
Siang hari ini entah kenapa tidak ada yang pergi ke kantin. Padahal bel istirahat sudah berdering beberapa menit yang lalu. Suasana kelas seperti biasa ramai dengan suara Revi yang berceloteh heboh. Tapi ada kehebohan lain yang memancing perhatian ku.
"Afif kentut?" Teriaknya lantang. Lalu aku lihat cowok disekelilingnya juga menutup hidung.
"Nggak! Iwan yang kentut," ujar Afif tidak terima sambil menoyor kepala Irwan.
"Sembarangan! Bukannya Lo yang ngeluh sakit perut tadi," ujar Irwan dengan suara keras.
"Ngarang Lo! Kapan?!" Teriaknya. Terlihat cowok-cowok yang duduk disekitarnya menyingkir sambil menutup hidung.
Sedangkan di tempatku duduk tidak tercium apa-apa. Tapi untuk mencegah bau itu terhirup, akhirnya aku ikut-ikutan menutup hidungku.
"Woi! Ngaku siapa yang kentut!" Ujar Jono dengan suara keras.
"Dia." Tunjuk Irwan ke arah Afif.
"Dia." Tunjuk Afif ke arah Irwan.
Mereka saling tunjuk tidak ada yang mau mengaku. Lagipula kalau cowok itu mengaku terus kentutnya mau diapakan lagi? Lha! kerutnya sudah menyebar kemana-mana. Karena mereka duduk dibawah kipas angin langsung.
Semuanya dengan kompak keluar kelas termasuk aku. Kami menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Dan di saat Afif dan Irwan mau keluar. Pintu sudah lebih dulu ditutup oleh Jono. Hingga mereka berdua berteriak heboh sambil menggedor-gedor pintu yang kini ditahan oleh tiga cowok. Mas molor, Jono dan Arya.
"Woy! Gue mau keluar!" Teriak Afif.
"Karena kalian berdua nggak mau ngaku. Tuh! Hirup kentutnya sampai abis," ujar Jono.
"Awas Lo Jon! Yang kentut Afif, bukan gue!" Teriak Irwan.
Brak Brak Brak!!!
Suara pintu digedor-gedor cukup kencang. Entah siapa yang menggedornya di dalam sana.
"Enak aja! Orang gue nggak kentut juga! Elo tuh yang kentut!" Sahut Afif.
Setelah beberapa menit, barulah pintu dibuka. Aku melihat kedua cowok itu berkelahi dengan saling menjambak rambut. Aku menggelengkan kepala. Mereka itu cowok, kenapa berkelahinya main-main jambak-jambakan?
Terlihat tidak ada yang mau memisahkan mereka berdua. Yang lainnya justru asik merekam kejadian itu untuk di posting di media sosial. Setelah beberapa menit, sepertinya kedua cowok itu mulai kelelahan.
Hingga keduanya memisahkan diri.
"Awas Lo!" Tunjuk Irwan ke arah Afif.
"Elo yang awas!" Tunjuk Afif ke arah Irwan. Dengan mata memicing sinis.
Lalu mereka duduk kembali ke mejanya. Dengan saling membuang muka. Seolah-olah jijik menatap satu sama lain. Lalu Afif mengambil tasnya dan berjalan ke meja Dodi.
"Dod, Lo minggir. Gue mau duduk di sini aja. Males duduk sama tukang fitnah," ujarnya melirik ke arah Irwan. Seraya melemparkan tasnya di atas meja.
"Dasar emak-emak nyinyir. Tukang kentut juga," sindir Irwan tidak mau kalah.
"Sini Dod, Lo duduk di samping gue aja." Irwan melambaikan tangannya. Menyuruh Dodi duduk di sebelahnya.
Di mejanya Elang tertawa terbahak-bahak. Melihat perkelahian kedua cowok itu.
"Han, yuk ke koperasi," ajak Avi. Akupun mengangguk.
Kami berdua jajan di koperasi, karena kami tidak mau berdesak-desakan di kantin. Setelah jajanan sudah ditangan. Aku dan Avi duduk di kursi taman depan kelas. Karena ditempat ini aku bisa melihat tanaman bunga di depanku. Walaupun tamannya sangat sempit. Karena taman ini dibuat untuk memisahkan antara kelas IPA dan IPS.
Lalu tiba-tiba Ulfa datang menghampiriku.
"Aku ikutan duduk di sini ya," ujar Ulfa langsung duduk sebelum aku maupun Avi mengangguk. Aku menghela nafasku jengah. Temanku yang satu ini memang aneh.
