Shy Girl

Shy Girl
1. Aku dan Awal Mula



Namaku Hani, umur 16 tahun. Tidak ada hal yang spesial dari diriku. Aku termasuk gadis biasa-biasa saja. Tidak pintar dan tidak populer. Aku hanyalah remah-remah rangginang gosong yang akan selalu tersingkirkan.


Hobiku adalah melihat cowok yang aku suka dari jauh. Karena aku termasuk gadis yang pemalu. Dan aku pun susah untuk bergaul. Bukan inginku menjadi pemalu seperti ini. Tapi memang sifatku yang satu ini tak bisa aku rubah.


Cowok itu bernama Elang Mahardhika, cowok ganteng dengan senyuman khasnya. Ini semua berawal dari ketika aku masih duduk di kelas sepuluh.


Ini bukan kisah cinta Dilan-Milea.


Ataupun kisah cinta Habibie-Ainun.


Ini hanya kisahku dan dia. Hani dan Elang.


Waktu itu aku dan beberapa teman kelasku sedang  mencabuti rumput liar yang  tumbuh di depan kelas. Karena saat itu sedang diadakan lomba kebersihan kelas setelah mengikuti UAS.


Matahari semakin meninggi dan masih banyak rumput liar yang harus dicabut. Padahal ini masih jam 10 pagi, tapi matahari sudah begitu membakar kulit. Seandainya anak laki-laki di kelasku ikut membantu, maka kegiatan ini akan cepat selesai.


"Gila!" Jeritku dalam hati. Benar-benar kelas  yang kompak. Aku dan keempat cewek sibuk mencabuti rumput dengan keringat yang menetes deras. Dan para cowok malah melenggang dengan santai menuju ke kantin tanpa mengerjakan pekerjaan apapun. Dari 17 siswa cowok di kelasku, tidak ada satupun yang membantu.


"Hey, Adi. Tolong buangin sampah ini ke belakang sekolah!" Seru Veni. Ketua kelas yang kini menatap Adi dengan sorot tajam. Sepertinya ia sedang mengeluarkan sisi kepemimpinannya.


Adi tampak melirik sekilas tong sampah yang berisi rumput-rumput yang berhasil dicabuti.


"Yang lain saja, aku sibuk," tolaknya dengan enteng. Veni yang mendengar penolakan itu tampak geram.


"Den, kamu aja yang buangin." Adi melempar perintah ke cowok yang berdiri di sisi kanannya.


Cowok itu memandang tong sampah itu dengan raut ngeri. Seakan-akan tong sampah itu monster yang sangat menakutkan.


"Nggak... Nggak... Kamu aja Di. Aku juga sibuk," tolaknya.


"Kalian sibuk apa, sih?" Veni berdiri dari posisi jongkoknya dengan mata melotot sambil berkacak pinggang.


Aku juga berpikiran sama seperti Veni. Sibuk apa mereka semua? Bahkan dari tadi mereka asik merusuh di dalam kelas dan tidur-tiduran sambil mendengarkan musik. Sehingga menggangu acara bersih-bersih kami. Lalu dibagian mananya yang sibuk itu.


"Pokoknya kita berdua sibuk. Kamu kalo mau nyuruh-nyuruh. Mending cari yang lainnya aja." Setelah mengatakan seperti itu. Mereka berdua pergi tanpa menghiraukan teriakan Veni yang menggelegar.


"Emang keterlaluan tuh cowok-cowok. Kelas kita harus menang." Aku melihat kobaran api di kedua mata Veni penuh obsesi.


Aku salut dengan cewek yang satu itu, dia cewek yang pemberani dan berjiwa pemimpin. Andai aku juga memiliki sifat seperti itu. Veni berjongkok dengan raut wajah kesal. Aku sampai menatap horor Veni yang mencabuti rumput dengan bringas. Seolah-olah ia sedang menyalurkan kekesalannya.


"Heran. Masa duduk-duduk di kantin sambil makan. Mereka bilang sibuk. Cih." Veni masih saja kesal dengan kelakuan cowok-cowok.


"Udah lah, mending kita cabuti sendiri dari pada makan hati minta tolong sama cowok-cowok," sahut Intan.


