Shy Girl

Shy Girl
10. Pahlawan



Sedari tadi Elang menulis seraya mencuri-curi pandang ke arahku. Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi yang pasti, perbuatannya sukses membuat jantungku berdetak kencang. Sesekali aku menggaruk kepalaku karena salah tingkah dipandangi seperti itu.


Rasanya pendingin ruangan di ruangan ini seakan-akan tidak berfungsi dengan normal. Karena tubuhku terasa semakin panas setiap menitnya. Entah mengapa tanganku juga sedikit bergetar hingga tulisan yang aku buat sedikit berantakan. Fokusku benar-benar pecah seketika.


"Elo nggak pa-pa?" Tanya Elang untuk ke sekian kalinya.


"Aku nggak pa-pa," balasku sama seperti beberapa menit yang lalu.


"Tapi kenapa tangan ko gemetaran kayak gitu?" Matanya tertuju ke arah tanganku yang sedang memegang pulpen.


"Lo ke UKS aja ya, tangan Lo gemetaran pasti karena kena buku tadi," ujarnya lagi.


Memang aku akui kalau tanganku sedikit bergetar.


"Masalahnya, bukan karena buku itu. Tapi keberadaanmu yang terlalu dekat dan selalu mencuri pandang ke arahku," batinku. Hal itu yang membuatku gelisah. Lagi pula buku setebal itu tidak mungkin membuat kepala seseorang cidera parah.


"Kayaknya aku cuma butuh istirahat bentar," balasku. Ia tampak mengerutkan dahinya sebentar. Lalu tiba-tiba ia mengangguk setuju.


"Oke, elo istirahat. Biar gue yang nulis punya tugas Lo. Yang ini kan?" Tanyanya. Dari pada dia memandangiku terus lebih baik aku mengangguk saja.


"Tapi punya kamu udah selesai belom?" Tanyaku. Aku tidak mau kalau dia membantuku menulis tugasku sedangkan tugasnya belum selesai.


"Tenang aja, punya gue udah hampir selesai kok," ujarnya seraya menulis tugas punyaku. Ia menulis dengan begitu teliti dan serius. Bahkan tulisannya dibuat sangat rapi. Lalu karena merasa bosan, akhirnya aku mengambil buku tulisnya.


Aku membelalakkan mataku saat melihat tulisan tangannya yang sangat berantakan. Tidak begitu rapi, terkesan kalau sang pemilik buku ini tidak niat dalam mencatat. Bahkan banyak kata yang tidak bisa aku baca saking berantakannya.


Tapi saat aku melihat hasil tulisannya di buku tulis ku. Sangat-sangat berbeda. Begitu rapi dan jelas. Bahkan tulisan Elang justru lebih bagus dari pada tulisan tanganku sendiri. Ia tampak berhati-hati menulis satu persatu huruf. Hingga ia memperhatikan setiap goresan tintanya.


Karena merasa tidak enak, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil alih tugas itu.


"Eum... Lang, kayaknya aku udah mendingan. Sini bukunya, biar aku yang tulis sendiri aja," ujarku seraya memegang ujung buku tulis ku hendak menariknya mendekat.


"Nggak pa-pa, biar gue aja. Lagian ini sebagai tanggung jawab. Karena keteledoran gue yang berdiri di belakang Lo."


"Tapi...."


"Ssstt... Diem, duduk aja. Gue bisa kok," bisiknya seraya terus menulis dengan serius.


Seolah-olah ucapanku tidak berpengaruh apapun kepadanya. Yang bisa kulakukan adalah menghela nafas untuk meredakan sedikit debaran jantung yang timbul akibat Elang.


"Tinta pulpen gue abis, gue pinjem punya elo ya." Elang menatap ke arahku meminta persetujuan.


"Iya ambil aja," sahutku cepat.


Revi tiba-tiba muncul di sampingku sambil membaca buku milik Elang.


"Ini punya siapa?" Tanya Revi seraya menunjuk buku tulis ku. Pandangan matanya tertuju ke arah ku.


"Punyaku," sahutku lirih.


"Woy! Lang. Buka jasa nulis Lo?" Ujar Revi seraya mengamati Elang yang tampak serius.


"Hmm," sahutnya singkat.


"Abis Hani, gue ya," ujarnya enteng.


"Ogah," balas Elang cepat.


"Yah! Kok ogah sih? Masa ke Hani elo mau nulisin. Kenapa ke gue elo nolak?" Elang mendengus kencang. Ia tetap diam tanpa merespon ucapan Revi.


