Shy Girl

Shy Girl
27. Patah hati



Setelah hari di mana aku memberikan jaket Elang, entah kenapa saat aku melewati warung itu. Aku merasa ada seseorang yang selalu memandangiku. Tapi aku tidak berani menengok ke arah sana. Aku berusaha cuek dan mengayuh sepedaku lebih kencang lagi saat melewati tempat penuh cowok-cowok itu. Mungkin itu cuman perasaanku saja.


"Hei!!" Aku melonjak kaget seraya menatap wajah cengengesan Ulfa di sebelahku.


"Ya ampun, kenapa kamu kagetin aku sih?" Ujarku seraya menatapnya sengit. Pagi-pagi seperti ini aku sudah dikageti oleh temanku yang satu itu. Lalu tanpa rasa bersalah ia cengengesan di depanku.


"Jangan bengong pagi-pagi," ujarnya seraya duduk di tempat duduk Avi.


"Kamu sendirian aja dari tadi?"


Hello!!!!


Emangnya dia lihat seseorang selain aku di sini apa!!! Sudah jelas kelasku kosong karena teman-teman ku hobi berangkat mepet. Jangan heran kalau mereka belum berangkat. Kalian semua baru boleh heran, kalau semuanya sudah duduk rapi di kursi pagi-pagi sekali.


Aku memutar bola mataku jengah. Dan sepertinya Ulfa menyadarinya.


"Oke... Oke... Nggak usah dijawab. Aku tahu jawabannya."


"Nah! Itu tahu. Kenapa pake nanya segala," ujarku seraya menutup buku tulis di depanku.


"Gimana perasaan kamu di kelas ini?" Tanyanya dengan rasa penasaran, terlihat dari hidungnya yang kembang kempis menari jawaban dariku. Wajahnya mendekat ke arahku.


"Biasa aja," jawabku seraya mengembuskan nafas lelah. Mencoba menutupi rasa bahagia yang membuncah.


"Bohong," ujarnya seraya mencolek hidungku. Lantas aku langsung menatapnya dengan tatapan tajam.


"Biasa aja katanya," ujarnya dengan nada mengejek.


"Emang biasa aja kok." Aku mengelak.


"Terus kenapa pipi kamu merah gitu?" Ulfa menatapku dengan tatapan curiga.


Aku menggeleng cepat dan menangkup kedua pipiku dengan tangan. Menutupi rona merah seperti yang dibilang Ulfa barusan.


"Hayo!!! Ada apa nih?"


"Nggak ada apa-apa kok," ujarku berusaha terus mengelak.


"Beneran?"


"Iya, beneran."


"Oke deh, aku percaya."


Huff!!


Aku menghela nafas lega. Akhirnya Ulfa menyerah juga. Aku tidak mau gadis itu tahu kalau aku menyukai Elang. Mulutnya yang seperti toa masjid tidak cocok untuk tempat curhat. Yang ada semua rahasiaku dia katakan ke Elang secara langsung. Dan aku tidak mau hal itu terjadi.


Cukup temannya yang lain saja yang ia bongkar rahasianya jangan aku.


Deg


Lalu tak sengaja aku melihat novel yang sama seperti yang Elang beli denganku waktu itu.


"Itu novel kamu fa?" Tanyaku heran dengannya. Biasanya dia tidak suka membaca novel sepertiku.


Ia menggeleng. "Bukan, ini novel temenku," jawabnya sedikit menghela nafas lelah.


"Ini tugas dari Bu Asih wali kelasmu."


"Tugas apa?" Tanyaku penasaran.


"Tugas menulis unsur intrinsik yang terkandung dalam novel. Nah! Karena aku nggak punya novel. Akhirnya aku pinjem sama temenku Vera."


"Oh... gitu." Aku mengangguk paham.


"Oh iya... Pacarnya Vera kan di kelasmu."


Aku mengangkat sebelah alisku. "Siapa?"


"Elang."


Deg


Satu kata yang Ulfa lontarkan dari mulutnya tapi langsung membuat jantungku seakan tertancap pedang tak kasat mata.


