
Jam istirahat sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Aku akhirnya memakan donat tanpa minat di tempat biasa kami, yaitu di lantai teras depan kelas. Lagipula malas sekali kalau harus antre di kantin dan berdesak-desakan. Di tambah hari ini sumber vitamin c alias vitamin cintaku tidak berangkat sekolah karena sakit.
Huaaa!
Aku langsung galau, gundah dan merana pagi ini. Makan tidak nafsu, belajarpun tidak konsentrasi. Padahal kemarin aku baru saja mendapat kejadian yang membuatku terasa terbang sampai ke kayangan.
Bahkan aku tidak rela kemarin waktu berlalu dengan cepat. Aku tidak menyangka kalau Elang perhatian denganku. Oleh karena itu aku harus menjaga penampilan ku mulai sekarang.
Aku memang gadis yang cuek dengan penampilan. Di saat cewek kebanyakan selalu membawa cermin dan sisir. Aku bahkan tidak berpikir membawa benda-benda itu ke sekolah. Apalagi parfum seperti yang biasa Revi dan gengnya bawa di tasnya. Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja aku tahu, karena mereka selalu menyemprot parfum di dalam kelas saat bel istirahat berbunyi. Sehingga waktu mereka keluar kelas. Mereka sudah wangi kembali. Apalagi parfumnya berbau menyengat menusuk hidung menguar kemana-mana.
Bahkan aku hanya memakai bedak tipis sekali saat berangkat sekolah. Agar terlihat cerah. Tapi tentu saja bedak setipis itu langsung luntur saat aku berangkat sekolah menggunakan sepeda.
Dan nasib parfumku juga sama saja seperti bedak. Sudah hilang wanginya setelah jam istirahat kedua. Mungkin karena parfum murahan.
Tapi aku tidak berani bawa parfum dan bedak ke sekolah. Siapa tahu ada penggeledahan tas seperti saat aku masih kelas 10 dulu. Bisa malu kalau sampai ketahuan membawa barang seperti itu. Aku menggeleng pelan.
Tidak!
Kalau Elang juga punya perasaan yang sama denganku. Maka ia pasti akan menerima diriku apa adanya. Hani yang bedaknya sering hilang diterpa angin. Dan Hani yang bau matahari karena wangi parfumnya sudah luntur entah kemana.
Aku diam-diam menoyor kepalaku. Di saat teman-temanku yang lain tengah memakan makanannya.
Hahaha....
Mana mungkin Elang suka denganku. Aku pasti terlalu berhalusinasi. Dia bahkan lebih akrab dengan Revi dan gengnya. Apalagi mereka semua cantik. Minus suaranya yang berisik dan cempreng. Sedangkan aku hanya gadis biasa tanpa kelebihan.
"REVI!!!." Teriak Ika lantang. mengalihkan pandanganku ke arahnya. Kulihat mereka berjalan mendekat. Sepertinya mereka habis dari kantin.
"Gue nggak ngapa-ngapain," kilahnya sambil cengengesan. Satu hal yang baru aku tahu, ternyata Revi gadis yang sering cengengesan.
Aku selalu risih kalau mendengar mereka mengobrol. Selalu saja dengan nada tinggi.
"Udah tahu gue malu. Malah Lo panggil dia terus," ujar Ika dengan cemberut. Dia tampak lucu. Pipinya yang chubby menggembung, hingga mirip ikan emas.
"Pake acara malu-malu lagi! Gue jijik tau nggak," ujar Revi dengan suara menggebu-gebu. Telingaku berdenging mendengar perkataannya. Kalau ada mereka, aku harus siap-siap mendengarkan teriakkan terus menerus.
Padahal aku lihat mas molor berangkat ke sekolah. Walaupun seperti biasa, dia akan tertidur di sudut belakang kelas. Aku menguap saat pak Haris menceritakan sejarah tentang penjelajah dunia Christoper Columbus.
Mataku benar-benar berat untuk dibuka. Beberapa kali aku mengedip-edipkan mata dan sedikit menggoyangkan kepala. Untuk menghalau mataku tertutup.
Pak Haris yang tadinya di depan sambil bercerita. Tiba-tiba berjalan ke arah sudut belakang di mana mas molor tengah tertidur dengan asiknya.
