Shy Girl

Shy Girl
19. Debat



Setelah permainan kemarin, aku selalu di tanya Revi terus-menerus. Sepertinya dia benar-benar tidak percaya ada anak SMA yang belum pernah pacaran. Hingga dia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Dan selalu bertanya ini itu. Dan membuatku kesal


Maksudnya apa coba?


"Memangnya salah, belum pernah pacaran? Emangnya aneh nggak pernah pacaran seperti anak kebanyakan," batinku kesal.


Di saat sedang melamun tiba-tiba.


Pletak!


"Aw!" Pekikku saat kepalaku ditimpuk bola kertas. Secara otomatis badanku berputar ke arah belakang dengan alis bertaut.


Siapa sih yang nimpuk?


"Han! Kipas angin nyalain!" kata cowok yang kutahu bernama Arya, yang kini sedang menatap ke arahku.


"Dih! Males banget. Kenapa nggak nyalain sendiri aja sih," batinku kesal.


"Situ yang butuh juga. Ganggu orang aja," ujarku dalam hati sambil memicingkan mata.


"Kenapa?! Nggak mau?!" Ujarnya kemudian dengan mata melotot.


Akupun menggeleng sambil bergegas berjalan ke depan untuk menyalakan kipas angin.


"Han, kurang kenceng!" Ujar Arya.


Aku mengembuskan nafas kesal. Lalu aku putar lagi saklarnya hingga ke nomor 2. Aku memutar badanku untuk kembali ke kursiku.


"Masih nggak ada anginnya, puter lagi!" Ujarnya sambil mengipasi badannya dengan buku tulis yang ia ambil sembarang. Seraya duduk di atas meja di bawah kipas angin gantung.


Dengan terpaksa aku memutar badanku kembali ke tempat saklar itu berada. Lalu dengan kesal aku putar saklarnya yang paling kencang.


"Nah! Gini kan anginnya berasa," ujarnya seraya tiduran di atas meja dengan santainya.


Aku menggelengkan kepalaku melihat tingkahnya yang terlalu berani itu. Bagaimana kalau ada guru yang lewat? Bisa habis dia dihukum.


Lalu aku mngedikkan bahuku tak peduli. Bukan urusanku, kenapa aku yang memikirkannya? Dia saja enak-enakan tidur dengan pulas bahkan sampai ngorok.


Bodo amatlah. Mending duduk lagi sambil menunggu bel masuk berbunyi. Aku membuka buku pelajaran dan mencoba mengerjakan soal-soal yang ada di sana. Dari pada aku bengong sendirian.


Lalu tiba-tiba suara ribut-ribut terdengar di luar kelas. Seperti ada yang sedang berdebat. Aku ingin melihat keluar, tapi kok malas ya.


Maka dari itu aku hanya memasang pendengaranku lebih tajam. Sambil pura-pura membaca buku.


"Enak aja Lo! Di mana-mana telor duluan!" Ujar seorang gadis yang aku tebak Revi lah orangnya. Dari suaranya yang sudah aku hapal selama beberapa minggu ini.


"Emang telor dari mana asalnya?!" Ujar seseorang yang tadi pagi membuat jantungku loncat-loncat. Sepertinya Elang mulai kesal.


"Mereka bahas apaan sih?" Batinku seraya menggaruk kepalaku dengan jari telunjuk.


"Eh menurut Lo, duluan ayam apa telor?" Tanya Revi kepada entahlah aku tidak tahu.


Hening sesaat. Sepertinya orang yang sedang ditanyai Revi tampak bingung untuk menjawabnya.


"CK... lama banget sih mikirnya," ujar Revi tidak sabar.


"Mau dijawab nggak?" Tanya seorang gadis dengan nada kesal.


"Mau lah, tapi cepetan."


"Menurut gue ayam yang duluan," ujar seseorang itu.


"Yeah, satu kosong," ujar Elang dengan semangat. Aku terkekeh geli, pasti cowok itu sekarang tengah tersenyum amat lebar.


"Ish... Nggak bisa, kenapa Lo malah jawab ayam sih," ujar Revi kesal. Mungkin kepada gadis tadi.


"Gue nggak terima, pokoknya telor duluan."


"Ayam duluan lah!" Ujar Elang dengan suara keras. Lalu mereka berdua masuk kedalam kelas. Pertama-tama mereka berjalan melewatiku menuju ke kursi belakang. Di mana semua cowok-cowok dan geng Revi sedang bermain game. Yang tidak aku ketahui apa namanya.


Elang tanpa permisi duduk di atas meja. Sambil menampilkan cengirannya yang lebar.