"Kamu tahu kan. Elang yang penjaga gawang itu?" Pasti Ulfa berpikir kalau aku tidak tahu siapa saja teman-temanku di kelas.


Aku mengangguk dengan kaku.


"Elang itu so sweet banget. Masa dia yang beliin novel ini buat Vera." Ia menunjukkan novel itu di depan mataku.


Dadaku tiba-tiba sesak. Aku tidak menyangka kalau novel itu ternyata dari Elang. Novel yang aku pilih sebelum Elang membelinya.


Setelah itu aku tidak mendengarkan apa saja yang diucapkan Ulfa tentang Vera dan Elang. Kepalaku mendadak pening.


"Han, aku balik dulu ke kelas," ujar Ulfa seraya tersenyum. Aku pun mencoba menarik sudut bibirku walau berat seraya mengangguk.


Setelah kelas kosong, air mataku tak bisa dibendung lagi. Menetes dengan deras. Tak ingin ada yang melihatnya buru-buru aku menghapus air mataku dengan tisu yang selalu aku bawa.


Menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan. Berharap rasa sesak di dadaku ini bisa mereda dengan cepat. Setelah sedikit tenang, aku mengumpulkan tisu bekas menghapus air mataku. Dan membawanya keluar ke arah tong sampah.


Namun saat berbalik aku melihat Elang bergandengan tangan dengan seorang gadis cantik di depan kelas IPS 3. Tampaknya gadis itu yang bernama Vera, gadis yang diceritakan Ulfa barusan.


Pantas Elang menyukai gadis itu. Ia tampak sangat cantik dan mudah bergaul. Terlihat dari caranya berbincang-bincang dengan Elang di depan pintu. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi tampaknya sangat seru hingga beberapa kali Elang tertawa hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih.


Buru-buru aku berbalik masuk ke dalam kelas. Rasanya aku ingin cepat pulang. Tapi seolah alam semesta sedang mengerjaiku. Waktu berjalan begitu lambat bagiku. Satu detik seakan berjam-jam lamanya.


Dan saat bel tanda pulang berbunyi, aku buru-buru keluar tak memerdulikan apapun selain ingin cepat sampai ke dalam kamar agar aku bisa menangis dengan puas.


Kukayuh sepedaku begitu kencang hingga setelah sampai di dalam kamar akupun menangis tersedu-sedu. Meratapi nasibku yang sial ini. Aku tahu kalau aku memang tidak mungkin bersama Elang. Tapi tetap saja hatiku sakit melihat Elang begitu bahagia dengan Vera.


Mataku membengkak dan hidungku memerah dengan jejak air mata yang mengalir di kedua pipiku. Aku menangis cukup lama. Bahkan tanpa aku sadari aku belum mengisi perutku sejak di sekolah hingga malam menjelang. Jam istirahat aku gunakan untuk membaca novel di perpustakaan. Tempat di mana Elang tidak akan masuk ke dalamnya. Seharian ini aku berusaha tidak melihat ke arah Elang dan juga menjauhinya.


Setelah semua air mataku tumpah. Aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa di dalam hidup Elang. Aku hanya teman satu kelasnya saja tidak lebih. Semua ini salahku sendiri yang selalu ke-geer-an dan terlalu percaya diri.


Mungkin juga Elang hanya kasihan denganku yang tidak bisa bergaul layaknya orang-orang yang ada di sekitarku. Dengan keyakinan itu aku memutuskan untuk mundur jauh-jauh dari Elang. Ini demi menyelamatkan hatiku.


Aku tahu. Dari awal ini memang salahku. Elang tidak tahu apapun. Aku yang membuat pemikiran seperti itu sendiri. Tanpa melihat dari sudut pandang yang lain.


Aku putuskan untuk menyerah. Mungkin aku memang tidak sepadan dengan Elang yang populer. Ia pantas mendapatkan pacar yang cantik dan juga sepadan dengannya. Dan gadis itu bukan aku. Aku tidak akan bisa berubah menjadi gadis ceria yang dapat dengan mudah mengumbar senyum ke arah orang-orang yang ada di sekitarku. Aku hanya Hani, gadis pemalu yang tak pantas dengan Elang.