Shy Girl

Shy Girl
7. Pindah Tempat



Pelajaran pagi ini masih cukup mudah. Sehingga kepalaku tidak begitu pusing. Atau mungkin karena ada seseorang yang aku sukai di kelas ini. Sampai membuatku bahagia sepanjang pak guru mengajar.


Punggung itu seperti memancarkan cahaya yang bisa membuat mataku seolah terhipnotis untuk terus memandanginya tanpa henti. Sampai tanpa sadar bel istirahat berbunyi.


Elang bergegas keluar bersama molor dan Jono, mungkin mereka menuju ke kantin.


"Han," panggil Avi membuatku menengok ke arahnya.


"Kantin yuk," ajaknya.


Ah! iya. Tadi pagi aku belum sempat sarapan. Tapi entah kenapa aku tidak begitu lapar. Apa itu juga termasuk efek bahagia karena jatuh cinta.


"Yuk," ucapku lalu kami berjalan bersama ke arah kantin. Di sekolahku kantinnya berbentuk seperti warung dengan dua pintu di sisi kanan dan kiri. Dan terdapat 6 kantin.


Kantin pertama khusus cowok kelas 10 dan 11. Sedangkan kantin kedua sampai ketiga biasa dimasuki cewek kelas 10, 11 dan kadang-kadang kelas 12. Sedangkan kantin kelima khusus cewek kelas 12. Dan yang terakhir, kantin keenam khusus cowok kelas 12. Entah itu peraturan dari siapa. Tapi yang jelas, sejak aku masuk ke sekolah ini. Peraturan tidak tertulis itu sudah berlaku.


Namun, saat aku melihat deretan warung-warung itu. Aku dikejutkan oleh gerombolan cowok sekelasku yang asik nongkrong di kantin keenam bersama kakak kelas. Dan di sana juga terdapat Elang yang tengah mengobrol dengan molor.


Aku diam-diam melihatnya, yang kini dia tengah tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang sedang mereka berdua bicarakan saat ini. Tapi sepertinya sangat seru. Elang yang pada dasarnya sudah tampan, jadi makin tampan. Di saat langkahku sudah semakin dekat, aku memalingkan wajahku dengan cepat karena detak jantungku yang berpacu kencang di dalam sana. Lalu aku buru-buru memasuki kantin tiga.


***


Perutku baru merasakan rasa lapar, di saat semangkok mie ayam sudah terhidang di meja. Apalagi aromanya yang nikmat menguar hingga masuk ke dalam indera penciumanku. Makanya dengan lahap aku memakannya hingga habis tanpa tersisa. Dan ditambah segelas es teh manis yang melegakan dahagaku.


Setelah keluar dari kantin. Aku diam-diam melirik kantin enam. Tapi dia sudah tidak ada di sana. Aku mengerutkan dahiku. Mungkin dia sudah ke kelas lebih dulu. Avi menggandeng lenganku agar cepat sampai ke kelas. Karena sebentar lagi bel masuk akan segera berbunyi.


Baru juga sampai di pintu kelas, bel pun berbunyi nyaring. Cepat-cepat aku masuk. Tapi aku dikejutkan dengan fakta bahwa tasku entah ada di mana. Aku celingukan kesana-kemari mencari tasku dan tas Avi yang menghilang dari meja kami.


Deg


"Apa jangan-jangan Revi dan gengnya yang mengerjaiku?" Tuduhku dalam hati.


"Itu! Tasnya ada di meja depan." Tunjuk Avi pada dua tas yang tergeletak di meja depan dekat pintu masuk.


Aku dan Avi akhirnya menghampiri tas kami yang ada di sana. Berniat mengambilnya dan meletakkannya kembali ke meja kami. Tapi tiba-tiba cowok dengan panggilan molor datang menghampiri kami.


"Kalian duduk di sini aja."


"Kenapa mas molor?" Tanya Avi sambil mengerutkan dahinya. Namun alih-alih mempertanyakan hal yang sama. Aku justru mengulum senyum karena mendengar panggilan cowok itu yang diberi embel-embel mas oleh Avi.