Ehemm
Pak Haris berdehem di dekat meja mas molor. Beliau tampak melipat kedua tangannya dengan memasang wajah galak.
Glek.
Aku mencoba salivaku dengan susah payah. "Pak Haris ternyata galak," pikirku.
Tuk tuk tuk
Spidolnya beliau ketuk-ketukkan di meja tempat mas molor tidur. Tapi sepertinya mas molor terlalu lelap hingga tidak mendengar ketukan itu.
Ditariknya rambut disekitar telinga hingga membuat mas molor bangun sambil mengaduh kesakitan.
"Adududuh pak!" Pekiknya sambil memegang sejumput rambut di sekitar telinganya yang ditarik pak Haris.
"Arfian," panggil pak Haris sambil geleng-geleng kepala.
"Kamu kapan tobatnya? Kamu sudah tidak naik kelas. Masih saja tukang tidur, nggak malu apa sama adek kelasmu," ujar pak Haris dengan nada santai. Tidak seperti pak guru yang kaku dan galak. Beliau malah berbicara layaknya teman dengan muridnya.
"Ampun pak!!" Membuat gelombang tawa semakin pecah.
"Cepat sana ke toilet," ujar pak Haris.
Mas molor tampak melenggang keluar dengan gaya lucu.
Mungkin karena cara pendekatannya dengan murid juga berbeda dengan guru lain. Jika guru lain akan bersikap kaku. Maka pak Haris bersikap layaknya teman dengan muridnya. Membuat murid-murid lebih nyaman dan tidak tegang saat pelajaran.
***
Bel pulang berbunyi. Dengan refleks aku melihat kursi yang biasa diduduki Elang. Yang kini kosong tanpa penghuninya.
Setelah berdoa selesai. Aku belum juga beranjak pergi. Walau semua teman-temanku sudah melesat keluar lebih dulu. Aku memandang kursi itu beberapa saat.
Akankah aku melihatmu duduk di kursi itu besok?
Aku butuh kamu sebagai vitamin c alias vitamin cintaku. Semangatku untuk berangkat besok dan besoknya lagi. Baru sehari saja aku sudah seperti ini. Wajahmu semangat hidupku.
"Aku berharap bertemu denganmu besok" gumamku lirih sambil melihat kursi itu.
Aku menghela nafasku lemah tanpa semangat. Aku berjalan menuju ke arah tempat parkir. Di sana aku mengambil sepedaku yang untungnya sudah tidak terjepit motor. Karena tempat parkir ini sudah sepi. Aku mengayuh sepedaku keluar gerbang.
Lalu aku menghentikan sepedaku tiba-tiba. Aku merasa ada yang aneh di sepedaku. Lalu kulihat ban depan sepedaku kempes.
"Kenapa bisa begini?" Gumamku kesal. Lalu aku menuntun sepedaku berjalan mencari bengkel terdekat.
"Sepedanya kenapa?" Tanya Rangga teman sekelasku. Dia muncul entah dari mana.
"Kempes," ujarku. Lalu pandangannya terarah ke ban sepedaku.
"Kayaknya bengkel masih jauh dari sini. Sini gue bantu."
"Emang kamu bisa bantu?" Tanyaku. Kulihat dia memutar bola matanya. Tampak jengah mendengar pertanyaanku.
"Gue gak bisa," ujarnya lalu dia mengambil paksa sepedaku lalu kami berjalan ke arah sebuah rumah.
"Bro, ada pompa angin nggak?" Tanyanya ke arah cowok yang sedang bermain gitar di teras rumah.
"Ada, tuh ambil aja di dalem," sahutnya. Rangga masuk ke dalam rumah itu dan keluar sambil membawa pompa angin di tangannya. Ia mulai memompa ban sepedaku sampai tidak kempes lagi.
"Besok-besok kalo bawa sepeda diperiksa dulu bannya. Jangan langsung dinaiki," ujar Rangga dengan nada menyebalkan.
"Iya," sahutku.
"Makasih udah bantuin."
"Hmm." Dia tampak cuek seraya memasukkan pompa angin itu ke dalam rumah.
"Kenapa masih di sini?" Ujarnya setelah keluar dari dalam rumah.
"Aku mau pamit."
"Udah sana-sana," ujarnya seraya menggerak-gerakkan tangannya mengusir.
Aku mendengus kencang. Dan menaiki sepedaku menuju ke rumah.