Shy Girl

Shy Girl
28. Ujian



Aku tahu kalau aku bukan gadis yang pantas dengan Elang. Tapi kenapa Tuhan selalu memberiku banyak sekali bukti kedekatan keduanya di depan mataku. Seperti dua hari yang lalu, aku melihat Elang selalu pergi ke kelas sebelah.


Ia lebih sering berkumpul di kelas itu, hingga aku jarang melihatnya di dalam kelas. Mungkin ini juga salahku karena aku yang berharap tak melihatnya. Bahkan sering menghindar kalau ada dia di dekatku. Dan sepertinya Tuhan mengabulkan keinginanku ini.


Disaat ia benar-benar tak menampakkan wajahnya di kelas saat istirahat. Entah mengapa aku menjadi gelisah sendiri. Padahal aku sering melihatnya selalu berkumpul dengan gengnya sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi setelah mengetahui kalau Elang memiliki pacar. Rasanya kelas ini benar-benar neraka bagi ku.


Tak ada satupun yang membuatku semangat. Bisa saja aku ikut bergabung dengan Avi dan yang lain. Mereka tampak sedang berkumpul membentuk lingkaran di salah satu meja. Asik membicarakan sesuatu yang tidak aku pahami sama sekali. Bisa saja aku ikut bergabung karena pada dasarnya mereka semua tidak menganggapku aneh atau mengucilkan ku. Tapi sebaliknya, akulah yang mengucilkan diri. Aku sadar kalau aku tidak mudah mengungkapkan sesuatu. Aku lebih sering menyimpannya rapat-rapat dalam hati. Entah itu kisah lucu, sedih bahkan bahagia.


Rasanya sangat aneh saja, saat tiba-tiba aku mengungkapkan sesuatu kepada orang lain. Aku selalu berpikir kalau tidak semua orang akan mengerti apa yang aku maksud. Kadang kala ada seseorang yang justru mengejek atau meremehkan apa yang aku katakan. Atau bahkan menganggapku aneh dan beda dengan mereka semua.


Hingga aku tak berani untuk mengungkapkan pendapatku secara langsung.


Bahkan aku takut jika aku mengungkapkan pendapat. Maka ada seseorang yang tidak menyukaiku karena merasa tersinggung atas ucapanku yang sebenarnya tidak bermaksud begitu. Aku sering merasa canggung jika berada di keramaian. Dan juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan atau bicarakan.


Aku merasa beda, mungkin orang banyak sering mengatakannya dengan sebutan introvert. Sering menyendiri dan asik dengan kesendiriannya. Entah kenapa sendiri membuatku aman dan nyaman. Seolah di situlah tempatku berada. Bukan di tengah-tengah mereka sambil bercanda tawa dengan seru.


Pernah sekali aku mencoba berbaur dengan teman-teman saat duduk di bangku SMP. Tapi apa yang terjadi, mereka justru menatapku dengan alis bertaut dengan raut bingung yang sangat kentara.


Saat itulah aku merasa beda dan tidak bisa menyatu dengan mereka semua. Seperti ibarat air dan minyak. Ku embuskan nafasku lemah seraya membolak-balik buku tulis yang ada di depanku tak berminat.


Tiba-tiba Elang masuk ke dalam kelas saat bel masuk berbunyi. Wajahnya tampak bersinar bahagia dengan sisa tawa. Aku tahu kalau tawa itu karena Vera. Kutarik nafasku dalam-dalam dan kuembuskan perlahan. Meredakan denyutan perih di dalam hati dengan diam-diam.


***


Mungkin Tuhan sedang mengujiku lagi. Saat pulang sekolah, seperti biasa aku menutup jendela yang masih terbuka. Dan menarik kelambu-kelambu di dalam kelas agar tertutup sempurna. Baru setelah itu aku keluar kelas.


Deg


Jantungku kembali berdenyut nyeri. Seakan hati yang tergores kembali tergores diluka yang sama. Padahal luka itu masih belum sembuh sama sekali.