"Tapi aku kesel banget," ujar Veni dengan wajah merah.


Aku menghela nafas lelah. Masih banyak yang harus dibersihkan. Ini semua karena cowok-cowok selalu membuat onar dan mencorat-coret meja dan membuang sampah di dalam laci. Benar-benar kelas yang sangat kotor. Tak tahu berapa kali mereka menguras isi laci penuh sampah itu. Tapi menurutku mereka tidak pernah membuang isi laci ke tempat sampah. Hingga banyak sekali sampah bahkan hewan menjijikkan bersarang di dalam sana. Mungkin sampah-sampah itu sudah berada di dalam sana satu tahun lamanya.


Iyuh! Jijay!


Dan sekarang, kami para cewek-cewek yang harus membersihkan semua kekacauan itu. Kalau tidak ada lomba membersihkan kelas ini. Aku juga tidak akan pernah sudi membersihkan sampah-sampah itu.


"Eh, Lang. Tolong buangin sampahnya, udah penuh nih." Suara seorang gadis menarik perhatianku. Aku mendongakkan kepala dan melihat sekumpulan gadis di kelas sebelah yang berjongkok sambil mencabuti rumput dan satu cowok yang berdiri di depannya. Mungkin cowok itu yang dimintain tolong gadis tadi.


Aku tebak cowok itu akan menolak seperti halnya cowok dari kelasku.


"Oke, sini gue buangin," ujarnya dengan santai tanpa ada raut keterpaksaan di wajahnya.


Aku melongo dengan mulut terbuka lebar. Tebakanku meleset jauh.


Amazing!


"Ton... Anton. Sini bantuin bawa tong sampah!" Teriaknya dengan pandangan ke arah seorang cowok yang berdiri di dekat pintu sambil memainkan ponselnya.


Cowok di sana tampak menggeleng. Menolak si Langlang itu. Dan bukannya marah, si Langlang itu malah menghampirinya dan melingkarkan tangannya di leher cowok yang memegang ponsel itu. Si Langlang menyeretnya dengan paksa sambil menunjukkan cengirannya. Hingga dengan terpaksa si Anton itu mau ikut.


Pada akhirnya kedua cowok itu membawa tong sampah penuh rumput pergi melewatiku. Bahkan bau parfumnya tercium oleh hidungku. Dan karena kejadian kecil dan aneh ini. Jantungku berdetak kencang. Entah ini perasaan apa. Jujur aku belum pernah merasakan hal  seperti ini sebelumnya.


Diam-diam aku memperhatikan setiap langkahnya hingga punggungnya mengecil.


Apa ini yang dinamakan jatuh cinta? Tapi ini pertama kali aku melihatnya. Cowok yang tampak berbeda dari cowok kebanyakan dan sedikit banyak telah menyentil hatiku yang kosong dan tak berpenghuni ini.


Gila!


Aku benar-benar baru tahu kalau aku terlalu gampang jatuh cinta. Padahal baru melihat cowok mau disuruh bawa tong sampah saja. Dan aku langsung jatuh cinta padanya saat itu juga.


Aku mengenyahkan segala pikiran konyol ini dari isi kepalaku. Aku tidak mungkin jatuh cinta kurang dari 10 menit dengan cowok yang baru saja aku lihat.


Lalu kenapa jantungku berdetak kencang saat melihat wajahnya tadi. Perang batin tak terelakkan. Satu sisi dari diriku mengatakan itu bukan jatuh cinta. Mungkin efek parfum yang terhirup oleh hidungku. Tapi sisi diriku yang lain mengatakan ini jatuh cinta. Lebih tepatnya cinta pada pandangan pertama.


Aku bingung.


Tidak ada yang mengajarkanku tentang perasaan menggelitik ini. Jika benar aku sudah jatuh cinta. Maka masa SMA ku tidak akan biasa-biasa saja seperti pada masa SMP.


Satu pertanyaan muncul di otakku. Siapakah nama cowok itu. Tidak mungkin namanya Langlang. Dan hari ini aku putuskan akan mencari tahu perasaanku dan juga siapa namanya.


**Jangan lupa like dan vote**