
Motor yang dikendarai Elang pelan-pelan berhenti di depan rumahku. Aku memegang bahunya agar bisa turun dari motor sportnya yang tinggi. Aku berdiri dengan canggung sambil mengaitkan kedua tanganku gugup.
"Makasih," lirihku pelan.
"Iya sama-sama," sahutnya lalu kembali hening.
"Eum... Gue pamit dulu ya," ujar Elang sambil menggaruk tengkuknya tampak canggung.
"Iya," sahutku malu-malu.
"Eum... Bye." Elang mengangkat sebelah tangannya tanpa menggoyangkannya dengan sedikit menyunggingkan senyum.
"Bye...." Aku mengangkat sebelah tanganku dengan ragu-ragu.
Elang memakai helmnya dan melaju pergi meninggalkan suara deru motor yang memengkakkan telinga. Setelah punggungnya menjauh, baru lah aku membuka gerbang rumah dan berlari kencang sambil mengulum senyum masuk ke dalam rumah.
"Eits... Tunggu," ujar mamaku sambil menarik lengan tanganku di ambang pintu.
Mama melipat kedua tangannya di depan dada sambil mngedikkan dagunya. "Itu tadi siapa?"
"Bukan siapa-siapa," ujarku gugup.
"Masa sih?" Mama memicingkan matanya menatap wajahku.
Aku mengangguk mencoba meyakinkan. Tapi tampaknya mama tidak percaya.
"Bukan siapa-siapa tapi kok dianterin?"
"Cuma temen maa...," Rengekku.
"Temen apa temen hayo...," ledek mama sambil mengulas senyum jail.
"Beneran temen maa...." Aku meninggalkan mama begitu saja.
"Mama bilang papa ya, kalo kamu mulai genit sama cowok," teriaknya sambil mengikutiku. Otomatis aku memutar badanku seratus delapan puluh derajat menatap mama kesal.
"Ish... Mamaa...," Rengekku lagi sambil menghentak-hentakkan kakiku ke lantai.
"Aku nggak genit sama cowok."
"Cerita sini sama mama." Mama merangkul bahuku dengan wajah penasaran.
"Siapa nama cowok tadi? Kenapa nggak disuruh masuk aja? Mama kan mau kenalan langsung," ujar mama membuat kepalaku pusing. Aku terus diam mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mama padaku.
Aku menghempaskan tubuhku di atas sofa. Duduk bersandar sambil memejamkan mata sejenak.
"Hani... Mama penasaran siapa cowok tadi...," Rengek mama sambil mengguncang-guncang badanku pelan.
"Paling enggak kasih tahu mama siapa namanya?"
Aku membuka mataku perlahan dan menatap wajah penasaran mama.
"Namanya...." Sengajaku gantung ucapanku agar mama makin penasaran. Dan benar saja mama semakin mendekat dengan wajah sangat penasaran menanti kata-kataku selanjutnya.
"Iya," sahutnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tampak antusias.
"RA-HA-SI-A," ujarku lalu kembali menutup mataku.
Mama sepertinya mulai kesal. Tapi tak apalah, dari pada mama mengatakan ke semua orang kalau ada cowok yang bernama Elang yang mengantar aku pulang dari ini. Bisa-bisa aku ditanya-tanya mulu sama tetangga. Karena mama ini tipe wanita yang suka mengatakan ke semua orang kalau lagi bahagia. Jadi kalau ada kabar bahagia, pasti semua orang bakal tahu. Siapa lagi pelakunya, kalau bukan mama.
"PA...! PAPA...! INI ANAK GADISNYA UDAH MULAI PACARAN DIEM-DIEM!!" Teriak mama tiba-tiba, membuat mataku terbelalak dengan lebar.
"ASTAGA!" pekikku seraya melonjak karena terkejut.
"ENGGAK PA! MAMA BOHONG!" ujarku panik. Aduh mama ini, kenapa tiba-tiba bilang seperti itu.
"Mama diem, nggak usah teriak-teriak ih," ujarku kesal. Ini namanya bukan cuma papa yang tahu. Tapi semua tetangga bakalan tahu.
"Kenapa sih teriak-teriak segala, kalian pikir ini di hutan apa?" Papa menghampiri dan mengambil duduk di sofa tunggal.