Memang bukan salah Avi kalau memanggilnya begitu. Terlebih umur molor lebih tua dari kami. Aku saja tidak berpikir akan memanggil molor dengan mas molor.


"Ya udah," balas Avi enteng. Sedangkan aku sendiri tidak setuju. Lagi pula kami sudah datang lebih dulu. Kenapa justru kami yang diusir. Kalau Avi sudah bilang begitu, aku bisa apa?


Mau ngajak debat?


Mungkin dalam mimpi. Mana berani aku berbicara dengan yang namanya cowok. Apalagi cowok itu tidak naik kelas. Pasti ada sesuatu yang dia lakukan hingga tidak naik kelas. Nah! Ini yang harus aku waspadai. 


Entahlah!


Lebih baik aku menurut saja, dari pada jadi runyam. Yang aku inginkan hanya belajar dengan tenang.


Kalian catat dengan baik! Aku sangat amat terpaksa duduk di meja depan di dekat pintu. Ini pertama kalinya aku duduk di sini. Padahal biasanya yang duduk di depan sering ditunjuk oleh guru untuk mengerjakan soal di papan tulis.


Sedangkan aku, tidak sepandai itu untuk bisa mengerjakan soal di papan tulis apalagi pelajaran matematika.


Bisa gila aku!!!


Dalam jangka waktu setahun aku harus duduk di depan sana terus-menerus. Sehingga aku berharap semoga ada acara pindah tempat duduk setiap sebulan sekali. Ku rasa itu akan lebih baik.


***


Disepanjang pelajaran jantungku terus berdetak kencang. Bukan karena ada Elang di sampingku. Tapi karena rasa takutku jika pak guru menunjukku untuk mengerjakan soal di depan sana.


Otakku ini berkapasitas kecil. Maka tidak semua pelajaran bisa aku kuasai semua. Apalagi yang menyangkut hapalan rumus. Kalaupun rumusnya aku hapal. Tapi giliran akan menjawab pertanyaannya, aku bingung karena lupa itu rumus untuk mengerjakan soal yang seperti apa.


Aku paling tidak suka kalau soal matematika beranak. Maksudnya satu soal bisa menjadi a,b,c dan d. Lalu kalau soalnya ada lima.


Tamatlah riwayatku!!


Apalagi soalnya akan dimulai dari yang mudah ke yang paling sulit. Paling-paling aku hanya bisa mengerjakan soal yang a saja. Dan untuk soal yang b,c dan d aku angkat tangan.


Inilah susahnya jadi anak yang tidak pintar. Apa-apa serba tidak bisa. Dan jurus pamungkasnya tentu saja minta diajarin teman sebelahku. Dan aku sangat beruntung rupanya. Tidak perlu jauh-jauh. Karena teman satu mejaku juga termasuk anak yang pintar. Aku ingat dulu dia pernah masuk lima besar.


Semoga dengan duduk bersama anak pintar. Aku juga bisa tertular kepintarannya. Itulah doaku saat ini mengingat sebagian besar anak kelas 11 IPS 4 terlihat tidak meyakinkan dalam hal pelajaran.


Aku menengok ke belakang dan mengamati sekelilingku. Kelas ini membuatku takjub luar biasa. Aku saja duduk dengan tegang, takut disuruh maju ke depan. Tapi apa yang aku lihat saat ini. Aku bahkan tidak yakin kalau mereka mendengarkan apa yang pak guru di depan sana katakan.


Dengan penuh semangat aku memperhatikan pak guru di depan sana. Semua yang beliau katakan aku catat di buku tulis ku dan merangkumnya sesuai apa yang aku tangkap dari penjelasannya. Beberapa kali aku mengangguk karena paham apa yang beliau katakan. Penjelasan beliau begitu mudah dimengerti olehku. Dan hal itu yang membuatku semakin senang. Soal-soal yang ada di depan tulis aku kerjakan dengan benar. Hingga membuatku bangga dengan otakku ini. Ternyata aku tak sebodoh itu.