
"Gue ke toilet bentar ya," ujar Rangga.
Lalu ia melenggang pergi begitu saja. Aku lihat wajah Ulfa memerah melihat wajah kak Agam dari dekat.
Sepertinya dia sangat senang karena bisa duduk satu meja dengan cowok yang disukainya.
"Kenapa nggak dimakan?" Tanya Elang tiba-tiba. Hingga membuatku terkejut.
"Ah! Iya!" Pekikku sedikit gugup. Aku tidak menyangka kalau aku akan bertemu dengan Elang di mall ini.
Tadi sepulang sekolah kak Agam tiba-tiba menghampiriku dan mengajakku pergi ke toko buku menemaninya mencari buku untuk keperluannya mengingat ia sudah kelas 12.
Lalu saat itu aku tidak bisa menolaknya. Andai saja sepedaku tidak rusak. Pasti saat itu kak Agam tidak mungkin memintaku menemaninya. Wajahnya terlihat bahagia. Lalu ia menyuruhku menunggu sebentar. Dan tak lama kemudian dia datang membawa motor. Aku mengerutkan keningku. Bukannya kak Agam naik angkot. Kenapa tiba-tiba datang naik motor.
"Ayo naik," ujarnya seraya menyerahkan helm.
"Itu motor siapa kak?" Tanyaku heran dengan kening berkerut.
"Motor punya temen." Dengan ragu-ragu aku naik ke jok belakang. Dan sampailah aku di mall ini.
"Han, novelnya bagus nggak?" Tanya Elang hingga membuatku tersentak seketika.
Dan akupun mengangguk. "Bagus," jawabku jujur. Elang tampak tersenyum senang seraya menatap ke arah kak Agam.
Lalu saat aku menatap kak Agam, wajahnya berubah merah. Sepertinya kak Agam marah saat tahu aku mau dibelikan novel oleh Elang. Sedangkan tawarannya aku tolak. Mau bagimana lagi. Waktu itu aku tidak bisa menolak Elang.
"Kapan-kapan kita berdua ke toko buku lagi ya," ujar Elang dengan tatapan mata yang membuatku tak mampu mengalihkan pandanganku. Aku seakan terhipnotis matanya hingga dengan mudahnya aku mengangguk mengiyakan ajakan Elang.
"Kak, habis beli buku apa?" Tanya Ulfa sambil tersenyum manis. Ulfa pasti tengah melancarkan aksinya mendekati kak Agam di saat Rangga pergi.
"Beli buku buat persiapan ujian nasional," sahut kak Agam.
"Kakak kok udah beli buku buat persiapan ujian. Bukannya ujian masih lama?"
"Bukannya bagus mempersiapkan lebih awal. Dari pada santai-santai dulu, baru rusuh kemudian. Aku bukan orang yang seperti itu." Entah hanya perasaanku saja atau bukan. Tatapan mata kak Agam tertuju ke arah Elang.
"Padahal kakak udah pinter. Tapi masih terus belajar. Aku salut sama kakak," puji Ulfa seraya menatap kak Agam penuh kekaguman.
"Aku nggak sepinter itu," ujar kak Agam merendah. Aku yakin Ulfa semakin terpesona.
"Kak...."
"Ehemm!!" Dehem Rangga tiba-tiba seraya duduk di samping Ulfa. Tangannya ia letakkan di sandaran belakang kursi Ulfa. Tampak seperti sedang merangkul Ulfa dari belakang dengan posesif.
"Ish! Apaan sih!" Ulfa menurunkan tangan Rangga dengan kasar.
Diam-diam aku terkikik geli melihat tingkah mereka berdua. "Mereka lucu ya," bisik Elang. Aku pun mengangguk tanpa sadar.
Lalu aku baru sadar kalau jarak Elang ternyata berada cukup dekat denganku. Tubuhnya condong ke arahku. Hingga membuat jantungku deg-degan.
"Han, sepertinya ini sudah terlalu lama. Ayo aku antar pulang. Pasti mama kamu khawatir," ujar kak Agam tiba-tiba.
"Hah! Iya kak," sahutku sedikit terkejut.
"Kami permisi dulu ya," pamit kak Agam kepada semuanya.
"Iya! Hati-hati di jalan ya," sahut Rangga seraya melambaikan tangannya.
"Kak!" Pekik Ulfa kencang.
"Kamu di sini aja sama aku," ujar Rangga seraya memegang lengan Ulfa mencegahnya berdiri.
