
Aku berjalan dengan langkah lambat seraya menikmati angin yang berembus menerpa wajahku. Pagi selalu menjadi waktu yang sangat menyenangkan. Teras depan kelas masih lenggang dan tenang. Aku mendongak saat sudah sampai di depan pintu. Memastikan pintu sudah dibuka atau belum. Tapi ternyata kunci geser yang letaknya di bagian atas masih belum digeser. Kalau begini dengan terpaksa aku duduk di lantai lagi seraya menunggu seseorang yang bisa membukanya. Aku heran dengan penjaga sekolah yang selalu lupa membuka pintu kelasku. Apa karena kelasku berada dibagian pojok.
Tak lama kemudian Avi dan Ulfa datang secara bersamaan. Mereka tampak sedang membicarakan hal yang sangat asik. Kalau begini aku pasti iri dengan keduanya yang bisa bercanda tawa dengan seru. Aku tahu kalau aku terlalu kaku. Tidak selepas itu saat tertawa atau menceritakan segala hal yang aku rasakan kepada orang lain.
"Han!" Teriak Ulfa diujung sana. Tangannya melambai. Ulfa selalu mendatangiku dan melewati kelasnya. Mereka mengambil duduk di depanku.
"Pintunya masih dikunci ya," ujar Avi yang mendongakkan kepalanya menatap kunci geser di atas sana. Aku menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Heran deh, masa cuma kelas kalian doang yang selalu lupa dibuka. Atau jangan-jangan ada sesuatu," ujar Ulfa mendramatisir seraya memicingkan matanya menatap aku dan Avi.
"Jangan-jangan kelas kalian horor, sampai-sampai penjaga sekolah takut buat membukanya." Ulfa mengutarakan pikirannya yang ngawur. Aku memutar bola mataku jengah.
Eh! Eh! Eh!
Bukankah kelasku memang horor.
Setelah cukup lama kami di sini, tiba-tiba ada seorang cowok yang datang mendekat lalu memegang gagang pintu hendak membukanya.
"Jar, pintunya masih dikunci. Tuh, lihatkan kuncinya belum digeser." Tunjuk Avi ke arah pintu bagian atas.
Cowok itu mendongak, lalu tanpa kata dia langsung membukanya dengan mudah. Dan masuk dengan cueknya.
Kulihat Ulfa bergidik ngeri. "Itu temen satu kelas kalian?" Tanyanya dengan berbisik-bisik.
Aku dan Avi mengangguk. Walau aku tahu wajahnya. Tapi jujur saja, kalau aku tidak tahu namanya siapa. Lagipula dia tidak pernah berinteraksi dengan cewek-cewek. Terlihat kalem, tapi nyatanya di juga suka bolos. Dalam satu Minggu ini dia sudah tidak berangkat 3 sampai 4 kali tanpa surat keterangan.
"Cuek banget ya," kata Ulfa. Aku mengangguk sebagai jawaban.
Mataku ini dengan refleks mengedar, mencari sosok yang ingin aku lihat pagi ini. Siapa tahu Elang sebentar lagi muncul dari arah sana. Seperti waktu itu. Tapi sampai sepuluh menit kemudian, dia belum juga datang. Atau Jangan-jangan dia tidak datang lagi seperti kemarin.
Bahkan sampai bel masuk berdering. Dia tidak muncul juga. Aku pasrah, menunduk seraya mencari buku yang akan digunakan untuk pelajaran pagi ini. Kelas masih saja gaduh, ada yang sedang bernyanyi dengan suara fals, hingga telingaku seakan-akan hampir pecah. Ini semua karena Bu Endang belum juga datang. Bahkan kursi yang biasa Elang duduki masih kosong.
"Apa Elang nggak berangkat lagi?" Gumamku lirih.
Saat aku mendongak, ternyata Bu Endang sudah berdiri di ambang pintu. Dan hal itu tidak disadari oleh semuanya. Hanya aku dan Avi yang tahu. Beliau menggelengkan kepalanya melihat kelasku yang gaduh. Yang cewek berkumpul membentuk lingkaran di depan papan tulis. Sedangkan yang cowok sedang asik konser di belakang kelas.
Eheem
Bu Endang berdehem dengan kencang. Membuat cowok yang bernyanyi di belakang sana memekik.
