
Setelah hari di mana kami dituduh malas mengerjakan tugas. Sejak saat itu sikap Bu Endang sangat sinis kepada kami semua. Dia akan mengunggulkan kelas lain dan membandingkannya dengan kelas IPS 4 dengan nada sindiran yang begitu kental.
Maka dari itu, ulangan Minggu depan aku ingin membuat Bu Endang tidak lagi meremehkan kelasku lagi. Tapi bagaimana caranya?
Ku ketuk-ketuk bolpoin ke atas meja belajar seraya melihat tulisan yang tercetak di buku. Di mana bab inilah yang akan dipelajari untuk ulangan harian Minggu depan.
Sebagai ketua kelas yang baru aku harus bisa merubah citra kelas yang sudah dicap buruk di mata Bu Endang menjadi lebih baik. Setidaknya tidak ditatap dengan sorot mata remeh.
"Tapi gimana caranya?" Tanyaku frustasi. Kalau aku berhasil merubah citra kelas yang buruk. Pasti Elang akan dengan sendirinya melihat ke arah ku. Aku harus bisa membuat dia terpesona dengan apa yang aku lakukan.
"Oke!!" Ujarku semangat.
"Aku tahu gimana caranya!!" Pekikku senang. Aku harap rencananya berjalan dengan baik. Walau aku harus bermuka tembok terlebih dahulu.
Aku mengangguk mantap.
***
Keesokan harinya.
Pagi ini aku harus memulai rencanaku apa pun yang terjadi.
Demi Elang!
Oops salah! Maksudnya demi harga diri kelas 11 IPS 4. Kelas warisan anak-anak berandalan sejak sekolah ini baru dibangun. Aku baru tahu hal itu akhir-akhir ini.
Oke lupakan hal itu, kita kembali lagi ke rencanaku. Berhasil tidak berhasil, dicoba dulu. Itu moto ku saat ini. Kalau tidak dicoba bagaimana bisa tahu kalau hal itu berhasil.
Dengan mempersiapkan mental yang kuat aku berdiri diambang pintu dengan membawa buku geografi. Walaupun hari ini tidak ada pelajarannya. Kalau dibilang aneh biarkan saja. Ini rencanaku yang boombastis dan spektakuler.
Bolak-balik kulihat jam tangan ku seraya menunggu penghuni kelas yang lain.
Penghuni pertama datang, Avi. Dan aku yakin dia bakal belajar waktu ulangan. Jadi dia aku biarkan masuk dengan mudah. Tapi yang lainnya tidak akan aku biarkan masuk dengan mudah.
"Nah! Si biang kerok dateng juga," batinku seraya menyeringai. Tanganku terentang menghalanginya masuk ke dalam kelas.
"Eh minggir gue mau lewat," ujar Rangga dengan mengibas-ibaskan tangannya.
"Nggak semudah itu. Kalo mau masuk jawab dulu pertanyaan ku," ujarku seraya tersenyum.
"Pertanyaan apaan?" Ujarnya dengan tatapan malas.
Ehemm ehemm
"Pertanyaannya, hutan sabana adalah?" Kulihat alisnya naik sebelah. Mungkin dia bingung pagi-pagi sudah ditodong pertanyaan geografi.
"Hutan sabana apaan sih? Pala Lo kejedot pintu ya? Atau gila gara-gara Elang pacaran sama Vera?"
"Kurang ajar banget nih cowok," batinku kesal.
"Aku sehat kok, cepetan jawab."
"Ogah," ujarnya hendak merangsek masuk.
"Eits... Nggak boleh masuk dulu sebelum jawab," ujarku seraya menghalangi jalannya dengan kualahan.
"Gue nggak tau," jawab Rangga kemudian lalu hendak masuk lagi. Tapi aku tetap teguh tidak membiarkan dia masuk.
"Kamu kan punya ponsel, cari aja jawabannya di internet." Aku melipat kedua tanganku di depan dada.
"Elo lagi ngapain sih elah," ujarnya kesal seraya menggaruk-garuk kepalanya.
"Gue bilangin ke Elang kalo elo suka...."
"Ulfa sini!!!" Teriakku seraya melambaikan tanganku ke arah Ulfa yang baru berangkat.
"Aku mau naroh tas dulu!!" Teriaknya sebelum masuk ke dalam kelasnya. Aku menyeringai senang, melihat wajah Rangga langsung pucat pasi.
