Shy Girl

Shy Girl
9. Perpustakaan



Sudah seminggu aku berada di kelas neraka ini. Pagi-pagi sekali aku sudah berada di dalam kelas. Walau kelas ini tampak sepi dan juga menyeramkan bagi sebagian orang. Tapi menurutku sekolah ini cukup menenangkan.


Aku duduk sambil membaca novel. Lagi pula diwaktu seperti ini sangat pas untuk melanjutkan membaca novelku hingga habis. Tapi tiba-tiba kepala Ulfa muncul dari celah pintu sambil tersenyum lebar. Hingga membuatku melonjak kaget. Dengan jantung berdegup kencang.


"Astaga!" Pekikku sambil melihat wajahnya yang tampak tak bersalah.


"Hehehe...." Dia melangkah masuk sambil melihat isi kelasku yang masih kosong.


"Tumben berangkat pagi?" Tanyaku heran karena Ulfa teryata bisa berangkat pagi. Padahal di kelas 10 dia hampir setiap hari datang terlambat.


"Tobat, udah kelas 11," ujarnya santai sambil memasuki kelasku lebih dalam lagi. Matanya terus bergerak-gerak mengamati tempelan-tempelan. Struktur organisasi yang tertempel di sana. Lalu ia melihat jadwal piket yang tertempel tak jauh dari struktur organisasi.


"Yang piket hari ini pada kemana?" Tanyanya sambil melihat ke arahku.


"Nggak tau," sahutku sambil mengedikkan bahuku. Toh, ini bukan tanggung jawabku.


"Kelasmu isinya cowok-cowok berandalan, ya."


Aku mengembuskannya nafas lelah. "Iya."


"Kamu piket hari Selasa?" Aku mengangguk.


"Bukannya dia lihat sendiri ada namaku di hari itu. Kenapa pake tanya," batinku. Aku sudah tidak bisa fokus lagi membaca. Makanya aku masukkan kembali novelku ke dalam tas.


"Elang di kelasmu ternyata." Aku langsung melihat wajah Ulfa yang masih fokus melihat nama-nama penghuni kelas neraka ini.


"He'em."


"Padahal gengnya ada di kelasku semua," ujar Ulfa. Ia berbalik dan menghampiriku.


Sebelah alisku terangkat. Ulfa tahu gengnya Elang? Aku saja tidak tahu.


"Kasihan Elang, di sini sendirian," lanjutnya.


Elang itu mudah bergaul. Dan selama ini dia terlihat baik-baik saja.


"Harusnya aku yang kasihan," rengekku yang hanya aku perlihatkan kepadanya.


Ulfa tampak terkekeh sambil menganggukkan kepalanya.


"Maaf, harusnya aku kasihan sama kamu."


"Gimana seminggu di kelas ini?" Tanyanya sambil menggodaku.


"Telingaku agak sakit," ujarku seraya mengelus telingaku.


"Untung di kelas ini ada Elang. Kalo nggak, mungkin aku sudah tidak kuat lagi," ujarku dalam hati. Aku sengaja tidak memberitahukan pada Ulfa kalau aku suka dengan Elang. Karena mulutnya bisa saja bocor. Dan memberitahukannya kepada Elang secara langsung.


"Fa," panggil seorang gadis di pintu.


"Apa, Ver?" Ulfa menatap gadis tadi.


"Gue pinjem buku lo," ujarnya sambil nyengir di ambang pintu.


"Entar, di kelas aja," ujar Ulfa kepada gadis tadi.


"Han, aku ke kelas dulu ya," ujarnya. Aku pun mengangguk.


"Hati-hati di kelas sendirian, jangan bengong. Ntar...." Ulfa bergidik ngeri memandang kelasku setelah itu Ulfa langsung berlari ke kelasnya. Sambil berteriak kepada gadis tadi. "Tungguin woy!"


Kelas jadi hening kembali. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi. Tapi belum ada juga yang datang. Lalu mereka datang secara bersamaan tidak lama kemudian. Hingga kelas yang tadinya sepi menjadi gaduh seketika. Aku menghela nafas kasar. Kalo sepi terlalu sepi. Kalo rame terlalu rame. Telingaku yang belum terbiasa dengan situasi ini menjadi berdenging.


Entah sejak kapan, Elang tiba-tiba duduk di sebelahku dan menatapku dengan alis bertaut. Arah pandangannya tertuju ke arah novel yang aku baca.


