
Elang pov
"Yang, kamu suka nggak?" Tanya cowok itu setelah membelikan Vera es krim.
"Iya, suka banget." Vera tampak mengangguk cepat.
"Kalo makan yang bener dong, yang." Cowok itu mengelap sisa es krim di bibir Vera yang belepotan. Melihat kemesraan mereka berdua, gue ngerasa biasa aja. Nggak marah ataupun cemburu. Seolah-olah Vera bukan pacar gue.
Di saat gue hampir mendekati Vera buat mutusin hubungan. Tiba-tiba mata gue malah nggak sengaja melihat Hani sama Agam masuk ke toko buku.
Nggak bisa dibiarin nih!
Nggak gue hiraukan lagi tuh pasangan. Gue lebih tertarik pergi ke toko buku buat mastiin sesuatu. Gue berjalan mendekat ke arah Hani dan Agam. Tampak Hani hanyut membaca blurb novel-novel yang berjejer rapi di rak. Dari kiri ke kanan. Sedangkan Agam tengah sibuk memilih buku pelajaran di sudut yang lain.
Diam-diam gue berdiri di samping Hani yang tengah fokus membaca blurb novel. Gue bahkan pura-pura membaca blurb novel juga supaya tidak dicurigai.
Gue lihat-lihat, Hani sangat cantik. Keningnya berkerut seraya membaca blurb novel itu. Kemana aja gue selama ini?
Jelas-jelas Hani lebih baik dari Vera dilihat dari sudut pandang manapun. Gue juga yang terlalu gegabah. Gara-gara males diledekin jomblo terus, gue jadi nyesel sendiri pada akhirnya. Harusnya gue lebih bersabar lagi waktu jomblo. Gue harus lihat baik-baik dan nggak asal tembak. Mungkin niat gue dari awal udah nggak baik. Makanya gue diselingkuhi sama Vera.
Ini yang namanya karma kali ya?
Duh! Jantung gue deg-degan deket sama Hani. Kira-kira jantungnya deg-degan juga nggak ya pas deket gue?
Norak banget gue ternyata. Mantan udah bejibun. Tapi baru kali ini jantung gue dibuat kelimpungan sama cewek.
Beberapa kali gue menggaruk tengkuk gue saking groginya. Padahal gue cuma berdiri di sampingnya doang. Kayaknya gue bisa lepas dari Vera berkat selingkuhannya. Gue harus bisa memanfaatkan momen berharga ini. Jangan sampai gue terlambat.
Tapi satu sisi dari diri gue mengatakan kalo gue juga nggak boleh biarin Agam berduaan sama Hani terus menerus. Kalo seperti itu terus. Maka bisa hangus harapan gue buat deketin Hani.
Iya! Sekarang gue udah mutusin buat memperjuangkan Hani. Dan gue akui kalo gue jatuh cinta sama dia.
Gue nggak mau munafik lagi demi cewek kayak Vera. Gue terus mengelak jatuh cinta sama Hani. Cuma karena gue nggak mau selingkuh aja.
Tapi ternyata gue ditipu mentah-mentah. Percuma gue pertahanin kalo ceweknya aja nggak bener. Mending gue deketin Hani yang jelas lebih baik dari dia.
Dan sayangnya gue ketinggalan selangkah dari si kunyuk alias Agam. Pokoknya setelah urusan gue sama Vera kelar. Gue nggak akan diem-diem lagi. Gue bakal nunjukin ke Hani kalo gue suka sama dia. Dan gue nggak mau kecolongan lagi.
Hampir lima belas menit, Hani memilih novel yang dia mau. Dan si kunyuk sepertinya sudah selesai dengan urusannya. Hingga dia datang mendekat. Mukanya yang sok ganteng itu bikin gue geram.
"Udah selesai kak?" Tanya Hani seraya menatap ke arah si kunyuk dan membelakangi gue.
"Iya, nih bukunya." Si kunyuk memperlihatkan buku di tangannya. Buku tebal yang bikin gue mau muntah kalo disuruh baca.
"Kamu juga udah milih novelnya?" Hani mengangguk cepat.
"Kok cuma satu? Ambil lagi aja. Gue yang bayarin." Si kunyuk tersenyum manis.