"Buruan cari jawabannya biar Ulfa tau kalo kamu tuh pinter," ujarku dengan nada mengejek. Tampak dia buru-buru mengambil ponselnya di dalam kantung.
"Apa tadi pertanyaannya?"
"Apa itu hutan sabana."
"Oh Oke...oke." Dengan cepat tangannya mengetik pertanyaan di ponselnya.
"Han!!" Ulfa mendekat seraya tersenyum manis.
"Kamu lagi ngapain?" Tanyanya keheranan melihatku merentangkan kedua tangan menghalangi jalan cowok di sampingnya.
"Lagi main games, ya kan?" Tanyaku seraya menatap wajah Rangga. Mencari dukungan.
"Games apaan?" Tanya Ulfa penasaran.
"Eh lagi main apaan sih?" Tiba-tiba Avi muncul di sampingku.
"Games jawab pertanyaan baru boleh masuk," jawabku asal.
"Permainan apaan tuh? Aneh banget kayak baru denger," ujar Ulfa keheranan. Avi pun tampak mengernyitkan dahinya sama-sama bingung.
"Yaiyalah baru denger, orang aku yang ciptain tadi malem," batinku.
"Pertanyaannya apa?" Tanya Ulfa seraya menatapku dan Rangga bergantian.
"Pengertian hutan sabana," ujarku.
"Ayo cepetan jawab," ujarku menatap Rangga dengan raut wajah menuntut jawaban darinya. Rangga tampak gugup ditatap Ulfa.
Syukurin nggak bisa kabur kan.
Ehemm ehemm
Rangga tampak berdehem terlebih dulu.
"Hutan sabana adalah...." Matanya tampak melirik ke arah ponselnya yang berada di tangannya.
"Kawasan hutan berupa padang rumput yang ditumbuhi oleh semak atau perdu yang diselingi sebaran beberapa pohon, seperti..." Dia tampak menggulirkan ponselnya dengan menggunakan jempol.
"Pohon palem dan akasia," jawabnya dengan benar walau dengan cara mencontek.
"Jawabannya betul, silakan masuk," ujarku seraya tersenyum manis. Aku menurunkan kedua tanganku dan membiarkan dia masuk.
"Oh! Permainannya kayak gitu." Ulfa dan Avi mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Jadi konsepnya bermain sambil belajar." Avi menatap ke arahku.
"Betul sekali," jawabku seraya tersenyum.
"Eh... Bayar kas ga," ujar Avi mengejar Rangga ke mejanya.
Sepertinya Ulfa belum tahu kalau Rangga adalah cowok yang mengganggunya akhir-akhir ini.
"Nah! Target datang mendekat," ujarku dalam hati saat melihat segerombolan cowok-cowok penghuni kelasku.
"Eh! Ketua kelas baru," sapa Afif dengan cengengesan.
"Misi ah, gue mau lewat," ujarnya hendak masuk.
"Eits.... Entar dulu," ujarku seraya menutup jalan mereka masuk. Kini Avi juga berdiri di sampingku membawa buku kas kelas.
"Ada apaan nih?" Irwan maju menatapku dengan alis bertaut.
"Sebelum masuk jawab dulu pertanyaan dariku."
"Pertanyaan apaan?"
"Sebutkan 2 pohon yang hidup di hutan sabana?"
"Hah! Hutan sabana?" Afif tampak menggaruk kepalanya kebingungan.
"Gue tau!" Pekik Irwan dengan semangat. Membuatku langsung tersenyum senang. Ternyata cowok itu belajar.
"Apa jawabannya?" Tanyaku semangat.
"Pohon mangga sama pohon duren," jawabnya asal membuatku memutar bola mataku kesal. Ternyata dugaan ku salah besar.
"Salah," ujarku dengan nada datar.
"Pohon jati sama pohon bambu," sahut Afif semakin asal.
"Coba kalian berdua cari di internet terus jawab yang benar."
"Kuota gue kebetulan abis, wan pake hp Lo aja," ujar Afif.
"Ogah, dari pada buat nyari jawaban mending gue nonton YouTube yang lagi viral itu," tolaknya mentah-mentah.
"Pokoknya kalian harus jawab dulu, baru boleh masuk," ujarku tegas.
"Wah! Udah bel masuk. Permisi ketua kita-kita mau lewat." Dengan terpaksa aku membiarkan mereka masuk ke dalam. Lalu Elang berjalan melewatiku sambil terkekeh geli.
Deg.