"Wah!!" Pekiknya tiba-tiba. Aku mengernyitkan dahiku bingung. Apa yang membuatnya. Memekik dengan kencang seperti itu.
Aku melihat ke arah pandangnya. Di mana di sana terdapat kakak kelas yang berjalan melewati kami. Dan aku mengenal salah satu cowok yang ada di sana.
Agam.
Cowok yang pernah menolongku di tempat parkir.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Avi keheranan sama sepertiku.
"Itu! Yang barusan lewat," sahut Ulfa masih heboh.
"Siapa?" Tanyaku karena memang aku tak mengerti apa yang dia maksud.
"Cowok terkeren... Terganteng... Terpinter... dan terpopuler di sekolah." Senyumnya mengembang lebar seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan mata berkedip-kedip cepat. Aku dan Avi saling pandang dengan tatapan heran. Lalu avipun mengedikkan bahunya tak mengerti.
"Siapa!!" Teriak aku dan Avi berbarengan. Lama-lama kesal juga dengan tingkah Ulfa itu. Ditanya siapa tapi tidak langsung menjawab. Malah berkata ini itu yang tidak jelas.
"Kakak kelas," sahutnya. Hingga membuatku memutar bola mataku jengah. Aku tahu kalau satu gombongan itu semuanya kakak kelas. Tapi yang jadi pertanyaannya itu siapa?
"Iya tahu. Tapi siapa?!" Ujar Avi penuh emosi. Sepertinya dia juga kesal dengan kelakuan Ulfa yang satu ini.
"Mantan ketua OSIS," sahut Ulfa dengan wajah berseri-seri. Tampak Avi paham siapa yang dimaksud oleh Ulfa. Hingga dia mengangguk beberapa kali. Sedangkan aku masih bingung. Siapa mantan ketua OSIS itu?
"Siapa namanya?" Tanyaku lirih.
Lalu keduanya menatapku dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu nggak kenal mantan ketua OSIS?" Tanya Avi.
Aku menggeleng.
"CK. Dia mana tahu mantan ketua OSIS," ujar Ulfa sambil memakan makananku begitu saja.
"Dia kan nggak pernah ngobrol-ngobrol sama teman-teman. Yang ada dia sering menyendiri dipojokan sambil baca novel kesayangannya," ujarnya dengan nada mengejek.
Aku tidak bisa mengelak lagi, karena apa yang diucapkan Ulfa benar adanya. Aku lebih sering membaca novel dari pada duduk sambil bergosip.
"Makanya elo bersosialisasi kek, ngobrol sambil kumpul-kumpul kan enak. Ya nggak Vi?" Ulfa menatap ke arah Avi. Dan diangguki gadis itu.
"Terus siapa nama cowok itu?" Tanyaku geram. Sedari tadi dia malah asik memberiku petuah. Bukannya menjawab nama cowok yang dia lihat tadi.
"Kak Agam," sahutnya seraya tersenyum senang.
"Oh...." Akupun mengangguk. Ternyata cowok yang menolongku itu mantan ketua kelas.
"Kayak tahu aja, ngangguk-ngangguk," ujar Ulfa meledekku. Aku mendengus kencang.
"Kalo kak Agam aku kenal dong," ujarku sombong.
"Masa sih? Aku nggak percaya. Emang kenal di mana? Jangan bohong. Enggak mungkin lah. Pasti kamu lagi becanda kan?" Tanya Ulfa meremehkan aku.
"Aku nggak bohong kok," balasku kesal. Aku berkata jujur malah di bilang bohong.
"Kalo kamu kenal, harusnya kamu tahu kalo kak Agam mantan ketua OSIS. Buktinya tadi kamu nggak tahu siapa nama mantan ketua OSIS." Ulfa melipat kedua tangan di depan dada.
"Emang aku nggak tahu dia mantan ketua OSIS. Tapi aku kenal dia," ujarku untuk terakhir kalinya membela diri.
"Ya... Ya... Ya... Aku percaya kehaluan kamu."
Karena kesal aku tidak melanjutkan perdebatan tidak bermutu ini. Lebih baik aku menghabiskan makananku sebelum dihabiskan Ulfa.
Tak berapa lama kak Agam dan teman-temannya melintas lagi. Tapi kali ini dia tersenyum menatap ke arahku.
"Eh! Hani," panggilnya saat jarak antara kita sudah dekat.
"Kak," balasku seraya tersenyum.
"Duluan ya," ujarnya lagi seraya melambaikan tangan.
"Iya," balasku.
Lalu aku melihat ke arah Ulfa dan Avi yang tampak melongo. Menatap ke arahku dan ke arah kak Agam secara bergantian.