"Menurut kalian ayam apa telor yang pertama kali diciptain?" Tanya Elang seraya mengamati wajah teman-temannya itu dengan wajah penuh harap.


"Udah jawab aja. Ayam apa telor," ujar Revi.


"Telor," jawabnya cepat tanpa banyak berpikir.


Senyum Revi terpancar jelas tercetak dibibirnya.


"Satu sama," ujarnya seraya berjoget heboh.


"Kalo elo ayam apa telor?" Tanya Elang lagi.


"Ayam," jawab Jono. Lalu mereka melakukan hi five dengan heboh.


Dua orang itu melakukan survei kepada teman-temannya. Lalu mereka menghampiri Arya yang tengah tertidur pulas di atas meja. Revi menggoyang-goyangkan tubuh Arya dengan kencang.


"Ya! bangun," ujar Revi dengan tangan yang tak henti menggoyang-goyangkan tubuh cowok itu. 


"Ish...!" Tangan kanan Arya menepis tangan Revi yang menyentuh tubuhnya.


"Ya, bangun!" Suara Revi naik satu oktaf.


"Wooyy! Bangun Lo!" Ujar Elang di telinga kanan Arya, hingga cowok itu tersentak bangun dengan mata memerah.


"Sialan Lo!" Ujar Arya kesal, setelah bangun dari tidurnya. Tak lupa sebuah toyoran mampir di kepala Elang. Tapi Elang justru terkekeh.


"Sorry bro." Elang tersenyum lebar.


"Gue cuma mau tanya, ayam apa telur yang diciptain duluan?" Tanya Elang tanpa rasa takut.


"Lo berdua... bangunin gue cuma mau tanya duluan ayam apa telor?"


Elang dan Revi mengangguk. Arya mendengus kencang dengan wajah kesal. Sepertinya waktu tidurnya terganggu dengan pertanyaan aneh seperti itu.


"Apa jawabannya?" Tanya Revi antusias.


"Jawabannya...." Arya sengaja membuat Elang dan Revi penasaran.


"GUE NGANTUK KALIAN BERDUA JANGAN GANGGU!!" teriak Arya dengan suara lantang. Membuat Revi dan Elang meringis sambil menggosok-gosok kedua telinganya. Buru-buru keduanya berlari menjauh. Tampak setelah kepergian Revi dan Elang, Arya kembali melanjutkan waktu tidurnya.


Tapi tiba-tiba tubuhku mendadak merinding. Aku mengedarkan pandanganku ke arah Revi dan Elang yang kini tengah memandangiku.


Lalu aku meringis.


Glek


Aku meneguk Salivaku dengan susah payah. Pasti aku yang jadi sasaran mereka selanjutnya. Elang kini duduk di kursi Avi. Yang kini anaknya entah berada di mana.


Dia tersenyum kepadaku. Akupun membalas senyumnya walau tipis. Tak lama kemudian Revi membawa kursi terdekat. Lalu ia mengambil duduk di depanku.


"Han, elo kan temen gue. Makanya gue mau tanya sama elo. Kira-kira duluan ayam apa telor?" Tanya Revi seraya tersenyum penuh harap padaku.


Pertanyaan macam apa ini?


"Pasti ayam kan, Han. Kalo nggak ada ayam, telor juga nggak bakal ada," ujar Elang sambil memiringkan tubuhnya dengan menumpukan siku bagian kiri dengan meja lalu telapaknya menyangga di pipi menghadap ke arahku.


Aku gugup dan hanya sanggup mengangguk, seperti terhipnotis oleh wajah tampannya dari dekat.


"Tapi kalo nggak ada telor, ayam juga nggak bakal ada," ujar Revi menantang.


"Ya, kan, Han." Aku bingung, makanya aku juga mengangguk saja.


"Jadi jawabannya apa?" Tanya Elang dengan suara lembut sambil merangkul bahuku. Mendadak panas disekujur tubuhku dengan aksinya kali ini. Efek yang kemarin-kemarin saja belum hilang. Sudah tambah lagi. Lama-lama aku bisa pingsan kalau begini caranya.


Elang mengangkat sebelah alisnya menanti jawaban dariku. Duh! Kok rasanya kayak lagi dimintain jawaban pas lagi ditembak.


Gusti! Tolong kuatkan jantungku agar baik-baik saja selama ada Elang di dekatku.


"Please telor, Kitakan temen," ujar Revi.


" Maaf, aku pilih Ayam," ujarku sambil meringis menatap Revi.


"Yes gue menang!" Pekik Elang senang bukan main.