
Ulfa tiba-tiba menarikku ke arah kafe dekat sekolah. Tentu saja si biang kerok pun ikut serta. Kami bertiga duduk di meja paling pojok. Mereka berdua duduk dengan tatapan mata fokus ke arahku. Aku tahu mereka sangat penasaran.
Aku menghela nafasku lagi dan lagi untuk memulai pembicaraan yang pastinya sangat panjang ini. Aku tahu Ulfa itu kalau sudah bertanya pasti sangat mendetail.
"Jadi?" Alis Ulfa terangkat sebelah seraya menatapku. Tangannya bertumpu di atas meja.
"Bentar ya, aku minum dulu." Buru-buru aku meraih minuman dan menyedotnya dengan pelan-pelan seraya otakku berputar mencari kata-kata yang pas untuk menjelaskannya. Masalahnya Ulfa itu suka banget sama kak Agam. Kalau salah bicara sedikit saja, dia pasti akan salah paham padaku. Pasti akan sangat merepotkan kalau harus membujuknya lagi.
"Oke, aku sudah siap." Aku menegakkan tubuhku menatap lurus ke arahnya.
"Jadi kenapa kamu bisa makan bareng sama kak Agam di kantin tadi? Padahal kan, kak Agam itu nggak pernah sekalipun, dengar baik-baik. Nggak pernah sekalipun dia duduk berdua sama cewek di kantin. Cuma kamu yang jadi cewek pertama yang deket sama dia." Nafasnya memburu dengan dada kembang kempis saat mengungkapkan opininya.
"Emang kenapa kalo Hani makan bareng sama Agam? Apa urusannya sama kamu, yang?" Rangga memiringkan badannya agar bisa menatap wajah Ulfa dari samping.
"Yang! Yang! Yang! Pala Lo peyang," ujar Ulfa ketus seraya menoyor kepala Rangga yang semakin condong ke arahnya.
"Sebenernya tadi aku ke ruang guru, terus ketemu sama dia di sana. Pas aku keluar tiba-tiba dia datengin aku. Terus nanya-nanya kenapa aku ada di kantin cowok sambil nanyain Afif pertanyaan geografi. Terus aku jawab deh, tapi dia malah ngajakin aku ke kantin. Mau nolak tapi nggak enak, dia kan kakak kelas. Makanya aku ngikut aja."
"Wah! Berarti diem-diem Agam merhatiin elo. Kayaknya dia suka sama elo," ujar Rangga dengan tatapan mata jahil. Sepertinya dia sengaja memancing amarah Ulfa.
"Nggak bisa!!" Pekik Ulfa lantang.
"Kenapa kamu sok tahu hah! Kak Agam itu pacar masa depannya aku." Ulfa mengacak-acak rambut Rangga dengan kesal. Tapi anehnya Rangga justru tampak sangat menikmatinya. Seolah-olah apa yang dilakukan Ulfa itu sebuah tindakan yang ia harapkan.
"Kak Agam nggak mungkin lah suka sama aku," sahutku kemudian. Ulfa menepuk-nepuk kedua tangannya setelah menggunakan kedua tangannya untuk mengacak-acak rambut Rangga. Lalu tanpa disangka Ulfa membaui tangannya dengan ekspresi jijik.
"Kapan terakhir kamu keramas? Bau banget tuh rambut, Hoek."
Rangga tampak menyeringai senang.
"Udah seminggu kayaknya?" Dia menggaruk-garuk kepalanya sambil cengengesan. Membuat Ulfa menyingkir dengan tatapan jijik sambil mengibas-ibaskan kedua tangannya.
"Kembali ke topik pembicaraan. Jadi kak Agam cuma penasaran aja sama apa yang kamu lakuin di kantin?" Lalu aku mengangguk.
"Kalo menurut gue ya, Agam beneran suka sama Lo. Jadi bagus buat bikin Elang cemburu. Tadi aja dia langsung nyamperin ke kantin sebelah pas liat elo sama Agam lewat. Kayaknya dia mulai suka sama elo." Ucapan Rangga mengingatkan kejadian tadi di kantin. Pantas saja Elang menatapku begitu. Jadi ada kemungkinan kalau dia mulai ada rasa sama aku.
Ah... Senangnya...
"Apa-apa? Aku nggak ngerti, jelasin dong!" Ulfa mengerutkan keningnya menatap Rangga dan aku dengan raut wajah penasaran.
"Jadi Hani mau bikin Elang suka sama dia. Yah minimal ngelirik lah. Dengan cara membuka diri dan menghilangkan sifat pemalunya. Makanya pas Hani berubah dengan perlahan-lahan Elang mulai tertarik."
