Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -50



4 Jam setelah tak sadarkan diri,


Marmun tersadar saat semua insan tertidur. Meski badan masih terasa lemas, kepala sedikit pusing, ia bergerak bangun dan turun dari bed pasien setelah melepas jarum yang tertancap pada area pergelangan tangannya.


Tampak Mbok Ria menemaninya. Tertidur berbantalkan tangan yang bersandar pada bed pasien.


"Aduhh! kepala ku, pusing!" Ucapnya memijit kening. Dia meneruskan langkah menuju ruang intensive care tanpa perduli kondisinya yang belum stabil.


Marmun menyelinap masuk saat petugas lengah menjaga. Memandang lebar Erik yang tergeletak kaku di atas bed pasien.


Ia melangkah kecil dengan tatapan kosong. Seketika air bening mendesak keluar dari kelopak matanya.


"Maaf, maaf, maaf bee." Tangis Marmun pecah. Dia sangat menyesal atas sikap yang dianggapnya bodoh dan jahat.


"Bangun be, bangun! Kamu bisa dengar aku kan, tolong bee, bangun! Aku gak marah lagi, aku gak bakalan nuduh kamu selingkuh. Aku janji.'' ucap Marmun sembari mengusap air mata.


"Kalau kamu bangun, aku mau kita langsung nikah! Mau kan!'' ucapnya tertawa menangis.


Erik tak menunjukkan respon, tak terlihat sedikipun perubahan pada monitor. Sepertinya arwahnya sedang melanglang buana ke antah berantah.


"Kenapa diam Rik, kenapa? Apa memang ini yang kamu mau, pergi meninggalkan ku tanpa pamit, iya?'' Marmun merembah air mata sembari mengelus wajah yang ditumbuhi rambut halus itu dengan hati sesak.


"Ya sudah lah, lanjutkan aja tidurmu. Mungkin kamu capek. Saat tenagamu pulih, bangunlah." ucapnya dengan tatapan kosong.


Cukup lama ia menatap kekasihnya itu, hingga hari sudah subuh.


Dalam lelahnya mata, seorang berbaju putih masuk dengan sebingkai papan tulis kecil di tangan kiri nya.


"Lohhh, mbbak ngapain disini? Maaf, untuk saat ini pasien belum bisa di jenguk sebab kondisinya masih sangat rentan. Jadi mbbaknya silahkan keluar." pinta perawat jaga.


"Gak! Suster salah. Dia hanya tidur doang, bentar lagi dia pasti bangun. Jadi aku harus nunggu dia disni," Marmun kekeh tak mau keluar.


Meskipun perawat sudah menjelaskan semua demi kelancaran kesembuhan pasien, Marmun tetap bersikeras tak mau keluar hingga akhirnya perawat memanggil petugas keamanan rumah sakit (Security).


"Pak, tolong bawa mbbak ini keluar." ucap perawat dengan tegas.


"Ayok Bu!" Security membawa paksa keluar.


"Gak! Aku ingin disampingnya, please lepasin!" Marmun berontak.


Mendengar keributan, Sisca yang tertidur di kursi tunggu dekat pintu ruang ICU sontak terbangun. Dia bergerak bangkit dengan mata setengah Watt.


"Tunggu..tunggu! Ini ada apa pak, kok di tarik keluar begitu!" ucap Sisca dengan mengernyitkan dahi.


"Ibu ini sudah menyelinap masuk bahkan membuat keributan yang menggangu kesehatan pasien. Selama pasien masih koma, tidak boleh dikunjungi dengan sembarang harus mengikuti prosedur." terang Security. Dia masih memegang erat tangan Marmun.


Marmun tertunduk sedih, sedangkan Sisca menatap kasihan padanya.


"Maaf ya pak, dia calon istri dari pak Erik (pasien). Wajarlah bersikap begitu. Coba kita ada di posisi dia, pasti akan melakukan yang sama, bukan! Berada di samping pasien membuat hatinya sedikit tenang. Jadi saya mohon lepasin dia pak!" ucap Sisca tenang.


''Baiklah, tolong jangan membuat keributan." Security pergi melanjutkan tugasnya.


Secara bersamaan, Marmun melangkah duduk pada kursi ruang tunggu. Dia tampak mengusap kasar wajahnya. Sisca mencoba menenangkan kekasih bos nya itu dengan dekapan hangat serta rangkaian kata penyemangat hidup.


