
Hari berganti hari, Zio tampak berberes hendak pergi menimba ilmu. Sepertinya dia belum menerima kabar perihal kecelakaan yang menimpa sang kakak.
Di rumah sakit, Mayri telah di pindahkan dari ruang IGD ke ruang rawat sebab kondisinya tidak membawa dalam perawatan intensif (ICU), tidak seperti Erik. Meskipun sampai pagi itu dia belum sadarkan diri.
"Apa ibu keluarga pasien? Ada yang harus di bicarakan tentang kondisi pasien." tanya dokter yang bertugas pagi itu.
"Bukan dok. Saya dan warga lain tidak tahu dia siapa. Kita hanya membantu saja." ucap seorang wanita separuh baya (Bu. Ningsih).
Pada dasarnya warga yang berada pada saat kejadian sudah berusaha menghubungi keluarga korban melalui pihak kepolisian.
Terlihat lutut dan kepala Mayri berbalut perban. Tubuh terpasang selang dan pipa sebagai alat bantu nafas dan makan serta pendeteksi fungsi tubuh.
Dalam alam lain, Mayri tak sengaja bertemu dengan arwah Erik di hamparan rumput parang. Dia bergerak melangkah menghampiri sosok pria yang sempat mencuri hatinya yang sedang duduk bersandar pada pohon rimbun. Erik tampak menikmati indahnya alam dimensi berantah yang memberikan kenyaman dan suka cita pada dirinya. Tak ada pilu, tak ada rumitnya hidup, tak ada suara bising, tak ada sakit/kecewa.
"Rik, ngapain disini? Kok sendiri, Marmun mana?" tanya Mayri.
Sontak Erik bergerak menoleh ke arah suara tanya itu. Lalu berkata" Menikmati hidup. Lihat keindahan alam ini sungguh indah, bukan! Saya ingin menetap disini."
Mayri mengangguk kepala. Dia ikut bergabung, duduk bersandar pada pohon rimbun.
Tak berselang lama mereka pergi mengelilingi tempat yang di penuhi oleh arwah berpakain putih itu. Sesaat mereka melupakan sahabat, kekasih, adik yang menunggu pulih dan kehadirannya di alam yang semestinya mereka berada, yaitu alam manusia.
Sementara Marmun terlihat sibuk pada badan kaku yang tak kunjung siuman itu. Dia mengusap wajah laki laki brewok itu dengan gemulai sembari berucap "Sebentar lagi ulang tahunku. Apa semua rencanamu sudah beres! Jangan lupa kadonya, pertemukan aku pada Lyly, idolaku."
Mayri terus saja berucap meskipun tak mendapat balasan ucap dari Erik.
"Kamu dengar aku kan, Rik! Kejutan itu benar adanya kan?" ucapnya dengan merembah air mata.
Dia tak bisa menutupi kesedihannya walaupun sudah berusaha untuk tegar. Melihat Erik tak menunjukkan respon sedikit pun, Marmun bergerak keluar dari ICU itu. Berlari dan langkah nya terhenti di halaman rumah sakit, lalu berteriak sekencang-kencangnya menyalahkan diri. Orang orang menatap aneh. Tak sedikit menatap kasihan padanya, termasuk mbok Ria.
Mbok Ria melangkah mengikuti kekasih tuannya yang frustasi itu.
Terlihat Marmun duduk pada hamparan taman berumput hijau sembari menangis tersedu-sedu.
"Sabar non, serahkan semua pada Allah. Insyaallah tuan pasti akan segera sadar dan sembuh. Yang sabar ya non." ucap Mbok Ria.
Marmun terus saja menangis.
Lalu tiba tiba sosok wanita separuh baya berpakaian kantoran bergerak mendekat. Dia terlihat menjinjing tas bermerek dan kaki berlapiskan high heels hitam meningkatkan kehidupan sosialnya.
"Kakak kenapa? Ada apa? Cerita sama mommy." Ibu Marmun membantu putrinya bangkit dan duduk pada kursi taman rumah sakit.
Tanpa menjawab, Marmun langsung memeluk sang mommy. Menumpahkan kesedihannya dengan tangis yang semakin menjadi jadi hingga membasahi sebagian baju wanita yang melahirkan nya itu.
Untuk sejenak sang ibu hanya bisa memeluk dan memahami sang putri.
Tangis Marmun menjalar pada mbok Ria. Terlihat air bening keluar dari ujung mata yang tampak keriput itu.
"Si Non menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa tuan Erik, buk!" ucap Mbok Ria.