"CK... Han, udah aku bilang. Elang nggak cocok sama kamu. Dia itu cowok berandalan, ingat baik-baik itu. Dan cowok berandalan nggak ada yang suka beneran sama cewek. Mereka pasti cuma pengen main-main aja," ujar Ulfa menggebu-gebu.
"Sejenis nih sama cowok sebelah," ujar Ulfa seraya melirik ke arah Rangga.
"Mon maap, saya cowok utuh nggak sebelah. Kalo sebelah doang kan repot. Paru-paru cuma satu, ginjal satu, tangan satu, kaki satu. Sama kayak kamu, satu-satunya dihatiku." Rangga menaik turunkan alisnya seraya menatap ke arah Ulfa.
"Amit-amit," ujar Ulfa seraya mengetuk meja beberapa kali. Aku terkikik geli melihat pertengkaran keduanya.
Ulfa kembali menatapku seraya tangannya meraih kedua tanganku dan ia genggam erat. "Aku kenalin sama Naufal aja ya. Jangan suka sama Elang lagian dia juga udah punya Vera."
"Soalnya Agam suka sama Hani bukan suka sama kamu. Kalo kamu sukanya harus sama aku. Karena kamu diciptain cuma buat menemani sisa hidupku," gombal Rangga lagi. Dia sedang gencar mendapatkan hati Ulfa walaupun harus rela dianiaya.
"Dih... Cinta kok dipaksakan," ujar Ulfa ketus.
"Lah! Bukannya kamu yang maksa Hani suka sama Naufal duluan. Jadi nggak salah dong... kalo aku maksa kamu suka sama aku."
"Ya nggak Han?" Rangga menatap ke arahku mencoba mencari dukungan.
"Iya," sahutku kemudian seraya tersenyum hingga membuat Ulfa cemberut sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ternyata menggoda Ulfa asik juga.
Rangga mengajakku tos ria. Tampak Ulfa sangat kesal melihat kekompakan aku dengan Rangga.
"Heh! Serangga. Denger ya baik-baik."
"Iya yang, aku pasti dengerin kamu baik-baik." Rangga mendekatkan telinganya ke arah Ulfa. Dengan gemas Ulfa menjewer telinga cowok itu dengan kesal hingga membuat Rangga memekik kencang.
"AW!! AW!! Yang sakit!!"
"Sukurin! Makanya jadi cowok nggak usah banyak tingkah," ujar Ulfa sinis.
"Nggak usah ngasih pengaruh buruk buat Hani," lanjutnya.
"Kalian berdua cocok banget," celetukku tiba-tiba. Hingga membuat Rangga tersenyum senang.
"Ini baru sohib gue," ujar Rangga bangga.
"Hani! Apa-apaan sih?! Nggak banget deh becandaannya."
"Kenapa? Emang bener kok... kalian cocok. Wajah kalian juga mirip. Kata orang, kalo wajahnya mirip itu tandanya jodoh."
"Cakep!!" Pekik Rangga.
"Gue beliin pulsa seratus ribu ntar." Rangga tersenyum penuh kemenangan. Karena aku berada dipihaknya.
"Hani!!!" Pekik Ulfa kencang.
Aku menutup kedua telingaku rapat-rapat seraya memalingkan wajahku karena malu menjadi pusat perhatian di kafe ini. Yang kebanyakan siswa dari sekolahku yang masih asik nongkrong atau mengerjakan tugas sambil makan.
Karena teriakkan Ulfa cewek-cewek cantik yang tadinya tak melihatku. Kini mereka menatapku, sepertinya mereka mengenaliku sebagai cewek yang makan berdua sama kak Agam di kantin. Mereka bahkan menatapku dengan tatapan yang sangat menyeramkan. Mereka melihatku dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Seolah-olah tengah menilai penampilanku apakah aku cocok dengan kak Agam si mantan ketua OSIS atau tidak.
Jujur aku sangat risih dipandangi seperti itu. Kemungkinan cewek-cewek itu fans garis keras kak Agam. Kalau hal itu benar.
Tamatlah riwayatku.
***
Pembaca : Katanya mau selow update sampe dua bulanan! Katanya cuma bisa update colongan! Kenapa sekarang udah update lagi?
Author : Maaf kan saya wahai pembaca. Tau sendiri kalo authornya plin-plan. Tapi, salahin aja tuh! Yang bikin THR buat author. Kan jadinya saya nggak jadi selow update. Soalnya kan ada duitnya. Lumayan lah buat nambahin penghasilan. Walaupun belom bisa diambil. Maklum... bukan penulis kontrak.