
Elang POV.
Seumur-umur baru kali ini gue uring-uringan. Dan yang bikin gue uring-uringan bukan pacar gue sendiri. Tapi Hani.
Entah sihir apa yang dia pake buat menjerat mata dan hati gue akhir-akhir ini. Rasanya gue jadi pengen cepet-cepet berangkat sekolah biar bisa liat wajahnya yang manis itu. Padahal ke Vera aja gue nggak pernah ngerasa kayak gitu.
Gue malah biasa-biasa aja sama Vera. Bahkan nggak ketemu seminggu gue santai aja. Malah gue ngerasa bebas. Masalahnya Vera itu tukang ngatur dan menyebalkan. Gue merasa terkekang kalo sama dia. Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit nuduh selingkuh. Capek aja rasanya.
Padahal Vera dulu nggak kayak gitu. Dia temen yang asik kalo diajak ngobrol. Tapi setelah berganti status jadi pacar. Dia makin nyeselin setiap harinya.
Satu pertanyaan yang akhir-akhir ini terus menghantui gue.
Sebenernya gue cinta nggak sih sama Vera? Atau gue cuma suka aja, nggak lebih. Gue menggaruk-garuk kepala gue dengan kencang. Semakin dipikirkan justru semakin membuat kepala gue pusing seketika.
Akh!!!
"Hani... Hani... Kenapa wajah Lo semakin hari tambah cantik aja. Senyum Lo makin manis, dan gue nggak rela kalo elo jalan sama Agam." Gue bangun dari posisi tidur. Lalu gue ambil jaket sama kunci motor. buru-buru gue mengendarai motor membelah jalanan malam. Rencananya gue mau ke rumah molor main PS sampe pagi. Tapi pada akhirnya gue malah duduk di atas motor di depan rumah Hani dengan jarak cukup jauh sambil liatin rumah itu, siapa tahu gadis yang gue kangenin keluar rumah. Gue nunggu cukup lama tapi yang gue tunggu nggak keluar-keluar juga.
"Apaan sih gue ini, jelas Hani nggak bakal keluar. Dia aja nggak tahu kalo gue dateng." Gue menoyor kepala gue sendiri saking bodohnya.
Di saat gue lagi pake helm. Tiba-tiba entah kebetulan atau memang takdir. Hani keluar rumah pake jaket ungu sambil berjalan kaki. Karena penasaran akhirnya gue ikutin dari belakang. Sepertinya dia nggak sadar ada gue dibelakangnya. Dia jalan sambil fokus ke arah depan. Sengaja motor gue tinggal di tempat tadi. Jadi suara bising motor nggak akan bikin Hani curiga.
Sepanjang perjalanan yang mulai sepi dia bernyanyi dengan suara lirih. Mungkin takut menggangu orang-orang atau bisa juga karena dia malu. Suaranya mengalun dengan merdu, kali ini dia lebih santai dan menikmati setiap suara yang ia keluarkan. Jadi nyanyiannya kali ini lebih merdu dari penampilannya waktu itu. Gue terus tersenyum sepanjang perjalanan sambil menatap punggungnya.
Gini aja gue udah deg-degan. Padahal gue sama dia nggak ada hubungan apa-apa. Pertama kali lihat Hani, gue merasa Hani gadis yang pemalu dan penyendiri. Makanya gue berusaha nemenin dia yang keliatan kesepian. Tapi terkadang dia lucu kalo gue deketin. Wajahnya pasti memerah karena malu dan buru-buru menunduk. Suaranya juga tidak terlalu kencang hingga gue ngerasa jadi cowok budeg.
Dari kasihan kenapa berubah jadi perasaan lain?
Diam-diam gue memegang dada kiri gue perlahan sambil menatap punggungnya.
Deg...deg...deg....
Jantung gue berdetak dengan kencang tapi nggak menyakitkan. Justru gue ngerasa asing dengan detak jantung ini. Dengan Vera aja gue nggak pernah ngerasain ini, bahkan dengan mantan-mantan gue yang lain.
Apa ini yang namanya jatuh cinta? Jujur gue udah sering pacaran. Tapi kalo jatuh cinta, sepertinya gue baru ngerasain sekarang. Bukan dengan pacar gue saat ini, tapi dengan gadis di depan sana.
Apa ini udah termasuk selingkuh?
Apa gue salah milih pacar selama ini?
Apa karena gue milih pacar menggunakan logika?