"Ini anak gadismu udah mulai pacaran. Baru aja dianterin sama cowok pake motor sport." Mama tampak senyum mengejek ke arahku. Mama tahu kalau aku tidak bisa berkutik lagi kalau ada papa.
"Bener begitu?" Tanya papa dengan alis terangkat sebelah.
"I...tu... Eum...." Aku bingung mau jawab apa.
"Ayo jawab," ujar mama sambil menyenggol lenganku pelan.
"Iya pa, aku dianterin temen cowok. Tapi aku sama dia nggak pacaran. Kita cuma temen sekelas aja," ujarku sambil menundukkan kepalaku seraya memelintir ujung bajuku.
"Nama cowok tadi siapa?" Itu bukan suara papa tapi suara mama sambil menaik-turunkan alisnya menggodaku.
Aku menatap wajah papa yang juga menampilkan raut penasaran sama seperti mama tapi dalam versi kalem. Aku mengembuskan nafasku lemah, mau tidak mau aku harus menjawab pertanyaan itu.
"Namanya Elang, kebetulan aku sama dia ketemu di toko buku. Makanya dia sekalian anterin aku pulang," jawabku.
"Oh... Namanya Elang," ujar mama sambil mengulas senyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Kamu suka ya sama dia," tebak mama tepat sasaran.
Deg
Bagaimana mama bisa tahu? Aku mematung sesaat.
"Eng... nggak," ujarku gagap sambil menggelengkan kepalaku kencang.
"Masa sih?" Mama memicingkan matanya.
"Iya," ujarku mencoba meyakinkan papa dan juga mama. Namun sepertinya gagal.
"Tapi kenapa wajahmu merah begitu," goda mama sambil mencolek ujung hidungku.
"Apaan sih ma...," Ujarku sambil menghempaskan jari mama di hidungku. Aku mengerucutkan bibirku kesal.
"Pa, kayaknya kita harus mulai siap-siap deh. Sebentar lagi bakal ada cowok yang dateng ke rumah buat ngapelin anak gadis kita ini."
"Ish... Mama." Aku mendengus kencang. Tapi diam-diam pipiku memanas.
"Tuh! Lihat kan pa. Pipi Hani tambah merah," ledek mama membuatku semakin kesal.
"Aku ke kamar dulu," ujarku seraya bangkit dari sofa.
"Cie...cie... Ada yang malu nih...." Suara mama menggema meledekku. Tapi tidak aku hiraukan. Lebih baik cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Aku menutup pintu dan sesegera mungkin menguncinya. Baru setelah itu aku tersenyum sangat lebar hingga deretan gigiku terlihat.
Lalu kugunakan kedua tanganku untuk membekap mulutku yang hampir saja mengeluarkan teriakan bahagia. Aku melompat-lompat kegirangan lalu menghempaskan tubuhku ke atas ranjang sambil berguling-guling kesana-kemari. Kuraih guling yang ada di dekatku dan mendekapnya erat-erat.
"Oh astaga!" Pekikku dalam hati. Aku tidak menyangka kalau Elang akan mengantarku pulang. Berarti sekarang Elang tahu alamat rumahku.
"Aaaa...!" Teriakku tertahan.
"Gimana kalo tiba-tiba Elang sudah ada di depan rumah terus ngajakin berangkat bareng? Kayak di drama-drama itu," Gumamku lirih. Sambil membayangkan Elang yang memakai jaket denim bersandar di motor sportnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada seraya menungguku keluar rumah.
Aku senyum-senyum sendiri membayangkan hal itu jika benar-benar terjadi.
"Jangan kebanyakan halusinasi," ujar diriku yang lain. Aku menepuk-nepuk kedua pipiku pelan sambil menatap langit-langit kamar.
"Sedikit halu nggak pa-pa kali ya, siapa tahu jadi kenyataan," gumamku lagi sambil tersenyum lebar. Aku bangkit dari posisi tiduran. Lalu berjalan ke arah meja belajar dan mengambil novel yang ada di kantong plastik itu. Aku mendekap novel itu erat-erat. Benda ini merupakan benda pertama pemberian Elang.
"Aku janji bakal jagain kamu terus," ujarku seraya menatap novel itu dengan mata berbinar-binar.