"Lang... Lo pilih kasih banget sih," ujarnya seraya merengek.


"Elo mah tega jadi temen. Seumur-umur kita temenan dari dulu. Elo nggak pernah nulisin tugas gue."


"Tulisan gue nggak bisa dibaca Rev," balas Elang.


"Lha! Itu apaan?!!" Pekik Revi heboh seraya menunjuk tulisan tangan Elang yang ada di bukuku. Hingga sukses mendapat pelototan dari penjaga perpustakaan. Melihat hal itu Revi langsung meringis horor.


"Sorry," ujar Revi menggerakkan mulutnya tanpa bersuara.


"Lang... Punya gue juga dong," ujar Revi seraya mengguncang-guncang bahu Elang.


Dan Elang langsung menghentikan tangannya cepat sebelum pulpennya mencoret bukuku karena ulah Revi barusan. Lalu Elang memelototi Revi dengan begitu menyeramkan.


"Pergi nggak Lo," ujar Elang begitu kejam kepada Revi.


"CK. Gitu aja marah Lo," ujar Revi seraya melenggang pergi.


Setelah tugas dikumpulkan. Aku berjalan ke arah deretan novel yang ada di bagian depan. Aku mulai membaca mencari novel yang menarik. Kebetulan novelku hampir habis aku baca. Mungkin nanti malam juga novel itu habis. Makanya aku putuskan untuk meminjam novel di perpustakaan.


Semua teman-teman ku sudah pergi terlebih dulu. Tinggal aku yang sedang antre sambil membawa buku yang akan aku pinjam.


Dan betapa terkejutnya aku saat mendapati Elang yang berdiri di sisi pintu sebelah kiri dengan menampilkan senyuman ke arahku.


"Lo lama banget?"


"Iya."


Matanya tertuju ke arah novel yang aku bawa.


"Oh... Ternyata pinjem novel. Gue pikir kepala Lo masih pusing. Makanya gue tungguin elo di sini. Takutnya elo pingsan di jalan, terus nggak ada yang bantuin. Ya kan?" Ujarnya seraya berjalan di samping ku.


"Iya," balasku seraya terkekeh geli.


"Aku nggak selemah itu kok," ujarku lirih.


"Sorry... Gue nggak maksud bilang elo lemah. Cuma...." Elang tampak menggaruk tengkuknya.


"Nggak pa-pa, aku tahu maksud kamu," ujarku kemudian. Ia tampak tersenyum lega.


Kami berjalan berdampingan menyusuri kelas-kelas yang berderet-deret. Aku mengulum senyum karena tidak menyangka kalau Elang dan aku bisa berjalan berdampingan seperti ini.


Sesekali Elang menyapa teman-temannya yang kebetulan lewat. Terlihat sekali kalau Elang sangat populer. Dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas. Semuanya mengenal Elang. Apa lagi Elang memang begitu ramah dan mudah tersenyum kepada siapapun.


***


Semua anak berhamburan keluar dari kelas setelah mendengar bel berbunyi nyaring. Aku berjalan menuju ke arah sepedaku berada. Lalu tiba-tiba Elang berada di sebelahku.


"Hai," sapanya dengan senyuman khas.


"Hai," balasku canggung. Walau beberapa jam yang lalu kita saling mengobrol. Tapi tetap saja aku masih sedikit canggung berbicara dengannya.


"Han, elo selalu bawa sepeda setiap hari?" Tanyanya dengan raut penasaran.


"Iya," ujarku seraya mengangguk.


"Kenapa nggak naik motor aja? Bukannya umur Lo udah 17 tahun."


"Umurku masih 16 tahun, beberapa bulan lagi baru 17 tahun. Dan sebenarnya aku tidak begitu berminat naik sepeda motor. Walau umurku sudah 17 tahun, tapi aku lebih suka naik sepeda," sahutku panjang lebar tanpa sadar.


Kulihat ia menganggukkan kepalanya. Tanpa terasa langkahku begitu cepat hingga aku sudah berada di depan sepedaku. Tapi sepertinya sepedaku terjepit motor yang ada di sebelah kanan dan kiri. Sampai sepedaku tidak bisa keluar.


Seolah mengerti apa yang aku pikirkan. Tiba-tiba Elang memindahkan motor-motor itu hingga sepedaku bisa keluar.


"Makasih ya," ujarku.


"Iya sama-sama, kalo butuh bantuan tinggal bilang aja."


Akupun mengangguk malu-malu.