Menurut gue cewek yang asik diajak ngobrol bakalan asik juga dijadiin pacar. Tanpa melibatkan hati sama sekali gue tembak Vera. Itulah kesalahan gue. Padahal hati gue yang butuh. Kenapa logika gue yang milih? Ternyata gue cowok yang aneh. Kenapa gue baru sadar sekarang ya?
Sadar ketika status gue udah nggak jomblo lagi. Nyesel banget.
Deketin Hani gue selingkuh...
Kurang asem tuh, mantan ketua OSIS. Tanpa sadar tangan gue mengepal erat. Membayangkan dia sama Hani di kantin sambil ngobrol panjang lebar. Apa lagi pas si kunyuk itu sok-sokan ngebersihin mulut Hani yang belepotan. Pengen gue timpuk wajahnya pake mangkok sambel.
Gue sembunyi saat Hani tiba-tiba menengok ke arah belakang. Untung gue tepat waktu. Kalo nggak gue bakal ngomong apa sama dia. Masa gue tiba-tiba nongol di belakanganya.
Dia tampak mengerutkan keningnya seraya mengedarkan pandangannya. Pipinya menggembung dengan lucunya bikin gue gemes. Lalu ia kembali melanjutkan perjalanannya.
Sebenarnya dia mau kemana malam-malam begini?
Gue langsung tahu jawabannya saat dia masuk ke dalam minimarket. Gue tungguin di luar sambil liatin dia yang lagi milih barang. Wajahnya gemesin banget terlihat dari kaca minimarket yang transparan. Tampaknya dia lagi kebingungan milih barang. Dia menatap ke barang yang ada di tangan kirinya sebentar lalu pindah ke barang tangan ada di tangan kanannya dengan kening berkerut.
Matanya bergerak-gerak mengikuti alur tulisan yang tercetak di setiap barang yang ingin dia beli. Pipinya menggembung dengan bibir mengerucut. Sekitar dua menit barulah ia bisa memilih salah satu barang.
Tampak Hani keluar dari minimarket seraya membawa kantong plastik. Gue berjalan di belakangnya diam-diam.
"Neng," panggil salah satu cowok yang kini bergerombol di atas motor.
Hani tetap berjalan tanpa menghiraukan panggilan cowok itu. Kepalanya menunduk dalam dengan langkah yang semakin dipercepat. Dia pasti tidak nyaman. Tapi cowok itu tiba-tiba mengejar Hani dan mencekal lengannya.
Gue menggeram marah. Tapi gue mau lihat gimana Hani mengatasi cowok itu.
"Sombong banget sih," ujar cowok itu sok keren.
"Sendirian aja, Abang temenin ya." Hani berusaha melepaskan cekalan cowok itu dengan susah payah. Tapi sepertinya tidak berhasil.
Hani tampak berbicara. Tapi gue nggak bisa denger apa yang dia omongin. Yang gue tahu cuma kepalanya menggeleng tanda menolak.
"Nggak pa-pa neng, Abang anterin pake motor ya." Terlihat cowok itu semakin memaksa. Sedangkan teman-temannya yang masih duduk di atas motor tampak tertawa terbahak-bahak.
"Nggak bisa dibiarin, gue musti turun tangan langsung," gumam gue kesal. Kedua tangan gue terkepal kuat. Rasanya gue pengen mukul muka sok kegantengan cowok itu. Yang udah berani-beraninya godain Hani di depan mata gue secara langsung.
"Nggak makasih," tolak Hani dengan suara pelan. Wajahnya tampak panik dan ketakutan.
Ehemm ehemm
"Yang, kenapa aku ditinggal?" Ujar gue hingga membuat Hani dan cowok itu menengok ke arah gue secara bersamaan.
Wajah Hani tampak terkejut sebentar lalu beberapa detik kemudian dia tampak lega.
"Elang," cicitnya dengan tatapan mata tertuju ke arah gue meminta bantuan. Tanpa dia bicara pun gue pasti membantunya.
"Sorry bang, pacar gue kalo jalan emang suka cepet-cepet. Gue aja ditinggalin," ujar gue sok akrab. Gue melepas cekalan tangan cowok itu. Dan menggandeng tangan Hani yang sedingin es. Saking takutnya.
"Permisi bang," ujar gue santai seraya tersenyum. Walau sebenarnya hati gue dongkol pengen bogem mukanya. Tapi setelah lihat wajah ketakutan Hani. Gue jadi mengurungkan niat gue itu. Gue nggak mau Hani tambah ketakutan lihat gue ngehajar tuh cowok dengan membabi buta.