"Elo baca beginian?" Tanyanya seraya mengangkat novel di depanku. Akupun mengangguk dengan gugup.


"Iya," sahutku kemudian.


Akupun mengangguk seraya mengulum senyum. Sudah jelaskan kalau aku suka membaca.


"Oh ya juga ya," ujarnya seraya terkekeh renyah. Dia tampak menggaruk tengkuknya malu saat menyadari pertanyaannya barusan.


Suasananya menjadi hening diantara kami. Dia tampak mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di meja. Sepertinya dia bingung mau memulai pembicaraan dari mana. Sedangkan aku memang tidak pandai memulai pembicaraan lebih dulu.


Lalu tak berapa lama bel masuk berbunyi. Elang pergi dari kursi Avi karena sang pemilik kursi datang hendak mendudukinya.


***


Kami semua berjalan menuju ke perpustakaan saat istirahat untuk mengerjakan soal yang diberikan Bu guru.


Udara sejuk langsung menerpa wajahku saat memasuki perpustakaan. Di tempat itu sangat sejuk dengan adanya pendingin ruangan. Yang di tempatkan menempel di dinding.


Kebetulan cuaca hari ini begitu panas. Jadi sangat membantu mendinginkan suhu tubuh yang kepanasan. Aku dan Avi berpencar untuk mencari buku yang kami butuhkan untuk mengerjakan soal.


Aku memilih pergi ke arah belakang. Mataku mengedar mencari buku kami cari di antara buku-buku yang begitu banyak. Ku buka satu persatu buku itu dan membacanya dengan teliti. Namun belum juga ketemu yang sesuai dengan yang aku cari.


Ku lihat semuanya justru asik berbaring menikmati sejuknya pendingin ruangan. Lalu ada juga yang sudah memulai menulis.


Tiba-tiba Avi datang mendekati ku.


"Han, bukunya yang seperti itu." Tunjuknya ke arah buku yang ada di dekat seseorang yang sedang menulis itu.


"Ya udah kita cari lagi," ujarku seraya mengamati buku-buku yang berjejer itu dengan teliti.


"Aku cari dibagian sana ya," ujar Avi seraya berjalan ke arah rak yang lain.


Dan aku pun mengangguk.


Jari-jariku menyentuh deretan buku yang berjejer rapi. Lalu mataku beralih ke rak bagian bawah. Sepertinya buku yang aku cari berada di bagian bawah. Tanpa menunggu lama lagi. Aku berjongkok dan mengambil buku itu. Membukanya dan membacanya dengan teliti.


Senyumku merekah, karena buku yang aku cari akhirnya dapat juga. Tanpa aba-aba aku langsung saja berdiri.


Bruk!!


"Akh!! Pekikku kencang saat kepalaku menabrak buku dengan kencang. Hingga buku itu jatuh di lantai. Dengan cepat aku mengusap kepalaku.


"Elo nggak pa-pa?" Tanya Elang dengan nada khawatir. Aku tidak tahu kalau ternyata ada di belakangku.


"Ng... Nggak pa...pa," ujarku gagap. Mungkin karena efek terkejut dan juga sakit akibat benturan di kepalaku dengan buku tebal itu.


"Sorry... Gue bener-bener nggak sengaja," ujarnya lagi. Sepertinya Elang tidak percaya denganku. Mungkin karena aku masih meringis seraya menyentuh kepalaku.


"Gue anterin elo ke UKS ya?"


"Nggak perlu. Sakitnya paling cuma sebentar kok," balasku seraya mencoba tersenyum.


"Lo duduk dulu." Tanpa persetujuan dariku. Dia mengambil buku tebal yang tergeletak di lantai seraya merebut buku yang aku pegang. Lalu menarikku dan menyuruhku duduk di kursi.


Avi berjalan mendekat.


"Udah ketemu bukunya?"


"Udah," balasku seraya meringis karena masih merasakan denyutan.


"Mana coba, aku lihat dulu." Avi mengambil buku itu dan mulai membacanya dengan begitu serius.


Lalu Elang mengambil duduk di kursi di sampingku.


"Kepalanya masih sakit?" Tanyanya dengan tatapan khawatir yang begitu terlihat.


"Udah nggak sakit kok," balasku seraya menggelengkan kepala.