"Astaghfirullah!" Sambil berlari ke arah kursinya dengan panik. Dan diikuti yang lainnya dengan sama paniknya. Yang cewekpun tersenyum malu seraya kembali ke tempat duduk masing-masing.
Baru setelah semuanya duduk di tempat masing-masing. Bu Endang masuk ke dalam kelas. Dan tak berapa lama, Elang masuk ke dalam kelas dengan membawa tumpukan buku.
"Bagiin ke teman-teman kalian," perintah Bu Endang.
"Iya, Bu" Elang membagikan buku sesuai nama yang tertera. Aku pikir dia tidak berangkat lagi. Tapi ternyata tidak. Dia cuma hampir terlambat saja.
***
"Mas uang kas," pinta Avi selaku bendahara. Dan aku yang menjadi asistennya menagih uang kas.
"Ntar ya," ujarnya santai lalu kembali menutup matanya. Tampak Avi mendengus kencang. Lalu kami berpindah ke belakang. Di mana banyak cowok yang sedang bermain game di lantai.
"Ya! Arya! Bayar kas." Avi mengulurkan tangannya ke depan.
"Bentar," sahutnya seraya bermain game tanpa melirik sedikitpun.
"Bayar sekarang," ujar Avi kesal. Dari tadi kami berdua menagih uang kas. Tapi jawaban semuanya bentar atau nanti.
"Apa susahnya sih, tinggal bayar doang," ujar Avi sinis.
"Yang lainnya aja dulu. Gue lagi fokus nih."
"CK. Fokus? Main game bisa fokus kalo pelajaran nggak bisa fokus," gerutu Avi kesal seraya memutar bola matanya.
"Kalian semua mana uang kasnya," ujar Avi seraya berkacak pinggang layaknya seorang penagih hutang. Yang kesal karena yang ditagih tidak mau membayar.
"Bayar dong! Dari tadi entar-entar mulu!"
Aku terkikik geli melihat wajah Avi yang merah padam karena kesal.
"Bang Jon, mana uang kasnya," ujar Avi menatap Jono.
"Nih! Kembaliannya buat Lo aja gue ikhlas." Jono menyerahkan uangnya.
"Kembalian apaan? Ini uangnya pas."
"Mukanya kenapa bete gitu? Masih untung gue bayar. Dari pada nggak bayar kayak Arya." Arya masih fokus bermain game di ponselnya tanpa memerdulikan ucapan Jono.
"Oh... Iya. Makasih ya bang Jono mau bayar kas." Avi merubah mimik wajahnya menjadi tersenyum manis. Bahkan kata-kata yang barusan diucapkan begitu halus. Tidak seperti beberapa menit yang lalu.
"Nih! Lihat bang Jono aja bayar, masa kalian nggak sih."
"Nih gue bayar kas." Elang mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya.
"Han, ambil uangnya. Aku mau catet dulu," ujarnya seraya membuka buku kas dan mulai menulis.
Sedangkan aku menerima uang dari Elang dan memasukkannya ke dalam dompet khusus uang kas.
"Arya Bayar kas," ujar Elang.
"Hmm," sahut Arya acuh tak acuh. Dengan cepat Elang mengambil uang yang ada di saku kemeja Arya dan menyerahkannya kepadaku.
"Nih uang kas Arya," ucapnya seraya menyerahkan sejumlah uang.
"Woi! Duit gue tuh!!" Teriak Arya setelah menyadari kalau uangnya diambil Elang tanpa ijin.
"Akh!!!" Teriaknya kesal saat ia kalah dalam permainan akibat ulah Elang.
"Wah! Elo bener-bener Lang. Padahal bentar lagi gue menang!!" Ujar Arya kesal. Ia menatap Elang dengan tatapan tajam. Tapi Elang justru mengedikkan bahunya tak peduli.
"Revi, Siska, Tya, Ika. Bayar kas dulu baru lanjut gosip," ujarnya seraya duduk di tengah-tengah mereka semua.
"Nih gue bayar," ujar Revi seraya menyerahkan uang ke tangan Elang.
"Kalian juga bayar." Tangan Elang bergerak-gerak meminta yang lainnya juga membayar.
"CK. Nih."
Elang tampak tersenyum lalu ia melambai ke arahku dan Avi supaya mendekat.
"Nih, Han. Uangnya jangan lupa dicatet vi."
"Nah! Gitu kek dari tadi," ujar Avi senang.