Di sanalah penyebabnya berada. Tepat di depan mataku. Elang sedang menunggu Vera yang belum keluar kelas di depan pintu. Lalu tak berapa lama. Vera muncul sambil tersenyum ke arahnya dengan ceria. Mereka bergandengan tangan seraya berjalan ke arah tempat parkir. Dan sialnya arah jalanku sama dengan mereka.


Dengan terpaksa aku berjalan di belakang Elang dan Vera seraya menatap kaitan tangan keduanya.


Benar-benar ujian yang sangat berat untuk pemula seperti ku dalam hal percintaan. Belum pernah aku merasakan jatuh cinta sebelumnya. Dan setelah merasakannya aku harus menelan pil pahit. Bahwa cinta juga tidak bisa dipaksakan.


Setiap langkah yang aku lakukan entah kenapa begitu berat. Rasanya aku ingin menghilang saja. Masuk ke dalam portal seperti di novel-novel genre fantasi. Dan tiba-tiba muncul di tempat parkir dengan begitu cepat. Tapi semua itu tidak akan pernah terjadi.


Dan sepertinya Tuhan semakin menambah ujian yang aku alami. Tiba-tiba Vera mengayunkan kaitan tangannya dengan Elang ke depan dan ke belakang. Seraya tersenyum menatap Elang. Lalu tangan Elang yang bebas mengacak-acak rambut Vera yang bergelombang cantik. Hingga membuat bibirnya manyun ke depan. Mungkin dia kesal diperlakukan seperti itu.


"Ada apa, Hem?" Tanya Elang menatap ke arah Vera yang sedang manyun.


"Kamu jangan acak-acak rambut aku," ujar Vera dengan nada merajuk yang sangat kental.


"Maaf yang..." Suara Elang begitu lembut seraya merapikan kembali rambut Vera dengan sentuhan halus.


Ya Allah....


Batinku menjerit seolah-olah sedang menonton drama romantis secara langsung di depan mata. Dan anehnya aku justru merasa sedih setiap kali mereka tampak romantis. Aku butuh tisu yang banyak dan juga cemilan pedas untuk mengurangi rasa cemburuku ini.


Huaaaa!!!! Tolong aku!!!!!


Aku terjebak di drama picisan Elang dan Vera. Aku tebak, mereka berdua tidak akan menyadari keberadaan ku yang berada tepat di belakang mereka. Aku tidak berharap Elang tahu keberadaanku ini. Tapi setidaknya jangan pertontonkan keromantisan kalian di depan mataku.


Kalau kalian bisa melihat isi hatiku. Mungkin kalian akan syok berat. Hatiku tersayat-sayat keromantisan kalian berdua yang tidak kenal tempat.


"Memangnya tidak ada tempat lain yang bisa kalian gunakan untuk romantis-romantisan apa?!!" Batinku sedikit senewen.


"Kenapa musti di sekolah sih??!!" Batinku lagi dengan sedikit ngegas.


Mereka tidak mengetahui efek samping romantis-romantisan seperti itu untuk kesehatan hatiku.


Kaki ku semakin cepat melangkah dan melewati keduanya yang tampak sedang menikmati adegan romantis-romantisan.


"Han," panggil cowok yang kuyakini itu Elang. Tapi aku tidak peduli dan tidak menengok seraya pura-pura tidak mendengar.


Hatiku benar-benar geram setengah mati. Rasa cemburu memang sangat menyebalkan. Dan aku baru menyadari dan merasakannya.


Padahal baru kemarin menyicipi bagaimana rasanya jatuh cinta, tapi tiba-tiba entah mengapa aku juga merasakan patah hati dan cemburu sekaligus. Kenapa tidak besok-besok saja patah hatinya. Setahun kemudian atau dua tahun kemudian. Kenapa semuanya ngumpul jadi satu dalam waktu yang berdekatan.


Aku tahu kalau aku tidak pengalaman soal cinta dan segala keribetannya. Tapi kenapa secepat ini aku merasakan semua hal-hal itu. Bahkan aku tidak diberi waktu untuk menikmati rasanya dicintai terlebih dahulu oleh Elang.