Hani nggak bakalan mau lah. Dia itu cewek yang beda dari cewek pada umumnya.
"Nggak kak, makasih. Aku bisa beli sendiri." Tuh! Apa gue bilang! Hani bukan cewek biasa. Dia itu luar biasa.
Coba kalo Vera, belum gue tawarin. Dia udah nunjuk ini itu kayak anak kecil. Kalo nggak diturutin, pasti ngambek. Terus dilihatin banyak orang.
Malu anj*r....
Seperti dugaan gue, Hani memilih membayar novel pake uangnya sendiri. Melihat hal itu, gue tersenyum senang. Si kunyuk ditolak mentah-mentah.
"Han, sebelum pulang. Gimana kalo kita nonton dulu. Kebetulan ada film bagus." Hani tampak kebingungan.
"Kayaknya nggak bisa kak, soalnya mama cuma kasih aku waktu sebentar." Lagi-lagi gue menyeringai senang.
Mampius Lo! Ditolak lagi.
"Aku yang minta ijin deh. Sini ponsel kamu."
Woi! Jangan maksa dong!
Gue hampir merebut ponsel itu dan mengembalikannya ke Hani. Tapi ntar gue ketahuan lagi ngikuti mereka berdua.
Gue menggelengkan kepala gue cepat. Setelah ponsel itu jatuh ditangan si kunyuk. Dia dengan seenaknya sendiri menghubungi dan meminta ijin ke mama Hani. Terlihat dari wajahnya yang sumringah. Gue yakin banget kalo mamanya Hani setuju.
Sial!
"Mama kamu udah setuju kok."
Film itu akan tayang sekitar 30 menit lagi. Dan gue harus bisa menggagalkan acara nonton mereka berdua. Tapi gimana caranya?
Triing!!
Rangga. Cepat-cepat gue menghubunginya agar datang ke sini. Akhirnya Rangga datang tepat waktu. Dia membawa seorang gadis.
Ah!!
Itu temannya Hani.
"Lang, gimana rencana Lo?"
"Kalian masuk dan jangan biarin mereka berduaan terus. Bila perlu elo gangguin," ujar gue seraya menyeringai.
"Kalo itu mah tugas kecil. Ya nggak, Yang?" Ujar Rangga menatap wajah gadis di sebelahnya yang tampak cemberut.
"Kalian berdua kenapa sih? Siapa yang perlu digangguin?" Tanya gadis itu dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Noh!!" Rangga merangkum wajah gadis itu. Dan menolehkan kepalanya ke arah Hani dan si kunyuk yang sedang membeli tiket.
Gadis itu tampak terkejut. "Kak Agam!!" Pekiknya.
"Kenapa nggak bilang dari tadi! Ayo buruan kesana!" Gadis itu menarik paksa Rangga mendekati Hani dan Agam.
Sekarang gue harus cari kemana tuh cewek sama selingkuhannya pergi. Pucuk dicinta ulam pun tiba, nggak perlu nyari keliling mall. Tenyata keduanya keluar dari pintu bioskop.
Gue ikutin kemana lagi mereka berdua. Dan tujuan selanjutnya ternyata kafe blue. Kafe yang pernah Rangga kasih tahu waktu itu.
Barang belanjaannya sangat banyak, mirip seperti orang yang lagi belanja bulanan. Bedanya kalo belanja bulanan, di dalamnya semua keperluan dapur. Sedangkan barang belanjaan Vera semuanya barang-barang lucu. Entah itu tas, sepatu, baju dan aksesoris cewek.
Padahal nggak semua barang itu dia pake. Bahkan sebagian besar barang-barangnya ia buang sebelum sempat dia pakai. Dia bilang norak lah, aneh lah, dan masih banyak alasan yang lainnya. Jadi intinya barang-barang itu akan terbuang sia-sia. Ia hanya memuaskan nafsu mata saja. Walaupun yang ia beli tidak akan berguna sedikitpun.
Gue duduk nggak begitu jauh dari kedua pasangan itu. Gue terus memperhatikan kemesraan mereka yang diumbar-umbar.
"Kayaknya ini waktu yang tepat," gumam gue seraya menyeringai lebar.