Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -15



Erik tampak berusaha meyakinkan diri untuk menyampaikan niatnya.


"Sikahkan diminum!" Marmun meletakkan sirup orange di atas meja kaca sofa.


"Ok siap, thank you." Erik tampak menggerak gerakkan ibu jari kanannya, grogi.


Hening sejenak, Marmun dan Erik bertingkah kaku.


Keduanya saling curi curi pandang, malu malu.


"Owh iya Rik, sebenarnya kamu mau bicarain apa?" Marmun menggaruk garuk jari telunjuk kiri bentuk dari kegrogiannya.


"Kita keluar yok! biar lebih enak ngobrolnya,'' ajak Erik dengan serius, lalu meneguk sirup yang Marmun suguhkan.


Marmun mangut mangut lalu bangkit dari tempat duduknya, kemudian bergegas melangkah ke teras rumah. Erik mengikutinya dari samping kiri.


"Ini kita sudah di luar, so kamu mau ngomongin apa!" ucap Marmun kesekian kalinya.


Erik terdiam sejenak,


Dengan menghela nafas berat, Erik mendekat duduk di samping kiri Marmun, lalu menatap nya dengan dalam.


"Sebenarnya saya ingin ngungkapin rasa yang sudah lama terpendam." Erik tampak menggigit menarik bibir bawahnya kedalam.


Mendengar kata ''rasa" Marmun terlihat gelisah, bibirnya kaku diam seribu bahasa dengan jantung berdetak kencang.


"Saya mau bilang kalau saya suka pada seorang wanita cantik, suara bagus, punya mata indah, jauh sebelum terjadi kecelakaan kala itu." ucap Erik cak canggung,


"Lalu apa hubungannya sama aku!" Marmun terlihat mengerutkan kening.


Erik bergerak memegang kedua tangan Marmun, seraya berkata "Pastinya ada Mar, kamu tahu siapa wanita itu? wanita itu ialah kamu. Saya suka sama kamu!"


Mendengar pernyataan Erik, Jantung Marmun berdegup kencang tak karuan, tangannya gemetaran dan sedikit basah serta wajahnya tampak memerah.


"Ha! sejak kapan?" tanya Marmun,


"Sejak kamu menyanyi di CTC, kamu ingat nggak? saat kamu hendak pulang, di pintu keluar CTC kamu menabrak seseorang, laki laki itu adalah saya!"


Marmun mencoba mengingat kejadian itu, terlihat bola matanya bergerak ke sudut dan melihat keatas.


"Alamakkk itu Erik! Kenapa aku gak sadar?" ucap Marmun dalam hati, ia tersenyum tipis.


"Jadi gimana, kamu mau nggak jadi tajuk mahkota saya?" Erik berharap, ia tampak menaikkan kedua alisnya.


Marmun tak langsung menjawab pertanyaan Erik, sejenak Ia berpikir menimbang nimbang. Walau sebenarnya hati bersorak sorai bahagia.


Sementara Mayri yang berada di dalam taksi blue terlihat menghubungi Marmun, hendak memberi tahu bahwa dirinya telah di perjalanan menuju rumah Marmun.


Marmun tidak mendengar nada dering telepon masuk, sebab HP nya terletak di ruang tamu.


Mendengar nada dering masuk beberapa kali, ibu Marmun bergerak melangkah ke ruang tamu dan di dapatinnya panggilan tak terjawab 10 kali.


"Kak! ini ada panggilan masuk dari Mayri!" ucap Ibu Marmun dengan nada naik 2 oktaf dari nada biasanya sembari meraib HP.


Karena tidak ada sahutan, Ibu Marmun bergerak melangkah ke teras rumah seraya berkata " Kak, ada panggilan telepon dari Mayri!"


Sontak, Marmun melepaskan tangannya dari genggaman Erik, lalu bergerak berdiri.


"Iya mom! bentar!"


"Dari tadi bunyi tuh!" Sang ibu menyodorkan HP lalu bergerak masuk meninggalkan dan melanjutkan kesibukannya.


10 panggilan tak terjawab dari Mayri.


"Sikalapa mau ngomong apa ya? sampe sampe nelepon sebanyak ini!" Marmun berucap pelan.


Erik yang masih terduduk bergerak berdiri seraya berkata "Jadi gimana Mar, kamu mau nggak jadi pacar saya?"


Suasa kembali tegang,


Marmun terlihat menghela nafas panjang, lalu berkata " Asal kamu janji tidak akan mendua, tidak nyakitin aku, yeah aku.."


Mobil yang berhenti tiba tiba di depan pagar rumah membuat Marmun terkaco, dia tidak melanjutkan ucapannya, Erik tampak geram dan kesal.


Dari dalam mobil seorang wanita cantik, putih, panjang rambut keluar, Mayri.


