar, Security. Dia tak terima di tuduh membuat keributan, sebab ia merasa hanya menangis, menyuarakan perasaannya.


Zio dan Security melontarkan kata-kata kasar dan saling sahut menyahut sembari memberikan perlawanan satu sama lain, tonjok tonjokan. Orang orang (Pasien dan keluarga pasien) berdatangan mengerumuni. Zio dan Security menjadi tontonan publik saat itu.


Mendapat pengaduan dari salah satu petugas Rumah Sakit (bidan), Manager Security bergerak cepat menghentikan keributan itu, bersama 3 anggotanya


"Bawa dia keluar! Jangan biarkan dia masuk sebelum dia menyadari perbuatannya." perintah Manager Security.


"Siap pak!" jawab serentak anak buahnya dengan tangan terangkat menyentuh alis, telapak terbuka. Lalu bergerak membawa paksa keluar dari bangunan berlogo palang merah itu.


Zio berontak seraya berseru "Kak, bangun!!! Lepasin!! Brengsek loe semua!!''


Dia terus saja berontak dan berteriak. Sesampainya di pintu masuk Rumah Sakit, Zio dilepas dengan kasar hingga tersungkur. Lutut dan telapak tangan sidikit tergores, berdarah.


"Jangan membuat keributan disini, pergi sana!" ucap salah satu Security dengan tegas, wajah datar.


Tak mau menyerah, Zio bangkit lalu mendorong petugas keamanan sekuat tenaga, namun karna bobot tubuh kurus, maka tak membuatnya berhasil masuk.


"Saya tahu bagaimana perasaan kamu, jaga emosi, ini rumah sakit. Kalau kamu berteriak begitu, artinya kamu sudah membuat keributan, mengganggu kenyamanan pasien. Termasuk kakak kamu." tutur Security berumur (Jono) dengan nada rendah.


Dia melangkah mendekat, lalu menepuk nepuk pundak Zio. Berusaha menenangkan laki laki muda itu.


Zio termenung, memandang Jono dengan tatapan kosong, entah apa yang ada di benaknya saat itu.


Berselang beberapa detik, dia berbalik, pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara teman begaduh Zio (Security) di bawa dan disidang atas kejadian memalukan itu.


Terima kasih sudah membaca 🙏🙏 Mohon beri saran/masukan supaya karya semakin lebih baik.


Jangan lupa:



Vote


Like


Beri hadiah


Koment


Beri Rating dan Share


Follow IG ku : munthe.maria