"Ayo." Tiba-tiba kak Agam menarik tanganku menjauh. Aku menoleh ke belakang, menatap Elang yang sedang duduk seraya melipat kedua tangannya di depan dada seraya tersenyum manis menatap ke arahku. Rasanya hatiku berat meninggalkan Elang. Tapi mau bagaimana lagi, kak Agam sudah lebih dulu menarikku pergi.
Kami berdua berjalan ke tempat parkir. "Kak, bisa lepasin tanganku."
"Oh! Maaf!" Pekiknya seakan baru sadar kalau sedari tadi ia sudah menggenggam tanganku erat.
"Kira-kira mama kamu suka makanan apa?" Tanya kak Agam kemudian untuk memecahkan keheningan diantara kami beberapa menit yang lalu.
"Mama suka makanan yang manis-manis," jawabku jujur.
"Kalo gitu, sebelum pulang kita mampir dulu ke tempat martabak manis favorit aku. Di sana martabaknya enak dan nggak bikin eneg."
"Buat apa ke sana?" Tanyaku dengan polosnya. Baru juga makan, masa mau beli martabak manis.
"Beli martabak manis buat mama kamu," jawabnya.
"Nggak usah repot-repot kak." Aku menggelengkan kepalaku dengan kencang.
"Nggak pa-pa Han. Pokoknya aku mau beliin mama kamu martabak. Kamu nggak boleh nolak pemberianku kali ini." Kak Agam terlihat sedikit memaksa.
Saat sudah di depan motor. Kak Agam langsung menaiki motor temannya itu. Aku pun mendekat hendak memakai helm. Tapi, tiba-tiba ia tampak celingukan ke arah bawah motor.
"Ada apa kak?" Tanyaku heran melihatnya bertingkah aneh.
Lalu ia turun dari motor dan berjongkok di depan ban dan memencetnya sebentar. "Ban motornya kempes." Ia menatap ke arahku.
"Terus gimana kak?" Tanyaku bingung.
"Kayaknya kita harus dorong motor ini ke bengkel buat isi angin. Kamu nggak pa-pa kan?"
"Nggak pa-pa kak," sahutku seraya mengangguk.
Ia tampak tersenyum senang. "Ayo jalan."
"Iya," jawabku.
Brum... Brum... Brum...
Suara sepeda motor terdengar menggelegar di sampingku. Lalu aku menatap ke arah sumber suara itu.
"Kenapa motornya?" Tanya Elang setelah membuka kaca helm full facenya.
"Bannya kempes," jawab kak Agam cepat.
"Bengkel motor masih jauh, kasihan Hani kalo disuruh jalan kaki panas-panas begini," ujar Elang tiba-tiba.
Memang cuaca hari ini sangat panas. Hingga saat keluar dari mall aku sedikit terkejut. Kak Agam menatapku. "Kamu capek nggak?"
Aku menggeleng.
"Aku nggak capek. Cuman sedikit haus," batinku.
"Kamu kuat nggak jalan sebentar lagi?"
"Aku...."
"Masa cowok tega nyuruh cewek jalan kaki lama terus kepanasan. Kalo Hani gue yakin nggak akan nolak. Tapi seharusnya yang cowok peka dong!" Ujar Elang sedikit sinis.
"Lagian jok motor gue kosong nih, bisa nganterin Hani sampe rumah dengan cepat. Dari pada kulitnya gosong kena sinar matahari, terus kakinya pegel-pegel pas sampe rumah."
Ia menatapku dengan kening berkerut dalam. Seperti tengah menimbang-nimbang keputusan. Tampak kak Agam mengembuskan nafasnya panjang tak lama kemudian. Mungkin dia sudah menentukan keputusan.
"Han, kali ini aku nggak bisa anterin kamu sampe rumah. Kamu nggak pa-pa kan pulang sama Elang?"
"Iya," sahutku cepat seraya mengangguk.
"Kakak hati-hati di jalan ya, aku pulang dulu." Kak Agam mengangguk.
Akhirnya aku mendekati Elang. Ia mengulurkan tangannya agar aku bisa dengan mudah naik ke atas motor itu.
Aku berpegangan pada jaket Elang di sisi kanan dan kiri saat motor yang dikendarai Elang melaju. Aku melihat sebentar ke arah kak Agam yangs sedang berjalan seraya menuntun sepeda motor itu. Untung saja motor yang dipinjam kak Agam bukan motor sport. Kalau motor sport. Dia pasti kerepotan.