"Ha! Erik? Emang nak Erik kenapa? Saya gak ngerti, ini ada apa mbok?" Ibu Marmun tampak kebingungan. Dia hanya mendapat informasi bahwa putrinya berada di rumah sakit. Tidak ada kejelasan kenapa, siapa, apa yang terjadi?
"Pak Erik kecelakaan setelah mampir ke rumah ibuk. Sekarang ada di ICU. Keadaannya kritis (Koma)."
"Ya Tuhan. Kapan mbok? Kejadiannya gimana?"
"Saya juga tidak tahu buk. Semalam." Mbok Ria mengusap air matanya.
Sang ibu tampak mengusap punggung putrinya dan memberikan petuah penyejuk jiwa. Lalu mereka bergegas pergi menuju ruang Erik.
Disisi lain, Chiko tampak berada di rumah sakit, berdiri dekat pintu salah satu pasien. Dan sedang berucap pada salah satu petugas rumah sakit. Dengan tubuh berbalut kemeja putih, celana panjang hitam yang di kombinasi dengan jas putih bak seorang dokter.
Pada saku jasnya terlihat stetoskop.
"Siap dok. Kalau begitu saya pamit." ucap pria berpakaian putih itu (perawat). Lalu bergerak melanjutkan kesibukannya.
Saat berbalik, matanya terhenti pada sosok wanita yang terbaring kaku di bed pasien. Dia menatap seakan mengenal wanita itu. Namun saat melangkah mendekat, menilik dari pintu yang terbuka sedikit itu, seorang perawat memanggilnya. Pasien itu ialah Mayri.
"Dokter di panggil oleh Dokter kepala," ucap perawat dengan lembut.
Tanpa menjawab, Chiko bergerak menghampiri dokter kepala rumah sakit.
Mayri yang terbaring masih betah berkelana dalam antah berantah bersama dengan Erik.
Mereka seperti menjalin kasih dalam dunia berantah itu. Berpegangan tangan, berpelukan, berlari, lonjat lonjat hingga bernyanyi bersama.
Mayri dan Erik melupakan semua yang ada di dunia.
Sementara Rivan, tampak celingak-celinguk memandang mencari Marmun dan Mayri yang biasanya menongolkan batang hidung di kampus ternama itu.
Dia berjalan kesana kemari, mengitari ruang kampus, termasuk kantin. Tempat dimana Marmun dan Mayri menghabiskan waktu istirahat.
"Bu, lihat Mayri kah?" tanyanya pada pemilik kantin.
"Dari pagi sampai sekarang ibu tidak lihat nak. Gak masuk kali!" Jawab ibu kantin ramah sembari merapikan areal kasir.
Setelah berucap terima kasih, Rivan pergi menuju ruang kelas. Sebab mata kuliah terakhir akan di mulai.
Beberapa jam kemudian, setelah pulang kuliah, panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal meriuhkan kesibukannya bermain game.
Zio berdecih kesal sembari mematikan/ menolak panggilan masuk itu. Lalu kembali melanjutkan pertarungan sengit game.
Panggilan masuk dari nomor yang sama sebelumnya.
"Argghh siapa sih ni orang! Heboh banget!" ucapnya sembari mematikan panggilan itu untuk kedua kalinya.
Saat panggilan ketiga, dengan menghela nafas berat, Zio mengiklaskan dirinya kalah dalam pertarungan game yang masih berlangsung. Ia mengangkat, menerima panggilan masuk.
"Halo, ini siapa?" ucapnya dengan nada naik satu oktaf dari nada biasanya.
"Siang pak, Saya dari pihak kepolisian. Apakah ini betul saudara Zio?" ucap tegas polisi.
Mendengar kata polisi, Zio sedikit bingung dan takut.
"Ya benar pak. Ada apa ya pak?" tanya Zio penasaran dengan menajamkan pendengaran.
"Saya mau memberitahukan bahwa saudari Mayri mengalami kecelakaan. Saat ini berada di Rumah Sakit Care Husada. Terima kasih." ucap polisi mengakhiri informasi nya.
Mendengarnya, detak jantung Zio terjeda sesaat, tubuhnya lemas tak berdaya, wajahnya pucat bak kurang darah. Dia terduduk menganga dengan tatapan kosong.
Terima kasih sudah membaca🙏🙏 Silahkan beri saran/masukan supaya karya semakin lebih baik.
Jangan lupa:
Vote
Like
Koment
Beri hadiah
Rating
Follow IG ku : munthe.maria