Mayri bergerak mendekat dan betapa ia terkejut melihat sosok Erik ada di situ.


"Kamu ada disini toh Rik! Sejak kapan?" ucap Mayri dengan sedikit senyum.


"Iya May, Maghrib." jawab Erik dengan setengah senyum,


"Owh gitu."


"Tumben kamu main kerumah, ada apa? Btw, tadi aku nggak tahu kalau kamu nelpon, HP di dalam soalnya. Maaf ya!" Marmun bergerak duduk.


"Hmmm, kebiasaan deh! Sering sering aja ya," ucap Mayri dengan wajah berkerut sembari menarik kursi lalu duduk.


Ia bergerutu dalam hati. Lalu dengan cepat jemarinya merangkai kata "Gimana Mar, Mau atau nggak?" tulis Erik lalu mengirimkan ke WhatsApp Marmun.


Sembari ngobrol bareng, Marmun membaca Wa masuk dari Erik, kemudian jemarinya juga merangkai kata "Asal kamu janji tidak akan mendua, I'm Yours" tulis Marmun lalu mengirim kembali.


"Iya, aku janji tidak akan." tulis Erik dengan hati bersorak sorai "YESS".


"Ada urusan apa kesini Rik?" tanya Mayri sembari mengeluarkan HP dari tas pink nya.


"Gak ada urusan apapun, sekedar bersilaturahmi aja May," ucap Erik tanpa menoleh Mayri, dia tampak sibuk chat'ingan dengan Marmun.


Mayri menatap Erik dengan tatapan dalam, mengamati wajah Erik tanpa berkedip.


Sedangkan Marmun sibuk chat'ingan dengan pacar barunya (Erik).


*****


Hari semakin malam, langit semakin pekat, udara dingin semakin menusuk tulang dan suara jangkrik mulai bersenda gurau.


"Baiklah. Kalau begitu saya pamit pulang, sudah larut malam soalnya." ucap Erik sembari melihat jam tangannya.


"Kalapa ginap disini atau pulang? tanya Marmun sembari bergerak berdiri.


"Aku pulang dong Kalapa, kamu tahu lah Zio," Mayri memasukkan HP ke dalam tas nya, lalu bangkit dari duduknya.


"Kalau gitu, kalian bareng aja! rumah kalian kan searah.'' ucap Marmun melirik Erik,


"Boleh kan Rik!" lanjut Marmun.


"Ya pasti boleh," sahut Erik menatap Marmun dengan wajah bersinar, dia tersenyum sipu.


"Ya sudah kalian hati hati! jangan ngebut ngebuat!" ucap Marmun sembari melirik Erik dengan senyum menggoda.


"Tolong kamu antar sahabat aku ini dengan selamat, tanpa tergores sedikit pun!" Marmun memeluk dengan erat.


"Siap tuan putri!" ucap Erik sembari menepuk zidatnya, ia nampak menyipitkan mata kanannya.


Seperti nya Marmun dan Erik tak ingin siapa pun mengetahui hubungan mereka.


Sebelum pergi, Mayri dan Erik pamit ijin pulang pada ibu Marmun.


"Kami balik ya kalapa, sampai ketemu besok!" ucap Mayri sembari bergerak berjalan, lalu ia melambaikan tangan.


Keduanya bergerak masuk ke dalam mobil, lalu pergi.


Sedangkan Marmun bergerak masuk ke kamarnya, merebahkan badan di atas kasur empuk dengan wajah berseri-seri.


Disisi lain, Mayri juga tampak sangat bahagia bisa berduaan dengan laki laki pujaan hatinya selama beberapa jam tanpa ada nyamuk pengganggu.


"Rik, kamu sudah punya pacar nggak sih?" tanya Mayri ingin tahu,


Erik membalas dengan senyuman.


"Lahhh pie toh, ditanya malah senyum,"


"Btw apa kabar dengan Rivan! Kalian masih komunikasi kan? Sebenarnya itu anak baik lho," ucap Erik mengalihkan pembicaraan sembari memacu kecepatan mobilnya.


"Nggak tahu, masih hidup atau kagak! lagian kenapa jadi bahas dia sih, nggak penting amat!" Mayri terlihat bete.


"Ya elahh gitu aja ngambek, saya kan cuma nanya. Saya pastikan kalian lagi berantem kan!" ucap Erik dengan serius.


Mayri terdiam, menghiraukan ucapan Erik.


Ia terlihat merangkai kata, mengirim pesan ke WA Marmun.


"Kalapa! gimana ini aku deg-degan dekat Erik, jantungku juga berdebar kencang. Sepertinya aku suka sama dia❤️," pesan Mayri.


Terima kasih sudah membaca🙏🙏 Jangan lupa beri saran/ masukan supaya karya menjadi lebih baik.


Jangan lupa:



Vote


Like


Koment


Beri hadiah


Follow IG ku : munthe.maria