Disisi lain, bersamaan dengan terbitnya mentari fajar, Mayri tampak memandang sebingkai poto jadul dirinya dan Marmun. Dia memandang seksama, meraba wajah sahabatnya yang tertuang dalam kertas glossy itu. Lalu memasukkannya dalam kotak medium bertutup bersama dengan secarik kertas yang terorek pena.


Dari ujung pintu, Zio datang dengan keusilannya. Memakai baju favorit sang kakak yang telah ia rusak dengan menggunting sebagian sisi baju. Dia bergerak melangkah tak seimbang menggunakan high heels memperodikan gerak jalan sang kakak.


"Hallo kakakku cantik, gimana cucok nda?" Zio bergerak mendekat ke Mayri.


Melihat bajunya hancur tak bermodel, spontan Mayri bergerak berdiri dengan mata melebar menganga, tangan memegang kepala, syok.


"Bajuku," Mayri berdecak kesal.


Zio tersenyum mengedip edipkan mata, bergerak memutar menunjukkan fashion yang ia kenakan itu.


"Loe apain bajuku, Zio! Jahat banget sih, serius! Aku gak habis pikir loh. Saat mau pergi aja, loe masih saja jahat gini. Issss tahe!" Mayri menatap tajam dengan rahang mengeras dan tangan mengepal.


Tak mampu menahan emosi, Mayri bangkit lalu mencubit keras tangan sang adik. Dia menggelitik perut yang menjadi kelemahan laki laki super jail itu.


Zio tertawa terpingkal pingkal, tak mampu menahan rasa geli hingga ia terjatuh.


"Mampus!!"


"Udah dong, please!!" ucapnya tertawa.


"Gak akan! Heeee!" Mayri melampiaskan kejengkelan hati yang tertimbun selama ini akan ke usilan Zio.


Zio terkekeh dengan tangan mendekap perut yang berbalut baju compang camping itu. Sangking tak tahan menahan geli, dia membasahi celana pendek cargonya, ngompol.


Melihatnya, Mayri tertawa terpingkal pingkal, ia menyudahi gelitikan itu.


"Ngompol," Mayri bergerak menjauh dari amisnya urin.


Zio tertawa puas sembari melepas sepatu yang melapisi kakinya. Lalu bergerak berlari masuk dalam kamarnya.


Dari luar pintu kamar, Mayri terus saja terkekeh. Melupakan sejenak kesedihan yang menyelimuti hatinya.


Berselang beberapa menit, Zio kembali dengan pakaian baru.


"Celana basahnya mana?" ledek Mayri.


Zio membalas senyam senyum.


Tak berselang lama, Mayri bergegas pergi. Sebelum melangkah pergi, dia dan sang adik peluk pamit.


"Jaga dirimu baik-baik yah. Disana jangan lama-lama. Aku akan rindu." ucap Zio dengan mata berkaca kaca.


Mayri menjawab dengan mangut sembari mengusap punggung Zio.


Zio mengantar sang kakak hingga masuk dalam taksi. Air mata yang tertahan, kini tumpah membludak, yang menunjukkan bahwa dia sangat sedih ditinggal pergi.


Di sepanjang perjalanan, Mayri terlihat sibuk memikirkan Marmun terlebih Zio, adiknya. Entah apa yang membuatnya seperti itu, tidak seperti biasa. Dia tak henti henti memandang wajah Zio.


Secepat kilat, taksi yang Mayri tumpangi tertabrak oleh pengemudi ugal-ugal.


Entah bagaimana, Mayri terpental keluar dari dalam mobil. Tergeletak di bahu jalan berlumuran darah tak sadarkan diri.


Orang yang melihat kejadian itu berlari berhamburan menghampiri. Tanpa menunggu pihak kepolisian mereka bergegas menyelamatkan nyawa Mayri, membawa ke rumah sakit terdekat.


Sedangkan supir taksi baik baik saja. Hanya terlihat lebam di bagian kepala. Karena dia menggunakan safety belt.


Setengah badan mobil bagian depan si penabrak penyot hancur. Begitu juga dengan si pemilik. Terlihat terjepit stir.


Terima kasih sudah membaca 🙏🙏 Jangan lupa tinggalkan saran/masukan nya supaya karya menjadi lebih baik.


Jangan lupa:



Vote


Like


Koment


Beri hadiah


Jangan lupa follow IGku : munthe.maria