Shy Girl

Shy Girl
54. Wajah asli



Elang POV


"Hahaha." Gue tertawa terbahak-bahak karena dengerin cerita Rangga yang absurd banget.


"Elang."


Gue terkejut karena ada yang manggil nama gue. Gue nengok ke arah belakang. Di sana ada si kunyuk yang ngeliatin gue dengan tajam. Gue menyeringai. "Hei bro," sapa gue dengan mengangkat sebelah tangan gue sok akrab.


"Aku mau ngomong." Wajahnya kaku kayak kanebo kering. 


"Yaudah, ngomong aja mantan ketua OSIS," balas gue dengan nada mengejek.


"Tapi bukan di sini," kata si kunyuk setelah mengamati sekitar yang ramai lalu dengan seenaknya sendiri dia keluar kantin.


Cih... Menyebalkan.


"Lang, ada urusan apa elo sama Agam?" Tanya Afif dengan wajah penasaran.


"Kepo Lo," balas gue seraya berjalan keluar ngikutin si kunyuk yang satu itu.


***


"Ada urusan apa elo manggil gue?"


"Aku cuma mau kamu jauh-jauh dari Hani," kata si kunyuk dengan kurang ajarnya. Emang dia siapa? Kakak Hani, bukan. Pacar, apalagi. Lalu apa hak dia perintah-perintah gue.


"Bisa nggak sih, nggak usah pake aku-kamu. Gue geli dengernya. Lagian tenang aja, di sini cuma ada elo sama gue doang kok. Gue jamin image Lo sebagai cowok teladan dan sopan masih berlaku selama gue nggak nyebarin ke semua orang sifat asli lo." Gue bersandar di tembok belakang sekolah seraya melipat kedua tangan gue.


"Heh, jadi elo tau gue. Baguslah kalo gitu. Gue nggak usah capek-capek lagi buat akting." Si kunyuk menyeringai.


"Btw, elo kok bisa tau gue yang sebenernya?" Katanya dengan tampang yang sangat menyebalkan.


"Bukan urusan elo gue tau dari mana," jawab gue sombong.


"Ibarat pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat pada akhirnya jatuh juga. Gue betul kan?" Balas gue sok pinter.


"Tumben otak anak IPS digunain," ujarnya dengan nada mengejek. Ternyata si kunyuk lagi bales dendam.


"Kasian banget semua orang di sekolah ini ya, kecuali gue tentunya. Mereka bisa ketipu wajah palsu lo. Mu-rid te-la-dan," ujar gue balas mengejeknya dengan mengeja dua kata terakhir.


"Tentu aja karena gue hebat," ujarnya dengan wajah bangga seraya duduk di meja yang udah nggak terpakai yang sengaja di tumpuk di belakang sekolah.


"To the poin aja lah, apa maksud Lo main perintah gue seenak jidat Lo sendiri buat jauhin Hani. Emang elo siapanya Hani?" Entah kenapa gue jadi emosi waktu liat wajah asli si kunyuk itu.


"Gue akui elo lawan paling berat buat gue. Tapi inget baik-baik. Gue nggak akan biarin Hani sama elo. Karena apa? Karena seseorang yang udah gue jadiin target harus jadi milik gue."


"Nggak bisa gitu dong bro," ujar gue mencoba mengontrol emosi gue.


"Nggak bisa kenapa? Dari awal gue udah ngincer Hani duluan. Terus tiba-tiba aja elo putus dari cewek centil itu demi deketin Hani. Jelas gue nggak terima." Dia menyeringai dengan lebar. Sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat dari Agam yang semua orang tau. Untung gue udah tau sifat asli tuh orang. Jadi gue nggak akan tertipu wajah kalemnya dengan mudah.


"Gue baru sadar kalo Hani itu cantik. Jadi apa salahnya kalo gue deketin dia. Lagian gue jomblo, apa salahnya coba," jawab gue dengan sedikit mengulas senyum.


"Salah, karena elo deketin cewek yang gue mau." Wajahnya merah dengan tangan terkepal kuat menatap gue dengan tatapan tajam.


Gue mendengus kencang. "Tapi gue ngerasa kalo Hani suka sama gue." Pancing gue supaya dia memperlihatkan wajah aslinya.


"Jangan pernah macem-macem sama gue. Elo pikir gue nggak tau perbuatan licik elo sama temen Lo waktu itu di mal."


"Jadi elo udah tau semuanya," balas gue nggak begitu terkejut.


"Gue nemuin elo cuma mau ngasih peringatan aja." Dia turun dari meja itu dan berlalu ninggalin gue sendirian.


"Cih... Dia pikir gue takut apa," gumam gue kesal.